"Saat itu kami tidak tahu harus mempercayai siapa lagi kecuali dari surat yang terselipkan pada serbet Nyonya Matilda setiap selesai makan malam. Jadi kami mengikuti semua yang dikatakan oleh surat itu. Salah satunya adalah kami harus keluar di malam hari untuk memberikan informasi kepada Nyonya Matilda karena pergerakan para petinggi jauh lebih diawasi daripada kami. Dan saat membantu Nyonya Matilda, kami sudah harus memperhitungkan segala konsekuensinya. Termasuk konsekuensi apabila kami tertangkap…. kami…. kami harus memakan racun yang selalu kami bawa kemanapun kami pergi."
Suara yang bergetar di akhir kalimat dari Ilona membuat Keanu khawatir. Keanu kembali menepuk-nepuk bahu gadis di sebelahnya itu.
"Maaf… maafkan aku… a…. aku terbawa…. suasana…. saat itu…" kata Ilona dengan terbata-bata sambil menahan diri untuk tidak menangis.
"Aku bisa menunggumu."
Perkataan Ethan telah meringankan beban Ilona karena ia jadi bisa berhenti berbicara sejenak. Ilona mengambil gelas yang diletakkan di atas meja, lalu meneguknya perlahan. Setelah isi gelas habis, Keanu mengajukan diri untuk mengambil gelas kosong itu dan mengisinya dengan air mineral di pojok ruangan.
"Te...terima kasih, Tuan."
Ilona menarik nafas panjang dan menghembuskan dari mulut dengan pipi yang menggembung. Gadis itu melakukannya berkali-kali hingga akhirnya ia bisa mengeluarkan suara dengan lancar.
"Aku akan melanjutkannya kembali… Suasana di istana begitu mengerikan untukku. Terutama setelah kedua temanku… tertangkap oleh Glazio Peruvian…. Dan hanya aku yang bisa melakukan tugas dari Nyonya Matilda.
"Melanjutkan perjuangan dari kedua temanku, akhirnya aku bisa mendapat informasi yang sangat penting saat menyusup ke dalam ruangan Glazio. Katanya… Ia akan menikah dengan Putri Alice tepat saat Putri Alice berumur sembilan belas tahun."
Ilona menghentikan pembicaraan karena berpikir Ethan akan merespon informasi yang diberikannya. Namun Ethan tampak bergeming dan tidak terkejut sama sekali.
"Apakah rencana pernikahan itu sesuatu yang biasa saja?" tanya Ilona sambil mengerutkan alisnya.
"Melihat gelagat keluarga Peruvian yang berambisi sejak dahulu, aku sudah dapat menduga rencana itu. Yang ingin kuketahui adalah mengapa mereka berencana menghancurkan Kerajaan Alexandria apabila hanya ingin mempunyai kekuasaan. Aku yakin tujuannya lebih dari itu." Ethan memberikan jeda beberapa saat sebelum melanjutkan perkataannya kembali. "Jadi apakah kamu diutus oleh Matilda untuk datang ke kota ini?"
"Iya… karena kondisi kerajaan semakin tidak kondusif aku diberitahu bahwa ada orang yang telah diutus oleh mereka ke Kota Windhill dan aku disuruh untuk menemui orang itu. Tepat sebelum aku pergi, kerusuhan yang dilakukan para pegawai kerajaan di luar istana telah selesai. Aku tidak tahu pasti mengapa mereka menghentikan kerusuhannya. Saat kerusuhan berhenti populasi rakyat kerajaan Alexandria sudah berkurang drastis sehingga aku membayangkan mungkin saja mereka takut bila korbannya semakin banyak saat mereka berusaha masuk ke dalam istana."
"Tidak. Mereka bukan berhenti begitu saja karena keinginan mereka," kata Ethan mengundang wajah penuh tanda tanya dari Ilona. Sementara itu wajah Ilona yang kebingungan sama sekali tidak terekam oleh Ethan karena Ethan lebih memilih berbicara sambil menatap ruang kosong di hadapannya. "Dalang yang membuat kerusuhan itu sebenarnya adalah Peruvian dan anak-anak buahnya. Jadi Peruvian yang telah menyuruh mereka untuk berhenti."
"Ba… bagaimana… bisa?"
"Orang-orang yang paling dirugikan bila ada kerusuhan sebenarnya adalah orang-orang yang berada di istana. Bagaimanapun mereka tidak bisa leluasa mendapatkan bahan baku untuk makanan mereka. Kecuali mereka memang bekerja sama dengan para perusuh."
