Saat berada di kamar mandi, Nick melihat cermin dan membayangkan dirinya bisa menggunakan ilmu magis suatu saat nanti. Tangan kanannya dijulurkan ke depan lalu digerakkan dengan perputaran searah jarum jam seakan ia bisa menggerakan sesuatu.
"Apakah ilmu magis yang akan aku keluarkan seperti Ibu dan Alice yang dapat mengendalikan tanaman?" gumam Nick sambil mempraktekan gerakan yang biasa dilakukan oleh ibu dan kakaknya. "Bila lebih rajin lagi aku pasti bisa menyamai kekuatan mereka. Baiklah, aku akan membaca kembali semua catatan yang dijelaskan oleh Near hari ini lalu menulis pertanyaan demi pertanyaan bila ada yang masih belum ku mengerti."
Selama mandi dan berpakaian Nick menggumamkan satu per satu informasi yang baru saja diingatnya hari ini. Tidak pernah Nick merasa bangga karena dapat mengerti ilmu pelajaran yang diberikan kepadanya seperti sekarang ini. Seakan semua informasi dari guru magisnya di kerajaan tidak ada artinya dibandingkan ilmu yang telah diterimanya dari Near.
"Setiap penyihir hanya punya satu kekuatan magis… kekuatan magis disimpan dalam sebuah bakat yang berkaitan dengan jiwa setiap penyihir… begitu bakat itu bisa dilepaskan dari jiwa, maka sebuah kekuatan magis bisa dikeluarkan… untuk melepaskan bakat dari jiwa maka dibutuhkan pikiran yang hanya fokus pada satu hal itu saja."
Setelah selesai mandi, Nick pun keluar dari kamar dan mendapati Pedro masih duduk di kursi pantry. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang melingkar di leher, Nick mendekati Pedro.
"Kamu sedang membaca kembali pelajaran hari ini?"
Pedro mengangguk-angguk mendengar pertanyaan Nick. Lalu ia menunjuk ke salah satu tulisan Nick yang baru saja ia pikirkan sepanjang perjalanan.
"Wow, aku baru saja memikirkan hal yang sama denganmu, Pedro!"
"Aku juga penasaran mengapa semua orang mengatakan harus fokus pada satu hal. Ternyata karena pikiran yang bercabang akan membuat kita kesulitan mendapatkan akses terhadap jiwa dan bakat kita sendiri."
Nick mengangguk-angguk sambil mengingat-ingat kelanjutan dari catatannya sendiri. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Pedro hanya melihat temannya itu dengan alis berkerut.
"Untuk dapat melepaskan kekuatan magis, pikiran kita tidak boleh bercabang sama sekali. Tidak boleh berpikir tentang makanan. Tidak boleh berpikir ada nyamuk yang melintas di wajah kita. Sekalinya sudah tahu arah yang tepat tersebut maka akan lebih mudah untuk melakukan yang kedua kalinya dan seterusnya. Sepertinya mudah melakukannya… tapi untuk berfokus pada satu hal dalam beberapa lama itu sangat membosankan."
"Sebenarnya kamu sudah berlatih dengan Ethan hingga bisa berkelahi. Walaupun kamu selalu mengeluh dari awal pelatihan, tapi kamu bisa konsisten menjalaninya."
"Entah kenapa berlatih fisik lebih mudah dibandingkan berlatih pikiran."
"Karena terlihat secara nyata?"
Nick membelalakan matanya lalu mengangguk dengan semangat kepada Pedro. Sedangkan Pedro hanya bersiap-siap mendengarkan Nick mengeluarkan teori alanya sendiri.
"Betul juga! Karena berlatih fisik itu terlihat oleh mata. Dapat dirasakan. Sehingga akan lebih mudah fokus pada hal yang nyata dibandingkan dengan yang berada di pikiran kita."
"Lalu….? Apa yang harus dilakukan supaya membuat pikiranmu dapat terlihat dan dirasakan?"
Nick mengangkat bahunya. Ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan Pedro namun dengan yakin ia mengambil buku yang sedang dipegang oleh Pedro lalu menuliskan pertanyaan di atas buku tersebut.
"Bila belum tahu jawabannya, tanyakan saja pada Near. Aku yakin dia akan mencarikan jawabannya untukku," kata Nick tersenyum tanpa menatap lawan bicaranya. "Aku akan belajar kembali hari ini sehingga dapat menggunakan waktu belajar dengan Near sebaik-baiknya."
"Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu," kata Pedro masuk ke dalam kamar Ethan dan meninggalkan Nick sendirian.
Setelah selesai mandi Pedro tidak lagi melihat Nick di meja pantry. Berarti Nick sudah masuk ke dalam kamarnya dan sepertinya sedang serius belajar. Sudah beberapa minggu ini Pedro tidur lebih cepat karena tidak tahu apa yang ingin dilakukannya. Saat ini tidak ada lagi permainan hingga tengah malam saat Nick dan Pedro ditinggal berdua di apartemen. Pedro berbaring di atas sofa kemudian menarik selimutnya untuk tidur.
"Apakah semuanya akan berubah setelah Nick sudah mempunyai kekuatannya?" gumam Pedro sambil melihat langit-langit ruangan.
Sementara Pedro sudah tertidur lelap di ruang tengah, Nick masih berkutat dengan buku tulisnya di dalam kamarnya sendiri. Tidak hanya melihat buku catatan, ia pun mulai membuka buku ilmu magis dasar kepunyaan Olly. Ia mulai membaca buku ilmu magis dasar dengan perlahan dan bila ada hal yang tidak diketahuinya ia akan menulis pertanyaan pada buku tulisnya. Satu per satu.
Dengan semangat yang masih membara, Nick melakukan hal yang sama terus menerus hingga tak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Akhirnya Nick pun menguap. Ia merasakan kantuk yang selama ini terabaikan karena semangatnya. Tiga halaman buku tulis sudah penuh dengan berbagai pertanyaan yang telah ia tulis dan Nick tersenyum bangga dengan pencapaiannya pada malam hari itu.
Baru saja Nick akan beranjak dari kursi belajarnya untuk berbaring, ia mendengar suara pintu terbuka. Menandakan bahwa Ethan baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Nick memutar bola matanya berlawanan jarum jam lalu tersenyum jahil. Ia tiba-tiba teringat suatu kejadian yang tak dapat dilupakannya.
Beberapa hari lalu Nick yang sudah tertidur di atas kasur sempat terbangun dan mendapati Ethan sedang berada di kamarnya. Asalnya Nick ingin membuka matanya dan memarahi Ethan yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin, tapi Nick menahan diri untuk terbangun saat Ethan mengelus kepalanya perlahan lalu mencium keningnya. Bila saat itu Nick membuka matanya, Nick merasa kejadian itu tidak akan terulang kembali setelahnya. Jadi ia hanya mengubah posisi tidur menjadi membelakangi Ethan. Nick menggigit bibirnya sambil menutup mata dengan kuat dan merasakan jantungnya berdebar dengan kencang.
Merasa saat ini adalah kesempatan kedua untuk mendapatkan ciuman kembali di keningnya, Nick berpura-pura tertidur dengan kepala di atas meja yang ditahan dengan kedua tangan yang saling bersilangan. Terdengar suara ketukan pintu kamar. Biasanya Nick akan membalasnya dengan kata "yaaa" dan Ethan akan menyuruhnya untuk tertidur. Namun saat ini Nick menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara. Ia menunggu dengan posisi tidurnya selama beberapa saat. Bahkan Nick menghitung waktu setiap detiknya karena merasa waktu berjalan sangat lamban saat itu.
Setelah beberapa menit menunggu, Nick bisa merasakan kehadiran Ethan disampingnya tanpa mendengar suara pintu dibuka. Dengan jantung yang berdetak semakin kencang, Nick menunggu tindakan Ethan selanjutnya. Nick sudah membayangkan ia akan diangkat oleh Ethan dari posisinya sekarang untuk dibaringkan di atas kasur. Membayangkan hal tersebut saja sudah membuat Nick senyum-senyum sendiri. Ia berusaha keras menahan senyumannya dengan menggigit bibir bawahnya.
Nick bisa merasakan bahunya ditarik perlahan sehingga badannya disandarkan ke arah sandaran kursi. Namun setelah itu tidak ada tindakan apa-apa lagi. Nick menunggu dengan mata terpejam dan bingung apakah ia sebaiknya bergerak atau tetap dalam posisinya yang sedang berpura-pura tidur hingga akhirnya Ethan berdeham di samping telinganya.
"Apakah kamu mau akan tetap menutup matamu walaupun aku membawamu ke balkon?"
Mendengar ucapan Ethan, Nick segera membuka matanya dan mendapati Ethan sedang memandangnya dengan tajam.