Hartono membaca semuanya dari kamar sewaannya di Jakarta utara — dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, tangannya tidak mengetuk meja dua kali di akhir pembacaannya.
Karena semuanya salah. Semuanya. Anak Madina tidak berdiri di sisinya — dia berdiri di sisi mereka, dengan ibunya, dengan cerita yang tidak pernah bisa diputar. Memo palsunya tidak pernah dibaca sebagai bukti — ia dibaca sebagai pemalsuan, di depan semua orang, oleh keluarga yang paling berhak menilainya. Dan Marissa — Marissa yang seharusnya menjadi pembawanya — tidak pernah menyampaikan satu pun keretakan yang dijanjikannya.
*Mereka membaca permainanku,* pikirnya, dan untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun lalu, sesuatu yang tidak pernah dikenalnya datang ke dadanya: bukan marah. Takut. *Mereka tidak pernah retak. Mereka menulis keretakan itu untukku — dan aku membacanya seperti pembaca yang paling mudah.*
Hartono tidak pernah kalah dengan tenang. Dan orang yang sudah tujuh tahun menulis dari kejauhan tidak pernah bisa berdiri di pojok dengan tenang — pojok bukan tempatnya, dan paniknya mulai menulis langkah-langkahnya sendiri.
Sore itu berjalan di kamar sewaan itu seperti sore yang tidak pernah dibayangkannya akan dijalaninya: ia membaca ulang semuanya — dua tahun arsip yang disusunnya, dua tahun foto-foto, dua tahun rencana — dan untuk pertama kalinya membacanya dengan mata orang yang sudah kalah. Setiap halaman yang dulu terlihat seperti kemenangan kini terbaca seperti apa sebenarnya: pekerjaan seorang yang menghabiskan tujuh tahun menulis tentang hidup orang lain karena tidak pernah bisa menulis satu halaman pun tentang hidupnya sendiri. Ia tidak pernah kembali ke Grup Lestari setelah kasus Danuarta — karena orang-orang seperti Grup Lestari tidak pernah memakai kembali alat yang sudah terbaca. Ia tidak pernah membangun apa pun setelahnya — karena membangun membutuhkan orang-orang, dan ia sudah lama tidak punya satu pun orang. Yang tersisa hanya satu hal: dendam kepada satu lelaki yang dua kali membacanya dengan benar, dan satu perempuan yang tidak pernah bisa ditakuti untuk mundur dari lelaki itu.
Dan di tengah semua bacaan ulang itu, satu kesadaran berdiri paling keras dari semuanya: *tidak pernah ada keretakan. Tidak pernah ada satu pun yang benar dari yang kulaporkan.* Orang yang sudah tujuh tahun menulis dengan kebohongan akhirnya membaca kebohongan yang ditulis untuknya — dan membacanya terlambat, seperti semua pembaca yang paling mudah.
Langkah pertama: ia menghubungi Marissa — dengan satu pesan yang membaca terlalu banyak: *'Kamu tidak pernah menyampaikan apa pun. Aku sudah membaca ulang semua yang kuberikan padamu dan semua yang kamu laporkan, dan satu hal tidak pernah cocok: mereka tidak pernah retak. Kamu menjualku, Marissa. Dan alat yang menjual majikannya tidak pernah berakhir dengan tenang.'*
Marissa membaca pesan itu dengan telapak tangan yang dingin — dan meneruskannya ke Ario dalam satu menit, dengan satu kalimat: 'Dia tahu. Dan dia mulai panik. Orang yang panik akan melakukan satu kesalahan — dan kalian harus siap sebelum dia menulisnya.'
Malam itu juga, Marissa tidak pernah lagi sendirian — dua orang Sapta berdiri di sekitar apartemennya tanpa pernah terlihat, dan satu aturan disampaikan kepadanya yang tidak pernah ditawarnya: tidak ada pertemuan lagi dengan orang bertopi itu, dalam bentuk apa pun, dengan alasan apa pun. 'Bagianmu sudah selesai,' kata Ario lewat telepon. 'Dan bagian yang sudah selesai tidak pernah diperpanjang demi satu bukti lagi. Kamu sudah memberikan lebih dari yang pernah kami minta — sekarang tugasmu satu: tetap aman, dan tetap menjadi orang yang kamu pilih untuk menjadi.'
'Dan kalau dia datang sendiri ke apartemenku?'
'Dia tidak akan pernah sampai ke pintumu,' jawab Ario. 'Karena orang yang sedang panik tidak pernah bergerak ke orang — dia bergerak ke bukti. Dan buktinya malam ini sedang menunggunya di satu tempat yang sudah kami baca sejak lama. Kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari papan itu lagi, Marissa. Kamu sudah selesai — dan kamu sudah menang.'
Dan di sore terakhir sebelum ia bergerak, Hartono berdiri lama di tengah kamar sewaannya — memandang dua tahun arsip yang disusunnya di satu meja, dan satu koper yang sudah dikemasnya tanpa pernah menyadarinya sedang dikemasnya. Ia tidak pernah membayangkan hari ini tiba seperti ini: bukan dengan mereka yang hancur, tapi dengan mereka yang tidak pernah retak; bukan dengan satu nama yang runtuh, tapi dengan satu nama yang berdiri lebih tinggi setelah serangan terakhirnya. Dan untuk satu menit — satu menit penuh, di sore itu — ia hampir memilih jalan yang lain: membakar semuanya, menghilang, dan tidak pernah menulis satu halaman lagi. Satu menit itu nyata, dan ia akan mengingatnya lama — karena ia membiarkannya lewat, seperti selalu, seperti tujuh tahun yang tidak pernah mengajarinya satu pun halaman baru.
Langkah kedua: Hartono melakukan apa yang tidak pernah dilakukannya dalam tujuh tahun — ia bergerak sendiri. Malam itu juga, satu mobil keluar dari alamat Jakarta utara itu untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dan Sapta yang sudah menunggunya berminggu-minggu membaca pergerakannya seperti membaca halaman yang sudah dihafalnya: 'Dia bergerak. Akhirnya. Dan orang yang bergerak setelah tujuh tahun diam selalu bergerak ke satu arah: ke bukti yang belum sempat dihancurkannya.'
Bukti itu ada — Hartono tidak pernah menghancurkan apa pun sepenuhnya, karena orang seperti Hartono selalu menyimpan pegangan atas orang-orangnya. Satu kotak dokumen asli dari dua kasus itu — memo-memo asli, korespondensi asli, bukti-bukti asli — disimpannya di satu loker penyimpanan di pinggir kota, dibayar tunai setiap tahun, tidak pernah disentuh. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia membutuhkannya: bukan untuk dipakai, tapi untuk dihancurkan, sebelum Sapta atau siapa pun menemukannya.
'Ini kesalahannya,' kata Sapta, sudah bergerak ke mobilnya dengan dua orangnya. 'Orang yang menyimpan bukti tidak pernah bisa menghancurkannya dari jauh. Dia harus datang sendiri ke lokernya — dan itu satu-satunya tempat di mana dia tidak bisa lagi menulis dari kejauhan. Panggil polisi sekarang. Bukan besok. Sekarang.'