Kegugupanku ini kian lama kian menyusahkan.
Aku mencoba untuk memikirkan sisi positifnya, tapi sulit sekali untuk mengalihkan pikiran pada hal lain ketika satu-satunya yang ada dalam kepala hanyalah keinginan untuk bertahan hidup.
Hidup di Kerajaan Matahari membuatku terbiasa untuk tetap waspada dan terus mengingat hal itu. Namun kali ini, keresahanku seperti beranak cucu setiap detik. Ini jelas bukan sekadar menyembunyikan identitas. Dalam beberapa jam lagi, semua orang akan tahu bahwa aku penduduk Kerajaan Bulan, anak dari seorang perwira Kerajaan Matahari yang lama telah hilang, dan akan ada sebuah pembicaraan serius mengenai daerah dan politik yang harus kuakui, sama sekali tidak kumengerti.
Kalau boleh jujur, aku sebenarnya tidak begitu mengerti apa persisnya yang harus kulakukan. Aku tidak bisa bertarung—satu-satunya referensi yang kumiliki hanyanya latihanku bersama Victor—pun kekuatan ini belum bisa kuandalkan.
“Nah, sudah siap. Menurutmu bagaimana?”
Suara Delilah menyadarkanku, membawaku kembali pada kenyataan dengan pantulan diriku ada di depan, mengenakan gaun merah yang terjatuh panjang dan agak mengembang. Syukurnya Delilah mengabulkan permintaanku untuk membuat gaunnya tidak terlalu tebal dengan penyangga kawat tipis. Efeknya membuat pakaianku tidak begitu mengembang seperti pakaian wanita pada umumnya, tetapi lebih memberiku ruang untuk bergerak bebas tanpa harus membawa beban tambahan begitu banyak selain tubuhku.
“Terima kasih.” Aku menoleh ke belakang dan tersenyum padanya. Hanya dalam dua hari mengenal wanita ini, aku merasa sudah terbiasa dengan caranya mengulas senyum, bahkan menyukainya. “Apa kau akan ikut nanti?”
“Aku tidak dapat undangan, sayangnya,” jawabnya, tapi tak ada kekecewaan dalam ekspresinya. Justru yang terlihat malah raut yang menunjukkan kelegaan. “Aku hanya bisa mendengar suara upacaranya dari luar.”
“Kukira aku akan punya teman mengobrol.”
Delilah masih mengulas senyum, mengelus-elus punggungku. Tidak biasanya aku menyukai sentuhan orang asing, hanya saja aku sama sekali tak risi. “Kalau boleh menyarankan, akan lebih baik kau selalu menaruh perhatianmu pada Pangeran ketimbang mengobrol, Nona Oriane. Pastikan dia baik—”
Tok. Tok.
Suara pintu menghentikan suaranya dan juga mencuri perhatian kami. Begitu kupersilakan, pintu terbuka dan seseorang muncul dari sana. Dugaan awalku, mungkin penjaga yang masuk. Sayangnya dugaanku benar-benar meleset. Aku diam terpaku sementara Delilah membungkuk hormat selagi pintu semakin terbuka lebar, menunjukkan Jordanius berdiri tegap di depan. Rambutnya sudah ditata sedemikian rupa tak ada sehelai pun menutupi keningnya. Celananya berwarna keemasan, boots hitamnya mengilap seakan-akan kaca menjadi lapisan luarnya. Hanya saja, pakaian atasnya terbilang polos, hanya kemeja putih lengan panjang dengan berbagai kerutan yang mungkin bertujuan sebagai hiasan atau semacamnya.
“Kau sudah selesai?” tanya Jordanius. Dia kemudian menoleh pada Delilah. “Dan, tolong, jangan membungkuk. Aku ke sini bukan untuk mendapat penghormatan semacam itu.”
Delilah menurut, meluruskan punggung tapi mengambil langkah mundur. Aku sempat meliriknya hanya untuk mendapati dia membalas lirikanku, seperti memberi isyarat agar aku menghampiri Jordanius. Jadi, aku mendekat.
“Kok kau bisa ke sini?” tanyaku. Ternyata di balik pintu tidak ada siapa-siapa. Dan itu aneh. Ini hari istimewa baginya, bukan? Bukankah akan jauh lebih wajar jika dia diikuti pria-pria besar dengan zirah dan berbagai alat tempur sebagai perlindungan?
“Aku kabur.”
Aku harusnya kaget. Well, sebenarnya agak. Namun mengenalnya membuatku tahu itu bukan hal baru lagi. Rasanya sedikit nostalgik mengingat pertama kali kami bertemu pun di saat dia sedang kabur dan menyeretku begitu saja.
Setelah penobatan nanti, aku rasa dia harus mengurangi kebiasaan itu.
