Tempat tidur Ilona adalah sebuah gudang yang sudah dirapihkan dan berada di lantai tiga. Ukurannya sekitar enam meter persegi dengan kasur yang dilteakkan di lantai dan sebuah laci kecil di sebelahnya. Kamar tidur yang seadanya namun masih layak pakai.
"Aku biasa berada di lantai tiga pada pagi hingga siang hari. Sedangkan berada di lantai dua pada sore sampai malam hari kecuali saat makan bersama Reika, cucuku. Bila pada siang hari kamu membutuhkan bantuan, kamu bisa mengetuk pintu kamar kami. Sebisa mungkin kamu tidak perlu turun ke lantai dua apabila masih ada karyawan-karyawan yang berlalu lalang."
Setiap kali Keanu mengucapkan satu kalimat, Ilona meresponnya dengan anggukan penuh semangat. Tidak ada bantahan. Tidak ada komentar. Ilona menyerap semua informasi dari Keanu sebagai hal yang tidak dapat diganggu gugat.
"Oiya apakah kamu bisa memasak? Aku akan sangat senang bila kamu bisa memasakkan makanan untuk kami."
Ilona mengedip-kedipkan matanya. Seakan tidak percaya orang di hadapannya ini begitu mudahnya mempercayakan banyak hal padanya. Padahal dirinya hanyalah seseorang yang baru saja ditemuinya dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
"Saya bisa memasak…."
"Baguslah. Kamu bisa menggunakan dapur di lantai ini sesukamu. Bila ada bahan makanan yang diinginkan, kamu bisa mencatatnya dan menaruh di pintu kulkas. Reika akan membelikannya untuk kita. Aku memintamu seperti ini karena Reika selalu memasakan makanan yang ia suka saja dan lidahku tidak pernah cocok dengan masakannya. Hahaha."
Tawa yang menggelegar memenuhi ruangan yang masih kosong hingga terdengar gaung akibat pantulan suara yang dihasilkan oleh Keanu tersebut. Ilona hanya tersenyum gugup melihat tingkah orang di sampingnya itu.
"Kamu bisa membereskan barang terlebih dahulu di sini. Setelah selesai kamu bisa kembali ke ruangan tadi," kata Keanu setelah merasa sudah memberitahukan semua yang perlu dikatakan.
"Te…. Terima kasih banyak. Aku pasti akan membalas kebaikan Anda…. Maksudku… Keanu."
Ilona sedang menunduk sebagai tanda berterima kasih dan ia langsung mendongak saat ia sadar bahwa telah mengucapkan kata ganti orang kedua dengan formal kembali. Bagaimana pun gadis itu terbiasa menjadi pelayan kerajaan selama belasan tahun dan secara natural sudah terbiasa untuk bersikap sopan.
"Hahaha… kamu bisa memanggilku sesuai dengan yang kamu mau. Tapi ingat, kamu harus memanggil majikanmu yang sebenarnya dengan nama samarannya."
"Baik, Tuan. Ethan sudah memperingatkan hal itu pada saya. Saya akan terus membiasakan diri supaya tidak salah mengucapkannya."
Keanu mengangguk dengan senang melihat semangat yang dikeluarkan dari anak muda di depannya. Lalu ia keluar dari gudang yang sudah menjadi kamar tidur Ilona dan menuruni tangga di pojok ruangan untuk mencapai ruang bersantainya. Saat membuka pintu, Keanu melihat Ethan sedang sibuk dengan handphone nya sehingga membuat Keanu semakin ingin menggodanya saat itu juga.
"Sepertinya ada yang menunggu kabar darimu, ya?"
Ethan melirik tajam sebentar ke arah Keanu lalu melanjutkan kegiatannya dengan alat yang ditumpukan pada kedua telapak tangannya. Ia tidak ingin berdebat dengan orang di depannya karena yang dikatakan oleh Keanu memang benar. Nick baru saja menanyakan jadwal kepulangannya.
"Keanu…"
"Ya?"
"Aku seharusnya sudah pergi ke Kerajaan Alexandria sejak beberapa bulan yang lalu."
Melihat temannya yang membuka topik serius, Keanu langsung terbatuk-batuk. Orang tua itu berdeham beberapa kali untuk mengontrol suara yang dikeluarkan baru mulai berbicara.
"Mengapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?"
"Aku memikirkan tentang semuanya. Terutama semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Nick yang sudah tidak kuawasi seperti dulu. Teman dari Nick yang muncul. Dan fakta mengenai Irvine. Semuanya tidak akan terjadi bila aku sudah bertindak."
