Perlahan, Mira membuka matanya. Lagi-lagi dia melihat langit-langit membosankan di kamar rumah sakit itu. Telinganya bisa menangkap samar-samar suara jangkrik dan katak di kejauhan. Hidungnya pun bisa mendeteksi bau air yang bercampur tanah. Sepertinya, saat dirinya tidur tadi, hujan turun ke bumi.
Ia memijati keningnya. Pusing menyengat itu lagi. Lama-lama dia jengah juga dengan rasa yang menyiksanya tersebut.
Ia sedikit melongok ke lantai, memeriksa Sophie yang terlelap hanya dengan alas tikar. Mira jadi ingat, dulu dirinyalah yang ada di posisi itu. Tidur di bawah untuk menjaga Sophie, tak peduli dingin, tak peduli kerasnya lantai. Mira sudah lupa kapan tepatnya. Mungkin setahun atau dua tahun yang lalu. Bahkan penyakit yang diderita Sophie waktu itu sudah tak diingatnya lagi.
Melihat wajah Sophie yang begitu tenang, Mira merekahkan senyum. Ya, tak mungkin sahabatnya ini pergi begitu saja. Ikatan mereka sungguh kuat.
Mau itu otaknya yang tak waras sehingga memunculkan halusinasi-halusinasi, atau memang semua itu dipicu fenomena aneh yang berhubungan dengan dimensi lain, Mira sudah tidak peduli lagi. Ia hanya berharap masalah ini cepat selesai. Ia ingin hidupnya kembali normal, tak lagi dihantui hal-hal absurd.
Setelah membasahi kerongkongannya yang kering dengan air dari botol plastik, Mira memejamkan matanya, berusaha tertidur kembali. Namun, kantuk di kepalanya sudah tak bersisa. Ia pun meraih ponsel di meja, melihat jam yang menunjukkan pukul satu dini hari lebih sedikit, kemudian membuka kuncinya dengan sandi yang merupakan kombinasi dari tanggal lahir ayah-bundanya.
Kedua alis Mira sedikit bertaut. Yang menyambut Mira di layar ponsel itu bukanlah ikon-ikon seperti biasanya, melainkan aplikasi catatan yang masih terbuka dan berisikan tulisan. Seingat Mira, dia hampir tak pernah menggunakan aplikasi catatan tersebut.
Menelengkan kepala, Mira mulai membaca tulisan yang ada di sana.
Mira, kalau kamu membaca tulisan ini, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar kaget waktu menemui ayahmu di luar. Dia tidak memiliki pandangan menjijikan seperti yang dulu diarahkannya kepadaku. Sepertinya, keluargamu di sini baik-baik saja. Dari obrolan dengan ayahmu, aku jadi tahu bundamu tidak seperti bundaku, yang rutin ke psikiater untuk mengobati gangguan jiwanya. Jadi, walaupun ayahmu terkena PHK, bundamu tak mengamuk dan membuat ayahmu makin stres.
Sebenarnya aku kasihan dengan ayahku. Setiap hari dia kena marah. Dia itu ditekan terus oleh bundaku. Bahkan bundaku lama-lama menuduh yang tidak-tidak. Dia sampai meracau kalau ayahku punya wanita idaman lain dan sebenarnya dia menyimpan banyak uang. Ibuku menuduh kalau uang itu diberikan kepada wanita idaman lain itu. Kamu pasti heran kenapa bundaku bisa berprasangka berlebihan seperti itu. Sudah kubilang, bundaku itu sakit.
Karena terus tertekan, lama-lama ayahku… Bisa dibilang dia ikutan jadi gila… Dengan kondisi seperti itu, dia pasti tak mendapat kebutuhan batin dari ibuku. Ditambah kondisi stres yang luar biasa, dia melampiaskannya kepadaku… Anak kandungnya sendiri. Bayangkan, Mir. Dia melakukan itu kepada anaknya sendiri!
Setiap malam, dia mengendap ke kamarku, melakukan perbuatan tidak senonoh itu… Sesuatu yang begitu biadab… Sesuatu yang tidak mungkin bisa dimaafkan… Sesuatu yang hanya dilakukan oleh binatang. Bundaku tidak pernah mendengar semua itu. Dia tak akan mungkin terbangun. Setiap malam dia meminum obat tidur.
Aku selalu menangis setiap kali ayah melakukan hal itu kepadaku, Mir. Tidak. Setiap saat, setiap waktu, hatiku menangis.
