Mereka bertemu lagi tiga hari kemudian — kali ini bukan untuk menangis, melainkan untuk bekerja.
Ratri kembali ke Bandung dengan laptop dan map kosong. Sari menyambutnya dengan meja yang sudah dibersihkan dan dua cangkir teh; Bara sedang di rumah neneknya. Dua perempuan itu duduk berhadapan seperti dua akuntan forensik, dan mulai membongkar kehidupan ganda Bagas Nugroho — bukti demi bukti, tahun demi tahun.
Jadwalnya terbaca lebih dulu. Rabu sampai Jumat di Bandung, empat tahun, tidak pernah berubah. 'Dia bilang Jakarta penuh tekanan, dia butuh keluarga yang tenang,' kata Sari. 'Dan setiap Senin dia pamit subuh, bilang kerjaannya menumpuk.'
'Setiap Rabu dia pamit dengan koper,' jawab Ratri. 'Bilangnya: ekspansi ke Jawa Barat. Aku bahkan pernah menjenguk "kantor cabang"-nya di Bandung — dia membawaku ke kantor sewaan di gedung bersama, dengan dua karyawan yang kutahu sekarang pasti dibayar untuk berakting.'
Uangnya menyusul. Ratri membaca aliran rekening yang ia kenal: rumah Bandung itu dibeli tunai tiga tahun lalu atas nama Sari — 'hadiah', yang ternyata pintar sekali: aset itu tidak bisa disita dalam sengketa harta bersama. SPP Bara dibayar tunai setiap bulan. Dan di Jakarta, Ratri hidup dalam kemewahan yang ternyata juga dihitung ketat: semua kartu kreditnya dilaporkan, semua rekening 'bersama' yang saldonya tidak pernah sebesar omongan suaminya.
'Dia menjalankan dua rumah tangga seperti menjalankan dua anak perusahaan,' kata Ratri, menatap catatan mereka. 'Masing-masing dikasih cukup untuk tidak bertanya, tidak ada yang dikasih cukup untuk merdeka.'
Lalu latar ceritanya — dan di sinilah keduanya merasa paling telanjang.
Kepada Sari, Bagas adalah duda yang ditinggal istri tercinta: lelaki penyayang yang membangun kembali hidupnya di Bandung, jauh dari 'kenangan menyakitkan di Jakarta'. Kepada keluarga dan lingkaran Ratri, Bagas adalah suami setia yang tidak dikaruniai anak tetapi tabah — dan kepada orang tuanya, Sari bahkan pernah diperkenalkan sebagai 'teman bisnis'.
'Dia tidak berimprovisasi,' kata Sari pelan. 'Semua ini skenario. Tertulis. Ada versinya untuk setiap panggung.'
'Orang seperti dia tidak selingkuh, Sari.' Ratri menatapnya. 'Selingkuh itu kecolongan. Ini... operasi. Delapan tahun, dua rumah, dua identitas, satu anak yang disembunyikan dari dunia — ini bukan nafsu. Ini orang yang menikmati menjadi dua orang.'
Mereka menghabiskan sore itu menyusun garis waktu bersama, dan di akhirnya, papan kecil di meja Sari menunjukkan sesuatu yang mengerikan dalam kerapiannya: kehidupan ganda yang nyaris sempurna, dirawat bertahun-tahun, tanpa satu pun retakan yang terlihat — sampai sebuah struk SPP lupa dikeluarkan dari saku jas.
'Satu pertanyaan terakhir,' kata Ratri, menatap Sari. 'Dan jawab dengan jujur, karena ini menentukan segalanya. Kamu masih mencintainya?'
Sari diam lama. Matanya turun ke foto Bara di dinding.
'Aku mencintai lelaki yang datang setiap Rabu,' katanya akhirnya. 'Tapi lelaki itu tidak pernah ada. Aku mencintai karakter dalam cerita yang dia tulis. Dan sekarang ceritanya sudah selesai kubaca.' Ia mengangkat wajah. 'Yang tersisa cuma Bara. Dan kehormatan yang harus kuperjuangkan untuknya.'
Ratri mengangguk, dan mengulurkan tangannya ke seberang meja.
'Maka kita sepakat,' katanya. 'Tidak ada yang meledak dulu. Kita kumpulkan semuanya — dokumen, uang, bukti palsu, semuanya — dan kita pilih waktunya. Lelaki yang menjalankan dua kehidupan hanya kalah dengan satu cara: ketika kedua kehidupannya bertemu di satu ruangan.'
Sari menatap tangan itu. Tangan istri pertama — perempuan yang seharusnya menjadi musuhnya — terulur ke arahnya di atas meja yang dipenuhi bukti.
Ia menggenggamnya.
'Dua rumah,' kata Sari.
'Satu suami,' jawab Ratri.
'Dan nol tempat untuk lari.'