Langit-langit berwarna putih langsung menyambut Mira begitu gadis itu membuka matanya. Ia menoleh ke kanan dan mendapati sebuah sekat tirai hijau. Di sebelah kiri, ia melihat ibundanya tengah duduk dan sibuk dengan ponsel. Ketika mengangkat tangan kirinya yang terasa janggal, ia menemukan jarum infus yang tersambung dengan selang.
“Mira? Kamu sudah bangun?” Ibunda Mira bangkit, langsung memeriksa wajah putrinya. “Syukurlah, ya Tuhan. Dari kemarin, kamu tidak sadar.”
Mira yang terbaring di dipan bersprei hijau itu pun tak kuasa menahan air matanya. Ibunya ada di situ, nyata dan kini memeluknya.
“Sudah, sudah.” Tak bertanya apa pun, ibunda Mira terus mengusapi kepala anaknya itu.
“Mira kayak habis mimpi buruk, Bun.”
Terdengar derit pintu kamar yang dibuka. Ayah Mira pun masuk bersama seseorang. Mata Mira seketika melebar. Seorang gadis mungil dengan rambut kecokelatan yang dikucir tersenyum kepadanya.
“Ayah baru jemput Sophie dari stasiun. Dia langsung mau ke sini waktu dengar kamu di rumah sakit,” terang sang ayah.
Sophie menaruh ranselnya ke lantai, melambaikan tangan. “Hai, cantik.”
Mira segera bangkit dari dipan dan langsung memeluk Sophie erat-erat, tanpa memedulikan tiang infus yang nyaris rubuh.
“Aku… Aku… Sophie…” Tangisan Mira semakin kencang, membuatnya mulutnya kesulitan berkata-kata. “Kamu nggak akan kemana-mana kan, Sop?”
“Hah? Kok, kamu nanya begitu? “Sophie menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. “Tenang aja, Beb. Aku nggak ke mana-mana, kok.”
Cukup lama Mira menumpahkan air mata, sebelum akhirnya dibantu untuk berbaring oleh kedua orangtuanya dan Sophie. Tubuhnya benar-benar tak bertenaga.
“Sudah puas nangisnya?” tanya sang ibunda. Mira yang wajahnya begitu merah pun mengangguk sambil menghapusi sisa airmatanya dengan tisu. “Jadi, apa kamu sudah bisa cerita kenapa kamu pergi dari rumah, Mir?”
Aliran listrik seakan menyergap tubuh Mira. Ia cuma melongo sembari memandangi wajah ibu, ayahnya, dan juga Sophie. “Bukannya Bunda sama Ayah yang ngajak Mira pergi?”
Kedua orangtua Mira saling berpandangan, sementara Sophie menyipitkan matanya.
“Kamu yang tiba-tiba hilang dari rumah tanpa ngasih kabar, Mir,” imbuh ayahnya.
Mira masih tak bisa menanggapi. Ia pergi sendiri? Kalau begitu, siapa yang mengajaknya pindah rumah kalau begitu?
“Coba kamu urutkan kejadiannya sampai kamu ada di titik ini, Mir,” usul Sophie, berpindah untuk duduk di tepi dipan, kemudian memberikan senyum hangat.
Untuk kedua kalinya, Mira memandangi orang-orang yang ada di tempat itu. “Awalnya ya itu… Pas abis masak, Mira ngeliat penampakan orang yang menggali di belakang rumah…”
“Tunggu,” sela Sophie, mencondongkan kepalanya kepada Mira sambil mengangkat kedua alis. “Kamu masak? Kamu?”
“Iya, Sop. Dari sekitar sebulan yang lalu dia mulai belajar masak. Entah dapat angin dari mana,” ceplos ibu Mira, sedikit terkekh
“Aku kan pernah masakin kamu, Sop. Abis itu kamu…” Mira menahan diri. Ia tak mau mengungkit hal yang tidak mengenakkan itu. “Berarti kamu nggak inget juga dibuatin mie goreng bukan instan sama aku, ya?”
Sophie mengangkat bahu. “Oke, itu kita bahas nanti. Lebih baik sekarang kamu lanjutin ceritaku.”
Meski masih tak percaya Sophie melupakan hal itu, Mira meneruskan ucapannya. “Terus, setelah penampakan itu, aku nemuin bekas darah di dinding kamarku.”
“Iya, waktu itu kamu histeris dan minta tidur sama bunda, padahal nggak ada apa-apa di kamarmu,” sambung ayah Mira.
Kini Mira memegangi kepalanya. Ini semua semakin absurd. Ia pun memandang kepada sang ibunda, hatinya setengah berharap. “Yang terakhir, waktu aku sama Bunda denger tangisan itu.”
Tarikan napas panjang terdengar dari mulut ibu Mira. Wanita paruh baya itu memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya menjawab, “Sebenarnya, waktu itu Bunda pura-pura saja, Mir. Biar kamu merasa lebih tenang karena ada yang mengalami hal sama seperti kamu.”
