Gadis dengan kantung mata kehitaman dan wajah pucat itu terduduk di karpet ruang depan. Punggungnya tersandar miring begitu saja ke tembok. Ponsel di pangkuannya berdering, tetapi dia hanya mengecek sekilas saja, sebelum menatap kosong ke depan lagi. Itu dari Aan, bukan Sophie. Mira tak tak mau pikirannya terganggu dengan Aan atau siapa pun, dia sekarang hanya ingin bicara dengan Sophie.
Sayangnya, semua pesan, semua panggilan Mira, tak ada yang terhubung ke sahabat Mira itu.
Ibunda Mira yang baru datang pun menghela napas, kemudian duduk di sebelah putrinya itu. “Gimana? Masih pusing?”
Mira menggeleng pelan.
Pandangan ibu Mira beredar ke ruangan yang bercat biru muda dan sedikit lebih luas dari rumah mereka sebelumnya itu. “Yah, rasanya sepi sih, tapi kita ngontrak rumah untuk sementara saja. Jadi, kita tidak bisa bawa barang banyak.”
“Maafkan aku ya, Bun. Kita sampai harus pindah ke tempat yang jauh dari tempat kerja Bunda.”
“Bunda sama ayahmu sudah bilang, kan? Bukan cuma kamu yang mendengar suara galian dan orang menangis itu. Bunda sama ayah juga mendengarnya. Yang terganggu itu kita semua.” Ibu Mira sedikit mengusap rambut putrinya.
Perlahan, Mira menyeka cairan bening di kedua ujung matanya. Dengan suara yang mulai parau, ia berdesah, “Tapi, ini semua pasti karena Mira, Bun. Semuanya berawal gara-gara Mira ngeliat penampakan itu. …”
Pandangan mata Mira mulai mengabur dan panas. Ibunda Mira tak menjawab dan hanya memeluk putrinya tersebut.
“Apa kita perlu cari orang pintar lagi?” tanya ayah Mira, tahu-tahu berdiri di dekat sang istri.
Mira kembali menggeleng. “Berapa kali kita bolak-balik ke orang pintar, Yah? Kalau dihitung sejak ditolak pak Tomo, sudah sekitar tiga mingguan kita bolak-balik. Jujur Yah, Mira capek. Kalau nggak dioper ke pak Tomo yang jelas-jelas udah nolak, Mira disuruh ngelakuin ritual yang nggak masuk akal. Mira nggak mau lagi makan kembang, atau mandi tengah malam pake air tujuh muara, atau semedi dengan kemenyan…. Mira nggak mau lagi, Yah.”
“Begitu, ya.” Sedikit manggut-manggut, ayah Mira pun ikut duduk di karpet. “Semoga saja dengan pindah ke tempat ini, semuanya bisa selesai.”
“Terus, gimana dengan Sophie, Mir?” tanya sang Ibunda.
Untuk kesekian kalinya, Mira menggeleng, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dan akhirnya, air matanya menetes juga. Dari dadanya seperti ada yang begitu mendesak keluar. Sebegitu mudahnyakah sebuah persabahatan kandas? Atau Sophie itu tak menganggapnya sahabat, sehingga tak perlu berpikir panjang sewaktu meninggalkannnya?
Lalu, buat apa Sophie jauh-jauh datang untuk menemuinya kalau begitu? Waktu itu bukanlah akhir pekan atau tanggal merah. Memangnya Sophie akan meninggalkan kuliahnya tanpa alasan jelas?
“Mungkin dia punya alasan sendiri,” ucap ibu Mira.
Apa alasannya kalau begitu?
Penampakan dan suara-suara itu memang selalu meneror Mira, tetapi ada yang lebih mengerikan dari itu. Sesuatu yang selain menghantui, juga begitu mengganggu pikiran Mira, bahkan sampai memangkas waktu tidurnya: ketidak-tahuan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana nasib dirinya dalam situasi seperti ini nantinya?
Mira menghela napas panjang, kemudian dia memandang kedua orangtuanya secara bergantian. Ia paksakan senyuman tipis di mulutnya. “Untung Mira punya Ayah sama Bunda. Makasih ya, Ayah sama Bunda selalu ada di sisi Mira.”
