Ketika Miranda berteriak, beberapa pengawal didepan pintu kamarku masuk dan memeriksa salah satunya pergi untuk memberi tau King Alfredo.
Dengan cepat King Alfredo dan King Edward datang. King Edward langsung berjalan ke arahku dan memutar-putar tubuhku. "Apa kau tidak apa-apa?" Tanyanya panik. Aku hanya mengangguk kecil. Sedangkan King Alfredo, hanya terpana melihat kasurku yang penuh darah. Ia memindahkan aku kekamar yang lain selagi kamarku dibersihkan.
Pagi yang sangat menegangkan. Apakah Susana istana selalu seperti ini? Dingin dan mencekam....
Aku memulai pelajaran ku hari ini. Pelajaran untuk menjadi putri yang baik. Tentang cara berjalan, cara berbicara, pengetahuan tentang daerah kekuasaan dan politik, berkuda, cara berpakaian, tata cara makan yang baik, cara bersikap ,dan masih banyak lagi...
Pertama-tama Miranda mengajakku berkeliling istana yang sangat besar ini. Membutuhkan waktu setengah hari untuk menjelajahi seluruh sudut istana. Aku juga diberitahu, 5 terowongan rahasia untuk melarikan diri.
Aku menyeret gaunku menuju ruang makan, untuk makan siang. Kakiku sangat sakit rasanya. "Huhhh..." Aku mendesah lelah. "Apakah kau lelah putri?" Tanya Miranda, suaranya sangat lembut. "Tentu, gaun ini sangat berat." Jawabku. Ia hanya membalas dengan senyuman kecil. Dan berbalik pergi mengambilkan makan siang. Tetapi mengapa harus aku yang ada di meja makan?
Miranda kembali dengan roti yang dari baunya saja, sudah manis. Ia meletakan roti itu di hadapanku. Lalu ia mengajari aku tata cara makan yang baik. Aku mengikuti nya dengan seksama.
Setelah makan siang, aku dan Miranda menuju tempat latihan. Tempat itu ada di timur istana, berbentuk lingkaran, dan berpasir. Tampak lebih mirip arena gulat antara singa dan petarung gladiator.
Di sana sudah ada seorang pria yang menunggumu datang. Ketika aku mendekatinya, ia melihatku dan berjalan ke arahku. Ia membungkuk sedikit dan memperkenalkan dirinya, "Salam Putri, aku Dennish Vergue. Aku adalah panglima, sekaligus guru beladirimu." Ucapnya dengan senyuman. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Miranda segera meninggalkanku sendiri dengan Dennish. Lalu Dennish berjalan menuju perlengkapan s*****a. Ia memperlihatkan padaku cara-cara memakai berbagai macam s*****a. Lalu ia memberikan sebuah pedang besar padaku. Aku menerimanya dan lalu terjatuh.. dan ia terkekeh...
"Huhh... Pedang nya sengat berat." Aku berdiri sambil berusaha mengangkat pedang itu. "Jika kau bahkan tidak bisa mengangkat pedang itu, bagaimana kau bisa menjaga negaramu?? Kau harus belajar kuat. Karena kehidupan di istana ini tidak senyaman yang kau pikirkan Putri Valientine." Ucap Dennish sambil menatapku tajam.
Dengan sekuat tenaga aku mengangkat pedang itu, dan menahanya. Lalu ia berbalik dan langsung menyerang ku. Ia menyerang ku dengan sekuat tenaga, sperti ia benar-benar ingin menyakitiku. Aku dengan spontan menangkis serangan pedangnya. Ia terus menyerang ku berturut-turut, tanpa ampun. "Belajarlah untuk menyerang..!!" Teriaknya sambil terus menyerang ku.
