Langit sudah benar-benar gelap ketika aku dan Victor sampai ke markas Ayah. Kami harus melewatkan rencana kencan sore ini karena tugas jenderal yang tidak terduga. Yah, sebenarnya ‘tidak terduga’ itu sudah masuk pekerjaan Victor, jadi aku tidak bisa banyak protes.
Jika pergi sendirian membuat tidak begitu peduli padaku, bepergian dengan Victor jelas sekali berbeda. Supaya tak memancing perhatian, rute memutar menjadi pilihan terbaik. Dan untungnya kali ini aku tak perlu pusing memikirkan alasan karena Victor sudah membuatnya. Apa pun yang dia katakan pada Ratu dan Nenek—dia yang minta izin untuk membawaku keluar malam ini—aku pun diperbolehkan keluar lebih bebas, mengartikan tidak ada yang tahu alasan sebenarnya di balik rencana kami.
Begitu sampai, Jungwoo lah yang menunggu di depan pintu. Satu tangannya diperban, tetapi senyumnya masih sama seperti sebelumnya.
“Terima kasih sudah membantuku kemarin,” katanya. Aku baru saja mau bilang kalau dibanding aku yang panik saat itu, Victor lebih berperan penting, hanya saja Jungwoo sudah membungkuk ke arah si jenderal lebih dulu. Kurasa dia juga tahu. “Masuklah, Tuan Theodore menunggu kalian di bawah.”
Dia beringsut dari pintu sementara aku dan Victor mengikutinya masuk ke dalam, kembali lagi ke ruang bawah. Kali ini orang yang ada di bawah lebih banyak, memberi bukan hanya kesan sempit dan pengap, melainkan keseriusan. Sesaat aku hanya berdiri di depan pintu, mencoba mencermati hingga sesuatu terasa mengelus pundakku.
“Santai saja, oke? Semua akan baik-baik saja,” bisik Victor. Aku mendongak menatapnya, dan dia tersenyum kecil. “Kita akan baik-baik saja, Risha. Aku janji.”
Ingin sekali aku menggenggam tangannya seperti yang kulakukan selama perjalanan ke sini, tapi aku juga tahu ada hal yang lebih penting untuk dilakukan. Sekarang bukan waktunya bermesraan. Dan, demi dewa, memikirkan itu membuatku malu.
Aku hanya bisa mengangguk sekilas, memosisikan diri di sampingnya sembari berjalan ke dekat meja, tempat Ayah berdiri. Seulas senyum kecil kuterima darinya.
“Mungkin kalian sudah tahu, tapi izinkan aku memperkenalkan mereka lagi.” Suara Ayah berkumandang di seisi ruangan. Baru kali ini aku melihat Ayah berdiri tegak dan begitu serius. Aku perlu mengingatkan diri kalau Ayah bukan hanya seorang pria berkeluarga, tapi juga seorang panglima.
“Ini putriku, Alrisha Oriane,” katanya sambil berjalan ke belakangku dan Victor. Ketika pundakku ditepuk, rambut Ayah seketika berubah. Hitam pekatnya seketika berubah pirang nyaris putih, sama seperti yang kulihat di hari pertama tentara Bulan menyergap kediaman kami. Tatapannya kemudian beralih pada Victor. “Dan ini Victor Elodoro, jenderal Kerajaan Matahari.”
Tidak ada yang berkomentar, tapi beberapa orang jelas sekali terkejut. Ada yang menahan napas, membulatkan mata bahkan menganga. Entah apa saja yang Ayah sampaikan, yang jelas sekalipun tak ada yang protes, memercayai hal ini tentu saja tidak mudah. Seperti membawa singa ke kandang domba.
Ini bukan berarti aku meremehkan. Kemampuan berpikir dan manipulasi Penduduk Bulan bisa saja membuat Victor takluk. Namun melawannya sudah pasti tidak mudah, terlebih lagi statusnya. Sejujurnya sampai sekarang aku masih takjub dan heran tentang permintaan Victor untuk bergabung.
Mengkhianati negeri sendiri demi kedamaian. Mungkin segala sesuatu yang baik tak bisa selamanya diambil dengan cara yang baik juga.
“Ada informasi lain yang bisa kauberikan, Nak?”
Victor mengangguk singkat, mengangkat dagu dengan ketegasan kentara sekali. Berada di dekat dua orang seperti ini membuatku merasa salah tempat.
“Penobatan sudah mulai dipersiapkan. Penjagaan semakin diperketat karena belakangan kami diserang kelompok tak diketahui. Apa itu kalian?”
“Menyerang?” Ayah balik bertanya, kelihatan bingung sekaligus terkejut. “Sejauh ini kami hanya memantau. Sebelumnya tugas Jungwoo hanya itu.”
Di dekat pintu, Jungwoo mengangguk. “Itu sebabnya aku kabur sewaktu kalian mengejarku.”
“Jadi itu bukan kalian?” tanya Victor lagi, yang langsung Ayah balas dengan anggukan yakin. Victor tampak berpikir sesaat, sebelum kembali melanjutkan, “Kalau begitu, aku bisa memberi akses kecil untuk kalian ke kerajaan. Aku tidak bisa mengurangi keamanan karena kalau yang menyerang bukan kalian, berarti ada kemungkinan kelompok lain menyerang. Ada jalan kecil tersembunyi untuk langsung sampai ke balairung. Kalian bisa masuk lewat sana. Tidak banyak orang tahu, jadi membawa senjata pun tidak jadi masalah.”
