"Apa yang kamu bicarakan dengan Charlotte?" tanya Putri Alice memandang laki-laki yang sudah seumur dengan kakeknya dengan pandangan dingin. Kini Putri Alice dan Grotto sedang berada di ruang bersantai Putri Alice. Pintu pun sengaja ditutup supaya tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Saya hanya memperingatkan Putri Charlotte untuk lebih berhati-hati dengan para pegawai kerajaan," kata Grotto dentan sedikit menundukkan kepala di akhir kalimat.
"Seharusnya kamu melarangnya! Bukan memperingatkannya saja!"
"Anda sudah mengetahuinya sendiri, Putri Alice... bila Putri Charlotte sudah mempunyai keinginan, beliau tidak akan berhenti mencapainya walau sudah dilarang." Grotto membalas teriakan Putri Alice dengan intonasi yang lembut dan tetap tenang.
"Anak itu… benar-benar hanya bisa membuat masalah saja. Kamu bisa keluar ruangan sekarang," perintah Putri Alice pada Grotto.
Putri Alice menghela nafas dengan keras setelah Grotto meninggalkan ruangan. Dahinya berkerut dan ia tidak berhenti mengetukkan jari telunjuknya pada meja kayu. Sampai akhirnya gadis itu memutuskan meminum teh yang tersedia di hadapannya untuk meredakan kepanikan.
Sementara itu Putri Charlotte yang sedang berjongkok di dalam aula asrama pegawai kerajaan masih mematung setelah mendengar perkataan Near.
"Mengapa harus sampai keluar kerajaan, Near?" tanya Putri Charlotte dengan wajah memelas.
"Aku harus mencari ayahku, Tuan Putri."
"Ja...jadi…. Beliau tidak ditangkap oleh pengawal tadi pagi?"
Near mengeluarkan suara "Psst" sebagai tanda supaya Putri Charlotte menurunkan volume bicaranya. Sebelum melanjutkan pembicaraan, Near mengintip dari balik jendela, lalu menatap Putri Charlotte dan temannya dengan serius.
"Tidak banyak yang tahu mengenai kejadian kemarin malam. Darren… aku pun baru bisa mengatakannya sekarang karena apa yang Ayah katakan mengenai kerusuhan benar-benar terjadi saat ini," kata Near kepada Darren, si pegawai muda yang menemani Putri Charlotte masuk ke dalam asrama.
Near mulai bercerita bahwa kemarin malam banyak sekali orang berjubah yang menutupi wajahnya dengan kain datang ke asrama para pegawai kerajaan. Sosok berjubah itu memasukkan sesuatu ke dalam kamar dan tadi pagi setelah pengawal datang dan menggeledah kamar, Near baru tahu bahwa barang yang dimasukan adalah barang yang sama dengan yang dituduhkan kepada Behdad. Saat beberapa pegawai kerajaan menyadari ada yang masuk ke kamarnya, mereka mengejar sosok berjubah itu. Hingga saat ini orang-orang yang mengejar sosok berjubah itu semuanya masih belum kembali, termasuk Morgan, ayah dari Near.
"Ayah sudah tahu ada yang salah dari peristiwa kemarin sehingga aku disembunyikan di kamar Darren semalaman. Dan benar saja, para pengawal berniat menangkap ayahku pagi hari tadi. Aku melihat kamar keluarga kami diobrak-abrik dari kejauhan."
"Tapi...kan…"
Ada banyak hal yang ingin dikatakan oleh Putri Charlotte untuk menahan Near tetap berada di kerajaan Alexandria. Tapi gadis itu tidak bisa membantah Near karena teringat akan situasi ayah Near yang menjadi tersangka kerajaan.
"Setelah Ayah dituduh bersekongkol untuk menurunkan hasil kebun dan ternak, tidak ada yang percaya denganku lagi, Tuan Putri. Baik dari pihak kerajaan maupun para pegawai di sini."
"Kenapa pegawai lain percaya begitu saja? Kenapa mereka tidak mempertanyakan para pengawal yang tiba-tiba datang dan menggeledah kamar kalian satu per satu?"
"Yang mereka tahu hanyalah sebelum masalah ini kami semua selalu dipersalahkan oleh pihak kerajaan karena masalah dari hasil kebun dan ternak yang selalu turun. Setelah pengawal mendapati ada barang berbahaya di beberapa kamar pegawai, para pegawai lain dengan mudah menuduh Ayah dan beberapa orang lain sebagai pengkhianat. Sepertinya ada yang memprovokasi mereka juga pagi hari tadi."
Putri Charlotte menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Ia masih tidak percaya rakyat Alexandria, termasuk para pegawainya, dengan mudah saling menuduh satu sama lain. Kebaikan dan kehangatan yang diberikan oleh rakyat Alexandria padanya selama ini seakan tidak ada artinya.
Putri Charlotte memegang kepalanya yang sudah panas. Siapakah sosok berjubah itu? Mengapa mereka ingin menjerumuskan para pegawai kerajaan supaya ditangkap para pengawal?
"Awalnya aku bermaksud mengendap-endap ke kediamanmu untuk mengucapkan salam perpisahan. Sebelum itu aku meminta Darren berjaga-jaga di depan apabila Putri Charlotte bermaksud memastikan sendiri kondisinya langsung ke lapangan. Ternyata kamu benar-benar nekat untuk datang ke sini," kata Near sambil tersenyum.
Senyuman Near mengandung banyak aarti karena ia senang tuan putrinya hadir di hadapannya saat ini sekaligus khawatir dengan kondisi kerusuhan yang akan berdampak pada Putri Charlotte.
