“Jadi, sampai ruangannya mau dipakai kelas lain, aku masih aja dibiarin tidur di kursi.” Mira menutup ceritanya.
“Pada jahat banget, sih! Mereka udah pada gila, ya! Masa tega banget kayak gitu! Masa sih nggak ada yang lihat kamu ketiduran?” Gerutuan Sophie terdengar cukup keras dari ponsel Mira.
Mira yang sudah memakai kaus dan celana pendek pun melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Tangannya menempelkan ponsel ke telinga. “Untung ada Aan yang ngebangunin. Kalau nggak, kayaknya aku bakal jadi bahan tertawaan anak-anak kalau dosen selanjutnya udah masuk, deh.”
“Cie. Aan, yang satu SMA sama kita, kan?” Sophie terkikik-kikik layaknya kuda. “Terus gimana?”
“Nggak gimana-gimana.” Mira hanya bisa meringis.
Sophie sedikit mendesah. “Kamu tuh, ya. Begini nih, kalau…”
“Iya, iya. Aku nggak bisa senyum manis, susah diajak ngobrol, ngomongnya kaku maksimal, pendiam banget, nggak bisa dandan sama sekali,” potong Mira jengkel. Dia sudah hapal apa yang akan dikatakan sahabatnya itu. “Aku tahu, Sop. Semua omelanmu itu udah kayak nempel di otakku.”
Tiba-tiba suasana hening. Sophie tak kunjung menanggapi.
“Sop? Sophie?” panggil Mira, cukup lama menunggu. “Halo? Sekarang kamu yang ketiduran, ya?”
“Aah… Sebenernya…” Sophie berdehem pelan. “Ada hal lain yang ngebuat kamu susah punya teman, Mir. Aku udah pengen bilang hal ini sama kamu dari dulu. Tapi yah, bisa dikatakan aku ini ngerasa nggak enak aja.”
Tiba-tiba bulu kuduk Mira meremang hebat, seperti ketika dia merasakan sensasi aneh itu. Ia sampai bangkit dari tempat tidurnya. “Hah? Maksud kamu apa? Kok ngomongnya aneh banget gitu?”
“Kamu itu cantik banget loh, Mir. Cantikmu udah kelihatan tanpa perlu didandanin lagi. Natural gitu. Ya, barangkali kamu susah buat ngobrol sama orang. Tapi, masa nggak ada cowok yang ngedeketin kamu, sih? Masa seumur-umur baru Aan doang? Baru sekarang-sekarang pula, nggak dari dulu. Atau cewek, deh. Walaupun kamu nggak bisa bergaul, paling nggak ada cewek lain yang peduli ngelihat kamu sendirian dan ngajak ngobrol, lah. Logikanya gitu, kan?”
“Lah, kamu gimana? Kamu kan yang duluan ngajak aku ngobrol. Artinya kamu peduli.” Mira tak mengerti arah pembicaraan Sophie
Sophie menarik napas dalam-dalam. “Iya, aku cuma… Duh, susah banget neranginnya. Jadi, bisa dibilang kamu itu punya sesuatu yang ‘spesial’ kayak aku.”
“Spesial? Spesial gimana maksudnya?” Kernyitan di dahi Mira makin kentara. “Dalam hal mistis maksud kamu? Aku kan bukan orang yang dikit-dikit ngelihat penampakan kayak kamu.”
“Iya, spesialnya beda. Kamu itu …. Di sekeliling kamu itu ada aura yang kayak menanamkan rasa takut ke orang-orang, kayak menghalangi mereka untuk mendekat. Aku nggak tahu apa itu …. Cuman, aku ngerasa …. Sori, perlu kayak semacam tekad dan motivasi kuat buat ngedeketin kamu.”
Kepala Mira bagai dihantam sesuatu yang keras. “Kalau keluargaku gimana? Mereka nggak ada masalah tuh, deket sama aku.”
“Kalau keluarga… Mereka kan yang ngurus kamu sedari kecil. Mereka udah terbiasa sama aura kamu.”
Cukup lama Mira terdiam. Ia berusaha mencerna kata-kata sahabatnya itu. “Aku bener-bener nggak paham, Sop.”
“Iya, emang susah neranginnya. Duh, maaf ya aku ngomong gini sekarang. Dari dulu, aku nyembunyiin ini gara-gara nggak enak sama kamu. Aku nggak mau nyakitin hati kamu. Padahal, kalau kamu tahu tentang masalah ini, mungkin kita bisa mengatasinya bareng-bareng. Nyari solusi bareng…. Ah, sekali lagi maaf ya, Mir.”
“Terus, apa yang ngebuat kamu ngomong ini sekarang?” Mira benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar semua itu.
“Lama-lama aku nggak tahan ngeliat kamu dijauhin orang terus, Mir. Akhirnya aku memberanikan diri untuk ngomong.”
