Keringat dingin masih saja membasahi tubuh Mira ketika dirinya terbangun di bawah selimut. Tak ada suara menangis atau menggali lagi, tetapi seluruh sendi tubuhnya seolah menolak untuk membawanya ke dunia luar. Padahal, kerongkongannya sudah begitu kering. Ia harus segera minum.
Mira mengatur napas dan membenarkan posisi sandarannya di tembok untuk menenangkan diri. Dengan matanya yang bengkak karena semalaman terus menangis, ia mengecek fitur jam di ponselnya. Pada saat itulah, ia mendapat panggilan dari Aan. Awalnya, dia akan mengacuhkannya lagi, seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi, di saat tak bisa meghubungi teman dan orangtuanya seperti ini, ia tak punya pilihan lain. Paling tidak, dia tak akan sendirian.
“Halo, Aan?” sapa Mira akhirnya.
“Mira? Kok suaramu serak banget? Kamu sakit lagi, ya?” tanya Aan, terdengar begitu cemas.
“Begitulah…” Bahkan di saat seperti ini, Mira tak tahu harus berbicara seperti apa kepada pemuda itu. “Ada apa?”
Aan membisu beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab kaku, “Yah, udah dua minggu lebih kamu nggak kelihatan di kampus. Chat-ku juga nggak pernah dibales. Waktu kutelepon, kamu juga nggak pernah ngangkat. Jadi, aku ke rumahmu, deh. Sekarang aku udah ada di depan rumahmu, tapi kayaknya kosong. Kamu sekeluarga lagi pergi, ya?”
Mira langsung melongo untuk beberapa detik, berusaha memahami kata-kata pemuda itu. Apa dia tidak salah dengar? “Orangtuaku nggak ada di situ?”
“Tadi sih aku papasan sama orang yang ngaku satu kerjaan sama ibu kamu,” lanjut Aan. “Katanya, mereka mau konfirmasi. Soalnya ibu kamu udah nggak masuk hampir sebulan. Nomornya juga nggak pernah aktif. Terus, surat panggilan dari kantor juga nggak pernah ditanggepin.”
“Apa!?” Serta-merta Mira berdiri, membuat selimut yang mengerudunginya luruh. “Kamu jangan becanda, An! Bundaku kemarin masih masuk kerja, kok!”
“Yah, itu kata orang yang datang ke rumah kamu, sih.”
Mira kembali merasakan sensasi cengkraman menyakitkan itu di kepalanya. Kali ini sensasi tersebut seolah merangsek ke setiap sendi tubuhnya. Bahkan sampai ke paru-parunya yang sekarang mulai kesulitan menghirup udara.
“Halo, Mir?” Aan bertanya karena Mira tak kunjung menanggapi.
Otak Mira berusaha menjalin benang merah dari semua ini, tetapi yang ada nyeri di kepalanya makin menggila, membuat ponselnya tergelincir ke lantai. Ia pun jatuh berlutut sambil meremas keras kepalanya.
“Mira? Ada apa, Mir?” Suara Aan terus terdengar.
***
Sedalam apa pun menarik pedal gas, Mira masih saja merasa motornya tak cukup kencang. Ia merasa dirinya tak kunjung sampai ke tempat tujuan.
Terpaan keras angin memperparah nyeri di kepalanya, membuat fokusnya berkurang. Berkali-kali dirinya hampir menyerempet mobil atau motor, mendapat klakson dan u*****n dari pengendaranya. Meski begitu, dia tetap melaju, tak mempunyai niat sedikit pun untuk berhenti.
Dia butuh jawaban sesegera mungkin.
Setelah belokan terakhir di perumahan, Mira memakirkan motornya begitu saja di depan rumah. Ia sangat terburu-buru melewati halaman, gelagapan membuka pintu masuk dengan kunci, kemudian merangsek ke dalam. Semakin dalam dia masuk, detak jantungnya makin tak terkendali.
Sesampainya di gudang belakang, Mira malah mematung. Alih-alih mengambil pacul dari sana, ia justru hanya memandangi alat penggali itu dalam diam. Sebagian hatinya berkata untuk tak melakukan hal ini, tetapi sebagian lainnya bersikeras. Kalau tidak dilakukan, seumur hidup dirinya akan dihantui kebingungan.
