“Mas Teguh, bagaimana kabarmu?”
Wanita itu melihat Teguh dengan tatapan yang begitu serius. Diiringi dengan senym mengembang yang tampak begitu sangat manis. Teguh masih saja terdiam dengan apa yang dilihatnya. Bibirnya tak bergeming sedikit pun.
Sedangkan Sekar yang mendengar suara seorang wanita yang begitu dekat jaraknya. Dia seperti merasakan jika wanita itu berdiri tak jauh darinya. Namun, Sekar hanya diam, karena dia tahu jika wanita itu tengah menyapa Teguh.
“Mas Teguh masih marah ya sama aku, gara-gara aku ...”
“Aku tidak pernah marah sama kamu, maaf Ria, aku harus segera pergi.”
Teguh seolah mencoba untuk menghindar dari wanita yang terus memandangnya. Bahkan Teguh sama sekali tak peduli dengan ucapan wanita itu yang dipotong olehnya.
“Mas, tolong berikan aku waktu untuk men