"Aku tahu, Ma, umurku sebentar lagi kepala tiga. Tapi nyari jodoh nggak semudah itu. Tetep aja aku harus milih-milih."
Sebetulnya aku tahu, pulang ke rumah sama saja harus siap menghadapi pertanyaan yang sama berulangkali. Tapi kali ini aku harus pulang jika tak mau dicap sebagai adik yang tak sayang kakak dan anak yang tak tahu diri.
Kakakku, Teh Kesya atau yang biasa kusapa dengan panggilan Techa singkatan dari Teteh Echa, kemarin melakukan ritual tingkeban (tujuh bulanan) kehamilannya. Kehamilan yang sangat ia nanti dan butuh perjuangan besar dalam merawat janinnya itu. Panjang jika diceritakan. Tapi intinya, kandungan Techa lemah dan harus dijaga dengan sangat hati-hati.
Awalnya kupikir akan absen di acara tersebut karena harus menghadiri Raker yang rutin diadakan kantor. Tapi karena kebetulan Raker kali ini berlokasi di Hotel Santika, Bogor. Dan karena rumah keluargaku juga berada di daerah yang sama maka aku bisa sekalian pulang ke rumah sebentar. Walaupun tidak sempat melihat prosesi tujuh bulanan kakakku tapi paling tidak, aku masih bisa setor muka lah ke keluarga. Masih sedikit ada usaha agar tak dicoret dari kartu keluarga.
"Ya udah, kamu tinggal sebut kriteria yang kamu mau. Biar papa cariin nanti," ucap mama enteng tanpa beban. Padahal ia sangat tahu bahwa anaknya ini paling anti dengan perjodohan.
Papaku seorang Brigadir Jenderal Polisi, dia bisa tinggal tunjuk saja anak buahnya untuk bersanding denganku. Tapi jika boleh jujur, aku tak pernah berharap dan bercita-cita mengikuti jejak mama. Menikah dengan abdi negara dan memiliki dua pilihan dalam berumahtangga, rela ditinggal-tinggal atau setia mengikuti kemana suami bertugas.
Aku orang yang tak suka berpindah-pindah rumah. Sesuatu yang melelahkan. Aku juga tak suka menjalin hubungan jarak jauh, seringkali berakhir tak mengenakkan. Jadi jelas, menikah dengan abdi negara sama sekali tak masuk dalam daftar pernikahan paling kudamba.
"Ma, aku bisa cari sendiri," protesku untuk yang keseribu kali. Oke mungkin terlalu berlebihan jika kukatakan hingga seribu kali. Tapi faktanya aku jengah dengan pertanyaan yang sama. Manusia Indonesia seringkali kurang kreatif. Pertanyaan kapan nikah itu terlalu mainstream nggak, sih? Aku merasa itu pertanyaan paling membosankan yang pernah ada.
Kenapa tak mencoba bertanya, mimpi-mimpi apa yang ingin sekali kuwujudkan? Atau siapa sosok yang sangat kuidolakan hingga aku ingin mengikuti jejaknya? Maka aku akan menjawab dengan ikhlas dan bahagia.
"Mama tahu. Tapi kamu terlalu pemilih. Padahal anaknya temen mama banyak yang naksir kamu. Apa sih, yang kamu cari, Sayang?"
"Susah Ma untuk ngejelasin apa yang Key cari dari cowok-cowok itu. Tapi memang Key nggak tertarik sama mereka. Masa Key harus paksain, sih?" Aku membuka tutup pringles dan mulai asik mengunyah isinya.
"Turunin standar kamu dong, Sayang. Inget, dua tahun lagi kamu tiga puluh dan rahim kamu bakalan-"
Aku mengambil remote tv dan mengganti channel sembarangan. Pembahasan seperti ini selalu membuat moodku memburuk. Karena sama halnya dengan kematian, aku juga tak akan pernah tahu kapan jodohku datang kan?
