"Duh, yang abis menikah dan bulan madu. Auranya beda bangat. Gimana video yang aku kirim waktu itu, kamu udah tonton udah praktek semua gaya sama pak Argan?" ceplos Indah cukup frontal sambil menaikturunkan alisnya.
Menatap Hana dengan seulas senyum tanpa dosa, tapi mampu membuat emosi Hana naik ke ubun-ubun bersiap untuk meledak.
"Kamu ngomong apa barusan? Ulang lagi!" balas Hana sambil melotot.
Indah tahu saat itu Hana sudah sangat kesal, tapi dia tidak peduli dan semakin melebarkan senyumannya.
"Baiklah tidak perlu dijawab, biar rahim kamu yang bicara. Kalau bulan ini langsung ke isi berarti benar tebakan aku!" lanjut Indah membuat Hana tak habis pikir.
Wanita itu sudah sejak dua minggu lalu menahan kekesalannya, dan sekarang orang yang sejak awal membuatnya kesal justru menambahnya.
"Maksud kamu apa, In? Jangan ngaco!!" geram Hana.
"Ya ampun, Han. Gitu aja kok, kamu jadi kayak dendam amat. Padahal aku cuma penasaran. Lagian kalo udah nikah wajar kan kalo bakalan hamil," lanjut Indah santai, dan bisa-bisanya sahabatnya itu malah merangkul bahunya seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, meskipun demikian sebenarnya Hana juga tidak punya kesempatan untuk melampiaskan emosinya. Salahkan di mana mereka saat ini berada. Di tempat umum tepatnya lorong fakultas yang dilalui banyak mahasiswa yang berlalu lalang di sana.
"Ckck! Awas kamu, suatu saat nanti aku akan membalas-mu!" omel Hana sambil menyiku Indah.
"Memangnya aku salah apa?" tanya Indah polos.
Membuat Hana mendengus lalu memutar matanya dengan jengah. "Capek ngomong sama kamu. Udahlah, minggir, jauh-jauh dariku!"
Hana sedikit mendorong Indah sehingga mereka berjarak, lalu dengan cepat dia berjalan meninggalkan Hana.
"Hei, mau kemana?" panggil Indah, tapi Hana tidak menjawab. Dia terlalu pusing menghadapi Indah.
"Yah, ngambek!" keluh Indah yang masih memperhatikan Hana.
*****
"Cih! Kesel banget sama Indah ... emang dasar nyebelin-nyebelin banget itu orang. Udah salah, masih saja bikin orang emosi. Awas aja nanti. Kapan kamu jatuh belimbing, disitu kau akan kupijak!" gerutu Hana sepanjang langkahnya.
Dia berpikir akan membalas sahabatnya itu nanti, tapi pembalasan seperti apa sebenarnya Hana pun bingung. Namun, pasti dia harus membalas lebih dari yang Indah lakukan padanya sekarang.
"Huft!"
Hana mendesah kasar, tapi terus melangkah tanpa tujuan. Dia ke kampus sebenarnya untuk menghilangkan jenuh, tapi sialnya malah bertemu Indah dan berakhir diledek. Namun, mau bagaimana lagi, dan mau ketemu siapa juga selain sahabatnya itu.
"Hm, harusnya tadi nggak usah ngeladenin tuh anak, dan langsung ngajak dia belanja, tapi dia emang asli nyebelin, sih?!" lanjut Hana masih menggerutu, tapi sekarang dia sedikit menyesal sudah meninggalkan Indah.
"Apa aku ke sana lagi ya, terus mencari dia?" Hana langsung geleng kepala. Dia gengsi, dan merasa tidak seharusnya dia mudahnya melunak pada Indah.
Namun, baru beberapa langkah dia melanjutkan. Tiba-tiba Hana menabrak sesuatu akibat kecerobohannya. Dia terlalu memikirkan Indah sampai tak memperhatikan langkahnya.
Bruk!
"Aaarrggh, sssttt ... siapa yang menaruh tembok di jalan, sih?!" geram Hana.
Wanita itu langsung mengusap-usap dahinya, sembari mundur untuk memastikan apa yang barusan dia tabrak. Namun, saat menyadari ternyata itu bukan tembok, Hana pun segera membulatkan matanya.
"Mas!" kaget Hana dengan spontan.
"Kamu ngapain di sini, bukannya katamu masih capek dan kurang enak badan?!" Argan ternyata tembok yang ditabraknya.
Ya, dia memang bukan tembok, tapi sebenarnya wanita itu barusan menabrak tepat ke dad* bidang suaminya itu.
"An--anuh ... hm--"
Peletak!
Dugh!
"Aaarrggh ... Mas sakit, dahiku bisa benjol!" spontan Hana.
Biasanya memang dia tak seberani itu pada Argan, tapi kali ini kesalnya sudah di ubun-ubun. Di tambah rasa sakit di dahinya barusan akibat disentil Argan.
