Hari Selasa itu dimulai seperti hari biasa bagi Bagas Nugroho — dan berakhir sebagai hari terburuk dalam hidupnya.
Pukul sembilan pagi, surat panggilan dari pengadilan agama sampai ke mejanya: gugatan cerai dari Ratri, dengan lampiran yang membuat wajahnya memutih — fotokopi buku nikah siri Bandung, surat keterangan duda palsu, dan perjanjian agunan rumah dengan tanda tangan palsu istrinya.
Pukul sebelas, ponselnya berdering dari nomor Bandung yang tidak dijawabnya — karena di saat yang sama, dua petugas kepolisian tiba di kantornya untuk menyampaikan bahwa laporan atas dugaan pemalsuan surat keterangan telah resmi diterima, dan ia diminta hadir untuk klarifikasi.
Dan pukul dua siang, internet meledak.
*'CEO Grup Nugroho Diduga Jalani Pernikahan Ganda dengan Dokumen Palsu'* — headline itu menyebar dari satu portal bisnis ke semua portal, lengkap dengan garis waktu delapan tahun yang tersusun terlalu rapi untuk dibantah, foto buku nikah siri yang diburamkan seperlunya, dan kutipan dari dua perempuan yang namanya tidak disebut tetapi keberadaannya tidak bisa disangkal.
Bagas berdiri di ruang kerjanya, di lantai dua puluh, dan menonton dua puluh tahun pencitraannya runtuh dalam dua puluh menit.
Saham Grup Nugrogo bergetar sebelum pasar tutup. Dewan komisaris mengadakan telepon darurat malam itu juga. Dan pada hari Kamis — dua hari setelahnya — Bagas Nugroho 'mengundurkan diri' dari kursi CEO dengan alasan yang ditulis rapi oleh konsultan krisis yang disewa terburu-buru.
Rumah Jakarta kosong ketika ia pulang malam itu. Ratri sudah pindah ke apartemen saudaranya, membawa koper-koper yang sudah dikemas sejak seminggu sebelumnya — selama seminggu penuh 'rekonsiliasi' itu, tentu saja. Yang tertinggal di meja makan hanya satu lembar kertas:
*'Kamu benar satu hal: kepercayaan itu mahal. Mahal sekali — sampai kamu harus membayarnya dengan dua rumah. Terima kasih untuk delapan tahun pelajarannya. — R.'*
Bagas mencoba semua pintu yang biasa terbuka untuknya. Pengacara terbaik? Mereka membaca berkasnya dan mengutip tarif yang membuatnya sadar masalahnya bukan hukum, melainkan bukti yang terlalu lengkap. Media? Sudah menulis babak kedua. Keluarga? Orang tuanya sendiri menelepon dengan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab: 'Itu benar soal anak di Bandung? Kami punya cucu dan kamu sembunyikan?'
Dan Sari — perempuan yang paling ia kira lemah, yang ia tinggali tanpa pengakuan — menolak semua teleponnya, dan lewat pengacara menyampaikan satu-satunya pesannya: jadwal mediasi tentang masa depan Bara, di kantor hukum, bukan di mana pun yang ia kendalikan.
Dalam satu minggu, Bagas Nugroho kehilangan jabatannya, rumah tangganya yang sah, keluarga rahasianya, dan — yang paling menyakitkan bagi orang seperti dia — kendali atas cerita. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, naskahnya tidak ditulis olehnya.
Di apartemen saudaranya, malam itu, Ratri menonton berita kejatuhan suaminya dengan perasaan yang mengejutkannya sendiri: bukan puas. Bukan bahagia. Hanya... selesai. Seperti menutup buku yang terlalu lama dibaca.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Sari: *'Bara hari ini tanya kenapa Ayah tidak datang. Aku jawab: Ayah sedang menyelesaikan kesalahannya, Sayang. Doakan saja. — Terima kasih, Ratri. Untuk semuanya.'*
Ratri menatap pesan itu lama, lalu membalas dengan satu kalimat yang ia maksudkan sungguh-sungguh:
*'Kita berdua yang menulis ini, Sari. Dua-duanya.'*