Orang yang menjalankan dua kehidupan hidup dari satu bahan bakar: prediktabilitas. Dan minggu itu, bahan bakar Bagas Nugroho mulai bocor dari dua arah sekaligus.
Di Jakarta, Ratri berubah halus. Ia tidak lagi menanyakan kabar saat Bagas pulang malam — bukan dingin, melainkan... tenang. Terlalu tenang. Ia menyiapkan makan malam, menanyakan hal-hal kecil, tetapi tidak lagi membaca wajah suaminya seperti dulu. Perempuan yang dulu menempelkan telinga pada pintu hatinya itu sudah pindah rumah tanpa memberi tahu.
'Kamu akhir-akhir ini santai sekali,' kata Bagas, menguji, di satu makan malam.
'Kamu akhir-akhir ini sibuk sekali,' jawab Ratri, mengangkat bahu. 'Aku belajar menikmati waktu sendiri. Kamu yang ajarin, kan? Delapan tahun.'
Di Bandung, Sari melakukan perubahan yang sebaliknya: ia mulai bertanya. Hal-hal kecil, manis, tetapi baru. 'Kantor Jakarta-mu alamatnya di mana sih, Mas? Aku pengin tahu aja.' 'Rekening Bara nanti atas nama siapa, Mas?' 'Mas pernah bilang istrimu meninggal karena kecelakaan — di mana, Mas? Aku kemarin mimpiin dia.'
Pertanyaan-pertanyaan itu mendarat di Bagas seperti kerikil di kaca jendela: kecil, tapi berulang, di malam-malam yang seharusnya tenang.
Dan lelaki yang hidup dari dua naskah itu mulai kehilangan tempo.
Ia mulai salah sebut — menyebut acara kantor Jakarta di meja makan Bandung, menyebut 'nanti Ayah belikan' tentang mainan di telepon yang salah. Ia mulai memeriksa dua ponselnya dengan frekuensi yang tidak wajar. Dan di suatu malam di rumah Jakarta, ia menatap istrinya yang sedang membaca di seberang sofa dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam delapan tahun: tidak yakin.
'Kamu lagi mikirin apa?' tanyanya.
Ratri menurunkan bukunya. 'Kamu.'
Bagas menunggu. 'Terus?'
'Aku mikir... betapa sedikitnya aku tahu tentang kamu.' Ratri menatapnya dengan senyum yang tidak bisa dibaca. 'Padahal delapan tahun serumah. Lucu ya.'
Ia kembali ke bukunya. Bagas menatapnya lama — dan malam itu, di rumah yang ia bangun sebagai panggung, untuk pertama kalinya ia merasa seperti sedang ditonton penonton yang tahu alurnya.
Di Bandung, malam yang sama, Sari berbaring di samping Bara yang tertidur dan mengetik pesan untuk Ratri:
*'Dia mulai gelisah. Hari ini dia tanya dua kali apakah ada orang asing yang datang ke rumah. Aku jawab: cuma tukang gas. Dia menatapku lima detik.'*
Balasan Ratri: *'Bagus. Orang gelisah membuat kesalahan. Pegang erat-erat, Sari. Kita hampir sampai.'*
Sari menatap pesan itu, lalu menatap anaknya yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, dan merasakan hal yang tidak pernah ia bayangkan akan ia rasakan terhadap istri pertama suaminya: rasa aman.
Dua perempuan itu berdiri di dua rumah yang berbeda, di dua kota yang berbeda, menjaga satu garis yang sama — sementara lelaki yang membangun dua-duanya mulai berjalan dengan mata yang mengawasi bayangannya sendiri.
Kehidupan ganda itu belum runtuh.
Tetapi retaknya sudah berbunyi — dan Bagas Nugroho, untuk pertama kalinya, tidur dengan satu mata terbuka.