"Aku tidak berpura-pura tertidur, kok! Aku benar-benar tertidur dan baru saja terbangun."
"Aku tidak menuduhmu pura-pura tidur."
Perkataan Ethan membuat Nick menelan ludahnya sendiri. Nick terpaku dalam posisinya beberapa saat karena Ethan tidak berhenti memandanginya. Tidak hanya pandangan Ethan yang dapat mengintimidasi Nick, namun kesunyian yang tercipta saat itu sudah membuat Nick sangat terintimidasi.
Akhirnya Nick bisa mengalihkan pandangan dari wajah Ethan karena ia tersadar akan sesuatu. Kepalanya yang mendongak kini sudah diturunkan dan matanya mengarah pada dinding di balik meja. Alis Nick ditekuk karena ia merasakan kejanggalan dalam kondisi saat itu dan sedang berusaha menemukan penyebabnya.
"Ah! Kamu masuk ke dalam kamar perempuan tanpa izin! Perbuatan itu tidak sopan."
Asalnya Nick merasa bersalah karena Ethan bisa membuatnya secara tidak langsung mengaku bahwa ia berpura-pura tertidur, tapi kali ini Nick merasa senang karena bisa menyerang Ethan dengan perkataannya. Nick memandang Ethan kembali namun dengan perasaan penuh kemenangan. Dengan percaya diri ia mengamati wajah Ethan dan membayangkan bahwa Ethan juga akan memperlihatkan wajah merasa bersalah.
"Saat ini aku menganggapmu sebagai keponakan laki-lakiku."
"Ta...pi… tetap saja! Kamu masuk ke kamarku tanpa izin. Tentu saja mengganggu privasiku!"
"Jadi saat dua tahun lalu kamu masuk ke kamarku begitu saja karena tidak bisa tidur itu tidak dianggap sebagai mengganggu privasi? Sebenarnya tidak masalah juga, aku bisa membiarkanmu tertidur di atas meja sampai pagi hari. Jangan salahkan aku lagi bila badanmu sakit-sakit dan jangan memintaku untuk menggendongmu ke atas kasur karena lehermu tidak dapat digerakkan."
Nick memperlihatkan wajah kekalahan untuk kedua kalinya. Dua kejadian yang terlupakan oleh Nick diingatkan kembali oleh Ethan. Satu kejadian adalah saat ia memimpikan kembali kecelakaan yang terjadi pada saat ia melakukan perjalanan dari Kerajaan Alexandria menuju Kerajaan Toba dua tahun lalu. Tidak hanya menangis saat bermimpi buruk, bahkan Nick pun berteriak-teriak meminta tolong sambil tetap memejamkan matanya. Ethan dan Pedro hanya menunggu di depan kamar Nick sampai akhirnya Nick keluar sambil berusaha menyeka tangisannya.
"Aku…. Tidak bisa tidur sendirian… aku takut…"
Sejak Nick mengatakan hal tersebut, maka Ethan diperbolehkan masuk kapan saja ke dalam kamarnya untuk menemaninya hingga tertidur. Kebiasaan itu dilakukan oleh Ethan hingga Nick sudah terbiasa dengan kehidupan di Kota Windhill. Dan mengingat permintaan yang dilakukannya dahulu membuat Nick merasa bodoh bila membuat Ethan merasa bersalah sudah masuk ke dalam kamarnya saat ini.
Tidak hanya sampai di situ, Nick pun merasa diingatkan kembali dengan kejadian kedua di saat ia tertidur di meja belajar, terbangun dan mendapati lehernya sangat sakit bila digerakkan. Saat itu Nick berteriak memanggil nama Ethan dan memintanya untuk membaringkannya di atas kasur, mengompresnya dengan air dingin dan memberikannya obat penahan sakit. Setiap beberapa menit Nick akan berteriak kesakitan sehingga Ethan masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkannya.
Setelah mengingat dua kejadian memalukan yang membuat Ethan sepenuhnya tidak bersalah, Nick menutup wajahnya dengan tangan kedua tangan. Satu hal yang ia lakukan saat terlalu malu untuk berbicara dengan lawan bicaranya.
Ethan hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah orang di depannya itu. Baru saja Ethan berniat meninggalkan Nick sendirian di dalam kamarnya, Nick tiba-tiba menarik tangan kiri Ethan. Ada dua benda yang sedang dikenakan pada tangan kiri Ethan. Salah satunya adalah jam tangan dengan bingkai berwarna navy dengan jarum jam model klasik. Dan satunya lagi adalah sebuah gelang yang dipakai juga oleh Nick.
"Sampai kapan kamu mau melihat gelang yang sama dengan yang kamu kenakan sekarang itu? Apakah aku harus melepaskannya dan menggantinya dengan kepunyaanmu?"
Tentu saja bila perkataan Ethan benar-benar dilakukan maka ia sedang melakukan perbuatan sia-sia karena kedua gelangnya hampir tidak mempunyai perbedaan yang signifikan. Tapi wajah Nick yang tersenyum lebar sambil menggerak-gerakkan tangan kiri Ethan tanpa henti membuat Ethan merasa keberadaannya dianggap seperti tidak ada dan terpaksa memberikan sebuah ucapan yang menyindir.
"Kamu memakainya! Aku hanya terlalu senang karena ternyata kamu memakainya."
