Burung-burung liar berkicau dengan riuhnya pada pagi hari ini hingga terdengar dari tempat mereka bertengger di atas pagar balkon hingga ke dalam kamar Istana Alexandria. Begitu Putri Charlotte membuka pintu kamar menuju balkon, burung-burung itu berterbangan menuju hamparan rumput yang berada satu lantai di bawahnya.
Putri Charlotte berjalan perlahan menuju ujung balkon kamar dengan angin semilir yang menerbangkan helaian rambut ikal yang tergerai sepanjang pinggang. Karena terlalu silau gadis itu harus menyipitkan mata sambil menghalau cahaya matahari dengan tangannya. Cuaca cerah seperti ini biasanya dapat menambah motivasinya untuk menjalani hari tapi tidak untuk pagi hari ini.
Dari lantai dua Putri Charlotte dapat melihat hamparan rumput luas dengan barisan pohon pada garis horizon dari sejauh mata memandang. Di balik pohon-pohon tersebut terdapat ratusan pegawai kerajaan yang sedang bekerja untuk keluarganya. Bagaimana mungkin dirinya hanya berdiam diri di istana Alexandria sementara banyak orang yang dirugikan di luar sana, pikir Putri Charlotte.
"Hasil kebun dan ternak yang semakin menurun berasal dari bahan kimia yang dicampurkan ke dalam pakan ternak, pupuk dan pestisida. Entah siapa yang tega berbuat jahat seperti itu. Bahkan orang jahat tersebut menuduh Behdad sebagai pelakunya," gumam Putri Charlotte dengan nada kesal.
Pada akhirnya Putri Charlotte menghentikan amarahnya dan menyalahkan dirinya sendiri kembali. Ia mendambakan kekuatan magis yang dipunyai oleh seluruh keluarga kerajaan Alexandria. Ia membutuhkan kekuatan itu untuk membela orang-orang yang tidak bersalah. Ironisnya adalah seorang keluarga kerajaan yang tidak mempunyai kekuatan magis akan dipandang sebelah mata dan dinyatakan tidak dapat mengurusi perihal kerajaan.
Putri Charlotte menaikkan tangan kanannya ke arah sinar matahari yang menyinarinya. Ia merenggangkan tangan lalu melihat ke arah langit dari sela-sela jemari.
“Ayah… Ibu…. tolong berikan aku kekuatan.”
Tiba-tiba terdengar suara samar-samar dari ketukan pintu kamar yang membuyarkan lamunan Putri Charlotte. Dengan segera Putri Charlotte melangkahkan kaki dari balkon ke dalam kamar dan menyuruh pelayan yang menunggunya di koridor untuk masuk.
Seorang pelayan yang berumur sekitar dua puluh tahun membuka pintu kamar Putri Charlotte dan terlihat kereta dorong yang berisikan s**u panas dan sebuah biskuit gandum. Setelah menyuguhkan sarapan untuk majikannya, si pelayan membuka tirai jendela di ruangan itu dan membuat kamar Putri Charlotte dipenuhi cahaya matahari.
"Apakah Tuan Putri ingin memakai pakaian yang biasa dipakai?" tanya si pelayan dengan sedikit membungkuk kepada Putri Charlotte yang sedang meneguk s**u cokelat.
Putri Charlotte terdiam sejenak mendengar pertanyaan si pelayan. Tiba-tiba terbesit percakapan kemarin malam di dalam ruang bersantai Putri Alice yang tidak dapat ia dengar. Lalu ia langsung merencanakan bertemu dengan kakak perempuan yang lahir hanya berbeda beberapa jam darinya.
"Tidak. Aku akan menghadiri sarapan bersama Putri Alice pagi ini. Tolong siapkan pakaian yang seharusnya kupakai."
Kini Putri Charlotte sudah selesai mandi dan bersiap untuk keluar dari kamarnya. Rambut gadis yang biasanya hanya diikat sederhana kini tampak elegan dengan beberapa aksesoris mutiara di sepanjang rambut yang telah dikepang. Pakaian yang biasanya memperlihatkan sisi tomboy dari putri bungsu Kerajaan Alexandria juga telah digantikan oleh gaun putih yang senada dengan flat shoes sebagai alas kakinya.
Putri Charlotte berjalan dengan anggun menuju keluar kamar dan membiarkan para pelayan membereskan kamarnya. Gadis yang sudah bertransformasi menjadi sosok tuan putri dalam negeri dongeng itu berjalan dengan perlahan dari kamarnya di lantai dua menuju ruang makan di lantai satu. Setelan pakaian yang seharusnya dipakai oleh seorang tuan putri membuatnya sulit untuk bergerak bebas. Rok sepanjang betis menghalanginya untuk melangkahkan kaki sejauh yang biasa ia lakukan.
