Mereka menunggunya di loker penyimpanan itu — Sapta, dua orangnya, dan dua polisi yang datang dengan surat-surat yang disiapkan sejak seminggu sebelumnya, karena Ario tidak pernah membangun satu pun langkah tanpa jalur yang sah.
Empat jam menunggu itu berjalan dengan ketegangan yang hanya dikenal orang-orang yang pernah menunggu di kegelapan: tidak ada yang bicara lebih dari yang perlu, tidak ada satu pun yang bergerak dari titiknya, dan setiap lampu mobil yang lewat membawa satu kemungkinan yang tidak pernah datang. Sapta menjalankannya seperti orang yang sudah puluhan tahun menunggu di malam-malaman seperti itu — dengan sabar yang tidak pernah bisa dilatih, hanya bisa dibayar dengan tahun-tahun. 'Orang yang datang untuk menghancurkan bukti tidak pernah datang dengan tergesa-gesa,' bisiknya pada dua polisi itu. 'Dia datang untuk memastikan. Dan orang yang datang untuk memastikan selalu berdiri cukup lama di depan buktinya untuk kita baca.'
Hartono tiba lewat tengah malam — dengan topi dan kacamata yang sama, dengan satu koper kosong, dengan tangan yang tidak pernah gemetar sampai malam itu. Ia membuka lokernya, mengeluarkan kotak dokumen yang sudah tujuh tahun tidak disentuhnya, dan menyalakan satu arang kecil di tungku bakar portabel yang dibawanya — dan baru menyalakan koreknya ketika lampu-lampu lorong itu menyala semuanya.
'Hartono Subrata,' kata Sapta, berdiri di ujung lorong dengan dua polisi di sampingnya. 'Sudah tujuh tahun. Cukup.'
Orang bertopi itu tidak lari — orang seperti dia tidak pernah lari, karena lari adalah bahasa orang yang panik, dan ia sudah selesai paniknya di kamar sewaannya sore tadi. Ia berdiri, melepas kacamatanya pelan-pelan, dan menatap mereka dengan wajah yang akhirnya terlihat untuk pertama kalinya: wajah yang lebih tua dari yang disangka, lebih lelah dari yang ditakuti, dan lebih kosong dari yang pernah dibayangkan Ranti dan Ario saat menerima kabar penangkapannya satu jam kemudian.
'Dia tidak melawan,' lapor Sapta ke Ario lewat telepon. 'Dia hanya berdiri di depan lokernya dan berkata satu kalimat yang tidak akan pernah kulupakan: "Tujuh tahun aku menulis tentang orang yang tidak pernah salah. Ternyata tidak ada yang lebih melelahkan daripada itu." Lalu dia menyerahkan kotak itu sendiri — dengan dua tangannya, seperti menyerahkan sesuatu yang sudah lama ingin dilepaskannya.'
Kabar itu sampai ke ruang kerja Ario dalam satu menit — dan untuk pertama kalinya sejak papan itu digantung, tidak ada satu pun yang berdiri di depannya. Ranti duduk di sofa ruangan itu dengan secangkir teh yang sudah dingin, Ario berdiri di jendelanya dengan ponsel masih di tangannya, dan untuk waktu yang lama tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Marissa mendengarnya dari telepon Ario dan tidak berkata apa-apa selama satu menit penuh — lalu berkata satu hal, dengan suara yang tidak pernah lebih ringan dari itu: 'Tujuh tahun, Ario. Dan selesai di satu lorong. Selamat untuk kalian berdua. Dan sampaikan pada keluarga Madina: aku akan datang sendiri ke toko kain mereka suatu hari nanti — bukan sebagai tamu, tapi sebagai orang yang perlu duduk di sana dan belajar bagaimana orang berdiri setelah tujuh tahun.'
'Datanglah kapan saja,' jawab Ario. 'Pintunya tidak pernah dikunci, Marissa. Tidak untuk orang yang berhenti sebelum terlambat. Kamu sudah mempelajarinya — dan itu satu-satunya hal yang tidak pernah bisa diambil darimu.'