Mamatung sejenak, Mira mengusap wajahnya. Ia ingin menyalahkan ibunya yang berbohong, tetapi itu tak ada gunanya. Semua sudah jelas. Ia punya satu kesimpulan. “Kayaknya ada yang salah dengan otakku.”
“Ah…” Ibunda Mira memandangi anaknya dengan mata sedikit berkaca. “Sebenarnya Bunda sama Ayahmu sudah berbicara tentang hal ini. Kami ingin kamu mendapat penanganan medis, Mir. Tapi, barangkali kami menyangkal kalau ada masalah dalam diri kamu. Kami selalu berpikir ini bisa diatasi oleh kami sendiri. Seumur-umur, kami tidak pernah mengurusi masalah yang berhubungan dengan mental seperti ini.”
Mira lagi-lagi melongo. “Nggak pernah ngurusin masalah seperti ini? Bukannya Bunda rutin ke psikiater?”
“Psikiater?” kening ayah Mira berkerut.
Ibu Mira pun mengangkat kedua alis. “Bunda nggak pernah ke psikiater, Mir. Kesehatan mental Bunda baik-baik saja, kok.”
Suasana ruangan itu seketika hening. Mira berusaha berpikir, mengingat-ngingat. Memilah fakta-fakta yang ada, memisahkannya dengan halusinasi.
“Sebelumnya.” Untuk kedua kalinya, Sophie berdehem. “Aku boleh tanya sesuatu nggak, Mir?”
Mendapat anggukan dari Mira, Sophie menarik napas begitu panjang. “Tadi kamu nanya aku nggak bakal kemana-mana, kan? Apa kamu… Ah, aku sulit jelasinnya. Apa kamu pernah ngerasa aku ninggalin kamu, gitu?”
Cukup lama Mira membisu, sebelum akhinya menggangguk pelan. “Iya, barangkali itu cuma mimpi. Suatu sore, kamu datang ke rumahku. Aku buatin kamu mie goreng. Aku curhat, tapi tiba-tiba kamu pergi begitu aja. Kamu bilang, aura dalam diriku ini begitu menakutkan.”
Sophie bergeser mendekati Mira. Sebuah senyum samar mengembang di mulutnya. “Mungkin ini bakal terdengar aneh, Mir. Bisa dikatakan aku ini bisa mengerti apa yang Sophie di dalam mimpimu itu rasakan.”
Kedua alis Mira menaut. Omongan Sophie barusan terdengar seperti racauan saja di telinga Mira. Kedua orangtuanya pun memajang ekspresi yang kurang lebih sama dengannya.
“Aku pernah bilang kan kalau kamu spesial, kan? Aku juga bilang kespesialan kamu itu yang bikin orang lain menjauh? Kamu ingin tahu penjelasan detailnya?” Sophie mengembangkan senyumnya, sementara Mira mengangguk pelan. “Karena kamu terhubung ke banyak dimensi, barangkali ke Mira-Mira lain yang ada di sana juga. Kamu terhubung ke dimensi-dimensi yang tidak diketahui, membuat orang biasa tanpa sadar takut padamu. Ketakutan terbesar manusia adalah ketidak-tahuan. Mungkin itu juga yang membuat pak Tomo nggak mau menemuimu lagi, Mir.”
“Ah, ketakutan akan ketidak-tahuan, ya?” Seperti ketika kamu berperang melawan musuh. Kamu akan lebih takut kepada musuh yang bersembunyi, dibandingkan dengan yang ada di depan mata. Kamu bisa mengamati musuh yang terlihat, mempelajari gerak-geriknya, meneliti senjatanya mungkin, kemudian membuat rencana yang dilandaskan semua itu. Sementara, kalau dengan musuh yang tidak terlihat… Yah, kamu tidak bisa apa-apa selain menunggu untuk diserang,” imbuh ayah Mira sambil menggaruk rambut.
“Tapi kenapa kami dan kamu tidak merasakan ketakutan itu, Sop?” tanya ibunda Mira.
“Mungkin karena Om sama Tante dekat dengannya dari lahir. Jadinya, Om sama Tante ini sudah terbiasa. Kalau saya, jujur saja saya kasihan dengan Mira dan berusaha melawan ketakutan itu, kemudian lama-lama saya jadi terbiasa juga… Ah, Maaf.”
“Kenapa harus minta maaf?” Sudah beberapa tahu berlalu, Mira tak peduli lagi alasan Sophie berteman dengannya. Toh, mereka ini sudah jadi sahabat karib. “Lebih baik sekarang kamu lanjutin ceritanya aja.”