"Tuan putri sangat manis bila memakai pakaian seperti ini," kata guru wanita separuh baya yang berpapasan dengan Putri Charlotte di tangga.
Ucapan dari gurunya membuat Putri Charlotte memutar bola mata, tertantang dengan ucapan yang terdengar geli baginya. Dengan pikirannya yang tengil, tuan putri sengaja menarik bagian roknya ke arah atas sehingga betis maupun lututnya menjadi terlihat. Ia tersenyum pada guru yang sedang membelalakan mata padanya lalu berlari menuruni tangga secepat kilat.
"Tu...tuan Putri!! To...tolong jaga sikap Anda!!"
Putri Charlotte tidak menghiraukan teriakan yang berasal dari belakang punggungnya. Ia hanya terus berlari dengan menaikkan rok hingga tiba di depan pintu ruang makan keluarga kerajaan.
Setelah menghela nafas dengan keras, Putri Charlotte menurunkan kembali roknya. Begitu ujung rok yang panjang kembali menyentuh karpet, ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat. Berusaha tenang dan serius. Tidak hanya sikap dan pakaian yang harus dipersiapkan saat bertemu dengan Putri Alice, tapi juga hatinya.
Setelah merasa hatinya sudah cukup siap Putri Charlotte meminta kedua pengawal untuk membuka pintu di hadapannya.
Sebuah meja kayu panjang berada di tengah-tengah ruang makan dengan lebih dari tiga puluh kursi yang berada di masing-masing sisinya. Tiga orang yang mempunyai tempat duduk di salah satu ujung meja langsung menoleh ke arah pintu ruang makan. Kedatangan Putri Charlotte telah menarik perhatian orang-orang yang berada di sana.
Seorang gadis yang berwajah mirip dengan Putri Charlotte sedang duduk membelakangi kaca jendela. Gadis itu memandang adiknya dengan tatapan dingin dari kejauhan.
Saat Putri Charlotte sudah berada di sampingnya, mata Putri Alice mengamati adiknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sama sekali tidak ada kehangatan dari pandangan seorang kakak kepada adiknya. Pandangan itu pula lah yang membuat Putri Charlotte berusaha memberikan cerminan ekspresi kakaknya.
Di sisi lain seorang wanita berumur sekitar tiga puluh tahun dengan rambut lurus sebahu berwarna merah marun memandang Putri Charlotte sambil tersenyum. Wanita itu adalah Leslie Zenevieva Aquila, penasihat kerajaan yang menjadi pemimpin kerajaan sementara. Leslie memakai blazer berwarna biru tua yang menyala dan duduk di tengah di antara ketiga orang di sana.
Orang ketiga di ruang makan yang duduk di seberang Putri Alice adalah Glazio Peruvian, penasihat pribadi dari Putri Alice. Glazio mempunyai rambut sepanjang dagu yang berwarna putih sejak lahir. Laki-laki berbadan tinggi dan kurus yang juga berumur sekitar tiga puluh tahun itu melihat ke arah Putri Charlotte dan tersenyum hingga matanya segaris.
Putri Charlotte tidak terlalu menanggapi senyuman yang diberikan oleh Glazio. Senyuman itu seakan selalu memberikan peringatan kepadanya untuk berhati-hati dalam bertindak.
"Tampaknya ada seorang putri kerajaan yang rindu dengan kehidupan di istana sehingga ia masih mengingat jadwal sarapan bersama."
Perkataan dan mimik Putri Alice yang sinis membuat Putri Charlotte mengerutkan dahinya. Setelah sekian lama melewatkan momen bersama keluarganya, Putri Alice malah memberikan kesan yang sangat negatif di mata Putri Charlotte. Ternyata pandangan meremehkan yang diterimanya selama ini memang terbukti benar, kata Putri Charlotte dalam hati.
"Aku selalu mengingat jadwal sarapan. Hanya saja suasana dingin seperti ini yang membuatku tidak ingin melangkahkan kaki ke tempat ini," kata Putri Charlotte sambil tersenyum penuh arti saat memandang Putri Alice di sampingnya.
Setelah kakak beradik keluarga Alexandria saling melemparkan pandangan sinis satu sama lain, Putri Alice dan Putri Charlotte duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan. Memilih berperang dalam diam dibandingkan terus menerus saling membalas perkataan yang dapat menghilangkan nafsu makan pada sarapan pagi ini.