Sambil menatap papan pengumuman kampus, Mira menghela napas panjang. Ada pengumuman kalau kuliah pagi itu ditiadakan, tertanggal kemarin saat dirinya belum masuk karena pusing yang masih sering datang. Tentu tak ada yang memberitahunya. Bukan sesuatu yang baru.
Seraya menguap, gadis itu mengecek jam tangannya. Masih ada satu setengah jam lagi sebelum kuliah selanjutnya dimulai. Dia malas pulang terlebih dahulu, walau rumahnya berjarak cuma lima belas menit. Tubuhnya sedang tak bertenaga gara-gara kurang tidur. Dia memang tak mengalami hal aneh lagi selama empat hari terakhir, tapi tetap saja otaknya masih memikirkan semua itu.
Setelah menimbang sejenak, dia mendatangi kantin kampus. Jam kuliah pagi menjelang siang seperti ini, bangunan luas berisi para penjaja makanan itu sedang sepi-sepinya. Hanya ada beberapa orang mahasiswa.
Setelah memesan es kopi dan mengambil beberapa potong gorengan, Mira menempati meja paling ujung. Sekadar untuk mengusir kecanggungan karena dirinya cuma sendiri, tentu saja Mira mengecek ponselnya. Sophie tak membalas chatnya, barangkali sahabatnya itu sedang kuliah. Begitu juga pak Tomo, hari ini orang pintar itu belum juga menanyakan apa yang Mira rasakan.
“Boleh gabung?”
Suara pemuda itu membuat Mira menoleh ke samping. Aan sudah berdiri di dekatnya, tersenyum seraya membawa piring berisi nasi beserta lauk-pauk dan es teh. Sedikit syok, Mira cuma bisa mengangguk pelan.
Aan melebarkan senyumnya. Kemudian, duduk di samping Mira. “Orang rumah lagi nggak masak, jadi sarapan di sini, nih. Yah, agak telat. Bisa dibilang brunch, gabungan breakfast dan lunch.”
“Ah.” Lagi-lagi Mira tak bisa menanggapi ucapan Aan itu.
“Kemarin-kemarin, kenapa kamu nggak berangkat? Masih sakit? Mukamu juga rada pucat lagi sekarang, kayak pas waktu itu.” Aan mulai menyendokkan makanannya ke mulut.
Mira menyeruput es kopinya yang baru datang. Matanya lurus ke depan, sama sekali tak menatap sang lawan bicara. Bukan karena tak suka Aan di situ, tapi Mira merasakan kedua pipinya mulai agak memanas. “I .… Iya, tapi udah sembuh, kok. Cuma demam biasa.”
Selanjutnya, detik-detik mereka lalui hanya dengan membisu. Aan fokus menghabiskan makan, sementara Mira sesekali mencomot gorengan atau menyeruput minumannya.
“Ngomong-ngomong, Sophie cerita ke aku tentang kejadian-kejadian di rumahmu,” celetuk Aan tiba-tiba.
Mira langsung tersedak minumannya. Akhirnya, dia pun memandang wajah lawan bicaranya. Dari mulutnya yang melongo, sedikit sisa minuman menetes. Apa dia tidak salah dengar?
“Sebenarnya Sophie udah ngelarang aku ngomong ini ke kamu.” Aan meringis saat Mira mulai mengetikkan sesuatu di ponsel dengan gerakan luar biasa cepat. “Dia cuma keceplosan katanya. Jangan dimarahin, ya?”
Namun, Mira sudah melancarkan omelannya kepada sang sahabat. Bisa-bisanya? Buat apa sih berbicara tentang hal seperti itu kepada orang lain? Harusnya kan Sophie sudah tahu Mira tak nyaman orang lain mendengar cerita tersebut.
Demi mendapat balasan singkat berupa, Kwkwkwk, Mira ingin memaki Sophie secara langsung. Apalagi setelah membaca lanjutan chat Sophie yang tertulis, Maaf ya, aku malah nge-chat gebetanmu, Zheyeeeng, Mira tak tahan lagi untuk mencubiti sahabatnya itu.
Bukan seperti itu! Mira hanya tak mau cerita ini menyebar dan dirinya jadi bahan obrolan orang banyak.
Jari-jemari Mira makin lincah mengetik di ponsel, sementara Aan melanjutkan makannya, sesekali melirik Mira sambil meringis canggung.
“Ah, sekali lagi maafin aku,” gumam Aan, tetapi Mira—dengan mulut merengut—masih fokus dengan ponselnya. “Ngomong-ngomong, nanti sore ada kegiatan nggak? Gimana kalau kita nonton? Yah, kalau kamu emang udah sehat, sih.”
Jempol Mira seakan membeku. Kepalanya bergerak kaku, menoleh kepada Aan yang lagi-lagi meringis. Perlahan, mulut Mira mulai menganga kembali.
***
Perut Mira bergejolak saat dirinya duduk sendirian di ruang tunggu bioskop. Pandangan matanya terhujam ke lantai keramik berwarna coklat. Gadis itu bahkan tak mengerti, mengapa dirinya mengiyakan ajakan Aan tadi siang? Apa karena dirinya penasaran lantaran tak pernah ada dalam situasi ini, ketika seorang lelaki mengajaknya pergi? Ataukan ada sebab lain?