“Kau sebaiknya kembali kalau begitu,” ujarku. Sejujurnya aku terkesan karena bisa mengucapkan itu santai. “Kau pasti dicari.”
“Entah kenapa aku ingin kabur,” kata Jordanius. Entah mataku yang salah lihat atau apa, tapi matanya menyiratkan sorot getir. Dia menggaruk tengkuk dan menunduk.
Ini betulan? Apa dia benar-benar Jordanius yang kukenal?
“Kau akan datang, kan?” tanya Jordanius ketika dia menengadah hingga pandangan kami bertemu. Aku sudah pernah melihat mata biru itu sebelumnya, tetapi kali ini pancarannya terasa berbeda. Sesaat, aku merasa seperti melihat cerminan diri sendiri. Seakan-akan kecemasan dan kegetiranku tergambar pada sepasang manik laki-laki ini.
“Terima kasih untuk Ratu, kelihatannya aku tidak akan begitu jauh darimu.”
“Bagus kalau begitu.”
Hah?
Aku mengernyit, tapi sebelum sempat mengomentari apa pun, Jordanius sudah menambahkan, “Aku lega setidaknya ada orang yang kukenal hadir. Aku merasa tidak sendirian.”
Suara terdengar lirih, nyaris berbisik. Secara logis, sudah pasti ucapan itu salah. Tentu saja dia tidak akan sendirian. Aku cukup yakin istana akan benar-benar penuh hari ini. Namun, di sisi lain, aku merasa memahaminya. Belakangan ini dia sering memintaku menemaninya meski hanya untuk diam di perpustakaan.
Tak sulit mengetahui bagaimana orang merasa kesepian ketika perasaan itu satu-satunya yang kau rasakan selama beberapa bulan belakangan.
Entah kenapa, aku ingin memeluknya. Dorongan itu konyol, aku tahu, tetapi paling tidak hanya itu yang bisa kuberikan. Kuberanikan diri untuk berjalan lebih dekat dan mendekapnya singkat. Posisi ini agak canggung, dan aku nyaris dibuat lupa kalau Delilah sejak tadi berada bersama kami. Meski begitu, dia tetap diam, dan tak kusangka Jordanius balik memelukku.
“Aku… hanya mau bilang itu. Aku sedikit butuh teman bicara,” katanya lagi sambil mengurai pelukan. Aku ikut mengambil langkah mundur. “Aku akan kembali sekarang.”
“O-oke. Jangan buat para pengawal panik.”
Dia mengangguk singkat. “Sampai ketemu nanti, Risha.”
“U-um. Sampai jumpa, Jordanius.”
Kepalanya beralih, memandangi Delilah dan pamit dengan kepala menunduk singkat. Sementara dia beranjak pergi, aku hanya bisa merapatkan bibir selagi mengucapkan maaf tanpa suara.
Wajar saja Jordanius cemas. Ini hari besar untuknya. Dan aku kemungkinan besar akan menghancurkan itu.
“Kalian benar-benar dekat, ya.” Kudengar Delilah berkomentar di belakangku. “Aku ikut senang dia mendapat teman yang baik sepertimu, Nona Oriane.”
Andai saja dia tahu ….
Andai saja ….
Aku benar-benar berharap semua yang terjadi hari ini tidak akan menyakiti siapa pun.
*
“Kau kelihatan tegang sekali, Risha Oriane.”
Aku baru saja mau keluar dari kamar mandi setelah selesai mengatur baju ini—aku harus memberi ucapan terima kasih pada Delilah untuk bajunya—ketika ada suara yang menghentikan langkahku. Hanya dalam sekali lihat, kesan gagah menguar dari sekitarnya, dan senyum bangga terukir di wajahnya. Tubuhnya mengenakan setelan jubah lengkap berwarna oranye, warna yang melambang Klan Elodoro, dengan berbagai lencana melekat di sana.
“Victor?”
Si pemilik nama lantas tersenyum, menyodorkan tangannya sembari menunduk. Sebuah gestur yang tidak kusangka akan dia lakukan padaku.
Awalnya aku ragu, tapi di saat yang sapa kehangatan merambat ke pipiku, mendorongku untuk menerima uluran tangan itu dan membiarkannya menggenggam tanganku, membubuhi kecupan ringan di punggung tangan. “Kau cantik, Risha. Harus kuakui merah cocok denganmu.”
“Menurutmu begitu?” tanyaku malu, dan Victor mengangguk.
“Biasanya yang cocok dengan warna merah akan cocok juga dengan oranye,” imbuhnya sembari mengerling iseng, yang sialnya membuatku makin bersemu. Mungkin matanya itu punya kekuatan api tak kasat mata—atau sesuatu serupa.
“Memangnya kau bebas berkeliaran begini?” Sekali lagi aku bertanya, mengedarkan pandangan ke sekitar. Ternyata area sekitar sini sepi. Bahkan, hanya ada kami berdua di sini. “Acaranya belum mulai, kan?”