"Ta...tapi… di dalam istana ada sebuah kebun yang dikelola oleh penyihir yang bisa mempercepat laju pertumbuhan. Dalam sekejap ia bisa membuat ladang yang dipenuhi sayuran. Kami hanya memakan sayur-sayuran setelah kerusuhan itu."
"Kebun itu hanya pengalihan semata. Aku tahu sendiri jumlah orang yang berada di istana. Keluarga kerajaan, para petinggi kerajaan, para pengawal dan para pegawai istana. Semuanya tidak kurang dari lima ratus orang. Apabila kerusuhan itu telah mengurangi seperlima populasi, berarti masih ada seratus orang yang berada di istana. Apakah para petinggi kerajaan bersedia membagikan makanannya yang langka dengan kalian?"
Ilona terdiam kembali. Perkataan Ethan tidak sepenuhnya salah. Sebenarnya ia pernah melihat pegawai di luar istana yang berada di dalam istana pada malam hari dan pernah melihat masih ada daging segar yang disimpan di dapur. Selama ini ia hanya melihatnya sebagai kebetulan belaka. Ia tidak pernah menyangka bahwa semuanya berasal dari rencana satu orang saja yaitu Glazio Peruvian.
"Aku masih tidak percaya… mengapa mereka mengadu domba para pegawai kerajaan seperti itu..."
"Bisa jadi untuk mengurangi jumlah populasi kerajaan. Dengan itu mereka akan lebih mudah untuk mengontrolnya. Jadi… apa yang terjadi saat kamu berusaha keluar wilayah Kerajaan Alexandria?" tanya Ethan berusaha mengembalikan topik pembicaraan sesuai yang ia ingin tahu.
"Aku disuruh pergi ke dekat perbatasan dinding Kerajaan Alexandria dan menemui Tuan Gale. Orang itu adalah satu-satunya yang mempunyai akses menuju Kota Windhill. Untuk bisa berbicara dengan orang tersebut aku harus memperlihatkan sebuah pin sehingga tahu bahwa aku adalah orang yang diutus secara tidak langsung oleh Nona Leslie. Akhirnya aku pun masuk ke dalam Kota Windhill sesuai dengan bantuan Tuan Gale.
"Dan aku pun kesulitan mencari pekerjaan di sini. Sehingga aku mau tidak mau melamar pekerjaan di Time Pause. Tapi tidak kusangka aku bertemu dengan orang yang membawa informasi untukmu. Kalau saja aku bisa mengingat kata sandi yang ia katakan, kamu pasti bisa langsung mengerti kata sandi itu. Maafkan bila aku tidak bisa memberikan banyak informasi karena tampaknya kamu sudah mengetahui apa yang sedang terjadi di Kerajaan Alexandria."
Ilona menunduk sebagai tanda ceritanya yang sudah berakhir lalu meminum kembali dari gelas yang sudah dipenuhi oleh air mineral kembali. Ethan melirik ke arah Ilona sehingga gadis itu merasa tidak nyaman saat minum karena diperhatikan. Dengan cepat Ilona meneguk air yang berada di mulutnya dan menurunkan gelas dari depan wajahnya.
"Terima kasih sudah mempertaruhkan nyawamu selama ini. Aku sudah dapat memperkirakan garis besar informasi yang kamu ucapkan, tapi perkiraan itu tidak akan ada artinya bila tidak tahu kebenarannya darimu."
Mendengar ucapan Ethan, bibir Ilona langsung tertarik ke samping dan memperlihatkan senyuman yang lebar. Walaupun Ethan mengatakannya dengan suara datar dan pandangan tajam, Ilona begitu bahagia saat merasakan kehangatan dari ucapan Ethan.
"Dan ternyata mereka merencanakannya pada hari ulang tahun Putri Alice. Dengan detil informasi yang sangat penting itu aku bisa membuat rencana dengan lebih jelas. Sekali lagi, terima kasih."
Kali ini tidak hanya Ilona yang tersenyum, namun Keanu pun tersenyum mendengar ucapan Ethan. Setelah Ethan meluapkan emosinya setengah jam yang lalu, Keanu dapat menarik sebuah hal positif yang langsung berdampak pada sikap Ethan. Dengan masalah pribadi yang masih berkecamuk di pikiran Ethan, Keanu melihat bahwa Ethan menjadi jauh lebih dapat memahami sudut pandang orang lain saat ini.