"Expired. I know, Mom. Key cuma minta Mama mendoakan. Itu aja kok, Ma. Semua perempuan pasti pengen menikah tapi jalan yang ditempuh setiap orang kan beda-beda. Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Setelah Key nikah, apa masalah akan selesai begitu aja? Nggak, Ma. Pasti akan ada pertanyaan lain. Kapan punya momongan. Udah ada momongan akan ada pertanyaan lagi, kapan nambah momongan lagi? Mama nggak usah dengerin omongan orang lain, nggak ada habisnya. Kalo mereka bener-bener peduli sama Key, doain aja. Cuma itu yang Key butuh."
Terkadang sulit membedakan orang yang benar-benar peduli dan hanya kepo.
Tapi ada cirinya, begini :
Orang yang kepo hanya akan bertanya tanpa memberikan solusi. Dan akan selalu bertanya tanpa doa yang terselip setelahnya. Sedangkan orang yang benar-benar peduli, mereka tak akan bertanya namun berusaha memberikan solusi dan diam-diam berdoa dalam hati.
"Mama selalu mendoakan kamu dan Teh Echa, Sayang. Tanpa kalian minta, pasti Mama akan selalu mendoakan kalian berdua." Mama membelai pipiku dengan sayang.
"Permisi, Bu, dipanggil bapak," ucapan mama terhenti ketika bi Inah masuk dan memberi tahu bahwa ibuku ini sedang dicari belahan jiwanya. Ayah dan ibuku adalah tipe pasangan suami istri yang tetap mesra di usia pernikahan mereka yang hampir menuju masa-masa emas. Dan selektif dalam memilih jodoh merupakan caraku untuk bisa mengikuti jejak mereka.
Aku sangat suka bagaimana kedua orang tuaku itu berinteraksi. Selalu lembut, tak pernah kulihat mereka berteriak-teriak ketika sedang berselisih paham. Semua diselesaikan tanpa keributan. Bahkan, di usia mereka yang tak lagi muda pun, mereka tetap saling menjaga, saling mengasihi satu sama lain.
Diantara banyak hal yang membuatku tak cocok dengan aturan yang diberikan papa ketika sedang berada di rumah, untuk satu hal itu, aku sangat menganggumi bagaimana dia membentuk keluarganya hingga bisa sehangat ini.
"Mama ke depan dulu. Tapi inget ya, Key, dua tahun lagi umur kamu tiga puluh." Mama bangkit dari sofa dan beranjak keluar dari kamar Techa.
Aku mendesah pelan. Tanpa perlu mama perjelas juga aku tahu bahwa dua tahun lagi usiaku tiga puluh tahun. Lantas kenapa? Haruskah aku terburu-buru mencari lelaki untuk dijadikan suami? Lantas menyesal begitu saja karena salah memilih?
Jelas aku tak mau mengorbankan kebahagiaan hanya untuk menjalani hidup dengan orang yang salah.
"Key, lo tahu kan maksud mama apa?" Kakakku itu menoleh padaku sebentar sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah lemari pakaian. "Bukan sekedar mau nimang cucu aja. Tapi karena dia mikirin kesehatan lo. Liat aja gue. Gue nikah telat, punya anak lama. Begitu hamil umur gue udah tua untuk ukuran ibu hamil. Gue jadi gampang capek dan sederet resiko lainnya. Dan lihat sekarang. Gue sampe harus tinggal di sini. Jauh dari suami." Teh Echa mendesah. "Mama cuma nggak pengen aja Key, lo kayak gue."
Seperti yang sempat kusinggung tadi. Kandungan Techa lemah, menurut dokter itu dikarenakan usia Techa yang sudah tak muda lagi untuk hamil. Kondisi Techa gampang sekali lelah dan menurun, membuatnya sering keluar masuk Rumah Sakit karena pendarahan yang dia alami.
Suaminya, Mas Rio adalah karyawan perusahaan internasional yang bergerak di bidang minyak dan gas. Mas Rio sedang bertugas di daerah Kalimantan sekarang. Kondisi Techa sangat tak memungkinkan untuk bisa mengikuti kemana Mas Rio bertugas.
Mereka pasangan baru yang tak memiliki pengalaman soal kehamilan anak pertama apalagi dengan kondisi berbeda yang dialami kakakku itu. Oleh karena itu Techa tinggal di sini, bersama mama dan papa. Untuk meminimalisir kemungkinan terburuk.