Aku hanya berfikir sebentar dan lalu mencoba menyerangnya. Aku mencoba dengan keras tetapi tetap saja ia dapat menangkisnya. "Cukup!!! "Teriaknya. "Ternyata kau cukup berbakat. Ok.." ia mengehentikan dan mengambil pedangku lalu menggantinya dengan tongkat bambu panjang. Lalu ia mulai menyerang lagi, dan lagi-lagi aku hanya menangkis serangannya. Aku tidak bisa mengenainya walaupun cuma sekali.
Langit sudah mulai gelap dan aku masih berlatih dengan Dennish. Tiba-tiba Miranda datang dan membawa handuk kecil ditangannya. Dennish menghentikan serangannya dan saat itu aku mulai menyerang dan mengenai punggungnya.
Takkk..!!! Bunyi tongkat sangat keras, ia sampai merintih kesakitan. "Uppss.." bisikku. "Maaf, maafkan aku aku tidak bisa menghentikan ." Ucap ku dengan sangat 1. Ia hanya melihatku sambil memegang punggungnya. Entah kenapa Miranda langsung menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Sambil memegang punggungnya yang sakit tadi. Tapi Dennish malah pergi meninggalkannya sendirian.
Lalu Miranda berjalan ke arahku dan memberikan handuk kecil ditangannya. " King Alfredo dan King Edward menunggumu dimeja makan." Ucapnya dengan suara sedikit sedih, dari matanya aku tau ia sangat sedih. Memang apa yang terjadi antara Miranda dan Dennish.
Aku kembali kekamar baruku dan mandi. Segar rasanya sehabis latihan fisik. Aku memutar putar lengan kananku karena pegal. "Huhhh..." Desahku. Lalu Miranda membawakan aku gaun untuk makan malam.
Aku duduk dihadapan semangkuk sup asparagus yang dari baunya saja sangat enak. Hmmm.... Aku sudah sangat lapar, aku makan dengan lahap. "Besok King Edward akan pulang ke negaranya." Ucap King Alfredo, memecahkan keheningan ruang makan. "Pagi-pagi sekali aku akan pulang Vale." Ucap King Edward. "Hmmm kau adalah orang yang sangat menyenangkan. Aku sangat senang bisa mengenal mu." Jawabku dengan tersenyum lembut. Lalu aku berdiri memberi hormat dan meninggalkan ruang makan.
Aku pergi kekamar ku, entah kenapa aku merasa sangat sedih. Air mataku menetes tak terbendung dan aku duduk bersandar kan pintu yang tertutup. Aku lalu merebahkan tubuhku di kasur putih, sambil menangis. Lalu, aku terlelap dalam tidurku.
Ketika matahari menyentuh wajahku aku langsung terbangun dan ingat bahwa dia sudah kembali ke negri asalnya. " Kau sudah bangun tuan putri. Ini adalah makan pagi mu tuan putri, King Alfredo melarangmu keluar istana untuk sementara." Ucap Miranda. "Kenapa King Alfred melarangmu keluar istana?" Tanya ku. "Hmmm saya tidak tau, tetapi ada beberapa kekacauan di desa Trop. " Jawab nya. "Makanlah dahulu Putri, nanti akan aku ceritakan lebih lanjut. " Tambah nya. Aku pun berdiri dari tempat tidurku, dan bergegas mandi dan sarapan. Lalu Miranda membawaku ke perpustakaan istana, ia mengajarkanku tentang strategi perang dan pengetahuan politik. Aku tidak terlalu menyukai hal itu. Ia juga mengajarkan tentang makhluk-makhluk mistis dan sejarah. " Kau menerima pembelajaran mu dengan baik tuan putri." Ucap Miranda. Setelah itu seorang Kakek tua yang memiliki janggut yang panjang masuk kedalam ruang belajar itu. "Ia adalah Groto, ia adalah penjaga perpustakaan istana dan sekaligus guru pengetahuanmu mulai saat ini. Ia lebih mengerti segalanya daripada aku." Ucap Miranda memperkenalkannya. Aku hanya tersenyum dan memberi hormat dengan sedikit menunduk. Lalu ia menggantikan Miranda dan mengajari aku tentang makhluk-makhluk hidup dan kimia.
