Ratri tidak langsung ke alamat itu. Naluri penyidiknya — naluri yang tidak pernah ia tahu ia miliki sampai hari-hari ini — menyuruhnya menunggu dan mengamati dulu.
Ia menyewa kamar kecil di dekat TK Ceria Bangsa, dan pagi berikutnya berdiri di seberang jalan sekolah itu dengan kopi dari warung sebelah, berpura-pura membaca ponsel. Tidak sampai setengah jam, sosok itu muncul: perempuan muda, sederhana, rapi, menggandeng anak laki-laki berseragam TK dengan tas bergambar roket.
Bara Nugroho. Anak itu tertawa melompat-lompat menghindari garis trotoar, dan perempuan itu menegurnya dengan lembut. Pemandangan biasa. Pemandangan yang menghancurkan.
Ratri mengikuti mereka dari jarak yang aman — menyusuri dua gang, melewati pasar kecil — sampai ke sebuah rumah mungil berpagar tanaman di ujung jalan buntu yang tenang. Rumah yang dicat hangat, dengan ayunan kecil di teras dan sandal anak-anak berjajar.
Di pintu pagar rumah itu, perempuan muda itu membuka kunci, dan dari jendela terlihat foto-foto di dinding ruang tamu. Ratri tidak bisa melihat jelas dari jalan. Tetapi ia tidak perlu melihat jelas. Ia sudah tahu.
Karena di teras rumah itu, tergantung tempat jemuran kecil — dan di sana menjuntai kemeja kerja yang ia kenal. Kemeja bergaris biru dengan inisial sulaman di mansetnya: *B.N.* Kemeja yang ia belikan untuk suaminya dua ulang tahun lalu.
Ratri berdiri di ujung gang itu lebih lama dari yang seharusnya.
Anehnya, yang menyerbu dadanya bukan amarah pada perempuan muda itu. Perempuan itu menyeka kaki anaknya sebelum masuk rumah, menyanyikan sesuatu, menjalankan keseharian seorang ibu muda dengan damai. Tidak ada kemewahan di rumah itu. Tidak ada gaya 'simpanan'. Yang ada justru sesuatu yang lebih menyakitkan untuk dilihat: sebuah keluarga. Kecil, hangat, dan nyata.
Rumah keduanya. Keluarga keduanya.
Malamnya, dari kamar sewaan, Ratri melakukan hal yang lebih sulit: ia menggali. Dengan nama Bara Nugroho dan alamat itu, dengan ketekunan seorang istri yang delapan tahun membaca laporan keuangan suaminya, ia menemukan potongan-potongannya. Perempuan itu bernama Sari. Lima tahun lalu menikah — Ratri menemukan jejak acara kecilnya di unggahan lama tetangga — dengan seorang lelaki bernama Bagas Nugroho.
Lima tahun. Anaknya empat tahun. Hitungannya pas: pernikahan itu terjadi tiga tahun setelah pernikahan Ratri, dan anak itu lahir setahun kemudian.
Di layar laptop, di salah satu unggahan syukuran itu, Ratri akhirnya melihat foto yang tidak bisa disangkal: Bagas — suaminya — duduk bersila di antara tamu-tamu sederhana dengan peci dan senyum yang tidak pernah Ratri lihat di rumah mereka. Senyum orang yang sedang menjadi orang lain.
Dan di caption tetangga itu, satu kalimat yang membuat mata Ratri terasa panas:
*'Selamat untuk Kang Bagas dan Teh Sari. Semoga jadi keluarga samara. Kang Bagas duda baik-baik, Teh Sari beruntung.'*
Duda.
Suaminya bukan hanya menikah lagi. Suaminya menikah lagi dengan menyatakan dirinya duda — menghapus Ratri dari riwayat hidupnya seolah delapan tahun pernikahan mereka adalah paragraf yang bisa dihapus dengan satu kata.
Ratri menutup laptopnya. Di luar jendela kamar sewaan, Bandung malam hari berkilau tenang, tidak tahu apa-apa.
Ia menyalakan lampu, mengambil kertas, dan mulai menulis — bukan surat, bukan curahan. Daftar. Sebab amarah itu gelap, tetapi daftar adalah cahaya. Dan Ratri memutuskan malam itu juga: ia tidak akan menjadi istri yang meledak di depan pagar orang.
Ia akan mengetuk pintu itu, dan melihat wajah perempuan yang mencuri hidupnya — untuk memastikan satu hal sebelum perang dimulai:
Apakah perempuan itu tahu?