Panasnya sinar matahari sudah merasuk ke kamar ketika Mira bangun esoknya. Melihat jam sudah menunjukkan setengah satu siang, Mira memutuskan agar hari itu dia bolos lagi saja. Tubuhnya masih terasa tak bertenaga. Kepalanya juga masih digerayangi sensasi-sensasi menggigit, walau tak separah kemarin.
Setelah meminum tiga gelas air untuk membasahi kerongkongannya yang begitu kering, Mira mengusap wajahnya. Degup jantungnya masih saja kencang, padahal tangisan memilukan itu akhirnya lenyap sebelum subuh tadi.
Lama-lama dia bisa jadi gila. Dia perlu jawaban, tetapi pak Tomo belum juga membalas chatnya. Sepertinya, dia harus kembali mendatangi orang pintar itu. Mira pun beranjak dari dapur, mencari orangtuanya untuk mendiskusikan hal tersebut.
Ibu Mira yang duduk di ruang tamu memberikan senyum hangat ketika anaknya datang. “Akhirnya, anak Bunda bangun juga. Makan dulu, deh. Mau Bunda suapin?”
“Bentar lagi.” Mira mengucek-ngucek matanya yang masih agak berat. Di saat seperti ini, Mira enggan memasukkan makanan ke mulut. “Bunda libur?”
Ibu Mira sedikit mengangguk. “Izin sehari, Mir.”
“Duh, gara-gara Mira ya, Bun?” Coba kalau semua ini tak terjadi padanya, ibunya itu tak perlu mengambil jatah cuti yang berharga.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan,” balas ayah Mira yang duduk di ruang tamu bersama istrinya. “Pak Tomo belum balas lagi, Mir?”
“Belum, Yah. Kutelepon juga nggak diangkat,” jawab Mira, lalu duduk di sebelah ibunya.
Sang ibunda sedikit mengusap rambut Mira. “Apa kita perlu ke orang pintar lain?”
Ayah Mira menautkan jari-jemari di kedua tangannya untuk menopang dagu. Keningnya berkerut. Cukup lama membisu dengan dipandangi anak-istrinya, akhirnya dia menggeleng pelan. “Kalau dia tidak membalas atau mengangkat teleponnya, pasti ada sesuatu. Ayah menduga kalau pak Tomo itu pasti tahu sesuatu. Lebih baik kita ke sana segera …. Tapi, kalau kondisi kamu sudah baikan saja, Mir.”
“Aku udah baikan kok, Yah,” balas Mira tegas.
“Makan sama mandi dulu dong, Sayang,” tutup ibu Mira.
***
Sesampainya di rumah pak Tomo, ketiganya turun dari taksi online. Seperti saat terakhir kali datang ke situ, orang-orang sudah duduk dengan lindungan atap seng, layaknya menghadiri hajatan. Namun, baru saja melangkah beberapa meter, keluarga Mira didatangi pria kurus yang seingat Mira ditugaskan untuk membagikan nomor antrian dan memanggil tamu. Pria itu ditemani beberapa lelaki lain.
“Sebentar,” tahan pria itu, mengecek ponselnya, kemudian sejenak mengamati wajah Mira. “Mbak Mira, kan?’
Mira sedikit menelengkan kepala. Tak mengerti mengapa mereka mendapat perlakukan khusus seperti itu. “Ya?”
“Maaf, tapi Mbak nggak boleh masuk. Ini perintah pak Tomo,” terang pria itu cepat.
Perkataan itu bagai menghajar kelapa Mira. Gadis itu hanya bisa melongo.
“Wah, tidak bisa begitu dong, Mas. Kita kan butuh jawaban.” Intonasi suara ibu Mira mulai meninggi.
Ayah Mira mendesis. “Sepertinya, dukun itu memang menyembunyikan sesuatu.”