Ia juga bilang, bahwa ia bisa mengajari aku sedikit sihir. Ia menunjukan sedikit sihirnya kepadaku. Aku sangat takjub, aku pikir sihir itu tidak ada. Ketika matahari sudah bersinar tepat diatasku, Miranda datang dan membawakan aku makan siang. "Apa King Alfredo tidak akan makan bersamaku lagi?" Tanyaku dengan suara lembut. "Ia sedang pergi ke desa Trop." Jawab Miranda.
Apa yang terjadi di sana? Apakah Roy akan baik-baik saja? Ini sangat membingungkan. "Miranda.. bisakah aku menyusul King Alfredo?" Tanyaku. "Aku rasa itu bukan keputusan yang baik tuan putri, pryod sedang menyerang desa itu habis-habisan." Jawab Groto. "Tapi temanku Roy ada di sana. " Sahutku Dangan sedikit berteriak. "Percayalah, King Alfredo akan bisa mengatasinya." Ucap Miranda mencoba menenangkan aku. Aku hanya bisa diam, apa yang terjadi pada Roy? Aku harap ia dan ibunya baik-baik saja....
Ketika matahari sudah turun dari tempatnya. King Alfredo kembali dengan warga desa Trop yang tersisa. Mereka mengungsi di bagian kanan istana, ruang kesehatan tepatnya. Ketika melihat King Alfredo kembali aku langsung berlari menuruni tangga dan menyambutnya. King Alfredo yang melihatku langsung membuka tangannya lebar-lebar dan menerima pelukanku...
Setelah itu ia menggandengku untuk makan malam. Ia menceritakan semuanya pada ku. Ia juga bilang kalau sekumpulan pryod itu sudah dibasmi. Ia membawa warga desa Trop yang terluka kemari untuk disembuhkan dan mendapat perawatan dan perlindungan sementara desa Trop dibangun kembali. Ia juga mengijinkan aku pergi menemui Roy yang kemungkinan ada diantara mereka.
Setelah makan malam, aku pergi ke ruang kesehatan. Aku berharap Roy dan ibunya tidak apa-apa... Tapi aku hanya menemukan Roy terbaring di atas kasur putih, tangan kanan dan kakinya diperban, aku pun berjalan menuju arah Roy.
"Apakah kau tak apa Roy?" Tanyaku dengan lembut. Aku mengelus kepalanya. "Vale, aku kira kau sudah tiada.. kemana saja kau Vale?" Tanyanya dengan suaranya yang sedikit serak. "Aku masih disini Roy. Kau tidak akan percaya apa yang telah aku alami." Jawabku... "Syukurlah..." Ucapnya sambil menyandarkan kepalanya kembali di bantal putih itu. "Apa yang terjadi Roy?" Tanyaku lagi. Ia melihatku dengan tatapan tajam dan menjawab " ketika kau mengunjungi rumahku Vale ibuku sudah meninggal karena racun Proyd. Aku merasa bersalah karena telah mengusir mu jadi aku pergi kerumahmu untuk minta maaf, tetapi kau tidak ada Vale, aku mencarinya kemana-mana tetapi kau juga tidak ada. Beberapa hari setelah kau menghilang, cuaca memburuk, kami semua kelaparan, tetapi bantuan dari King Alfredo selalu datang. Itu menyelamatkan kami. Tetapi setelah itu, sekelompok Proyd datang menyerang. Flo dan aku pergi ke hutan untuk bersembunyi, begitupun dengan semuanya. Tetapi ada sesuatu yang sangat besar dihutan itu ia melukai kami satu-persatu. Aku pikir itu adalah Proyd, tetapi bukan. Itu seperti naga, tetapi itu tidak mungkin. Setelah beberapa hari hidup dalam teror dihutan. King Alfredo datang membasmi seluruh Proyd yang ada, dan menyelamatkan kami. Tapi naga itu menyerang kami ketika kami keluar dari hutan itu. Tapi ada seorang makhluk seperti manusia tetapi ia terbang dengan sayapnya. Dan melawan naga itu. Kami berhasil lari dan dibawa kesini." Cerita Roy itu sangat menyedihkan. Aku sangat prihatin atas apa yang terjadi pada Roy.