Sementara Putri Charlotte pun mengkhawatirkan orang di hadapannya ini. Sejak berjalan dari kediamannya ke gedung ini, ia terus menerus membayangkan bahwa Near akan ditangkap dan tidak dapat bertemu dengannya kembali. Dan saat Near mengatakan bahwa ia akan meninggalkan kerajaan, kekhawatirannya menjadi semakin besar. Dan secara tidak langsung ia mengkhawatirkan keberlangsungan kehidupannya sendiri.
Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Putri Charlotte kehilangan perhatian dan cinta kasih dari keluarga yang tak terelakan. Dipicu oleh rasa kesepian dan juga pengkhianatan dari para rakyatnya, ia merasa sudah cukup baginya untuk pasrah dan merelakan orang-orang terdekatnya pergi begitu saja.
"Kalau begitu, bawa aku pergi bersamamu dari sini."
Kedua laki-laki yang berada di ruangan itu terkejut bukan main mendengar perkataan Putri Charlotte. Near sampai memejamkan mata karena takut terlihat gembira di mata Putri Charlotte.
Pada akhirnya Near dapat menahan perasaan gembira saat mendengar perkataan dari orang yang disukainya karena tahu dengan pasti tidak ada jaminan keamanan bila Putri Charlotte bersamanya. Bahkan sebenarmya ia tidak dapat menjamin keselamatannya sendiri.
"Aku sudah menjelaskan semua situasinya kepada Putri Charlotte. Saatnya aku melarikan diri sebelum ada yang menyadari keberadaan kita. Darren, tolong jaga Tuan Putri bila sedang berada di lapangan."
Darren mengangguk dengan yakin sementara Putri Charlotte hanya terdiam dan memperlihatkan wajah sedih. Ekspresi yang paling dihindari oleh orang yang menyukainya dan membuat reaksi yang tak terduga.
Tangan kanan Near spontan mendekati wajah Putri Charlotte. Dan saat telapak tangannya sudah menyentuh pipi Putri Charlotte, ia mengerjapkan matanya. Ia terkejut dengan langsung menyesali apa yang sudah diperbuatnya. Baru saja ia berniat untuk menarik tangannya kembali, Putri Charlotte menekan menggenggam tangan Near sambil memejamkan mata.
Jantung Near berdegup sangat kencang. Baru pernah ia menyentuh wajah tuan putrinya seperti ini. Bila keluarga kerajaan melihat kondisi ini, mungkin saja ia akan langusng dihukum walaupun Putri Charlotte tidak menolak tindakan yang dilakukan oleh dirinya. Namun ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak melakukan hal yang salah. Bisa jadi pertemuan kali ini adalah pertemuan dirinya dengan Putri Charlotte yang terakhir.
Beberapa saat kemudian Near menyadari bahwa wajah Putri Charlotte masih tetap bersedih dan membuat Near tidak tega. Semakin lama ia berada pada kondisi seperti ini, maka semakin sulit juga Near untuk meninggalkan Putri Charlotte. Near menarik tangannya lalu beranjak dari tempat mereka bersembunyi.
Putri Charlotte terpaksa mengikuti Near yang sudah mulai bergerak ke arah pintu masuk aula tanpa berbicara sepatah kata pun. Menyisakan kesedihan di antara kedua hubungan pertemanan yang saling bergantung satu sama lain.
Putri Charlotte, Near dan Darren menyusuri jalan yang sama seperti saat Putri Charlotte dan Darren menyusup ke dalam gedung. Sayangnya perjalanan mereka bertiga tidak semulus rencana yang sudah dibuat oleh Near saat mereka berusaha keluar dari jendela ruang makan.
"Ada yang mau melarikan diri!"
Sebuah teriakan dari seorang pegawai sontak membuat jantung Near berdetak dengan kencang. Bukan keselamatan dirinya yang terpikirkan pertama kali oleh Near, tapi keberadaan Putri Charlotte dengannya bisa dipermasalahkan. Belum sempat Near menyembunyikan sosok Putri Charlotte, pegawai yang sama berteriak kembali.
"Mereka melarikan diri bersama Putri Charlotte! Keluarga kerajaan membantu mereka!"
Near mengutuk dirinya sendiri karena sepertinya masalah akan semakin rumit karena dirinya. Tidak lama kemudian sekitar lima pemuda yang berumur sedikit lebih tua dari Near telah menandai letak dari ketiga orang yang akan mereka kejar. Putri Charlotte, Near dan Darren terpaksa berlari ke arah yang berbeda dari tempat lima pemuda yang sedang mengejar mereka, menuju peternakan yang berada tak jauh dari gedung asrama para pegawai.
Pengejaran terus berlangsung hingga Putri Charlotte, Near dan Darren hampir memasuki kandang kuda yang direncanakan dapat memperlambat pergerakan para pengejar. Sayangnya pergerakan Putri Charlotte terlalu lamban dibandingkan para pengejar.
Seharusnya Putri Charlotte bisa berlari lebih lama bila sepatu yang dikenakannya bukan flat shoes seperti saat ini. Karena flat shoes memang tidak diperuntukan untuk berlari, ada saatnya gesekkan dari ujung sepatu mengakibatkan luka pada tumit Putri Charlotte. Luka yang semakin dalam membuat kaki Putri Charlotte tidak merespon dengan baik sehingga langkahnya tidak stabil.
Putri Charlotte terjatuh setelah kakinya tidak menapak dengan benar di atas tanah yang bergelombang. Gaun putihnya kini sudah dipenuhi warna coklat dari tanah yang menempel. Walaupun merasa kesakitan karena tumitnya cedera, gadis itu tetap berusaha bangun dengan bantuan dari tangan Near. Namun sudah tidak ada jarak yang signkfikan antara Putri Charlotte dan kelima pemuda yang mengejarnya.