Sinar matahari dari ventilasi kamar langsung menyilaukan mata Mira yang baru terbuka. Dengan sendi-sendi yang kaku, gadis itu bangkit dan duduk pinggiran dipan, langsung memijat ringan keningnya yang masih sedikit pusing. Ia sempat bingung dengan suasana kamar yang berbeda, tetapi tak perlu waktu lama sampai otaknya sadar kalau dirinya semalam tidur di kamar ayah-bundanya.
Ia mulai menoleh, mencari ponselnya, sesuai dengan ritualnya setiap pagi. Ia langsung mengusap wajahnya begitu ingat ponsel itu mungkin masih tertinggal di kamarnya sendiri. Ya, kamar yang dihiasi bekas darah berbentuk muka di dinding itu.
Walau tubuhnya yang lemas seolah memintanya berbaring kembali, Mira tetap berdiri dari dipan dan keluar kamar.
“Udah enakan, Mir?” sapa ayahnya yang duduk di karpet ruang tengah sambil menonton televisi. “Makan dulu, gih. Ada mendoan sama sayur bening kesukaan kamu.”
“Iya, Yah.” Mira melihat ke jam dinding. Pukul sebelas siang lebih sedikit. Sudah lewat dari jadwal kuliah paginya. Ibunya juga pasti sudah berangkat sedari tadi. “Yah, Mira mau ambil hape di kamar.”
“Ah.” Ayah Mira segera bangkit. “Bentar, ayah ambilkan.”
“Nggak, temani Mira aja, sekalian ambil baju ganti.”
Meski degup jantungnya mulai tak terkendali, Mira tetap membuntuti sang ayah mendatangi kamarnya sendiri. Mira menelan ludah begitu ayahnya membuka pintu kamar tersebut.
Begitu melihat bekas darah itu masih terpampang jelas di tembok kamarnya, Mira langsung mundur dengan mata melotot. Napasnya seketika sesak dan jantungnya seolah akan meledak.
“Aaah…” Ayah Mira menggaruk rambutnya. “Tadi Ayah lupa mau ngurus ini.”
Sekonyong-konyong, Mira berlari ke gudang belakang. Ia sempat membeku ketika melihat cangkul di antara perkakas pertukangan dan barang-barang tak terpakai di tempat itu. Namun, dengan gerakan membabi-buta, akhirnya gadis itu nekat mencari di antara benda-benda yang ada di sana.
“Hati-hati, Mir! Takutnya kamu kenapa-napa,” seru sang ayah yang baru muncul di belakang Mira, sedikit terhenyak saat Mira melemparkan sepeda bekas di gudang itu. “Biar Ayah saja? Kamu nyari cat, kan?”
“Udah ketemu,” ucap Mira, menemukan sekaleng besar sisa cat berwarna krem. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia mengambil obeng pipih dan sembarang kuas di situ
“Ayah saja….” Sang ayah kembali berjengit ketika sedikit cat muncrat saat Mira membuka tutup kaleng dengan obeng.
Ya, Mira tahu dirinya tak bisa menyalahkan ayahnya yang tidak segera mengurusi bekas darah tersebut. Akan tetapi, baru bangun tidur dan masih melihat hal mengerikan seperti itu, isi kepala Mira seakan menggelegak. Ia harus memusnahkan noda itu segera.
Mira berjalan cepat. Semakin lama, napasnya makin memburu. Setibanya di kamar, dia langsung mengecat. Semua gerakan, dari mencelupkan kuas ke cat, sampai menguaskannya ke tembok, dilakukan Mira bak orang kesetanan. Tetesan cat berhamburan ke mana-mana, ke lantai, ke badan Mira, bahkan sampai menimpa seprai kasur yang jaraknya cukup jauh.
Berkali-kali ayah Mira meminta kepada putrinya untuk menyerahkan pekerjaan itu kepadanya. Namun, Mira tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Bahkan gadis itu mulai berteriak-teriak karena cat itu tak menutupi bekas darah dengan sempurna, hanya menyamarkannya saja.
Ayah Mira memegangi kedua pundak putrinya. “Sudah! Nanti biar ayah cat pakai cat minyak.”
“Arrrgggghhhhhh!!!” Mira menyiramkan semua sisa cat ke tembok. Cipratan cat tersebut pun makin menyebar ke mana-mana.