Lalu tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku dan berseru "Vale...!!!" Aku melihat perempuan berambut pendek itu, aku sangat terkejut karena ia adalah Flo. "Apa yang terjadi dengan rambutmu Flo?" Tanyaku. Ia lalu tersenyum dan memegang rambut pendeknya dan berkata " hidup 3 hari dihutan mengubah banyak hal Vale."
Aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Kami bercanda dan mengobrol bersama, dan setelah itu Roy tertidur. "Aku tau kau kemana saja selama ini Vale. Sekarang aku tanya, dimana tempat tidurmu?" Ucapnya. Aku hanya terdiam sebentar " a..akk.uu disana tempat tidurku. " Jawabku gugup. "Ngak usah berpura-pura lagi Vale aku tau kamulah Putri Hersh itu." Aku kaget dan terdiam. "Dari mana kamu dapat baju sebagus itu, dan aku melihat kamu waktu kamu memeluk King Alfredo. Aku melihat kamu waktu kamu bersama King Edward di dekat danau. Aku tau lebih banyak dari yang kamu pikirkan Vale." Jawaban Flo membuat aku kaget aku tidak tau harus menjawab apa lagi. Apakah Roy mengetahui semua itu?
" Tenang ngak usah kaget gitu Roy tidak tau apa-apa, dan pastikan kamu yang pertama kali memberitahu Roy tentang ini." Tambah Flo, dengan sedikit senyumannya. Aku hanya tersenyum kembali menatap nya. Aku sangat lega ia tidak membenciku. Aku takut jika Roy mengetahui kalau aku adalah seorang putri ia akan menjahuiku.
Aku kembali ke kamar tidurku. Ketika aku masuk kedalam aku melihat ada sosok bayangan hitam didepan meja rias ku. Ia menatap wajahnya sendiri didepan kaca, dan ketika aku akan keluar ia melihatku dan entah bagaimana pintu itu tertutup sendiri. Makhluk itu mendekati aku dengan jubah hitam nya menyapu lantai kamarku. Seketika ia sudah berada dihadapanku mendekap erat-erat mulutku " jika berteriak sedikit saja aku akan membunuhmu." Ucapnya dengan suara sedikit serak. "Hmmm sangat nyaman bukan? Putri Hersh,...." Ucapnya lagi, jujur postur nya yang kurus dengan jubah hitamnya itu membuat aku takut. " Edward tidak ada disini, jadi aku bisa mendekati mu. Mungkin benar kata banyak rumor kau sangat cantik. Rambut pirang panjang mu ini sangat memikat. Dan wangi mu, harum mawar... Hanya bisa didapatkan sedikit orang." Ucapannya komat-kamit sambil memutari aku. "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku dengan sedikit berteriak. "Shhh..... Jangan merasa kuat,...." Ucapnya sambil meletakan jari telunjuknya kebibirku. "Hmmm aku akan menjawab pertanyaan mu, orang memanggilku penyihir Elisa atau kau bisa memanggilku Elisa saja. " Lalu seketika ia menghilang, dan muncul tepat dihadapanku. "Lihat!! Aku lebih kuat,... Kau pikir siapa yang menciptakan mimpi buruk mu dan melumuri tempat tidurmu dengan darah? Aku aku yang melakukan semua itu. Kau bukan apa-apa dibanding aku." Ucapnya kasar dan lalu ia menghilang lagi, dan kali ini tidak kembali.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu diketuk dari luar oleh seseorang. Memecahkan keheningan yang ada didalam kamarku. Apa tadi itu hanya ilusi?