Selepas menghapus setetes cairan bening di ujung matanya, Mira akhirnya memantapkan hati dan menyahut pacul itu. Terdengar suara benda lain berjatuhan karena tarikan Mira yang begitu keras.
Mira berpindah ke tengah pelataran. Kemudian, dengan lenguhan keras, gadis itu mengayunkan pacul untuk menghujam tanah. Kondisi tubuhnya yang kurang fit membuat napasnya semakin berat di setiap ayunan. Namun, gundukan tanah hasil galiannya semakin tinggi. Meski tubuhnya remuk sekalipun, dia benar-benar tak punya niat untuk berhenti.
Apakah benar di masa lampau dirinya melakukan hal itu? Mungkinkah dia hanya berhalusinasi? Sudah sintingkah dirinya? Kalau dirinya memang melakukan hal itu, hal jahat apa yang mereka lakukan sampai membuatnya gelap mata?
Dalam hati, Mira terus berharap kalau semuanya memang halusinasi. Itu lebih baik daripada mimpi buruknya menjadi kenyataan.
Ayunan tangan Mira benar-benar mulai kehilangan tenaganya, hanya terlihat seperti tali yang jatuh lemas. Dan akhirnya, ujung pacul itu pun tertancap dalam dan tak bisa diangkatnya lagi. Paru-parunya sudah sangat kesulitan menghirup oksigen. Kulit dan bajunya begitu basah sekaligus kotor, dibanjiri keringat dan dihiasi noda-noda tanah.
Sensasi melayang sudah hinggap di kepalanya, menggantikan nyeri menyengat itu. Mira merasa dia seharusnya sudah tumbang sedari tadi. Energi di tubuhnya sudah benar-benar terkikis. Kalau bukan karena tekad mencari jawaban pasti yang kuat, gadis itu tak akan sanggup melakukan hal berat ini.
Di hadapannya sudah ada lubang dengan kedalaman beberapa senti. Mira memandang kosong lubang yang tak bertuan itu. Yang dicarinya tak ada di sana. Haruskah dia menggali lebih dalam lagi? Dengan tangan yang sudah begitu kebas dan tak bisa merasakan apa pun lagi ini?
Keinginan untuk kabur saja dan tak menghiraukan semua ini pun mulai muncul dalam dirinya. Namun, itu artinya dia hanya akan hidup dalam kebohongan.
“Mira? Kamu lagi ngapain, Mir?”
Suara yang begitu familier itu bagai menusuk telinga Mira. Tidak mungkin. Sang empunya suara itu seharusnya tidak ada di sini.
Kepala Mira mulai bergerak kaku menuju arah suara itu, yakni di pintu belakang rumah. Seketika saja, kedua matanya membelalak begitu lebar.
“Kamu ngapain, sih?” ulang ibu Mira, meringis dan sedikit menyipitkan matanya, jelas sekali khawatir dan tak mengerti dengan putrinya itu.
“Sampai kotor banget begitu,” celetuk ayah Mira, berjalan dari pintu belakang dan meraih pacul di dekat kaki Mira. “Kamu mau nanam apa? Pohon beringin? Lubangnya gede banget.”
“Ke… Kenapa kalian ada di sini?” racau Mira lirih, nyaris tak terdengar.
Kedua orangtua itu saling bertukar pandang.
“Kamu ngomong apa, sih?” tanya sang ayah sambil menggaruk kepalanya.
Ibunda Mira mendekati anaknya. Sedikit membersihkan noda di baju gadis itu. “Ya ampun, Mira. Masuk dulu, gih. Bersih-bersih dulu.”
Ya, kedua orangtuanya itu nyata ada di situ. Saat bajunya disentuh sang ibunda pun, Mira bisa merasakannya dengan jelas.
“Kenapa kamu bengong, Mir?” lanjut sang ayah.
“Kamu jangan bikin kami berdua khawatir, Mir,” sambung sang ibunda, meringis saat mengamati wajah putrinya.
Otak Mira kini benar-benar tak berfungsi. Perlahan, gadis itu merasakan kalau sensasi melayang di kepalanya makin menggila. Matanya mengerjap-ngerjap, pandanganya terus mengabur. Kemudian, ia tak kuasa lagi menahan kedua kelopak matanya untuk tetap terbuka. Tubuhnya pun oleng.
“Mira!” Panggilan serempak dari kedua orangtuanya itulah yang terakhir kali masih bisa ditangkap telinga Mira.