Namun, pola darah berbentuk wajah itu masih saja terlihat, walau kali ini sudah begitu samar. Mira, yang tubuh dan wajahnya sudah dipenuhi noda berwarna krem, hanya bisa diam dengan napas putus-putus. Pola wajah itu seakan tengah menatap dirinya.
***
“Jadi, akhirnya kamu mau ke orang pintar yang kurekomendasiin itu?” Suara Sophie terdengar dari ponsel Mira.
Mira menghela napas. “Yah, soalnya ayah sama ibuku ngeliat bekas darah itu juga, sih. Berarti, bukan karena akunya aja yang halu.”
“Seumur-umur, aku nggak pernah liat yang begituan,” desis Sophie. “Ah, udahan dulu, ya. Aku mau berangkat kuliah sore, nih.”
“Iya, nggak apa-apa. Aku juga udah sampai,” jawab Mira, duduk di belakang taksi online bersama ayahnya.
Setelah membayar, mereka pun turun dari mobil. Mira sedikit terkejut saat melihat rumah orang pintar itu. Tampak seperti rumah pada umumnya, dengan jendela dan pintu biasa, hanya saja halamannya begitu luas untuk parkir motor dan mobil. Itu semua sangat berbeda sekali dengan bayangan Mira, yang membayangkan bangunan mistis dengan ukiran-ukiran dan patung di sana-sini.
“Kata orang, sih. Yang kelihatan biasa seperti ini malah yang benar-benar mujarab,” celetuk ayah Mira, mulai menghampiri deretan kursi plastik di bawah atap seng, tempat orang-orang menunggu.
Mira yang membuntuti pun mengawasi orang-orang yang memenuhi kursi-kursi itu. Kalau dilihat sekilas, mereka lebih seperti menghadiri hajatan daripada menunggu konsultasi orang pintar. Seorang pemuda kurus memberikan sebuah kertas berlaminating kepada ayah Mira.
“Lima enam, Mir.” Ayah Mira sedikit menunjukkan kertas itu kepada putrinya.
Mira sedikit menarik napas. Dengan jumlah tamu sebanyak ini, pasti gilirannya masih lama. Ia pun memilih duduk sembari bermain ponsel. Tak berapa lama, Sophie mengiriminya chat. Kata Sophie, dosen yang mengajar tak akan memperhatikan mahasiswa yang bermain ponsel.
Obrolan ngalor-ngidul di antara mereka pun langsung terjadi, dari mulai pacar Sophie yang masih saja suka merayu, sampai menduga-duga alasan orang-orang yang datang berkonsultasi di situ. Mira bersyukur Sophie masih punya waktu untuknya. Syaraf-syarafnya jadi tak terlalu tegang. Pikirannya bisa teralihkan ke topik obrolan.
Mira sedikit mengernyitkan dahi saat Aan mengiriminya pesan chat.
Kamu sedang keluar, Mir? Aku ada di depan rumahmu, mau nganterin fotokopi materi pak Budi, nih. Kamu kan tadi nggak masuk. Kebetulan ada temen kelasmu yang tadi minta tolong buat nganterin ini. Soalnya dia nggak tahu rumahmu sama nggak tahu nomormu. Minggu depan mau ada kuis katanya, tulis Aan.
Kernyitan di dahi Mira makin kentara. Teman kelas? Mereka peduli apa dengan dirinya? Lagipula, dalam zaman seperti ini, kalaupun tidak bisa mendapatkan softcopy materi, kau tinggal memfoto dan mengirimkan catatan secara digital, tidak usah ke tukang fotokopi. Chat ini begitu aneh bagi Mira, tetapi dia tak mau terlalu berpikir macam-macam.
Iya, ini aku lagi keluar sama ayah. Makasih ya, udah ngerepotin. Kayaknya aku masih lama, lempar aja ke teras. Sampai nggak? balas Mira.
Iya, sama-sama. Kalau boleh tahu, kamu lagi sakit, ya? Sampai nggak masuk.
Mira sedikit mengusap dagu. Ayahnya berusaha mengintip ponselnya, tetapi gadis itu segera menghindar. Cukup lama berpikir, akhirnya gadis itu menjawab, Iya, semacam itu.
Kemudian, Mira melaporkan apa yang terjadi kepada Sophie.
Cieeee. Asyik-asyik. Sebentar lagi Mira akan melepas kejombloannya. Sophie membalas. Dia itu lagi modus, tuh!
