Kesepakatan itu mereka tulis sungguhan — karena dua perempuan yang dibohongi lelaki yang sama telah belajar satu hal: janji lisan tidak berharga, tulisan berharga.
Aturannya sederhana. Satu: tidak ada yang membuka konfrontasi sebelum bukti lengkap. Dua: semua dokumen disalin tiga kali dan disimpan di tiga tempat. Tiga: komunikasi hanya lewat nomor baru, dari ponsel cadangan, tanpa nama asli. Empat: apa pun yang terjadi, Bara tidak pernah dijadikan alat.
'Bocah itu satu-satunya yang tidak bersalah di seluruh cerita ini,' kata Ratri, yang mengusulkan aturan keempat. 'Dia tidak memilih ayahnya.'
Pembagian tugasnya mengikuti medan masing-masing. Ratri di Jakarta: membaca sisi korporat — laporan keuangan, rekening, aset. Sari di Bandung: mengamankan dokumen rumah tangga mereka — buku nikah siri, akta Bara, dan surat keterangan 'duda' palsu yang menjadi jantung penipuan.
'Dokumen ini,' kata Ratri, menunjuk fotokopi surat keterangan duda itu, 'adalah pelurunya. Pernikahan siri sah-sah saja di mata agama — tetapi surat keterangan berstatus duda yang dipalsukan adalah pidana. Dia tidak sekadar menikah lagi, Sari. Dia memalsukan status hidupnya.'
Selama dua minggu berikutnya, mesin kecil mereka bekerja tanpa suara.
Ratri menemukan kejanggalan baru di sisi Jakarta: aliran dana pribadi Bagas yang mengalir ke sebuah rekening di Singapura, pelan tapi teratur, selama dua tahun. Nominalnya kecil-kecil supaya tidak berbunyi — tetapi dijumlahkan, mencapai angka yang membuatnya bersandar lama ke kursi. Suaminya tidak hanya menjalankan dua rumah. Suaminya sedang membangun rumah ketiga: kehidupan baru di luar jangkauan, di luar negeri, yang dibiayai sedikit demi sedikit dari dua rumah yang ia pura-pura huni.
Sari menemukan halnya sendiri: di laci tengah meja kerja kecil di rumah Bandung — laci yang selama ini 'khusus dokumen Ayah' — ia menemukan map berisi brosur apartemen di Kuala Lumpur dan print-out tiket satu arah yang belum dipakai. Tanggalnya kosong. Seperti ancaman yang menunggu jadwal.
'Dia mau pergi,' kata Sari lewat telepon malam itu, suaranya menekan. 'Dia sedang mempersiapkan hilang. Bukan memilih salah satu dari kita — meninggalkan kita berdua.'
Ratri diam sejenak, mencerna. Lalu hal yang aneh terjadi: ia tertawa kecil.
'Lucu ya,' katanya. 'Kemarin aku takut kehilangan dia. Sekarang aku takut dia menghilang sebelum sempat membayar. Bedanya tipis sekali, Sari. Cinta dan dendam sama-sama tidak mau ditinggal pergi begitu saja.'
'Kita cegah?'
'Tidak.' Mata Ratri menajam di kegelapan kamarnya. 'Kita biarkan rencananya jalan — tapi kita pastikan saat dia berdiri di pintu keluar, seluruh dindingnya sudah kita ganti kaca. Semua orang melihat ke dalam. Tidak ada lagi panggung gelap untuk dia berpindah peran.'
Mereka menutup telepon dengan rencana yang utuh. Dan sebelum tidur, Ratri berbaring di ranjang besar rumah Jakarta-nya, mendengarkan keheningan, dan memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal:
Dalam delapan tahun pernikahannya, ia tidak pernah merasa sedekat ini dengan siapa pun — dan kedekatan itu datangnya dari perempuan di Bandung, istri kedua suaminya, satu-satunya orang di dunia ini yang tahu persis rasanya menjadi istrinya.
Hidup memang kadang menulis pasangan yang salah.
Dan kadang, menulis sekutu yang paling benar di tempat yang paling salah.