Ibunda Mira pun kembali memeluk putrinya. Sang ayah pun mengusap lembut kepala Mira. Mulai sedikit terisak, ibu Mira melirih, “Semua ini pasti akan berakhir, Mira. Bunda yakin.”
Tak ada jawaban lagi yang meluncur dari mulut Mira. Gadis itu kembali menatap kosong ke depan, kali ini dengan linangan air mata.
***
Srak …. Srak …. Srak….
Jantung Mira terhentak keras. Matanya membelalak seketika. Ribuan batu bagai merajami kepala gadis itu. Tangannya segera terjulur untuk meraih sang ibunda,
Tidak ada. Bantal di sebelah Mira sudah tak dihuni. Barangkali ibunya pergi ke belakang, pikir Mira. Ia pun mengerudungkan selimut ke kepalanya, meringkuk di atas kasur busa yang hanya digelar di lantai itu.
Bisa-bisanya? Apa gunanya mereka pindah kalau terus dihantui fenomena aneh seperti ini?
Srak …. Srak …. Srak….
Cairan bening di mata Mira kini mengancam tumpah. Setiap senti tubuhnya pun mulai bergetar. Sisi di sebelahnya masih saja kosong. Ibundanya tak kunjung kembali.
“Bun, Bunda?” panggil Mira lirih, tapi gadis itu tak mendapat tanggapan. “Bunda di mana? Bun?”
Mira mengulangi panggilannya beberapa kali, bahkan dengan intonasi yang makin keras. Namun, bundanyaitu tak kunjung menjawab.
Haruskah dia bangkit untuk mencari bundanya? Di tengah suara-suara ini? Mira memegangi d**a kirinya, tempat jantungnya yang seolah berdentum-dentum itu tengah bersarang.
Tak ada pilihan lain. Dengan gerakan begitu pelan, Mira membuka selimutnya, sedikit meringis dan memegangi kepala saat mengambil posisi duduk. Ia lalu mengedarkan pandangan. Di kamar tanpa perabotan yang gelap itu, dia tak melihat siapa pun.
Tak langsung turun dari kasur, Mira menguatkan hatinya. Itu hanya suara. Ia terus menanamkan kalimat itu di otaknya.
Cukup lama berlalu, suara-suara itu tak terdengar lagi. Meski begitu, jantung Mira tetap saja berdegup luar biasa kencang di antara kesunyian malam.
Sedikit menarik napas, Mira akhirnya bangkit dan menyalakan lampu, kembali memegangi kepalanya. Masih tak ada siapa-siapa. Ia pun meraih gagang pintu, memutarnya, kemudian menariknya pelan-pelan dengan napas berat.
Ruang tengah yang kosong melompong itu gelap. Waktu memeriksanya, lagi-lagi Mira tak menemukan siapa pun. Untuk lebih memastikan, ia menyalakan lampu. Sekali lagi, dia masih sendiri.
Kakinya mulai beranjak ke bagian belakang rumah. Napasnya seolah tertahan. Setiap indranya waspada akan setiap sudut rumah.
Mira bisa melihat cahaya dari ventilasi kamar mandi di ruang belakang. Seketika saja, ia menghela napas lega, kemudian mempercepat langkahnya.
“Bunda?” Mira mengetuk pintu kamar mandi itu. “Bunda ada di dalam…”
Mira sedikit tersentak ketika engsel pintu itu bederit. Ya, pintu itu membuka, tapi hanya sedikit. Awalnya Mira terdiam, bertanya-tanya mengapa bundanya tak merespon. Perlu waktu beberapa detik sampai dia membuka pintu kamar mandi itu.
Kosong.
Barangkali bundanya ada di ruang tamu atau kamar ayahnya. Mira kembali berusaha menenangkan diri. Napasnya yang sudah mulai naik-turun, ia atur supaya kembali normal. Ia lalu membuka keran wastafel, membasuh muka, kemudian mengangkat wajahnya.
Mata Mira seketika membelalak. Jantungnya seolah akan melompat dari tempatnya. Mereka kini ada di belakang Mira. Pucat dan tanpa ekspresi. Wajah sang ayah berlumur darah, sementara leher sang ibunda dilingkari oleh lebam biru, seperti bekas jeratan.
