Para pelayan sibuk melayani empat orang yang sedang melakukan sarapan di ruang makan istana. Sementara itu Leslie berdeham kecil sebagai tanda akan melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus karena kedatangan Putri Charlotte.
"Dengan segala hormat kami harus melanjutkan pembicaraan mengenai informasi yang diterima pagi hari tadi, Putri Charlotte," kata Leslie dengan suaranya yang serak dan berat.
"Silahkan, kalian bisa melanjutkannya," sahut Putri Charlotte sambil memberikan sebuah anggukan pelan kepada Leslie.
Informasi yang diberikan oleh Leslie berkutat seputar pencarian Behdad Shahrzad yang belum dapat ditemukan. Kerajaan menyatakan Behdad sebagai buronan dan sudah memerintahkan para pengawal untuk melakukan penyamaran di Kota Windhill sebagai kota terdekat dari Kerajaan Alexandria.
Putri Charlotte berusaha diam dan menahan untuk berkomentar. Tujuan utamanya menghadiri sarapan ini hanyalah untuk mendengar secara langsung informasi terbaru mengenai Behdad sehingga para petinggi kerajaan yang berada di sini menjadi saksi bahwa ia sudah mengetahui informasi tersebut. Setelah mengetahui informasi terbaru ia bisa lebih mudah bertindak kepada para pegawai kerajaan atas dasar informasi yang diterima secara sah. Bukan informasi yang diterimanya diam-diam dari pengawal senior seperti kemarin malam. Tapi tindakan apakah yang akan dilakukan olehnya, gadis berumur enam belas tahun itu belum merencanakan apa pun.
Putri Charlotte terus mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Leslie. Walaupun matanya mengarah pada sendok sup yang sedang diarahkan pada mulutnya, telinganya hanya fokus mendengarkan informasi demi informasi. Sampai pada satu titik, ia tidak dapat bersikap tenang lagi karena mendengar satu nama disebutkan.
".... Morgan Geraldine…"
Suara sendok yang jatuh dan bersentuhan dengan mangkuk kaca membuat semua orang yang berada di ruang makan menoleh ke arah Putri Charlotte. Gadis yang menjadi pusat perhatian itu tidak peduli apakah tata kramanya salah atau tidak. Ia hanya peduli dengan nama yang didengarnya saat ini.
"Mengapa ia menjadi buronan juga?!" tanya Putri Charlotte dengan volume yang mulai meninggi.
"Jaga sikapmu, Charlotte. Tidak seharusnya kamu mempertanyakan keputusan kerajaan pada mereka seperti ini."
Perkataan Putri Alice memancing emosi Putri Charlotte hingga ke ubun-ubun. Kakak beradik itu saling berpandangan, bahkan lebih intens dari awal mereka bertemu lima belas menit yang lalu.
"Pagi ini para pengawal sudah menemukan bukti kerja sama para pegawai dengan Behdad Shahrzad di asrama para pegawai," kata Glazio dengan suaranya yang pelan dan berintonasi.
Putri Charlotte langsung berdiri dari tempat duduknya. Gadis itu berlari keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"A..pa yang akan ia lakukan?!" kata Putri Alice masih memandang kursi di sebelahnya yang sudah kosong dengan wajah tidak percaya.
"Bila Putri Charlotte berniat untuk memastikan kondisi di lapangan, kerahkan para pengawal untuk melindunginya!" perintah Leslie pada seseorang yang berdiri di sudut ruangan sedari tadi.
Seorang laki-laki berpakaian seragam pengawal mendekatkan langkah kepada Leslie lalu menunduk hormat dengan tangan di d**a sebagai tanda siap untuk menerima perintah. Ia memakai baju hitam dengan kancing emas di sepanjang garis vertikal dengan berbagai lencana yang tergantung di bagian dadanya. Ia adalah Duncan Walter, seorang kepala pengawal yang dikenal lebih sering menarik pelatuk di senapannya dibandingkan berbicara.
"Panggilkan Grotto ke ruanganku," kata Putri Alice menambahkan perintah pada Duncan sebelum laki-laki itu pergi.
Sementara itu Putri Charlotte tidak pernah menghentikan langkahnya sedetik pun sebelum ia tiba di tempat yang dituju. Ia terus berlari sejak dari dalam ruang makan istana hingga keluar dari istana dari pintu samping.
Saat Putri Charlotte tiba di gerbang asrama para pegawai kerajaan yang dicapai dengan lima belas menit berlari nonstop, kericuhan sudah mulai terlihat di sekitar pintu masuk. Para pegawai laki-laki saling berteriak satu sama lain dan para pegawai wanita menangis di luar gerombolan yang sedang berteriak.
