Mendekati pelangsungan upacara penobatan, kerajaan jadi lebih padat dan sibuk dibanding biasanya. Tinggal satu hari lagi.
Penjagaan bagi Jordanius diperketat, dan latihanku tertunda, berhubung Victor punya urusan sendiri soal keamanan kerajaan dan entah apa itu. Yang aku pahami, dia sibuk. Meski begitu kami masih meluangkan tiap malam untuk bertemu dan berkirim surat dengan salah satu utusan Ayah yang mendatangi taman belakang kediaman Oriane, meski kami tak bisa berinteraksi lama-lama untuk menghindari kecurigaan orang-orang sekitar, terlebih Ratu.
Biar kuakui sesuatu. Meski hubunganku dan Victor sudah jelas, aku masih sedikit resah memikirkan Ratu. Kurasa iri bukan cara tepat untuk mendeskripsikannya, hanya saja aku masih merasa ada keganjilan. Bukankah agak aneh kalau—
“Stt, Risha.”
Desisan itu membuatku menoleh ke belakang. Sejak pagi, aku menemani Jordanius di perpustakaan khusus untuknya sebelum dia dipanggil dan sampai sekarang belum kembali. Seharusnya tidak ada siapa pun di sini selain aku. Namun dari balik salah satu rak buku, muncul seseorang. Untungnya itu hanya Victor. Dia justru memamerkan senyuman tanpa dosa.
Aku mendengkus dan kembali membenarkan posisi duduk. “Kau tidak perlu sok bisik-bisik begitu, tahu.”
“Jaga-jaga saja, siapa tahu kau terlalu asyik dengan bacaanmu.” Victor kemudian duduk di sampingku, helaan napasnya terdengar kasar. “Kau di sini sendiri?”
“Tadi ada Pangeran. Pengawal bilang dia dipanggil Raja sendiri, jadi aku disuruh menunggu.”
“Penurut sekali.”
Aku mengendikkan bahu. “Tak ada gunanya juga berkeliaran. Keadaan kerajaan seperti menyaingi pasar.”
Victor tertawa. Bahkan, ikut tertawa sambil memanggut. Berarti bukan hanya aku yang berpikir begitu. Kerajaan berubah begitu padat, ramai, berbagai barang di mana-mana. Yah, sekalipun aku yakin di pasar tidak ada lampu super besar berlapis emas dan ornamen-ornamen antik. Tidak perlu ratusan penjaga juga untuk berpatroli mengelilingi pasar.
Sekali lagi aku menoleh, kali ini merapatkan bibir sesaat sebelum memberanikan diri bertanya, “Menurutmu… besok akan bagaimana?”
Tentu, aku bukan bertanya soal peresmian besok. Meski penting, ada hal lain yang kupikirkan. Ada yang lebih mengancam dan lebih ingin kujaga ketimbang Jordanius.
“Semua akan baik-baik saja, Risha. Percayalah.” Tanganku digenggam, dan ibu jarinya memberikan elusan di punggung tangan, sayangnya justru membuatku berdebar. Mendapati Victor berada di pihak Ayah merupakan sebuah keuntungan tak bernilai, tapi tak cukup untuk menjadi jaminan sukses. Terlepas dari semua status dan kehebatannya, Victor bukan pengendali takdir. Berencana berarti menyiapkan diri atas dua kemungkinan. Namun gagal punya risiko menghilangkan nyawa dalam kasus ini.
Kau tahu, berbahaya.
“Risha.” Begitu suaranya memanggilku, aku sedikit menegang, apalagi tangannya kini terjulur meraih pipiku, memberikan elusan lembut di sana dan senyum menenangkan. Belakangan ini yang sering dia lakukan. Dan jujur, aku menyukainya. Merasa dekat dengannya mengingatkanku kalau aku tak menjalani ini sendirian.
Menelan ludah, aku mengangguk pelan, balik menggenggam tangannya di pipiku. Hening menyelimuti kami, dan ketika menyadari Victor mencondongkan tubuh, refleks aku memejamkan mata, meredam dentuman dalam d**a, membiarkan bibirnya menempel di bibirku. Aku membutuhkan ini. Aku membutuhkannya. Dan jika memungkinkan, aku butuh keadaan ini menetap.
Tak lama Victor mundur, menjauhkan tangannya usai meninggalkan usapan lembut di puncak kepalaku.
“Nanti sore mampir ke toko kue dulu, bagaimana?” tawarnya. “Rasanya kencan kita belakangan terlalu serius.”