Meski isi dadanya seolah bergejolak, Mira menjaga nada bicaranya. “Mas, saya dari kemarin-kemarin nggak bisa menghubungi pak Tomo .…”
“Tanpa mengurangi rasa hormat. Kami mohon dengan sangat, Mbak Mira segera meninggalkan tempat ini,” tegas si pria kurus.
Sampai di sinikah semuanya? Setelah berhari-hari menunggu, dia tak mendapat jawaban? Mira tak bisa menerimanya. Ia bisa jadi gila kalau ini dibiarkan.
Mira sedikit berjengit ketika kedua pria lain sudah memegangi lengannya. Gadis itu cuma bisa memandang heran kepada mereka.
“Sekali lagi maaf,” desis si pria kurus.
“Hei, apa-apaan ini!” protes ayah Mira, sementara sang ibunda menutup mulut dengan kedua tangan.
Dilarang seperti itu, dorongan untuk menemui pak Tomo justru semakin membara di d**a Mira. Seperti kata ayahnya, kalau pak Tomo tak tahu apa-apa, beliau pasti tak akan menghindar seperti ini. Orang pintar itu pasti tahu sesuatu. Maka, Mira pun mulai berontak. “Saya harus ketemu pak Tomo!”
Pria yang memegangi Mira pun semakin banyak. Perhatian orang-orang yang sedang menunggu pun teralih kepada Mira. Kedua orangtua Mira terus melayangkan protes dengan nada tinggi, tapi sama sekali tak digubris.
“Arrrrrrggggggghhhhh!!!” pekik Mira.
***
“Jadi, rencananya kamu mau ke orang pintar lain?” tanya Sophie lewat ponsel.
Mira yang sedang bersila di dipan kamar orangtuanya pun sedikit terbatuk, lantas menyeka air matanya dengan tisu. “Iya, Sop. Ini ayah lagi nyari-nyari lagi. Lama-lama aku bisa jadi gila kalau kayak gini terus.”
“Lagian aneh, loh. Aku baru pernah denger orang pintar yang menghindari kliennya. Kalaupun ada alasan lain, dia harusnya kasih tahu, lah. Bukan malah ngusir begitu.” Kemudian, Sophie berucap tapi dengan kurang jelas, seperti terdengar dari ponsel yang dijauhkan. “Makasih, Pak.” Disusul dengan suara seperti pintu mobil yang dibuka dan ditutup.
“Kamu lagi di jalan, ya? Dari tadi kedengeran suara mobil.”
“Aku, di depan rumahmu, nih. Baru nyampe,” balas Sophie.
“Hah!?” Mira buru-buru turun dari dipan dan berlari menuju halaman yang disirami cahaya sore. Di luar pagar, seorang gadis mungil dengan rambut dicat kecokelatan sudah melambaikan tangan.
“Bisa-bisanya!?” Mira buru-buru membukakan pintu pagar untuk sahabatnya itu. Melihat tas ransel yang masih dicangklong gadis yang rambutnya dikucir itu, Mira sedikit mengernyitkan dahi. “Kamu dari stasiun langsung ke sini?”
Tak langsung menjawab, gadis bermata agak sipit itu memberikan pelukan kepada Mira. “Iya.”
Sophie menyodorkan satu tas plastik kecil kepada Mira. “Bakpia, kesukaan kamu. Mumpung aku kuliah di kota yang jadi sentranya.”
“Tapi, kenapa…”
“Kamu masih tanya kenapa aku datang?” Sophie melebarkan senyumnya.
Air mata Mira kembali mengancam turun. Tak perlu penjelasan lagi. Sophie ada untuk dirinya, walau sahabatnya itu harus berangkat dari luar kota. Itu bukan pengorbanan yang kecil.
“Kuliah kamu gimana, dong?” Suara Mira mulai serak.
Sophie sedikit menyeka air mata di pipi Mira. “Ya ampun, kayak apaan aja, Beb. Sampai nangis-nangis begini.”