“Yap.” Victor mengangguk, menuntunku untuk berjalan menyusuri koridor tanpa melepas genggaman tangan kami. Aku hanya mengikuti. “Acaranya baru dimulai 20 menit lagi. Tapi kita punya hal lain yang harus disiapkan, bukan?”
Giliranku yang mengangguk lemah sekarang. Tak peduli senyaman apa pun Victor memperlakukanku, fakta itu sama sekali tak bisa dikaburkan. Belum lagi, kunjungan Jordanius hari ini membuat perutku teraduk dilema dan rasa bersalah.
Aku menggigit bibir, berusaha meredam semua gejolak dalam diri juga dorongan untuk mengeluarkan isi perut. Ketika kami sampai area belakang, Victor berhenti, melepas tanganku dan berbalik, membuat kami saling berhadapan. Sepasang manik biru itu menatapku lurus-lurus, dan sejurus kemudian wajahnya hanya berjarak beberapa inci dariku.
“Kau harus santai sedikit, Risha. Sungguh,” katanya. “Semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Oke?”
Aku menelan ludah. “Menurutmu begitu? Semua akan baik-baik saja? Apa Jordanius… tidak akan kena masalah?”
“Kau mengkhawatirkannya?” Victor mengangkat alis.
“Aku mengkhawatirkan kita semua, kalau boleh jujur.”
Aku tahu hal seperti ini seharusnya tidak kukatakan begitu gamblang. Aku tidak perlu merasa begini. Keraguanku bisa jadi menular pada yang lain, dan itu hal yang sama sekali tidak diinginkan siapa pun. rencananya sudah diatur. Bahkan, sudah mulai berjalan. Hanya saja, menyimpan perasaan ini semua sendirian tidak membuatku merasa lebih baik. Dan satu-satunya orang yang bisa diajak berbagi tak lain dan tak bukan adalah pria ini. Hanya Victor.
“Sini, sini,” kata Victor akhirnya, kembali meraih tanganku dan menarikku ke dalam dekapannya. Berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan, jantungnya justru tampak tenang sekali, berdentum seakan tak ada apa pun yang terjadi. Apa mungkin statusnya sebagai jenderal membuat hal seperti itu bukan sesuatu yang membuatnya resah?
Victor mengelus punggungku, dan sesaat, kupejamkan mataku, menikmati sentuhan menenangkannya dan mencoba mengolah sensasi yang kurasakan agar benar-benar bisa membuatku tenang.
“Terima kasih, Victor,” gumamku. “Sungguh, terima kasih.”
Aku mundur sedikit dan mendongak, dan di detik berikutnya, bibirnya menyapa bibirku. Aku sama sekali tak menolak. Ini yang kubutuhkan. Ini yang kuinginkan. Meski begitu, sesuatu dari bibirnya seperti mendesak. Aku menghargai tindakannya, tapi rasanya… apa ini salah satu caranya menyampaikan kalau bukan hanya aku yang gundah di sini? Kuharap begitu. Paling tidak kami berbagi perasaan yang sama perihal hari ini.
“Sebaiknya kita ke tempat Ayah sekarang,” ujarku selagi menjauhkan bibir, menciptakan jarak. Refleks, kuedarkan pandangan sekali lagi untuk memastikan tidak ada siapa pun yang melihat kami saat ini. Syukurnya, keadaan masih sama seperti sebelumnya.
Anggukan Victor menjadi jawaban. Dia memimpin jalan tanpa menggandengku. Yang tadi sudah cukup. Sekarang bukan waktunya untuk menghibur satu sama lain. Kami juga tidak bisa menunjukkan semua itu terang-terangan pada kelompok Ayah.
Sepinya keadaan sekitar membuat semuanya jadi lebih mudah. Hanya dalam beberapa menit, kami berhasil menyusuri hutan tanpa susah payah bersembunyi hingga akhirnya sampai keluar istana menggunakan jalan kecil tersembunyi. Ini pertama kalinya aku melewatinya. Sebelumnya, aku hanya tahu lewat penjelasan Victor.
Tak jauh dari jalan kecil itu, terlihat sekelompok orang berkumpul dan benar-benar ditutupi jubah tudung berwarna cokelat gelap, nyaris hitam—warna yang biasa digunakan para tentara Kerajaan Bulan. Salah satu darinya berdiri, menyibak tudung kepala hingga aku bisa melihat wajahnya. Ayah.
Segera aku berlari tanpa memedulikan ujung-ujung gaunku yang terseret, melemparkan diri ke dalam pelukannya. Ayah menyambutku dan balas memeluk.
“Jadi,” Ayah memandangi kami semua sebelum tatapannya berhenti padaku, “Sudah siap?” []