Meski masih cemas, aku tak tahan untuk tidak tersenyum, tanpa berpikir lebih lama segera mengangguk. “Es krim dan kue.”
“Es krim dan kue,” ulang Victor. “Kurasa aku harus kembali. Kelihatannya ada yang akan datang juga ke sini.”
Aku mengernyit, tapi tak lama, terdengar derit pintu terbuka dan hentakan-hentakan pelan dari alas kaki berat. Aku baru sadar sewaktu Victor masuk, keadaan senyap sekali. Apa itu semacam kemampuan menyusup?
Setelah mengangkat tangan sebagai isyarat pamit, Victor kembali menyelinap ke balik rak, dan menghilang begitu cepat. Tampaknya para prajurit yang datang sama sekali tak menyadari kehadiran Victor. “Nona Oriane.”
“Ya?”
“Anda diminta Raja pergi ke ruang persiapan.”
Aku mengerjap heran. “Aku? Untuk apa?”
Seorang wanita paruh baya berambut oranye kemudian muncul dari tengah-tengah para prajurit, satu-satunya orang yang tersenyum ke arahku. “Kalau tidak keberatan, Nona, aku membutuhkanmu unntuk mencocokkan pakaian yang pas bagimu besok.”
Pakaian? Memangnya aku harus bersolek untuk apa?
Namun sebelum sempat bertanya, wanita itu sudah berjalan mendekat, meraih tanganku tanpa paksaan sebelum melirik ke arah para prajurit. “Nah, sekarang sebaiknya kalian pergi dan mengerjakan tugas lain. Aku yakin kalian tidak perlu melihat seorang gadis bertelanjang.”
*
Ini benar-benar di luar perkiraanku.
Aku pikir besok aku sama sekali tidak akan terlibat dengan Jordanius, berhubung dia tidak mungkin seorang gadis biasa—atau sial, mungkin—mengekorinya selama upacara. Aku lupa kalau ada hal lain yang bisa terjadi. Aku tidak perlu mengekori, tapi harus hadir dan berada di barisan khusus dekat sang pangeran.
Dan untuk itu, aku tidak bisa memakai pakaian biasaku.
Semua informasi itu baru kuketahui hari ini, itu juga karena Delilah, wanita paruh baya yang menjemput dan berhasil membuatku merasa sedikit lebih longgar karena pengawal membiarkan kami berdua. Dia diminta Raja untuk mengurusku secara pribadi. Apakah aku harus merasa tersanjung karena itu?
“Aku tidak menyangka Keluarga Oriane sampai masuk jadi penjaga Pangeran,” kata Delilah. Sejak awal bertemu, dia sering sekali tertawa, membuatku teringat akan Ibu—yah, Delilah sebenarnya lebih ramah. Dalam waktu singkat saja aku berhasil dibuat nyaman sekalipun secara teknis kami terbilang orang asing. “Dulu, Keluarga Elodoro yang mengisi. Belakangan ini mereka jadi, hm, tidak aktif.”
Elodoro? Maksudnya Victor?
“Aku kira sebelumnya Jor—ah, maksudku Pangeran, tidak punya pengawal khusus.”
“Kau dan Pangeran dekat, ya?” Senyum Delilah semakin lebar sementara dia mendekatkan gaun besar berwarna merah marun, kemudian memanggut. Sepertinya aku akan mencobanya lagi. “Santai saja. Kau bisa memanggilnya begitu kalau sudah terbiasa. Lagi pula kalian seumuran. Bukan begitu?”
Aku mengangguk kikuk selagi dia berjalan ke belakangku, membantuku menanggalkan gaun krem yang kukenakan. Sudah 3 gaun yang kucoba dan semuanya, well, merepotkan. Seberapa sering aku memakai pakaian ala Kerajaan Matahari, kesan itu tak bisa kuhilangkan.
“Bisakah aku meminta gaun yang tidak terlalu berat?”
Kukira dia akan terkejut, tapi yang kuterima justru anggukan ringan. “Serahkan itu padaku. Yang penting modelnya dulu. Nanti akan kucoba mengurangi lapisan dalamnya supaya tidak terlalu berat.”
Agak mengejutkan sih, hanya saja aku tentu tidak menolak. Aku butuh bantuan semacam itu. Kuterima gaun merah marun itu sementara Delilah membantuku mengenakannya, mengikat tali pinggang, beberapa kali menepuk kain yang menutupi paha hingga kaki. Kali ini gaunnya tidak begitu lebar, dan lebih ringan ketimbang gaun-gaun sebelumnya. Sesaat aku mematut diri di cermin.
