Satu hal yang bisa kauperkirakan dalam acara kerajaan—apa pun agendanya—adalah: pasti meriah. Dan aku sama sekali tak terbiasa dengan itu.
Mengikuti arahan, aku digiring pengawal bersama dengan orang penting lainnya yang tidak kukenali untuk masuk ke balairungmengisi tempat di sebelah kiri sekaligus bagian paling dekat dengan panggung peresmian. Aku tidak mengerti kenapa upacaranya tidak dilakukan di luar, tapi berdasarkan cerita dari Delilah, penobatanlah yang biasanya dilakukan di luar ruangan agar orang lain bisa ikut menyaksikan.
Dari sini, bisa kulihat Raja, Ratu, juga Jordanius. Aku tidak tahu apa ini hanya perasaanku saja atau semua orang bisa melihat bagaimana rikuhnya sang pangeran saat ini. Bukan karena dia kelihatan malu atau tidak siap—oh, dia bahkan kelihatan lebih serius ketimbang biasanya— hanya saja ada jarak tak terelakkan yang begitu kentara di antara dia dan Ratu.
Selagi acara berjalan, tak sekalipun kulihat mereka berinteraksi, sementara Raja terus menoleh dan tertawa, seolah-olah acara ini tak lebih dari sekadar jamuan makan besar. Kurasa para pemimpin kerajaan punya kecenderungan begitu; tidak bisa dimengerti oleh rakyatnya. Itu alasan yang cukup masuk akal mengingat aku pun bukan ‘orang’-nya.
Seorang pria berzirah perak mengilat kemudian berjalan naik ke panggung, menggunakan pengeras suara dan membuka sebuah perkamen. Mungkin dia pembawa protokolnya. Ketika hadirin dipersilakan berdiri, aku ikut, meski perhatianku teralih ke arah lain. Di seberang tempatku duduk, bisa kulihat Victor dengan jubah oranye semi merah mencoloknya, pedang keemasan tersarung seakan siap dia gunakan kapan saja.
Aku tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan kalau pedang itu bisa saja terlibat dalam keributan kali ini, tapi buru-buru kutepis. Tidak sebaiknya aku memasang prasangka kurang mengenakkan begini.
Sembari menghela napas dan mengepalkan tangan, kembali kuingat-ingat semua yang Ayah katakan.
“Tidak boleh membunuh siapa pun. Itu cara terbaik untuk menunjukkan damai. Kita hanya perlu membekukan mereka dari pergerakan.”
Sejujurnya aku tidak begitu memahami banyak hal, tetapi salah satu hal yang kutangkap sebagai rencana Ayah adalah membuka akses Sungai Gerhana sebagai awal perjanjian damai. Dengan begitu, para penduduk Kerajaan Bulan yang lain bisa pulang.
Terdengar sederhana dan mudah? Sekilas, ya. Namun ada hal ganjil yang kudapati dari Ayah. Meski sudah meyakinkanku untuk tetap tenang, dia tetap memberikan senjata, sebuah pisau tangan.
“Kau harus menjaga dirimu sendiri,” katanya sebelum aku dan Victor kembali ke kerajaan. Bahkan, dia bilang untuk menyembunyikan ini dari jenderal Kerajaan Matahari itu. Rasanya agak aneh, mengingat sebelumnya Ayah tampaknya begitu percaya pada Victor dan tidak menyembunyikan apa pun.
Apakah kegelisahanku saat ini wajar?
Pembacaan protokol terus berlanjut sampai nama Raja dipanggil. Dengan jubah yang tampak begitu berlapis dan berat dan tongkat emas di tangan, pria itu berdiri, dan sesaat kulihat similaritas di antara ayah dan anak. Ada sorot ambisi sekaligus ketenangan yang terpancar, sekalipun mata Raja lebih menggambarkan lembah sejuk daripada air laut seperti Jordanius.