"Tuan Putri, sebaiknya Anda tidak masuk dari sana…," kata seorang pegawai muda yang biasa dibantu oleh Putri Charlotte dalam memindahkan jerami ke kandang kuda.
"Mengapa mereka saling berteriak?"
Selain satu kalimat pertanyaan terlontarkan oleh Putri Charlotte kepada si pegawai muda, Putri Charlotte juga mempertanyakan hal lain dalam hati. Bukannya para pengawal menuduh mereka sebagai buronan? Mengapa mereka menyalahkan satu sama lain?
"Sebenarnya…. Tuan Putri, sebaiknya kita berbicara di tempat yang lebih sepi," kata si pegawai muda merasa tempat mereka berbicara masih kurang aman lalu menjauhkan Putri Charlotte dari kerumunan.
Si pegawai muda menceritakan semuanya pada Putri Charlotte. Tadi pagi para pengawal menggeledah kamar para pegawai dan menemukan suatu barang yang dinyatakan sebagai pemberontakan kepada Kerajaan Alexandria, yaitu barang sama yang dituduhkan kepada Behdad. Jadi para pengawal menangkap para pegawai satu per satu. Sedangkan pegawai yang lain menuduh keluarga yang ditangkap sebagai pengkhianat karena telah merugikan hasil kebun dan ternak.
Putri Charlotte membayangkan wajah Morgan Geraldine. Tidak mungkin seorang karyawan yang bekerja keras dan sangat loyal itu dengan sengaja memasukan bahan berbahaya ke dalam pupuk ataupun pestisida untuk diigunakan pada tanaman. Setelah lamunannya selesai, ia langsung menanyakan orang yang menjadi tujuan utamanya datang ke tempat kerusuhan itu.
"Di mana Near sekarang?"
"Aku akan mengantarkanmu lewat jalan yang lebih aman. Ikuti aku," kata si pegawai mengambil jalan dari pinggir gedung lalu menunjuk sebuah jendela besar yang terhubung dengan ruang makan yang sepi.
Saat ini Putri Charlotte dan si pegawai muda sedang berusaha masuk ke dalam gedung dari jendela samping gedung. Putri Charlotte menyesal tidak mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum ke sini. Sekarang ia harus mengorbankan gaunnya yang cantik menjadi rusak karena terkait dengan penahan jendela. Lalu mereka berdua pun berlari dari ruang makan, melewati koridor demi koridor untuk mencapai kamar tidur para pegawai.
Tidak hanya di pintu masuk asrama, ternyata masih banyak pegawai yang sedang ribut di sekitar pintu kamar para pegawai. Bahkan beberapa pegawai laki-laki saling berbaku hantam di koridor.
"Psst… psst…."
Putri Charlotte menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari arah datangnya suara yang berdesis. Ternyata suara tersebut datang dari sebuah jendela di sampingnya. Dari bagian bawah jendela muncul rambut berwarna coklat tua, kemudian disusul dengan sepasang mata yang sudah dikenal baik oleh Putri Charlotte.
Near yang berada di balik jendela, di dalam aula, memberikan instruksi pada Putri Charlotte dan pegawai yang menemani tuan putri itu untuk berjalan sambil berjongkok hingga pintu masuk. Setelah melakukan yang diinstruksikan oleh Near, akhirnya Putri Charlotte bisa bertemu dengan orang yang dikhawatirkannya selama perjalanan dari kediamannya hingga gedung asrama ini.
"Untunglah kamu tidak ditangkap dan baik-baik saja," kata Putri Charlotte langsung memeluk Near dengan erat.
Kondisi aula saat itu tidak terlalu terang sehingga dapat menyamarkan wajah Near yang mulai memerah karena tingkah laku tuan putrinya. Dari awal Near berhasil menemukan sosok yang ditunggunya pun ia sudah terkesima dengan dandanan dan pakaian Putri Charlotte yang tidak biasa. Apalagi saat ini Putri Charlotte tengah memeluknya karena perasaan khawatir.
Tidak mau berlama-lama terhanyut dalam perasaan, Near langsung melepaskan pelukan Putri Charlotte. Laki-laki itu menggenggam kedua bahu gadis di depannya sambil menatapnya dengan serius.
"Dengarkan aku dengan seksama, Tuan Putri. Aku harus meninggalkan kerajaan Alexandria secepat mungkin."