Kebenaran paling pahit itu datang bukan dari dokumen, melainkan dari mulut seorang notaris yang lelah.
Ratri menemuinya lewat jalur kenalan lama keluarganya — notaris senior di Jakarta Selatan yang dua bulan lalu menangani 'konsultasi pribadi' Bagas Nugroho. Pertemuan itu tidak mudah didapat, dan percakapannya tidak mudah didengar.
'Saya tidak bisa melanggar kerahasiaan klien, Bu Ratri,' kata notaris itu, dua kali.
'Dan saya tidak meminta Bapak melanggarnya,' jawab Ratri, meletakkan buku nikahnya di meja. 'Saya hanya meminta Bapak membaca ini, lalu menjawab satu pertanyaan sebagai sesama manusia: apakah saya masih punya waktu, atau semuanya sudah terlambat?'
Notaris itu membaca buku nikah itu, menatap perempuan di depannya — dan sesuatu yang lama tertidur di dadanya, sesuatu yang bernama nurani profesi, bangun dan berdiri.
'Yang bisa saya katakan tanpa melanggar sumpah, Bu,' katanya akhirnya, pelan, 'adalah: uruslah hak-hak Ibu sebelum akhir kuartal. Jangan menunda.'
Akhir kuartal. Delapan minggu lagi.
Dengan potongan itu, peta yang disusun Ratri dan Sari akhirnya menemukan bentuk utuhnya — dan bentuknya mengerikan dalam kerapiannya.
Rekening Singapura itu bukan tabungan; itu pendaratan. Selama dua tahun, Bagas mengalirkan aset pribadinya ke luar negeri dalam jumlah kecil yang tidak berbunyi. Rumah Jakarta sudah diagunkan diam-diam — Ratri menemukan salinan perjanjiannya di antara kertas-kertas lama di ruang kerja rumah, disamarkan sebagai 'dokumen bank'. Rumah Bandung atas nama Sari akan menjadi satu-satunya hal yang tersisa — dan nilainya tidak seberapa dibanding yang dilarikan.
Dan di atas semuanya: tiket satu arah dan brosur apartemen Kuala Lumpur.
Rencana ketiga. Bukan memilih salah satu istri. Bukan mempertahankan keduanya. Melainkan menghilang — meninggalkan Ratri dengan rumah yang diagunkan dan pernikahan tanpa pesangon, meninggalkan Sari dengan buku nikah siri yang lemah di mata hukum dan anak yang tidak akan pernah diakui di Jakarta.
'Dia menghitung semuanya,' kata Sari lewat telepon, suaranya gemetar menahan amarah. 'Kita berdua pemberhentian, Ratri. Dua rumah, dan dua-duanya cuma hotel.'
'Dengar aku baik-baik.' Suara Ratri justru tenang sekarang — tenang yang lahir setelah amarah selesai dimasak. 'Dia mau keluar akhir kuartal. Maka kita bergerak sebelum akhir kuartal. Semua yang sudah kita kumpulkan: surat duda palsu, buku nikah siri, rekening Singapura, agunan rumah yang kamu— yang tidak pernah aku setujui, semuanya.'
'Cukup untuk apa?'
'Cukup untuk tiga hal sekaligus.' Ratri menghitung dengan jarinya di udara, seperti sedang membaca laporan. 'Satu: gugatan cerai-ku, dengan bukti perzinahan dan pemalsuan — posisi harta bersama jadi kuat. Dua: laporan Sari atas pemalsuan surat keterangan — itu pidana, dan itu membuatnya tidak bisa lari ke luar negeri begitu saja. Tiga...' ia berhenti sejenak, '...pengakuan untuk Bara. Akta anak itu akan kuperjuangkan sekeras aku memperjuangkan gugatanku sendiri. Anak itu akan membawa nama ayahnya secara sah — karena kesalahan ayahnya bukan salahnya.'
Di seberang sambungan, Sari menangis tanpa suara.
'Kenapa kamu baik sekali padanya?' bisiknya. 'Padaku. Kami adalah bukti pengkhianatan terhadapmu.'
'Kalian bukan bukti pengkhianatan,' jawab Ratri. 'Kalian bukti bahwa penipu yang baik bisa membohongi siapa saja — termasuk dua perempuan yang tidak bodoh. Bedanya sekarang: dua perempuan yang tidak bodoh itu sudah bertukar catatan.'
Malam itu, mereka memilih tanggalnya. Bukan tanggal yang emosional — tanggal yang strategis: seminggu sebelum akhir kuartal, saat semua rekening belum sempat berpindah, saat tiket itu masih tersimpan belum dipakai.
Dua istri, dua rumah, satu tanggal.
Dan satu lelaki yang masih percaya bahwa dialah satu-satunya yang memegang kalender.