Mira buru-buru menghapusi cairan bening di kedua ujung matanya. “Masuk, yuk!”
Namun, ketika baru sampai di depan pintu rumah, Sophie berhenti dan sedikit mengusap tengkuknya. Mira pun menoleh kepada sahabatnya itu. “Ada apa?”
“Aura di rumah ini berbeda. Nggak banyak, sih …. Ah, sori.” Sophie meringis dan akhirnya tetap memasuki rumah.
“Duh, kamu di sini aku malah males ngomongin yang mistis-mistis.” Mira juga merasakan bulu kuduknya sedikit meremang. “Nanti aja kita bahasnya, ya? Kamu lapar, kan? Biar aku masakin. Sekarang aku pinter masak, loh.”
Sophie mengernyitkan dahi secara berlebihan. “Kamu? Masak!?”
Mira segera menarik tangan Sophie, menyeretnya menuju dapur. “Kamu udah bawa makanan kesukaanku, sekarang aku bakal masak makanan kesukaan kamu. Dan jangan salah, ini bukan yang instan, ya.”
“Heee?” gumam Sophie yang masih ditarik Mira. “Kamu …. Kayaknya lebih ceria, deh. Kayak nggak ada apa-apa aja.”
Tak tahu harus menanggapi seperti apa, Mira yang sudah tiba di ruang makan cuma memberikan senyum lebar.
“Nah!” Mata Sophie seketika berbinar. “Kayak gitu, dong! Itu senyuman yang bisa meluluhkan hati para pria, tahu!”
Mira memutar bola matanya, melepaskan tangan Sophie dan melengos ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. “Duduk dulu, Sop.”
Sophie sedikit melihat ke kanan dan ke kiri. “Orangtua kamu ke mana, Mir?”
“Ada jadwal kunjungan ke psikiater,” jawab Mira yang tengah mencuci tangan, sama sekali tak melihat Sophie.
“Eh?”
“Iya, kayaknya aku belum pernah cerita ke kamu. Jadi, ibuku itu ada sedikit masalah dengan kejiwaannya. Setiap hari harus minum obat. Harus rutin konsul, juga. Yah, dia nggak pernah memperlihatkannya ke aku, sih.” Mira tersenyum tipis kepada Sophie yang melongo. “Kaget, ya? Sebenernya aku masih takut ditinggal sendirian, tapi aku nggak boleh egois. Tadinya ayahku mau nemenin aku, tapi kupaksa buat pergi sama Bunda aja. Kasihan Bunda… Ah, sori jadi ngelantur.”
Sophie menggangguk pelan. “Aku yang minta maaf, sampe kamu cerita begitu.”
“Kok, malah minta maaf?” Mira mulai mengambil beberapa bahan dari lemari dapur dan kulkas. “Justru aku berterimakasih banget, kamu mau nemenin aku.”
“Yah, aku cuma bisa bantu kayak gini. Cuma ngasih semangat. Aku emang bisa merasakan dan melihat hal-hal begitu, tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain.” Helaan napas panjang keluar dari mulut Sophie. “Sekarang, gimana perasaan kamu?”
“Udah jauh lebih baik, soalnya ada kamu di sini.” Terdengar suara mirip ketukan ketika Mira mulai memotong-motong kol. “Kita ngobrolin yang lain aja, yuk. Mumpung kamu ada di sini.”
“Oke.” Sophie manggut-manggut secara berlebihan. “Terus, gimana Aan?”
Mira hampir menumpahkan bakso dari wadah plastik. Selanjutnya, Sophie terus mendesak mengenai langkah Mira selanjutnya kepada Aan. Mira berkali-kali menghindar. Ya, gadis itu memang tak nyaman membicarakan Aan. Membayangkan wajah pemuda itu saja, isi perutnya seperti dikocok-kocok. Akan tetapi, itu lebih baik daripada membicarakan fenomena-fenomena absurd yang menimpa dirinya.