"Makanya kamu itu sadar Hana, lihatlah kita berada di mana. Kamu di sini adalah mahasiswiku, dan aku dosen pembimbingmu, jadi jangan memanggilku seperti itu!" peringat Argan membuat Hana memanyunkan bibirnya.
Dia tahu Argan benar, tapi tentu saja kesalahan sulit diterima. Masih meresapi perasaan kesalnya itu, tiba-tiba Hana di dorong masuk ke ruang dosen yang ternyata berada di hadapannya.
Dia menurut, anehnya memang begitu. Entahlah, dia juga bingung dengan dirinya sendiri yang sulit sekali menolak perintahnya Argan, tapi mungkin itu disebabkan oleh aura intimidasi pria itu yang sangat mendominasi.
"Berhenti menatapku seperti itu, Hana!" peringat Argan.
Setelah berkata demikian, pria itu langsung menghampiri meja kerjanya. Lalu meraih sesuatu di sana.
"Saya tahu kamu sebenarnya tidak ingin bimbingan!" tebak Argan setelah memperhatikan Hana ternyata tidak membawa apapun yang berurusan dengan skripsi dan yang berkaitan.
'Memang bukan!' jawab Hana membatin, sayangnya dia masih terlalu takut untuk mengutarakannya secara langsung.
"Sa-saya ti-tidak--"
"Tidak usah menjelaskan, saya cukup tahu seperti apa kamu!" sarkas Arga cukup menohok.
Hana seperti dipukul mendengar ucapan itu, tapi belum selesai dengan hal itu. Tumpukan kertas segera ditaruh dihadapannya dengan agak kasar.
Sontak Hana pun menatap Argan dengan tatapan yang menuntut penjelasan. Apa maksudnya dengan kertas-kertas itu.
"Karena kamu sudah di sini. Bagus juga," ucap Argan membuat Hana jadi waspada. Dia menatap Argan dengan tatapan yang menyelidik, tapi kemudian pria itu cuma sedikit menyeringai dengan aneh.
Dia berbalik, dan mengeluarkan sebuah catatan kemudian memaksa Hana menerima.
"Ini adalah kunci jawaban tes mahasiswa di bawah tingkatan-mu, dan karena kamu sudah di sini, tidak punya pekerjaan. Jadi, lebih baik kamu melakukan hal yang berguna," jelas Argan sambil melirik lembar tes mahasiswa di atas mejanya.
"Apa?!"
Hana langsung kaget dan tak percaya, kedua bola matanya langsung secara bergantian melirik tumpukan kertas dan catatan yang sudah dipegangnya. Jadi, pria itu sedang memaksanya kerja rodi.
"Tapi sa--saya masih harus melakukan sesuatu, Pak Argan. Saya harus ke perpustakaan untuk mendapatkan referensi," cicit Hana beralasan.
Siapa yang mau direpotkan dengan itu, Hana yakin jika dia sukarela, bisa-bisa hari ini dia akan terjebak di ruang kerja Argan seharian, tapi tidak. Hana tentu saja tidak mau. Dia ke kampus untuk menghilangkan bosan di rumah, tapi bukan juga untuk mendapatkan suntuk seharian.
"Saya ingat sudah memberikan cukup banyak referensi untuk skripsimu, Hana. Apa kamu cuma beralasan untuk menolak?!" sarkas Argan.
'Ya, siapa juga yang mau melakukannya!' batin Hana, tapi tentu saja dia tak berani mengungkapkannya secara langsung. Itu sama saja mencari masalah pada Argan.
"Sa-saya bukan seperti itu, Pa-pak," jawab Hana cukup gugup.
Bukan apa-apa, ternyata sejak tadi Argan sudah mendesaknya dengan mendekat dan berusaha menghapus jarak diantara mereka. Lalu sekarang secara mengejutkan tiba-tiba telapak tangan pria itu sudah bertengger di pinggangnya.
"Kita di kampus, Pak!" peringat Hana saat telapak tangan itu mulai lancang mengusap pinggangnya.
Jujur dia tidak terbiasa dengan hal itu, karena walaupun sudah menikah mereka baru sekali dan hal itupun di luar kendali Hana. Dia hanya mengingat secara samar-samar, dan soal bulan madu. Mereka hanya seperti liburan. Walaupun Argan saat itu sangat berbeda dan perhatian, tapi sekarang pria itu sudah seperti kembali ke setelan pabrik.
"Kamu bisa memilih Hana," jawab Argan sambil melirik tumpukan kertas di atas meja.
Menyadari maksud pria itu, Hana tak kuasa dan mendorong mundur suaminya. "Baiklah aku akan melakukannya!"
Wanita itu pun tampak pasrah dan menurut dengan terpaksa, sementara itu Argan langsung terlihat puas.
'Sial, dia menjebak aku supaya menerima kerja rodi ini!' batin Hana yang kesal dan sekarang mulai memperhatikan kertas-kertas itu.
*****