“Yang ini lebih baik.”
“Menurutmu begitu?”
Aku mengangguk. “Ini saja.”
Delilah ikut memandangi pantulan diriku di cermin. “Kau kelihatan cantik dalam balutan warna merah, Nona.”
Aku hanya berharap pujian itu tidak membuat pipiku mengikuti warna gaunnya. Agak aneh rasanya mendapa pujian dari orang lain selain Ayah dan Ibu.
“Omong-omong, aku belum pernah melihatmu sebelumnya,” akuku. “Apa kau tidak bekerja di sini?”
Tanpa kelihatan tersinggung, Delilah mengiakan. “Secara teknis, tidak. Aku biasanya bekerja langsung di bawah Ratu kalau dia membutuhkanku. Anggap saja semacam asisten busana pribadinya.”
Ratu. Bekerja langsung. Aku mungkin tak sebaiknya terlalu akrab.
“Tapi tenang saja,” lanjut Delilah lagi, seakan-akan tahu isi kepalaku. “Kalau kau punya hal yang mau dibicarakan mengenai dia, telingaku selalu siap.”
“Eh?”
Delilah tersenyum, meski sopan, rasanya aku merasa baru saja ditertawakan karena baru saja mengucapkan hal bodoh. “Hanya karena aku bekerja langsung untuknya, bukan berarti aku akan memujanya. Yang ada malah kebalikannya. Dia itu… aduh, aku saja bingung mau mulai mengomentari dari mana.”
Tunggu. Tunggu. Tunggu. Situasi seperti ini terasa salah. Yang jadi pembicaraan kami ini Ratu, kan? Maksudku, kami membahas orang yang sama di sini, kan?
“Ratu memangnya sering …,” suaraku agak menggantung, tak yakin jika aku bisa bilang ‘bahan gosip’ sebagai lanjutan kalimatku. Namun, lagi-lagi Delilah mengangguk santai.
“Ditambah perayaan ini? Oh, jangan bercanda.” Tangannya bergerak menepis angin di depan wajah. “Semua pelayan bahkan membicarakannya. Lebih banyak yang membicarakannya ketimbang Pangeran.”
Itu agak aneh, harus kuakui.
“Memangnya kenapa?” Aku tak bisa membendung rasa penasaranku, dan sebelum sempat menahan diri, pertanyaan itu sudah meluncur dari mulutku.
“Tentu saja karena penobatan. Kau tahu, kan, sekalipun belum langsung dilantik, upacara besok menjadi peresmian kalau Pangeran Jordanius akan menggantikan Raja. Jika setelahnya Raja kehilangan nyawa, tahta tidak akan kosong.”
Aku sempat mendengar penjelasan singkatnya dari Victor. Memang sedikit berbeda dari cara Kerajaan Bulan yang hanya akan membuat penobatan satu kali, tepat ketika pemimpin kerajaan benar-benar turun. Bisa dibilang akan ada kemungkinan perebutan tahta. Mungkin Kerajaan Matahari menghindari itu.
“Aku takjub karena Ratu tidak menuntut apa pun pada acara penobatan,” ujar Delilah lagi.
“Kenapa Ratu mau menuntut?”
“Karena aku yakin dia lebih menyukai gelar itu disematkan untuk anaknya.”
Anak? Aku mengerjap beberapa saat, sementara teriakan seorang pengawal terdengar usai ketukan pintu yang agak rusuh. “Ada masalah dengan baju Ratu. Kalian sudah selesai?”
“Baiklah, aku akan ke sana segera,” teriaknya ke arah mereka sebelum kembali menoleh padaku. “Aku akan kembali lagi. Bajumu juga belum selesai.”
“Kalau soal itu, aku bisa—”
“Untuk jaga-jaga saja, lebih baik kau menjaga pangeran lebih serius, Nona Oriane.” Delilah malah menepuk pundakku, dan tanpa mengucapkan apa-apa lagi, mengundurkan diri agar kembali dikawal.
Transisi obrolan ini terlalu tiba-tiba. Dan lagi, aneh. Sangat aneh. Setahuku, dan dari yang Jordanius bilang, Ratu memang tidak punya anak dengan Raja, itu sebabnya dia dipertahankan di sini.
Jadi… siapa yang Delilah maksud? []