Putri Charlotte menaikkan kedua tangannya ke atas udara dengan mulut terbuka lebar. Setelah melakukan peregangan badan, ia menggosok kedua matanya yang masih setengah terbuka. Walaupun jiwanya belum benar-benar kembali dari tidurnya, gadis itu sudah dapat merasakan perbedaan suasana dari penangkapan indra penglihatannya.
“Ah… Benar juga. Aku sudah kembali ke istana.”
Ranjang yang sangat lebar. Plafon yang sangat tinggi. Jarak antara dinding yang berjauhan. Hingga perabotan-perabotan yang terukir dengan gaya klasik. Semua kemegahan itu sangat bertolak belakang dengan tempat tinggalnya selama tiga tahun ini.
Sambil tetap melakukan peregangan, pandangan Putri Charlotte mengarah pada saklar yang terletak di samping pintu kamar. Cahaya matahari pagi, yang berusaha menyelundup dari balik tira