“Rakyatku sekalian!” Suara itu begitu lantang, seakan-akan angin yang ada di sekitar ikut meneruskan teriakan itu. “Telah tiba saatnya bagi kita untuk menyiapkan diri. Dalam beberapa waktu ini, banyak serangan yang kita dapat dari Kerajaan Bulan. Mereka telah melanggar aturan yang dibuat para luhur.”
Eh?
Kerajaan Bulan yang menyerang? Tunggu dulu. Kenapa jadi begini?
“Berbagai ancaman ditujukan langsung kepada Keluarga Kerajaan dan juga pihak keamanan. Bahkan, jenderal kebanggaan kita pun ikut diserang.”
Kontan pandanganku beralih ke arah Victor. Dia masih berdiri tegap di tempat. Serangan mana yang dimaksud Raja? Waktu dia jatuh dari perpustakaan? Namun, dia tidak pernah membahas itu. Dan tuduhan itu terkesan sama sekali tidak berdasar sementara Victor saja mengakrabkan diri dengan Kerajaan Bulan—dengan Ayah dan kumpulannya. Denganku juga.
“Karena itu,” Raja kembali bersuara, “sebagai tindakan berjaga-jaga, keputusan ini kuambil. Kerajaan memang tidak bisa memiliki dua kepala, tetapi ketika satu kepala gugur, maka Kerajaan akan aman karena kelangsungan kalian akan terus dijamin. Oleh karena itu, kepada anakku terkasih, Jordanis Levant …,” begitu namanya disebut, Jordanius langsung berdiri dari tempat duduknya, “… tanggung jawab ini kuturunkan padamu, dan akan kaupikul ketika waktunya tiba.”
Sorak-sorai lantas terdengar ketika Jordanius melangkah mendekat sementara Raja mengangkat tongkat emas di tangannya. Berlutut di samping sang Ayah, laki-laki itu kemudian menunduk, dan aku hanya bisa menelan ludah, merasakan adrenalin luar biasa bercampur dengan dilema yang sejak beberapa hari ini bersemayam di dalam diri.
Kuhela napas dalam-dalam tanpa mengalihkan perhatian. Sebentar lagi. Di saat tongkat itu berhasil menyentuh kedua pundak Jordanius sebagai simbol pemberian kuasa, Ayah dan kumpulannya akan masuk.
Sebentar lagi.
Sebentar lagi.
Sebentar ….
Brak!
Aku nyaris terlonjak dari tempatku begitu mendengar suara bantingan keras. Pintu-pintu masuk ke balairung terbuka lebar, membuat perhatian orang-orang yang berada dalam ruangan ini teralih.
“Ada penyusup!” teriak salah satu prajurit.
Napasku memburu ketika melihat para prajurit sudah bersiap dengan senjata masing-masing, mengeluarkan pedang dari sarung, tombak sudah siap, dan mereka mulai mengeluarkan kekuatan. Keramik-keramik balairung terangkat dan tambah menggumpal menjadi bola-bola besar—pasti ulah pengendali tanah—dan barang-barang lain mulai melayang.
Menyergap terang-terangan begini memang tidak mudah, tapi seingatku, dari arahan Victor, banyak prajurit berjaga yang hanya akan memakai senjata.
Ini jelas di luar rencana… bukan begitu?
“Apa-apaan ini?” Raja berteriak, jelas sekali kelihatan marah. Jordanius juga ikut berdiri, mengeluarkan pedang di sampingnya selagi berdiri di dekat sang ayah. Anehnya, Ratu justru mundur perlahan. Dari dekat tangga, kulihat dia memanggil seseorang, dan tak lama Victor berlari mendekat. Hanya saja, alih-alih berhenti dan melindungi Ratu, dia justru berjalan naik ke panggung. Mungkin dia memang ditugaskan mengawalkan Raja dan Jordanius lebih dulu.
Atau awalnya, begitulah dugaanku.
Namun, aku tidak yakin itu tujuannya. Aku memang tidak tahu banyak mengenai pertempuran, tapi aku tidak butuh berpikir dua kali untuk menyadari yang Victor lakukan sama sekali tidak melindungi siapa pun.