Pikiran Mira seketika buyar begitu ponselnya bordering. Siapa lagi kalau bukan Sophie yang menghubunginya.
“Sori, Sori! Baru bisa ngehubungin kamu sekarang. Tadi ada keperluan. Kamu udah dandan sesuai saranku, kan?” cerocos Sophie cepat.
Mira sedikit berdecak. “Nggak.”
“Haaaah!? Kamu gimana sih, Beb! Ini kencan pertamamu, loh. Harusnya kamu itu tampil maksimal, biar ngasih kesan ke dia. Kalau kamu buluk kan gimana gitu.”
Lagi-lagi Mira heran, dirinya masih saja menghubungi sahabatnya itu. “Males, ih. Harus beli make up-nya juga.”
“Daridulu kusuruh, kamu belum beli juga!?” Sophie mendengus sangat panjang. “Dasar Mira cintaku negeriku!”
“Udah, deh! Sekarang aku harus gimana, nih? Dari tadi kutanyain kamu nggak ngejawab-jawab,” gerutu Mira lagi.
Bukannya langsung menimpali, Sophie malah cekikikan. “Kamu tuh polos banget, sayangku. Jalanin aja, lah. Biarkan semua mengalir. Jangan grogi.”
“Kamu tahu, kan. Omongan ‘jangan grogi’ kayak gitu bukanlah mantra yang langsung bisa mengubahku jadi pede? Kamu…” Mira tercekat saat melihat Aan dari kejauhan. “Eh, udah dulu, ya. Doi dateng.”
Belum juga Sophie menjawab, Mira sudah menutup panggilan. Setelah membereskan rambutnya dengan bercermin di kaca pigura poster film, Mira berdiri, berusaha memberikan senyum terbaiknya, meski bibirnya seolah membeku.
“Udah lama?” tanya Aan, sedikit menggaruk rambut dan cengegesan.
“Baru, kok.”
“Mau nonton apa, nih?” Aan menoleh ke deretan poster-poster film yang terpajang. “Lupa, kita belum nentuin filmnya.”
Mira menunduk. Wajahnya mulai terasa memanas. “Terserah.”
Aan meringis dan mulai menimbang-nimbang. Sementara itu, Mira memain-mainkan jarinya. Gadis itu justru ingin bersembunyi saja dari Aan. Apa penampilannya buluk seperti kata Sophie? Apakah dia nantinya tak akan merusak suasana hati Aan? Nyamankah Aan bersama dirinya?
“Itu aja, yuk!” Akhirnya Aan menunjuk poster paling ujung. “Sebentar lagi mulai.”
Mira menelan ludah. Film romantis. Genre yang selalu dihindarinya. Ia tak berminat dengan kisah yang fokus tentang cinta. Seolah-olah kehidupan para tokohnya cuma berpusar dalam romansa saja. Meski begitu, Mira mengangguk pelan. Sudah diajak, masih pilih-pilih. Mira merasa tidak enak.
Sesudah membeli tiket, camilan, dan minum, keduanya memasuki studio tempat film akan diputar. Sudah lama Mira tak menonton di bioskop. Terakhir kali tentu saja bersama Sophie, setelah ujian kelulusan SMA.
Mira duduk di kursi sesuai nomor tiketnya. Baru saja lagu pembuka yang mendayu dari film itu terdengar, Mira sudah menguap. Namun, sebisa mungkin dia menutupinya agar Aan tak melihat. Apalagi ketika dua tokoh utama keluar, Mira ingin keluar dan melemparkan diri ke kasur saja. Dialognya tak selesai-selesai dan menurut Mira tak jelas juntrungannya.
Sampai akhirnya, gadis itu tak kuat lagi menahan kelopak matanya.
***
“Huhuhu ….”
Mira tersentak hebat. Aan yang pundaknya menjadi tumpuan kepala Mira pun sedikit berjengit.
“Sori, Sori!” Mira buru-buru menutupi mulutnya saat pandangan para penonton film tertuju kepadanya. “Ugh.”
Mira memegangi keningnya yang seperti sedang dipukuli. Layar bioskop yang menayangkan adegan perempuan menangis itu begitu menyilaukan untuknya. Bisa-bisanya tadi dia bangun karena adegan seperti itu?
“Kamu nggak apa-apa? Kamu pucat banget,” bisik Aan, memeriksa tubuh Mira yang mulai bergetar. “Lebih baik kita keluar dulu aja.”
Tadinya Mira mau menolak, tetapi hawa dingin AC seakan mau meremukkan tulang-tulangnya. Nyeri di kepalanya pun makin menyengat. Akhirnya, dia mengangguk kaku.
Dengan sedikit dipapah Aan, Mira tertatih meninggalkan ruangan itu. Sesampainya di luar, Mira duduk di salah satu kursi ruang tunggu. Aan melepaskan jaketnya dan mengerudungkannya ke tubuh Mira, kemudian pergi sejenak untuk membeli minum. Dua botol minuman yang tadi dibelinya tertinggal di dalam.