Nggak, siapa tahu dia emang cuma mau nolong, Sop.
Percuma. Sophie justru makin meledeknya. Muka Mira sampai jadi sedikit panas karenanya.
Meski tadi membantah, Mira tetap bertanya-tanya. Apakah memang benar bahwa tak ada maksud lain dari perbuatan Aan? Jantung Mira sedikit terhentak hanya karena memikirkan hal itu saja. Dia berusaha mengalihkan pikirannya itu, tapi lama-lama bayangan Aan justru makin menempel di otaknya.
“Nomor 56!” Pikiran Mira buyar. Hari sudah petang ketika nomornya dipanggil oleh seorang pria kurus yang tadi membagikan nomor. Sedikit menguap, Mira bangkit bersama ayahnya dan masuk ke dalam rumah.
Lagi-lagi, ekspektasi Mira salah. Tak ada kemenyan, pusaka, atau benda-benda mistis lainnya. Ruangan praktek yang dimasuki Mira lebih mirip dengan ruang tamu biasa, lengkap dengan seperangkat mebel kayu penuh ukiran, toples-toples camilan di atas meja, serta lukisan pemandangan di dinding.
“Silahkan, duduk dulu.” Seorang pria paruh baya dengan iket batik di kepala memberikan senyum ramah. Meskipun memakai baju lurik yang jarang dipakai orang zaman sekarang, pria itu pun terlihat biasa-biasa saja. Alih-alih melakukan sebuah ritual. Dia malah air mineral gelasan ke wadah plastik di atas meja.
Mira dan ayahnya langsung duduk. Orang yang menyambut mereka pun menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Saya Pratomo, biasa dipanggil Tomo. Ada apa gerangan mbaknya datang ke sini?” tanya orang itu tanpa basa-basi, melebarkan senyum.
“Aah, saya Mira, Ki.” Masih terkesima dengan keadaan yang jauh dari kesan klenik, pikiran Mira jadi tidak fokus.
“Jangan panggil Ki, panggil saja Pak, Kang juga boleh, Mas apalagi.” Pria bernama Tomo itu memberikan tawa renyah.
“Kalau saya, Baskoro, Pak. Ayahnya.” Ayah Mira pun ikut memperkenalkan diri.
“Minum dulu. Ngemil-ngemil. Seadanya.”
“Kalau begitu, langsung saja, Pak.” Mira yang sedari tadi bosan menunggu pun langsung menceritakan semuanya. Dari mulai penampakan orang menggali, sampai bekas darah di tembok kamarnya. Ekspresi pak Tomo berubah. Keningnya sedikit mengerut. Tatapannya tajam memandang wajah Mira. Tatapan itu seolah merasuk ke batin Mira. Namun anehnya, gadis itu tak bisa berhenti bercerita dan tak sanggup mengalihkan pandangannya dari pak Tomo.
Pak Tomo memejamkan mata begitu Mira selesai bicara. Mira dan ayahnya pun jadi bertukar pandangan. Gadis itu mulai tak yakin dengan ‘orang pintar’ ini. Tak terlihat tanda-tanda suatu ritual akan dilakukan.
“Jujur saja, ini masalah pelik. Selama ini, saya tidak pernah menemukan hal seperti itu.” Akhirnya pak Tomo membuka mata.
Dada Mira kini seakan berdentum. “Jadi, gimana, Pak?”
“Akan saya bantu, tapi tidak sekarang. Saya akan terawang rumah Mbaknya dari jauh dulu. Lebih baik, sekarang Mbaknya pulang dulu. Saya juga minta nomor hapenya. Mungkin sewaktu-waktu akan saya hubungi.” Pak Tomo menghela napas panjang, lantas sedikit memijati tengkuknya.
Mira sedikit melongo. Sebegitu parahnyakah masalahnya ini? “Apa Bapak bisa menjelaskan semua itu?”
Pak Tomo memberikan senyum samar. Senyum yang misterius. Mira tak bisa menebak maksud dari senyum itu.
“Bahkan saya sendiri tidak sepenuhnya tahu,” ucap sang orang pintar.
Meski kecewa karena tak segera mendapat jawaban, Mira tetap bertukar nomor ponsel dengan pak Tomo. Setelah itu, dia dan ayahnya berpamitan. Waktu akan melewati pintu, pak Tomo berkata, “Amplopnya bawa dulu saja, tidak usah dimasukkan.”