Ratri mengetuk pintu itu di pagi hari, setelah anak itu berangkat sekolah — karena apa pun yang akan terjadi, anak itu tidak boleh mendengarnya.
Sari membuka pintu dengan senyum ramah orang yang menyangka tamu biasa. Senyum itu perlahan memudar saat melihat perempuan di depannya: setelan rapi, wajah tenang, dan mata yang sudah tahu segalanya.
'Selamat pagi,' kata Ratri. 'Namaku Ratri. Istri Bagas Nugroho.'
Warna hilang dari wajah Sari seperti air ditarik dari kain. Tangannya mencari kusen pintu.
'Saya... tidak mengerti maksud Ibu. Suami saya—'
'Suamimu Bagas Nugroho, CEO Grup Nugroho, tinggal di Jakarta,' kata Ratri pelan, tidak menusuk, hanya meletakkan fakta seperti meletakkan kartu. 'Dan aku istrinya. Delapan tahun. Buku nikah kami tercatat di KUA Menteng. Boleh aku masuk? Aku tidak datang untuk merusak. Aku datang karena kita berdua berhak tahu kebenaran.'
Sari seharusnya menutup pintu itu. Setiap seratnya menyuruhnya menutup pintu itu. Tetapi ada sesuatu dalam nada suara perempuan ini — tidak ada amarah, hanya kelelahan yang sangat teratur — yang membuat tangannya membuka pintu lebih lebar.
Di ruang tamu kecil itu, di antara foto-foto keluarga yang dibangun di atas dusta, dua perempuan itu saling menatap.
'Aku akan menunjukkan sesuatu,' kata Sari akhirnya, suaranya gemetar. Ia berjalan ke kamar dan kembali membawa map merah — buku nikah siri, akta kelahiran Bara, dan satu dokumen: surat keterangan berstatus duda atas nama Bagas Nugroho, bertanda tangan dan bermeterai.
'Dia bilang istrinya meninggal,' kata Sari, dan kalimat itu keluar seperti tulang dari tenggorokan. 'Lima tahun lalu, saat kami menikah, dia bilang dia duda. Istrinya meninggal karena kecelakaan. Dia bahkan... dia bahkan menangis waktu menceritakannya.'
Ratri menatap surat keterangan palsu itu, dan merasakan hal yang paling aneh: tawa yang harus ditahan. Suaminya membunuhnya secara administratif. Lebih praktis daripada perceraian.
'Dia tidak duda,' kata Ratri. 'Aku hidup, sehat, dan memasakkan sopnya tiga hari lalu.'
Sari menatapnya — dan kemudian, di ruang tamu kecil itu, perempuan muda itu runtuh. Bukan tangis histeris; tangis orang yang fondasinya dicabut pelan-pelan. Empat tahun pernikahan. Seorang anak. Semua dibangun di atas cerita tentang istri yang sudah meninggal.
Ratri membiarkannya menangis. Ia tidak menghibur — terlalu dini untuk itu — tetapi ia menuangkan air putih dan meletakkannya di tangan perempuan itu, dan duduk menunggu. Ada kesabaran dalam dirinya yang ia sendiri heran memilikinya: mungkin karena ia sudah seminggu lebih dulu mengetahui kehancurannya, mungkin karena melihat orang lain hancur oleh lelaki yang sama membuat lukanya terasa lebih terang.
'Kenapa Ibu tidak menyerang saya?' tanya Sari akhirnya, serak. 'Perempuan lain akan—'
'Karena aku melihat rumahmu dulu sebelum mengetuk,' jawab Ratri. 'Tidak ada kemewahan di sini. Tidak ada gaya perempuan yang merebut suami orang. Yang ada hanyalah ibu muda yang mengira suaminya pulang kerja di Jakarta setiap akhir pekan.' Ia menatap foto Bara di dinding. 'Dan karena anak itu. Dia memanggil suamiku Ayah. Seseorang harus memikirkannya sebelum semua orang mulai meledakkan sesuatu.'
Sari menyeka wajahnya. 'Apa yang akan Ibu lakukan?'
'Aku belum tahu.' Ratri menatapnya jujur. 'Tapi aku tahu satu hal: ini bukan salahmu. Kamu menikahi duda yang tidak ada. Aku menikahi suami yang ternyata tidak ada. Kita berdua menikahi orang fiksi.'
Dan untuk pertama kalinya, di tengah reruntuhan dua rumah tangga, kedua perempuan itu merasakan hal yang sama pada saat yang sama — bukan persahabatan, belum, tetapi pengakuan: bahwa musuh mereka bukan satu sama lain.
Musuh mereka sedang berkendara di jalan tol, dengan koper kecil, berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain seperti mengganti saluran televisi.