Sophie kembali tersenyum “Mungkin saja. Ini mungkin saja, Beb. Karena suatu sebab, pikiran Mira di dimensi lain terhubung dengan pikiran kamu yang ada di sini. Kamu jadi bisa merasakan sebagian apa yang dialami Mira di dimensi lain itu. Contohnya ya itu tadi, Mira yang lain ini pindahan sama orangtuanya. Karena pikiran kalian terhubung, kamu jadi merasa pindah sama kedua orang tua kamu.”
“Ini gila… Ini lebih seperti film fiksi ilmiah…” Ayah Mira langsung menutup mulut saat sang istri menyikut perutnya.
“Lalu, masalah penampakan dan kejadian itu itu… Aku juga punya teori. Kenangan Mira di dimensi lain ini ada yang tertransfer ke otakmu. Kemudian, otakmu tanpa sengaja mengolahnya menjadi halusinasi, sehingga kamu melihat orang menggali dan menemukan bekas darah, juga mendengar tangisan-tangisan itu.” Melihat mata Mira yang makin membelalak lebar, Sophie menelan ludah. “Dan yang terakhir, kamu mungkin beberapa kali bertukar pikiran dengannya. Jadi, terkadang kamu mengalami apa yang ada di dunianya secara langsung… Ah, pengetahuan kita belum sampai untuk membahas yang seperti itu.”
Keheningan kembali datang. Sophie sedikit mengatur napas, sementara Mira cuma bisa melongo untuk kesekian kalinya. Sebagian dari diri Mira merasa ucapan Sophie mengada-ngada, tetapi sebagian lainnya justru menganggap itu adalah sesuatu yang cukup masuk akal, kalau dihubungkan dengan semua kejadian yang ada.
Mira memejamkan matanya. “Apa penyebab semua itu, Sop?”
“Aku nggak tahu dan mungkin kita nggak akan pernah tahu …. Itu semuanya bisa saja salah dan barangkali kamu memang butuh bantuan ke psikiater.” Sophie menggenggam erat tangan Mira. Mira bisa merasakan kehangatan dari tangan sahabatnya itu.
“Dia…” Mira tercekat, lantas menunduk dengan tubuh bergetar. “Mira di tempat itu mungkin melihat ilusi kedua orangtuanya. Sebenarnya, seperti aku, mungkin dia itu juga pindah rumah sendirian.”
Ayah dan ibu Mira saling bertukar pandang, sementara Sophie makin mencondongkan kepalanya kepada Mira.
“Maksud kamu?” tanya Sophie pelan.
“Karena…” Mira mengangkat wajahnya yang kini hampir tanpa ekspresi. “Karena aku… Karena dia telah membunuh ayah dan bunda, kemudian menguburnya di halaman belakang.”
Semua yang ada di situ seketika mematung. Mira bisa merasakan sekujur tubuhnya bak dihantami angin dingin. Bahkan dia sendiri menganggap ucapan yang terlontar dari mulutnya barusan itu benar-benar gila.
“Ini kan belum pasti…” Ibu Mira tertawa grogi sambil memijat tengkuknya. “Bisa saja…”
“Apakah kamu masih takut denganku, Sop?” Mira mulai merasakan panas di matanya, tapi dia mati-matian menahan diri untuk tak terisak. “Waktu itu, aku merasakan ketakutanmu itu lebih dari sekadar merasakan aura yang mengerikan… Mungkin karena aku ini pembu…”
“Kamu ngomong seolah-olah aku benar-benar ninggalin kamu, dan kamu ngelakuin hal yang Mira lain ini lakukan.” Kembali tersenyum, Sophie menggeleng pelan. “Nggak, Sayang. Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku sudah tahu… Yah, walau cuma dugaan, aku tahu apa yang akan kuhadapi dari kamu. Lagian, masih ada kemungkinan kalau ini sebenarnya sumber semua masalah ada di otak kamu sendiri.”
Mira sedikit menunduk. “Aku nggak tahu, mendingan mana, antara akunya yang kurang waras atau pikiranku memang terhubung ke diriku sendiri yang lain.”
Sophie pun kembali memeluk sahabatnya itu dengan lembut. “Jangan terlalu dipikirin, Beb. Kamu istirahat aja dulu. Kalau kamu butuh teman ngobrol, aku siap. Aku udah bawa baju. Aku bakal nginep di sini.”
“Eh? Nanti kamu .…”
“Kamu nggak bisa nolak, Beb. Keputusanku udah bulat,” sela Sophie cepat.
Mendapat tatapan penuh harap dari Sophie, ayah Mira mengangguk. “Siap, biar Om tidur di luar saja.” Ia lalu menoleh kepada istrinya. “Bunda pulang dulu saja, istirahat total. Semalam, Bunda tidak tidur sama sekali.”
“Tapi ….” Ibunda Mira mengurungkan jawabannya saat sang suami menepuk pelan pundaknya.
“Makasih, Sop.” Mira balas tersenyum kepada sahabatnya. Air matanya kembali mengancam turun. Ya, Sophie sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkannya lagi.