Gadis itu buru-buru berbalik. Tak ada siapa pun. Dia masih sendiri. Cepat-cepat dia berlari ke ruang depan.
“Ayah! Bunda! Kalian di mana!?” panggil Mira dengan suara serak, lagi-lagi mencengkram kepala. Kini, kepalanya itu bagai ditusuk-tusuk dari berbagai arah. “Ugh…”
Sama saja. Walau sudah menyalakan lampu, dia tak menemukan siapa-siapa.
Tak menyerah, Mira bergegas ke kamar ayahnya. Dengan air mata yang kembali bercucuran, gadis itu terus memanggil-manggil.
Di kamar ayahnya pun, Mira hanya mendapati satu lembar kasur busa. Gadis itu pun mundur dengan menggeleng-gelengkan kepala. Bahkan sekarang ayah-bundanya ikut pergi? Yang benar saja.
“Ayah… Bunda… Kalian di mana?” Bukannya makin keras, panggilan Mira justru makin teredam tangis dan napas beratnya. Ia terus mencari-cari, berulang kali mengecek ruangan demi ruangan. Masih saja nihil.
Seolah-olah kedua orangtuanya itu sejak awal tak ada di sana.
Barangkali mereka ada di luar? Perlahan, dengan tertatih dan sedikit terbungkuk karena nyeri di kepalanya makin tak tertahankan, Mira berjalan menuju pintu depan. Di sana, ia menelan ludah, terdiam untuk beberepa detik, sebelum akhirnya memutar kunci dan kenop pintu.
Srak …. Srak …. Srak….
Bukan cuma suara itu yang menyambut Mira di pekarangan rumah. Ada yang lain. Sesosok manusia berambut panjang, dengan gaun selutut berwarna putih.
Srak …. Srak …. Srak….
Sosok itu tengah mencangkuli tanah.
Walau dalam hatinya sudah berteriak, mulut Mira terkunci rapat. Sendi-sendinya seolah membeku, memaksanya untuk tetap berdiri di situ, memandangi sosok tersebut.
Bahkan saat sosok itu berhenti, Mira tetap saja dalam posisinya. Hening, sampai akhirnya sosok itu mulai menggerakan kepalanya, seperti hendak menoleh kepada Mira.
Dada Mira bagai dihantam keras. Akhirnya, dia berhasil menggerakkan sendi-sendinya. Ia buru-buru memasuki rumah, segera menutup sekaligus mengunci pintu depan. Kemudian, dia berlari kencang, sampai tersandung kakinya sendiri dan terjembab.
“Huhuhuhu ….”
Suara tangisan itu sudah cukup membuat Mira lupa akan nyeri karena terjatuh. Ia langsung bangkit, dan masuk ke dalam kamar, tak lupa mengunci pintunya dari dalam. Setelah meraih selimut dan ponsel, dia meringkuk dengan mengerudungi diri.
Dengan napas begitu berat dan keringat dingin deras tak terkendali, Mira berusaha menghubungi Sophie, baik dengan panggilan maupun aplikasi chat. Tak juga mendapat jawaban, gadis itu menghubungi ibunya.
“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.” Suara rekaman operator bernada datar itu sudah cukup memberikan sensasi dingin ke seluruh tubuh Mira. Masih belum menyerah, ia menghubungi sang ayah. Sama saja. Menghubungi pak Tomo pun, ia tak digubris.
Saat mengirimi pesan elektronik pun, Mira hanya melihat lambang centang satu, tanda pesan itu tak sampai kepada kedua orangtuanya.
“Huhuhuhu ….”
Mira kembali mencengkeram kepalanya. Ia ingin berteriak, tetapi ada sesuatu yang seolah menyumbat kerongkongannya. Dia hanya bisa tersedu-sedan dalam lindungan selimut.
“Huhuhuhu ….”
Ponsel Mira tergelincir jatuh. Sekarang dia menutupi telinganya, berusaha menghalau suara tangisan itu, yang kini seolah mendekatinya. Kepalanya kini seakan mau pecah. Seumur hidup, ia tak pernah merasakan nyeri sedahsyat itu.