"Iya, Teh, gue tahu. Cuma gimana ya, faktanya emang gue lagi nggak deket sama siapa-siapa. Masa iya gue harus pura-pura punya pacar. Nyewa orang lain hanya untuk menghindari pertanyaan mama. Terlalu bodoh aja sih," jawabku kembali ke pembahasan awal.
Semacam cerita FTV saja kupikir-kupikir jika aku sampai melakukan hal itu.
Teh Echa menghentikan aktivitasnya sebentar, memasukkan pakaian ke dalam lemari. Dia menatapku dan tersenyum.
"Seperti yang mama bilang. Turunin standar lo."
Aku mendesah, jengah. "Standar gue yang mana sih, Teh? Gue pikir wajar kalo gue punya kriteria untuk seseorang yang suatu saat akan jadi suami gue. Hidup bertahun-tahun dengan orang yang sama itu nggak mudah kan? Dan gue nggak mau sembarangan milih. Kalo dari awal gue nggak nemu kecocokan, masa iya harus gue paksain?"
"Gue tahu untuk ukuran wanita karier kayak lo pasti nyari yang semuanya serba di atas lo. Tapi liat gue, Key. Dulu gue ngejar karier banget. Lo tahu itu. Tapi setelah nikah dan belum juga punya anak, gue jadi mikir. Gue nggak boleh terlalu egois. Suami gue juga pengen punya keturunan. Sewaktu mutusin buat resign, gue masih berharap bisa balik kerja lagi setelah anak ini lahir. Tapi lihat sikon sekarang, gue nggak mungkin balik kerja. Apapun bakalan gue lakuin demi anak ini. Gue susah payah hamil. Ketika dia lahir, gue mau jadi ibu yang terbaik untuk dia. Lo paham kan maksud gue, Key?"
Aku sangat paham maksudnya. Tapi, percayalah, aku juga seperti wanita lainnya yang mengerti akan kodrat. Menikah dan membiarkan diriku dibuahi. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Aku terlalu mencintai pekerjaanku dan belum siap harus berbagi atau bahkan memilih antara keluarga atau pekerjaan seperti yang dialami kakakku ini.
"Lo malem ini tidur sini kan? Nggak balik hotel lagi?" tanya kakakku kemudian. Aku mengangguk. "Tidur sama gue ya? Gue kangen. Udah lama kita nggak ngobrol-ngobrol."
"Mas Rio udah balik ke Kalimantan?"
"Udah tadi pagi."
Dan malam itu aku menginap di rumah. Menghabiskan sisa hari liburku di sana. Biasanya aku tinggal di Jakarta, seorang diri, di salah satu gedung menjulang tinggi. Mirip rumah susun tapi bukan.
Aku jarang pulang ke Bogor. Karena ada banyak hal yang membuatku berpikir ribuan kali untuk pulang ke rumah ini. Selain pertanyaan horor yang tadi sempat kusinggung di atas, rumah semacam penjara untukku. Aku tak bisa melakukan banyak hal dengan bebas.
Tak bisa merokok, tak memiliki kesempatan untuk minum dan keluar rumah terlalu lama karena jam malam yang sudah papa terapkan dan tak bisa dibantah. Terbayang tidak? Aku yang terbiasa hidup semau-maunya harus mengikuti standar aturan yang sudah dibuat papa di rumah ini. Betapa menyiksanya.
"Teh, exhaust kamar mandi lo udah dibenerin kan?" tanyaku sembari mencari sesuatu dalam tas Charles & Keith-ku.
"Udah. Mau ngapain?"
"Sebats dulu. Mulut gue asem," sahutku santai ngeloyor masuk kamar mandi dengan tak lupa membawa sebungkus rokok dan pasangannya.
"Masih aja bandel ini anak. Ati-ati ketahuan Papa," nasehatnya dengan suara yang dipelankan.
"Asal lo nggak bilang sih, aman, Teh." Percayalah, di rumah ini cuma kamar Techa tempat paling aman. Techa, kakak sekaligus pelindungku ini akan melakukan banyak hal supaya aku tak kena omelan Papa setiap kali melakukan sesuatu. Ah, kakakku yang satu itu memang yang terbaik.