Aku tidak tahu pasti apa yang Victor laporkan pada Ratu, tapi itu membuat jadwal latihanku berkurang drastis, berganti menjadi penugasan untuk mendampingi Jordanius. Seingatku, hari ini harusnya ada kelas pelatihan terampil—yang kalau mau jujur, sebenarnya tidak ada bedanya dnegan latihan yang lain karena semuanya diajarkan Victor—tapi sejak satu jam yang lalu, aku ditempatkan di perpustakaan sementara sang pangeran sibuk membaca tumpukan buku yang dia ambil.
“Kukira mereka akan mengirim prajurit sungguhan.” Jordanius bicara setelah diam satu jam penuh padaku.
Aku sedikit mendongak, membalas tatapan datarnya. Kalau dia mencoba menyindir, sebenarnya aku cukup setuju dengan tanggapannya. Berdasarkan informasi Victor soal penobatan dalam waktu dekat, lebih masuk akal jika Jordanius mendapat perlindungan ekstra, bukannya bersama gadis yang bahkan tidak bisa mengendalikan kekuatannya.
“Aku akan coba panggil—”
“Tidak perlu,” potong Jordanius cepat, membuatku yang semula mau berdiri tiba-tiba berhenti. “Aku lebih nyaman denganmu. Begini sudah cukup.”
Satu hal yang kupelajari setelah beberapa kali bersama Jordanius adalah ketidakterbacaannya. Percuma saja berusaha untuk memahami semua ucapannya. Mengikuti permintaannya merupakan jalan termudah menyelesaikan pekerjaan.
Aku hanya mengangguk, kembali memosisikan diri seperti sebelumnya dan menyibukkan diri dengan buku. Berada di ruang tertutup seperti ini menjadi keuntungan untukku. Keamanan Jordanius lebih terjamin di sini. Kalau ada yang menyakitinya, itu mungkin hanya goresan dari pinggiran kertas tajam.
“Victor sudah sehat, ya?” tanya Jordanius lagi, sorot matanya kelihatan tengah mencermati sesuatu dariku. Padahal tidak ada yang aneh dariku. Paling tidak aku ke sini bukan dengan pakian aneh. “Kudengar kalian melanjutkan latihan seperti biasa.”
Sebisa mungkin kuabaikan cara Jordanius melihatku dan membalas, “Latihanku mulai berkurang. Victor sudah mulai melanjutkan patroli lagi. Tabib bilang dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.”
“Dia selalu begitu.”
Mungkin hanya firasatku saja, hanya saja caranya bicara barusan terdengar seperti teman karib, atau sesuatu yang menggambarkan seberapa kenalnya dia dan Victor. Sesuatu yang hingga saat ini masih membuatku bertanya-tanya. Secara usia, keduanya mungkin tak jauh berbeda. Jordanius pun masih di usia dua puluhan. Kalau tidak salah ingat, dulu juga Victor mengancamku untuk tidak cerita pada Jordanius mengenai tentang pertemuan pertama kami di Hutan Gerhana.
“Omong-omong, Jordanius,” panggilku kikuk. Aku sudah siap diabaikan, sebenarnya, tapi aku mendengar balasan singkat.
“Apa?”
“Apa sebelumnya penduduk Kerajaan Bulan pernah kemari? Mungkin kau pernah .…”
“Mereka pembawa bencana,” tukas Jordanius cepat sampai aku agak tersentak. Tatapannya berubah tajam, dan sekali lagi, aku melihat kebencian itu. Seakan ada dendam tak terbendung, entah apa alasannya. “Aku berharap mereka tidak datang lagi, atau aku yang akan membunuh mereka.”
Bukan begitu jawaban yang kuinginkan, tapi di saat yang sama pertanyaanku terjawab. Lagi, katanya. Berarti sudah pernah. Apa itu berkaitan dengan kemarahannya ini?
“Kenapa memangnya?” Jordanius balik bertanya, dan sesaat aku gelagapan. Tidak mungkin aku bilang alasan sebenarnya.
“Hanya penasaran,” celetukku, sebisa mungkin kelihatan santai. Aku tidak bisa membohongi Victor, tapi mungkin aku sedikit lebih baik jika lawannya berbeda. “Di buku dongeng sering disebut sebelumnya ada jalur yang menghubungkan kedua kerajaan.”
“Membuat jalan penghubung agar iblis masuk ke sini? Kita tidak sebodoh itu.”
Wajarkah kalau sekarang aku mempertanyakan apa yang akan Ayah lakukan dengan Jordanius? Dia kelihatan membenci Kerajaan Bulan. Kalau Ayah berencana sekadar bicara, aku ragu jika tindakan sesederhana itu akan membuat perubahan.
Lantas apa yang akan Ayah lakukan? Dan apa Victor akan mengikuti rencana itu? Tidak mungkin ada kudeta atau semacamnya, kan?
“Apa ada sesuatu di wajahku?”
Sesaat aku mengernyit, tapi seketika sadar terlalu lama memandanginya. Buru-buru aku meneggeleng. “Tidak kok.”
Jawabanku tampaknya tidak memuaskan hingga Jordanius menaikkan alis, terlihat ingin bertanya lagi. Namun yang kudengar setelahnya justru, “Hari ini temani aku kabur.”
“Hah?”
“Jangan bilang apa-apa pada siapa-siapa,” nada bicaranya terdengar penuh peringatan. “Sekarang kau lebih baik pergi. Katakan pada pelayan untuk mengantar makan siang kita ke taman di belakang kerajaan. Sehabis makan kita akan pergi.”