Kotak itu berisi semuanya: memo-memo asli dari kasus Madina — termasuk satu memo yang tidak pernah ada sebelumnya, memo yang memerintahkan 'penanganan' saksi-saksi keluarga Madina dengan paraf Hartono sendiri di bawahnya — korespondensi dengan Grup Lestari, dan satu folder penuh dari dua tahun terakhir: foto-foto Ranti, catatan-catatan tentang rutinitasnya, dan satu naskah yang tidak pernah selesai ditulisnya: rencana-rencana yang tidak pernah terjadi, berlapis-lapis, menunggu.
Dan di dalam satu amplop terpisah di dasar kotak itu, ada satu dokumen yang membuat Sapta berhenti lebih lama dari semuanya: surat-surat yang tidak pernah dikirim Hartono — puluhan surat, ditulis tujuh tahun, tidak pernah dikirim ke satu pun alamat. Surat-surat untuk Danuarta yang menghilang, untuk Grup Lestari yang tidak pernah membacanya, untuk satu lelaki yang dua kali membacanya dengan benar. Surat-surat orang yang tidak pernah bisa menulis untuk dikirim — hanya untuk disimpan, hanya untuk dibaca sendiri, hanya untuk tidak pernah dijawab. 'Tujuh tahun menulis surat-surat yang tidak pernah dikirim,' kata Sapta pelan, menutup amplopnya. 'Tidak heran dia tidak pernah bisa membuang satu pun darinya. Orang yang tidak pernah mengirim suratnya tidak pernah bisa melepaskan apa pun.'
'Dia menyimpan semuanya,' kata Ario, membaca laporannya di ruang kerjanya dini hari itu, dengan Ranti di sebelahnya dan dengan Marissa yang menunggu kabar di teleponnya. 'Bukan karena ceroboh — karena orang seperti dia tidak pernah bisa membuang bukti tentang dirinya sendiri. Itu satu-satunya hal tentang dirinya yang tidak pernah bisa dipalsukannya: dia butuh bukti bahwa dia pernah menang, bahkan ketika bukti itu adalah satu-satunya hal yang bisa menjatuhkannya.'
'Dia menulis endingnya sendiri,' kata Ranti pelan. 'Tujuh tahun menulis tentang orang lain — dan satu-satunya halaman yang tidak pernah bisa ditulisnya adalah halaman tentang bagaimana melepaskan buktinya sendiri. Orang yang tidak pernah bisa melepaskan tidak pernah bisa kabur, Ario. Itu bukan kelemahan kecil. Itu kelemahan yang menulis seluruh akhir ceritanya.'
Ario menatapnya — dan untuk pertama kalinya sejak pesan pertama itu, ada sesuatu yang lain di wajahnya: bukan lega, belum lega, tapi sesuatu yang mendahuluinya — pengakuan. 'Kamu membacanya lebih cepat dari aku, dari Sapta, dari semua dari kami. Dari malam kamu menambahkan satu kolom tanpa nama di papan itu. Aku tidak akan pernah melupakan itu, Ranti. Kamu tidak pernah berdiri di belakangku dalam perang ini. Kamu berdiri di sampingku — dan beberapa malam, kamu yang berdiri di depan.'
'Itu satu-satunya tempat yang pernah kumau,' jawabnya. 'Di sampingmu. Tidak pernah di belakang.'
Dan dini hari itu, di ruang kerja itu, mereka berdua berdiri di depan papan itu — dan untuk pertama kalinya sejak pesan pertama masuk ke ponsel Ranti, satu nama di papan itu dicoret dengan garis yang terakhir: bukan karena dicari lagi, tapi karena sudah ditemukan.
Hartono Subrata. Tertangkap. Dengan semua bukti yang ditulisnya sendiri, disimpannya sendiri, dan diserahkannya sendiri — di satu lorong loker, di satu malam yang menunggu tujuh tahun untuk datang.