"Hei… hei… kamu sudah hidup cukup lama, teman. Kamu tahu sendiri bahwa tidak ada rencana yang akan berjalan dengan sempurna. Kamu juga pernah mengakuinya padaku."
"Aku sudah berusaha meminimalisir resiko namun kali ini resikonya terlalu melenceng jauh dari rencana awal." Ethan menggertakkan kedua giginya dengan geram. Ia begitu kesalnya sehingga tidak bisa melanjutkan pembicaraan.
Akhirnya Keanu memilih untuk menanyakan kembali pernyataan Ethan di awal pembicaraan. "Jadi… apa yang membuatmu tidak ingin melakukan rencana terakhir itu?"
"Awalnya aku selalu merasa bukan saat yang tepat. Dan hingga saat ini tidak pernah ada saat yang tepat. Dulu aku selalu beralasan bahwa Nick belum bisa percaya padaku dan kabur begitu saja. Lalu alasan yang lain adalah ia belum bisa melindungi dirinya sendiri. Padahal ia sudah percaya padaku namun aku yang selalu meragukannya berkali-kali. Dan sebenarnya menyembunyikan Nick akan sangat mudah dilakukan dengan kekuatanku. Jadi kedua alasan itu seharusnya tidak dapat diterima."
"Dan alasan apa yang dapat diterima olehmu?"
"Aku tidak ingin ia kembali ke tempat asalnya dan tetap di sini bersamaku. Apakah aku egois?"
Tidak ada perkataan yang muncul baik dari Keanu maupun dari Ethan. Asalnya Keanu hanya ingin memancing percakapan dengan ringan, namun ia tidak menyangka Ethan akan mengungkapkannya dengan serius. Bahkan Keanu jarang sekali melihat wajah Ethan yang tampak menderita seperti saat ini.
Selama beberapa menit Keanu hanya memperhatikan Ethan yang melihat ke arah depan dengan pandangan mengawang-awang. Keanu berusaha mencari jawaban yang paling tepat untuk membalas perkataan Ethan. Jawaban yang tidak perlu terlalu optimis namun masih bisa menyemangati orang di sampingnya itu sangat sulit untuk dicari.
Dengan ragu-ragu Keanu berusaha mengucapkan pemikirannya yang sudah disortir. "Kamu juga mempunyai hati dari manusia biasa, Ethan. Keinginan seperti itu sangat wajar."
"Walaupun aku berusaha mengubah identitasnya menjadi laki-laki, aku tetap melihat wajah orang itu padanya. Bukankah semuanya menjadi sia-sia belaka?"
Tidak ada lagi pilihan yang tersedia untuk diucapkan oleh Keanu. Keanu sudah tahu bila Ethan mengungkit-ungkit masa lalunya, itu tandanya Ethan sudah terlalu lelah menanggung pemikirannya sendiri.
Keanu hanya diam dan menemani Ethan yang sedang meracau dan tertawa kepada dirinya sendiri. Bahkan beberapa botol wine pun tampaknya tidak akan membendung emosi yang sedang dikeluarkan oleh Ethan saat itu.
Pintu diketuk tiga kali. Ethan mengangguk pada Keanu sehingga Keanu mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk. Sambil meredakan emosinya setelah bercerita, Ethan memejamkan mata sesaat dengan punggung yang bersandar pada sofa.
Pintu terbuka dan terlihat seorang gadis yang awalnya berpenampilan kasual, kini sudah memakai baju terusan sederhana yang biasa ia pakai saat berada di Kerajaan Alexandria. Rambutnya yang asalnya terurai kini disanggul sederhana.
Saat Ilona masuk ke dalam ruangan, wajah Ethan sudah kembali dingin seperti sedia kala. Ethan bisa dengan begitu mudah menahan ekspresi wajahnya seperti hanya menekan tombol "on" dan "off" pada saklar yang terhubung dengan saraf-saraf di wajahnya.
"Jadi… ceritakan padaku tentang apa yang terjadi di Kerajaan Alexandria pada dua tahun terakhir ini. Dan apa yang membuatmu harus meninggalkan tempat itu?"
Seakan tidak ingin melihat Ilona bersantai, Ethan langsung memandang tajam ke arah gadis yang baru saja menutup pintu. Kali ini Keanu tidak berani untuk menyela perkataan Ethan. Keanu hanya tersenyum pada Ilona sambil mempersilahkan satu-satunya gadis di ruangan itu untuk duduk di sampingnya.