Kepolosan dari perkataan dan senyuman Nick membuat Ethan luluh. Asalnya Ethan hampir saja mengatakan perkataan yang menyindir kembali, namun ia malah menikmati apa yang sedang ia lihat saat ini. Sulit bagi Ethan untuk melihat sosok di depannya ini menjadi bayangan seorang laki-laki bila senyuman yang diberikan oleh Nick ternyata terlihat sangat manis.
Masih dengan tangan kiri yang dimainkan oleh Nick, tangan kanan Ethan berusaha menggapai wajah Nick. Nick yang sadar akan gerakan pada tangan Ethan yang lain langsung melirik ke samping kirinya.
"Aw!" teriak Nick saat sebuah cubitan mendarat pada pipi kirinya.
"Sudah kubilang, jangan memperlihatkan ekspresimu semudah itu."
"Tapi kan kita sedang berada di apartemen…. Tidak ada orang lain yang melihat kita."
"Saat kamu bersama teman lamamu, apakah kamu tidak sadar bahwa kamu memperlihatkan diri sebagai seorang gadis kembali? Apakah berada di dekat orang-orang yang datang dari masa lalumu akan membuatmu kembali ke masa lalu?"
Perkataan Ethan membuat pandangan Nick yang asalnya memelas seperti anak kecil menjadi serius saat itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa bersama dengan Near membuat Nick menjadi terlalu nyaman. Walaupun ia sudah terbiasa dipanggil Nick sehingga asing bila dipanggil tuan putri kembali, perlakuan Near terhadapnya sempat membuatnya berpikir bahwa ia adalah Putri Charlotte. Perkataan Ethan tidak sepenuhnya salah.
Nick memajukan bibirnya lalu mengangguk pelan setelah ia mengakui bahwa dirinya bersalah. Saat ini ia adalah seorang anak laki-laki dan merupakan keponakan dari Ethan. Nick berusaha mengembalikan sikapnya menjadi sosok yang seharusnya ia tiru.
"Oke, baiklah," kata Nick dengan frekuensi suara yang tidak setinggi sebelumnya.
"Bagaimana proses belajarmu? Tampaknya hari ini kamu mencatat cukup banyak," kata Ethan sambil mengarahkan kepalanya pada buku tulis di samping mereka. Ethan berusaha mengalihkan pikiran Nick yang mulai terlihat merasa bersalah.
"Pelajaran yang diberikan oleh Near benar-benar bisa diterima oleh otakku. Bahkan aku masih mengingat semuanya tanpa melihat buku catatan sama sekali."
Nick tersenyum lebar sambil memperlihatkan angka dua pada jarinya sebagai tanda bangga pada dirinya sendiri. Lalu Nick mengambil buku tulis di sampingnya dan memberikannya pada Ethan. Terlihat tulisan yang memenuhi dua halaman buku dengan berbagai gambar dan tulisan berbagai warna yang memberikan penegasan untuk kata-kata tertentu.
Sebenarnya awalnya Ethan tidak terlalu peduli dengan apa yang ia lihat. Namun ada dua kata yang menjadi fokus dari penglihatannya saat itu. Sambil mengambil buku dari tangan Nick, ia membaca kembali dua kata yang ia lihat dengan deskripsi panjang yang berada setelah dua kata tersebut.
"Oiya, Near mempertanyakanmu apakah kamu seorang soul eater atau bukan."
Ethan menurunkan buku tulis dari hadapannya dan saat ini sedang memandang sosok anak laki-laki yang sedang duduk sambil berpikir. Dengan alis yang ditekuk, Nick menggerak-gerakan bola matanya ke kanan kiri atas bawah seperti sedang mencari barang.
"Soul eater bisa mengambil jiwa dan bakat orang lain sehingga mereka bisa mempunyai lebih dari satu bakat untuk mengeluarkan kekuatan magis."
"Apakah yang mempunyai lebih dari satu bakat pasti seorang soul eater?"
"Nah, itu juga yang kutanyakan. Near mengatakan bahwa seharusnya tidak ada yang seperti itu kecuali ia seorang soul eater."
"Kita tidak tahu bila sebenarnya ada yang menyembunyikannya dan tidak memberitahukan orang lain walaupun ia bukan soul eater kan? Sekarang sudah lewat tengah malam, sebaiknya kamu cepat-cepat tidur supaya bisa fokus belajar bersama temanmu kembali esok hari."
Mulut Nick terbuka lebar untuk menguap bertepatan dengan saran yang diucapkan oleh Ethan. Sambil mengusap sepercik air mata yang keluar akibat dari menguap, Nick pun beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud berjalan ke arah kamar mandi.
"Good night, Ethan," kata Nick sambil tersenyum dengan mata segaris lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Ethan yang sudah membuka pintu kamar terdiam beberapa saat. Ia masih berusaha menenangkan pikirannya yang saat ini tengah bekerja dengan keras karena kejadian yang terjadi beberapa detik lalu. Tiba-tiba saja pikiran Ethan mengulang kembali perkataan Olly mengenai identitas lain yang seharusnya dikatakan kepada Nick. Kalimat itu terulang kembali dalam otaknya akibat sebuah trigger dari buku catatan Nick yang seharusnya tidak dilihatnya.
Tujuan utama Ethan sekarang bukanlah kamar tidurnya. Saat ini Ethan merasa butuh minum minuman keras sesegera mungkin.