Rencana itu berjalan seperti dua tangan yang memegang satu benang: Ratri menahan Bagas di Jakarta, Sari mengunci Bandung.
Bagian Ratri adalah yang paling sulit secara batin: sandiwara rekonsiliasi. Maka pada minggu yang mereka pilih, Ratri menyiapkan makan malam istimewa — lilin, masakan kesukaan Bagas, dan peran seorang istri yang ingin memperbaiki pernikahan.
'Aku sudah memikirkan kata-kataku tempo hari,' katanya, menyentuh tangan suaminya di atas meja. 'Tentang betapa sedikitnya aku mengenalmu. Itu tidak adil. Delapan tahun ini kamu membangun semuanya untuk kita. Aku mau kita kembali seperti dulu, Bagas. Mungkin... kita coba lagi soal anak?'
Bagas menatapnya — dan Ratri melihat perhitungan bekerja di mata suaminya. Istri yang lunak, dua bulan sebelum kepergiannya, adalah berkah sekaligus risiko. Berkah karena rumah Jakarta akan tenang sampai ia pergi. Risiko karena... tidak, tidak ada risiko. Perempuan ini mencintainya. Mereka selalu mencintainya.
'Kamu serius?' tanyanya, dan ada kehangatan lama yang dipoles muncul di suaranya. 'Sayang, itu kabar terbaik tahun ini.'
'Maka jangan ke mana-mana minggu ini,' kata Ratri, tersenyum. 'Seminggu penuh untuk kita. Batalkan Bandung-mu. Sekali ini saja.'
Dan Bagas — yang sudah memesan tiket Rabu-nya, yang jadwalnya dua puluh tahun tidak pernah batal — membatalkannya. Untuk seminggu. Karena istrinya menangis haru di makan malam itu, dan karena lelaki yang menipu terlalu lama selalu percaya bahwa dialah yang paling sulit ditipu.
Seminggu itu, Bandung bergerak cepat.
Sari, dengan surat kuasa yang disusun pengacara mereka — pengacara yang sama yang kini menangani kedua perempuan itu, satu-satunya orang ketiga yang tahu seluruh peta — mengamankan segalanya: buku nikah siri dan surat duda palsu diserahkan resmi untuk divalidasi, akta Bara dicatatkan untuk pengakuan, dan rumah Bandung dipastikan legalitasnya bersih atas namanya. Laporan polisi atas pemalsuan dokumen disiapkan — belum dimasukkan. Menunggu hari.
Di Jakarta, Ratri melakukan hal yang lebih sunyi: menyalin. Selama seminggu penuh 'rekonsiliasi', setiap kali Bagas tertidur atau mandi, dokumen-dokumen rumah itu berpindah ke lensa ponselnya: perjanjian agunan rumah yang tidak pernah ia tandatangani — tanda tangannya dipalsukan, dan itu peluru kedua — rekening-rekening, surat-surat saham.
Dan pada Kamis malam, di ranjang mereka, Bagas berkata sesuatu yang tidak ia sadari sedang direkam oleh perekam kecil di laci nakas yang diletakkan Ratri pagi itu:
'Aku senang kamu kembali manis seperti ini,' kata suaminya dalam gelap. 'Kamu tahu, aku sempat takut kamu berubah. Perempuan yang tahu terlalu banyak itu berbahaya, Sayang. Untung kamu bukan tipe itu.'
'Memangnya ada apa yang harus ditakutkan?' tanya Ratri lembut.
'Banyak. Bisnis itu kotor. Ada hal-hal yang kalau istri tahu, rumah tangga hancur.' Bagas mendengus kecil. 'Tapi kamu beda. Kamu percaya padaku. Itu mahal, Ratri. Itu yang membuat rumah ini berdiri.'
Kepercayaan yang ia banggakan itu — kepercayaan buta yang ia bangun selama delapan tahun — sedang berdiri di sampingnya dalam gelap, merekam, dan tersenyum tanpa suara.
Hari Senin berikutnya, tiga amplop berjalan ke tiga tujuan: gugatan cerai Ratri masuk ke pengadilan agama Jakarta; laporan pemalsuan Sari masuk ke kepolisian Bandung; dan satu salinan lengkap — rapi, terdokumentasi, dengan garis waktu delapan tahun — sampai ke meja seorang jurnalis bisnis senior yang sudah lama mencium bau tak sedap di sekitar nama Bagas Nugroho.
Semuanya dijadwalkan tiba dalam rentang dua puluh empat jam.
Karena lelaki yang menjalankan dua kehidupan hanya bisa jatuh dengan satu cara: ketika kedua kehidupannya, pada hari yang sama, memutuskan untuk berbicara.