Mira tertawa getir. Aura yang menghalangi orang untuk mendekat? Dari dirinya? Omong kosong apa ini? “Sop, kamu jangan becanda, deh. Jangan nakut-nakutin. Orangtuaku dua-duanya lagi kondangan. Aku sendirian di rumah. Nggak ada siapa-siapa lagi…”
Srak ….
Sendi-sendi tubuh Mira seketika membeku. Seluruh badannya bagai dihantam aliran listrik. Ponselnya saat ini hanya mengeluarkan nada pemberitahuan kalau panggilan telah terputus.
Srak ….
Itu suara orang mencangkul. Terdengar dari luar. Cukup dikenal telinga Mira. Ya, bunyi itu baru didengarnya kemarin malam.
Dengan degup jantung yang mulai meliar, Mira mengedarkan pandangan, bahkan sampai memberanikan diri untuk melongok lewat jendela.
Tak ada apa pun.
Srak! Srak! Srak! Srak! Srak!
Ponsel di tangan Mira tergelincir jatuh. Gadis itu memegangi kepalanya. Matanya membelalak lebar. Mulutnya terbuka, tetapi tak menyeluarkan suara. Bunyi cangkul menghujam tanah itu bagai menusuki gendang telinganya, memicu nyeri menyengat di kepalanya.
Sedikit terhuyung, Mira pun berlari keluar, tetapi suara itu masih saja mengikutinya. “Bunda! Ayah! Bunda!”
Dia teringat kalau kedua orangtuanya sedang berada di luar.
Energi di kaki Mira seolah tersedot habis. Dia jatuh bersimpuh. Serangan nyeri di kepalanya makin menggila. Dia sudah tak tahan lagi.
“Bundaaaaa!!! Ayaaaaahhh!!!! Tolooong, Buuun!!!”
“Ya Tuhan! Ada apa Mira?” Teriakan ibunda Mira muncul dari luar rumah. Terdengar suara pintu depan yang dibuka, diikuti dengan derap cepat dari dua orang.
Mira tak sanggup lagi berdiri. Matanya terpejam erat. Ketika ayah dan bundanya yang masih memakai baju hajatan berjongkok di dekatnya, Mira baru berani membuka mata.
“Ada apa, Mir? Cerita pelan-pelan.” Ayah Mira mengelus punggung putrinya.
“Ta… Tadi Mira denger suara-suara… Terus, kepala Mira sakit banget.” Mira celingukan, seolah mencari-cari suara-suara yang kini hilang itu.
Tak kuasa melanjutkan ucapannya, tangis Mira pecah. Tubuhnya pun mulai merasakan hangatnya pelukan sang ibunda. Sekarang, hanya isakan Mira yang memenuhi ruangan itu.
“Gimana? Udah mulai tenang? Ke kamar, yuk. Kalau perlu tidur sama Bunda lagi, ya?” usul sang ibunda saat tangis anaknya itu memelan.
“Kau mau apa? Mau Ayah bikinin teh?” tanya sang Ayah, membantu putrinya bangkit bersama sang istri.
Masih menangis sesenggukan, Mira menggeleng pelan. “Mira pengen tidur aja. Kepala Mira masih pusing banget.”
“Mau Ayah belikan obat pusing?”
Mira sudah akan menolak ketika sensasi berdenyut hebat menyerang kepalanya. Ia pun meringis dan memijati keningnya. Ia benar-benar tak kuat lagi. Yang diingkannya sekarang hanyalah berbaring.
“Belikan saja, Yah.” Ibu Mira memberikan anggukan kepada suaminya. Sang ayahanda pun bergegas beranjak dari sana.
“Sebenarnya ada apa ya, Bun? Sebelumnya nggak ada apa-apa di rumah ini, kan,” gumam Mira.
“Besok kita pikirkan, sekarang kamu istirahat dulu.” Ibu Mira mulai menuntun putrinya menuju kamar.
Mira merasakan hentakan hebat di kepalanya setiap kali mengambil langkah. Berkali-kali gadis itu oleng. Sang ibunda sampai harus sedikit menjaga keseimbangan anaknya itu agar tidak terjatuh.
Ibu Mira mendorong pintu kamar anaknya agar terbuka. “Setelah ini, kalau perlu, kita ke dokter…”
Perlahan, Mira menoleh kepada ibunya yang tiba-tiba saja berhenti bicara itu. Jelas sekali kalau urat-urat wajah sang ibunda tengah menegang. Seketika saja, degup jantung Mira merangkak naik kembali. Ia pun menoleh ke arah yang dilihat sang ibunda, ke salah satu sisi dinding.
Mata Mira pun membuka lebar-lebar. Ada sebuah pola di dinding itu. Merah pekat dan tak terlalu besar. Sekilas seperti topeng dengan dua lubang mata. Tapi bukan, itu lebih terlihat layaknya bekas wajah seseorang berlumur darah yang ditempelkan ke tembok.
“Arggggghhhhh!!!!” Mira menjerit histeris.