Ayah mengancamku agar tutup mulut. Selain akan menyakitiku kalau ada orang lain yang tahu, dia juga berkata bahwa bunda akan semakin depresi kalau mengetahui semua itu. Tapi, lama-lama aku tidak tahan, Mir. Aku ini bukan mainan yang bisa dipakai sembarangan.
Kupikir, karena sama sekali tak pernah marah-marah kepadaku, bunda akan membantuku kalau kuberitahu. Sayangnya, aku salah besar, Mir. Dia malah mengutukku, mengataiku anak jalang, dan tak sudi memilikku. Dia memintaku angkat kaki dari rumah.
Aku jadi kalap. Mataku gelap. Kemudian… Bahkan aku tak ingat apa yang terjadi. Tahu-tahu, ibuku tergeletak di kasur dan sudah tak bernapas. Ada bekas jeratan di lehernya, sedangkan tanganku memegang tali tas.
Saat memergoki aku dan ibuku, ayahku ketakutan setengah mati, Mir. Dia, yang telah menindasku, malah berusaha kabur.
Kebencianku yang berlipat-lipat mendorongku mengejar ayah. Awalnya dia ingin kabur lewat pintu depan, tapi mungkin karena gugup, ia kesulitan menggunakan kunci. Aku jadi punya cukup waktu untuk memukul kepalanya dengan asbak di ruang tamu. Sekali, dia masih bisa berdiri. Kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, lama-lama dia cuma bisa merayap dengan sisa-sisa tenaganya
Melihat ayahku yang benar-benar tak berdaya, waktu itu aku tertawa-tawa seperti orang gila. Tentu saja aku puas orang yang menzolimiku jadi seperti itu. Namun, air mataku tetap mengalir, Mir. Yang sekarat itu ayahku dan di tempat lain bundaku sudah tak bernyawa. Aku sudah tak mungkin lagi memiliki kehidupan keluarga yang normal.
Ayah terus merangkak sampai ke kemarku. Mungkin karena tak bisa melihat lagi, wajahnya menabrak dinding… Aku pun kembali memukulkan asbak ke kepalanya, sampai dia benar-benar tak bergerak.
Setelah itu, aku diam, tak lagi menangis, tak lagi tertawa. Pikiranku benar-benar kosong. Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku mengubur mereka di halaman belakang.
Ah, sebenarnya tidak penting juga aku bercerita seperti ini, Mir. Tujuanku cuma ingin meminta maaf. Tanpa sebab yang jelas, aku mengambil-alih tubuh kamu, Mir. Tiba-tiba kesadaranku benar-benar berpindah ke duniamu, tidak bercampur dengan kesadaranmu seperti sebelumnya.
Waktu aku terbangun di kamar ini, aku tak melihat Sophie. Aku keluar dan melihat ayahmu sedang duduk-duduk dan tak bisa tidur. Walaupun dia bukan ayah yang menondaiku, tapi dendam kesumatku tetap ada. Untunglah, waktu itu aku masih bisa berpikir kalau ini bukan tempatku. Ayahmu itu bukan ayahku. Kami jadi mengobrol sedikit. Sepertinya dia ayah yang baik, seperti ayahku yang dulu, sebelum bencana itu terjadi.
Saat aku kembali ke kamar, aku bertemu Sophie yang baru keluar dari toilet. Dia tersenyum padaku, kami pun mengobrol. Aku rindu padanya. Awalnya aku tak akan melakukan apa pun. Sekali lagi, ini bukan tempatku. Sampai akhirnya, di tengah obrolan, tatapan matanya berubah. Aku ingat tatapan itu. Itu tatapan ketakutan yang ditunjukannya sebelum meninggalkan aku!
Dia mengajakku untuk tidur kembali, tapi aku yakin setelah ini dia akan meninggalkanku. Dia takut padaku! Dia, seseorang yang kuanggap sahabat terbaikku, yang berjanji akan terus berada di pihakku, malah akan meninggalkanku! Pikiranku seketika kacau. Ketika dia berbaring di tikar, aku…
Mira tak sanggup lagi membaca lanjutan tulisan itu. Dengan gerakan luar biasa kaku dan napas begitu berat, ia menoleh kepada Sophie, yang masih berbaring di bawah. Posisinya tak berubah.
Kemudian, tangan Mira bergerak perlahan, kontras dengan jantungnya yang berderap sangat cepat. Tangan gadis itu terus bergerak, sampai punggung telunjuknya bersentuhan dengan kulit leher sang sahabat.
“Sop?”
Dingin.