“Nih, minum dulu.” Aan menyodorkan segelas kecil air mineral, kemudian duduk di sebelah Mira.
“Terimakasih.” Meski sebenarnya tak haus, Mira menerima air itu dan meminumnya seteguk, demi menghargai kebaikan Aan. “Maaf, ya. Semuanya jadi berantakan.”
Aan menggeleng pelan. “Udah, nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu gimana? Mau kuanterin pulang?”
“Aku bawa motor, nanti repot ngambilnya kalau ditinggal di sini. Sebentar lagi, nanti kalau udah agak baikan aku bakal pulang sendiri.” Mira kembali memijati keningnya.
“Yakin?” Pertanyaan Aan itu hanya dijawab Mira dengan anggukan.
Akhirnya mereka hanya menunggu di situ. Hanya dua kali Aan beranjak untuk membeli obat pusing dan ke toilet, sementara Mira masih saja duduk sambil memegangi kepala.
Penonton baru saja bubar ketika sensasi cengkraman menyakitkan di kepala Mira mulai memudar. Mira pun menelan ludah, bersiap mengucapkan hal yang sudah dipikirkannya sedari tadi. “Sekali lagi maafin aku, ya. Kapan-kapan kita nonton lagi dan aku gentian yang bayar, deh.”
Aan memajang senyum lebar. “Nggak apa-apa, Mir. Kamu nggak perlu merasa berhutang sama aku.
Mira bangkit dari duduknya, sama sekali tak memandang Aan. Senyum pria itu kembali memicu panas di wajahnya. “Aku udah enakan, nih. Pulang, yuk.”
***
Terus, gimana kamu sekarang? tanya Sophie lewat aplikasi chat, setelah mengobrol panjang lebar tentang kencan Mira yang gagal tadi sore.
Mira yang tiduran di dipan kamar kedua orangtuanya membalas, Udah nggak pusing sama sekali, sih.
Baguslah, berarti sesi curhat ini tak cuma menyembuhkan hatimu, tapi juga fisikmu. Kwkwkwk.
Yha, Mira membalas pendek.
Terdengar ketukan. Mira pun membuka pintu dan membiarkan ibunya masuk.
“Udah malem, Mir. Waktunya tidur.” Ibu Mira sedikit mengucek matanya. “Kamu harus banyak istirahat. Kamu itu belum sembuh benar.”
“Iya, Bun” Setelah berpamitan dengan Sophie, Mira pun mematikan lampu dan berbaring bersama ibunya di dipan.
“Jangan sedih, ya. Aan tidak akan kapok, kok. Bunda yakin.” Ibu Mira sedikit terkekeh.
Mira sedikit menghela napas. “Ah, Bunda.”
Mira mulai memejamkan matanya. Alih-alih terlelap, kepala gadis itu justru dipenuhi bayangan wajah Aan, terutama senyuman terakhir yang diberikan pemuda itu sebelum mereka pulang dari bioskop. Tak hanya itu, jantung Mira juga seperti sedang diisi letupan-letupan kecil.
“Huhuhuhu ….”
Getaran hebat seakan menjalari sekujur tubuh Mira. Tangisan. Jelas itu bukan lagi berasal dari layar bioskop seperti saat dia terbangun tadi di sana.
“Huhuhuhu ….”
Tangisan itu lebih terdengar seperti merintih. Letupan-letupan kecil di jantung Mira kini berubah menjadi dentuman-dentuman luar biasa keras. Ia buru-buru mengerudungkan kepalanya dengan selimut. Tak mau mengganggu ibunya yang sudah mengeluarkan dengkuran halus, Mira buru-buru menghubungi Sophie dengan aplikasi chat.
Sop, kamu udah tidur? Aku dengar suara orang nangis! Kayaknya dari kamarku! ketik Mira dengan jari-jemari yang bergetar.
Sophie langsung membalas. Tarik napas pelan-pelan, hembuskan. Kamu sendirian? Kalau ada orang di situ, tanya dulu dia denger juga apa nggak.
“Huhuhuhu ….”
Baru juga mengikuti saran Sophie untuk menarik napas, Mira tersentak hebat. Mata ibunya terbuka tiba-tiba.
“Kenapa, Mir? Kok kamu seperti ketakutan begitu?” tanya sang ibunda.
“Bun, denger nggak?” bisik Mira. Isakan yang terdengar makin keras itu mulai memicu kelenjar air mata Mira. “Aku takut, Bun.”
“Iya, Bunda denger.” Ibu Mira mengusap pipi anaknya. “Sekarang, tutup matamu. Jangan lihat ke mana-mana. Jangan bilang apa-apa, berdoa saja dalam hati.”
Kamu diem dulu. Nggak usah balas aku. Nanti dia juga hilang sendiri. Sophie Kembali mengirim pesan.
Maka, Mira memejamkan matanya. Dia berusaha sekeras mungkin untuk tidak berteriak, padahal air matanya makin deras mengalir. Degup jantungnya makin meliar, seiring isakan tak ebrtuan yang seolah makin dekat dengan telinganya.
“Huhuhuhuhuhuhu ….”