“Pokoknya, aku nggak akan jawab pertanyaan kamu kalau kamu nggak mau cerita soal Rico lagi,” ucap Mira saat mereka sudah mulai makan mie goreng buatannya.
Bukannya menjawab, Sophie malah mengangkat garpu yang telah digulung mie. “Ini enak, loh. Lebih enak dari bikinan abang-abang…”
Melihat mata Mira menyipit tanda curiga, Sophie menghela napas. “Aku sama Rico udah putus, Mir. Yah, dari awal kita beda keyakinan, sih… Dan stop, hari ini harusnya tentang kamu. Jangan malah aku yang curhat, nanti kelamaan, padahal kamu juga susah….”
Serta-merta Mira memegangi tangan Sophie. Sophie pun langsung membisu, memandangi tangannya itu.
“Kamu tahu, kan. Kamu bisa cerita semuanya ke aku.” Mira memberikan senyum hangat.
Tiba-tiba saja, Sophie menarik tangannya. Kepalanya menunduk dalam-dalam.
Dahi Mira berkerut. Sahabatnya itu tak kunjung berucap. “Sop?”
“Maafkan aku, Mir.” Isakan Sophie mulai menggema di ruangan yang sepi itu. “Aku takut. Aku nggak tahan di sini. Aku mau pulang.”
Sophie buru-buru bangkit dan mencangklong tasnya. Air matanya tampak jelas mengalir di pipi. Mira cuma bisa melongo, sebelum akhirnya tersadar dan ikut berdiri.
“Kamu kenapa, Sop!?” Mira kembali memegangi tangan Sophie.
Namun, Sophie menarik tangannya dengan kasar. Keduanya pun mematung, saling menatap satu sama lain dalam diam, sebelum akhirnya Sophie menghadap ke arah lain.
“Tempat ini… Kamu… Aku nggak bisa menjelaskan…,” racau Sophie dengan napas berat. “Aku takut. Auramu itu, semakin… Aku nggak kuat…”
Jantung Mira seperti dicengkram erat-erat. Bayangan penolakan dari pak Tomo kembali membayanginya. Ada apa sebenarnya?
“Aku mau pulang. Maaf, aku bukan teman yang baik. Aku sudah berusaha bertahan, tapi…” Sophie tercekat hebat. Air mata gadis itu turun makin deras.
Dan akhirnya, dia berlari meninggalkan Mira.
“Sophie! Tunggu, Sop!” Mira berusaha mengejar. Napasnya kini begitu sesak. Kepalanya makin dipenuhi tanda tanya. “Temenku cuma kamu, Sop!!!”
Sophie yang sudah berada di halaman pun langsung berhenti. Mira pun ikut mengerem larinya, berharap Sophie berubah pikiran, kembali ke sisinya. “Tolong, sebenarnya ada apa, Sop?”
Sang sahabat hanya sedikit melirik Mira. “Ma… Maaf, kali ini aku nggak bisa ikut bantu. Aku benar-benar bukan teman yang baik. Terus… Untuk sementara, jangan hubungi aku dulu.”
Energi di kaki Mira seolah tersedot habis, memaksanya untuk berlutut. Mulutnya seolah terkunci, tak bisa mengeluarkan suara. Punggung Sophie yang menjauh kini tampak makin mengabur di mata Mira. Cairan bening makin deras mengalir di pipi gadis itu.
Mira menatap cahaya langit malam tanpa bintang. Seolah, dengan melakukan hal itu, langit akan menjawab pertanyaannya. Sebenarnya, apa yang dilakukannya sampai harus mendapat hukuman seperti ini?
“Huhuhu ….” Bukan, itu bukan suara tangisan Sophie. Gadis itu sudah hilang dari pandangan Mira. Suara tangisan Mira juga bukan seperti itu.
Mira pun menutupi telinganya. Giginya merapat. Matanya terpejam erat. Dia ingin suara yang menghantuinya itu lenyap.