Karena dia justru menusuk Raja.
Semua yang ditangkap mataku seakan mengkhianatiku. Tak peduli seberapa besarnya keterkejutanku, sekelilingku seperti berteriak kuat-kuat bahwa ini nyata. Orang-orang disekitarku langsung berhambur keluar, erangan takut dan panik memekakkan telinga. Seorang prajurit tampak mendekat ke arahku, tapi sebelum dia mendekat, kukepalkan tanganku kuat-kuat, mengerahkan kekuatanku untuk mengempaskannya menjauh. Kusadari pandangan Victor teralih padaku, tapi aku tidak mengenalinya. Tidak dengan tatapan tajam mengancam itu.
Benarkah itu Victor—laki-laki yang sebelumnya menenangkanku? Atau apa ini semacam ilusi?
Melihat tangan Victor mengepal dan mengeluarkan api yang kelihatan tajam, aku berusaha mendorongnya, membayangkan anginku menjadi cambuk dan berhasil membuatnya menjauh. Buru-buru aku berteriak pada Jordanius yang masih menunduk memegang Raja. “Jordanius! Menjauh dari sana!”
“Kau bisa memperbaiki semuanya selama kau menjauh, Risha!” teriak Victor.
“Apa maksudmu? Apa maksud ini semua, Victor?” Dadaku mendadak sesak. Kupaksakan untuk mengabaikan perasaan menusuk itu lebih dulu dan berlari mendekat Jordanius. Aku tidak tahu bagamana persisnya Victor menusuk, tapi itu jelas memberi luka fatal bagi lawannya. Jubah megah tercemar darah dan pria itu terbatuk, lagi-lagi mengeluarkan cairan merah pekat.
“Ayah!” Jordanius terus mencoba memanggil, sayangnya tidak ada jawaban kecuali batuk-batuk yang semakin parah. Balairung semakin berisik, dan begitu melempar pandang, aku justru sama sekali tidak menemukan ayahku. Aku bisa melihat Jungwoo dan penduduk lain, tetapi sosok yang kucari menghilang. Malah, yang kutemukan justru sosok lain, seorang pria paruh baya yang lebih mirip Ibu.
“Kau masih bisa menjaga nyawamu sendiri kalau kau mundur sekarang,” ujar Victor. Tubuhnya sudah dikelilingi api, yang ajaibnya sama sekali tidak membakar jubahnya.
“Tolong, Victor, jelaskan ini! Kau sendiri yang bilang—”
“Tidak kukira kau sebodoh itu sampai berharap pada kedamaian.” Suaranya dingin dan menusuk. Mata biru yang kukagumi mendadak berubah, terlihat lebih gelap dan geram.
Di antara semua ketegangan, tawa ganjil mengetuk pendengaranku. Dari belakang Victor, Ratu melangkah mendekat.
“Kau terlalu banyak bermain-main, Anakku.” Aku betul-betul melongo dibuatnya.
Anak, katanya?
Kupandangi Victor dan Ratu bergantian, dan dalam sekejap, kepingan-kepingan puzzle berantakan seakan tersusun sendiri. Ucapan-ucapan Delilah kembli bergema dalam kepalaku.
Mahkota untuk anaknya sendiri.
Maksudnya itu Victor?
Api-api kecil terlempar ke arahku dan Jordanius, dan buru-buru kutepis dengan cambuk angin di tanganku. Sekali lagi aku mencoba memandangi Victor, berharap ada penjelasan masuk akal dari semua ini; dari kebersamaan kami, ciuman yang kami bagi, dan juga semua ketenangan yang dia coba berikan padaku.
“Victor, kumohon. Kenapa begini ….?”
Namun, aku salah sudah mengharapkan jawaban.
Dan dari semua kejutan yang ada, ujung pedang Victor mengarah padaku bukanlah apa yang kuharapkan. []