Balairung? Kalau begitu apa Ayah dan orang-orangnya berniat untuk menyerbu?
“Kenapa di balairung?” tanyaku. “Sebenarnya apa yang akan—”
“Tenanglah, Alrisha.” Ayah menepuk pundakku, tersenyum. “Sejak awal rencana kami hanya untuk bicara dengan calon raja. Semacam bersepakat.”
“Tapi kalau masuk diam-diam, bukannya bahaya?”
“Datang dengan tangan kosong bukan opsi,” kali ini Victor yang menimpali sembari menoleh padaku, “paling tidak ayahmu dan yang lainnya harus membawa senjata. Kedamaian seringkali tidak bisa didapat hanya dengan sebuah ajakan.”
“Jordanius ….” Aku menggeleng, mengepalkan tangan. “Maksudku Pangeran Jordanius, dia bilang tidak ingin beradu senjata dengan Kerajaan Bulan.”
“Kau tahu dari mana?”
“Dia sendiri yang bilang padaku hari ini.” Tepatnya saat kami mengunjungi makan ibunya. Namun rasanya aku tak perlu mengatakan hal itu.
Alis Victor terangkat, sesaat kelihatan terkejut, tapi beberapa detik berikutnya justru terlihat lega. Entahlah, aku tidak begitu mengerti. Dia memanggut singkat sebelum berkata, “Aku tetap menyarankan kalian untuk membawa senjata. Paling tidak pedang atau pisau lipat. Tujuan utamanya hanya untuk bicara dengannya?”
Begitu meminta izin Ayah, Victor berjalan lebih dekat ke meja, membuka gulungan besar berisi peta, dan mulai mencoret-coret—atau mungkin membuat rute—dari arah hutan sampai ke kerajaan.
“Ini jalan tersembunyi yang biasa kugunakan. Di hari penobatan, aku akan membuat area barat laut kosong. Di sini memang ada sungai, tapi kalian tak perlu menyeberang. Gua di samping ini sebenarnya terowongan, tinggal masuk ke dalam dan kalian sudah menyeberangi sungai.”
Terdengar ajaib, tapi kalau dipikir-pikir, gua itu seperti jalan rahasia yang kulewati dari rumah, seperti berjalan di bawah Sungai Gerhana tanpa sama sekali menyentuh air.
“Kalau begitu, kita akan melewatinya dengan membagi regu,” usul Ayah. “Datang beramai-ramai punya kemungkinan memancing perhatian.”
“Aku setuju untuk yang satu itu, Panglima Oriane.” Victor mengangguk-angguk.
Sementara Ayah mulai mendekat dan membahas lebih lanjut regu dan rencananya, aku berusaha menggapai tangan Victor, menariknya pelan hingga dia menoleh ke arahku. Aku mundur, memberi isyarat agar dia ikut.
“Ada apa, Risha?”
“Aku… tidak mengerti, bisikku pelan. “Sebenarnya apa yang mau Ayah bicarakan dengan Jordanius?”
“Gencatan senjata,” Victor balik berbisik. “Ayahmu dan yang lainnya ingin pulang tanpa masalah. Itu prioritas utamanya.”
“Lalu ada rencana lain?”
“Damai.”
Aku mengerjap, menunggu Victor menjelaskan lebih lanjut, tetapi dia diam. Hanya itu jawaban. Hanya satu kata itu. Dia memang tidak perlu menjelaskan arti katanya, karena aku tidak sebodoh itu. Namun, satu kata itu terlalu abstrak untuk diterapkan. Sudah lama sekali Kerajaan Matahari dan Kerajaan Bulan tidak bersinggungan, setidaknya bukan secara terbuka. Aku tahu Jordanius sama sekali tak menginginkan perang, tetapi pernyataan untuk tak mau berurusan begitu jelas.
Jika dia bersikeras dan ‘bicara’ yang Ayah rencanakan gagal, lantas apa? Bagaimana? Dan apa yang harus kulakukan?
Victor pernah bilang kalau damai tak bisa didapatkan dengan mudah, dan dia ingin mendengar dua sisi dari pihak yang sudah lama berseberangan. Victor terlalu baik untuk ini, dan rencana Ayah tampaknya terlalu dangkal. Salahkah jika aku merasa ini semua terlalu mudah?
Perasaan ini konyol memang, dan kesannya aku seperti berharap hal-hal buruk. Hanya saja ketika melihat Victor dan Ayah, rasanya seperti ada sesuatu. Mungkin aku harus berhenti berprasangka. Justru bagus kalau semuanya berjalan mudah, baik, dan lancar.
Kurasa Jordanius sebaiknya tahu soal ini. Atau paling tidak, aku bisa memancingnya untuk berubah pikiran.
“Semuanya sudah terencana, Risha. Tenang saja.” Victor membungkuk, membisikkan kalimat itu tepat di telingaku.
Kutatap Victor sesaat, tapi dia hanya tersenyum, menggenggam tanganku seakan mencoba memberikan ketenangan.
Sayangnya, keganjilan kali ini sama sekali tak berniat minggat dari kepalaku. []