Aku terlalu bingung untuk merespons. Bagaimana bisa dia bersikap seakan perintahnya itu tak lebih dari mengambil buah di pohon? Dia pikir kabur akan semudah itu?
“Pergi sana,” katanya lagi, mengibaskan tangan sebagai isyarat agar aku beranjak. Tentu saja, tidak kulakukan.
“Kau berencana kabur setelah aku pergi?” celetukku cepat. “Barangkali aku perlu mengingatkanmu, di luar berbahaya—”
“Kau tuli? Aku menyuruhmu menemaniku.”
Baiklah, salahku tidak memerhatikan poin itu. Tapi faktanya tetap tidak berubah. Aku ikut pun tak lantas membuat keadaan lebih aman untuknya. Pilihan yang buruk bisa membuat kepalaku melayang di tangan Raja dan Ratu.
“Aku mau mengunjungi makam Ibu.”
Protes yang menggantung di ujung lidahku mendadak hilang. Ucapan Jordanius kali ini bukan hanya membuatku bingung, tapi sepenuhnya diam. Terlalu banyak keanehan dari kalimat itu, hanya saja tak satu pun bisa kuutarakan. Pada akhirnya aku hanya mengangguk, berdiri dari mengikuti arahannya, menyusuri koridor kosong untuk mencari ruang masak.
Ibu dan Ratu. Apa bedanya dua hal itu? Bukannya dua hal itu sama saja? Lalu ada apa dengan makam? Aku menemui Ratu tadi pagi, dan dia kelihatan cukup hidup untuk tidak berada di dalam tanah.
“Risha.”
Sesuatu menggenggam tanganku tiba-tiba, membuatku tertarik ke belakang hingga punggungku tersandar pada bidang datar yang terkesan berotot. Kutemukan Victor di belakangku, mengenakan kemeja putih polos berkerah oranye.
“Bagaimana?” tanya tiba-tiba.
“Apanya?”
Victor menghela napas, memandangiku dengan bibir setengah mencebik. “Hari ini kau mengawasi Jordanius, kan?”
Awalnya aku hanya mengangguk. Tugas biasa. Tapi menyadari tatapan Victor tak kunjung beralih, barulah aku sadar maksudnya. Dia sengaja membuat jadwalku begini supaya bisa melaksanakan permintaan Ayah?
“Tidak ada yang aneh dari Jordanius,” kataku. “Aku sempat bertanya sedikit tentang tanggapannya, tapi dia benar-benar benci Kerajaan Bulan, kurasa. Sejak pagi kami hanya di perpustakaan, jadi dia aman.”
“Aku lebih suka begitu,” Victor memanggut singkat. “Kalau dia aman, kau pasti aman.”
Entah apa maksudnya kalimat itu, aku tidak ingin memikirkan hal-hal aneh. “Daripada pengawal, aku lebih mirip pengasuh,” celetukku asal. Aku masih ingin bicara tadinya, menanyakan kedekatan Jordanius dan Victor, terlebih soal rencana kabur Jordanius., tapi suara lain terdengar lebih dulu.
“Jenderal Elodoro!”
Victor menarikku masuk ke dalam ruangan terdekat, bersembunyi di balik pintu. Dari sela kosen, terlihat seorang prajurit berseram lengkap lewat dari koridor.
“Aku harus pergi,” bisik Victor pelan.
“Patroli lagi?”
Dia mengangguk. “Belakangan ada beberapa kerusuhan kecil di tempat-tempat acak. Raja mengira itu berhubungan dengan pelantikan Putra Mahkota nanti. Aku harus memastikan semua tempat aman.”
“Kau tidak memaksakan diri, kan? Sekalipun sudah sembuh, kau tidak bisa terlalu ….”
“Tenang saja, aku tidak apa-apa,” balas Victor. Dia membungkuk, memperlihatkan senyumnya sebelum meremas kedua tanganku lembut. “Sore nanti, di tempat latihan belakang. Kita bertemu di sana. Oke? Setidaknya kita bisa kencan sebentar di toko kue waktu itu sebelum menemui ayahmu.”
Padahal suaranya kecil, tapi aku merasa seperti mendengar pernyataan keras. Caranya menyebut hubungan kami membuatku merapatkan bibir. Sial. Aku mendadak malu.
“O-oke. Kencan di toko kue.” Aku mengangguk kecil, membiarkannya mengecup puncak kepalaku sebelum beranjak kembali ke koridor dan menyusul prajurit yang masih meneriakkan namanya.
Nyatanya, ada perubahan baru bagiku. Kali ini, bukan hanya identitasku yang perlu disembunyikan.
Dan saat ini, kami juga masih jadi rahasia.
*
Aku cukup yakin kematian bukan hal aneh di Kerajaan Matahari, tapi baru kali ini aku melihat pekamaman di sini. Kenyataan ini terasa semakin ganjal karena yang membawaku ke sini justru si pangeran sendiri.
Selepas makan siang, Jordanius mengajakku tetap berada di dalam kerajaan, meyakinkan para pengawal bahwa mereka tak perlu mengikuti kami, padahal dia justru diam-diam membawaku menyelinap dari area belakang kerajaan, menyusuri taman dan hutan sebelum sampai di taman lainnya yang dipenuhi bunga bakung. Aku bahkan baru tahu ada taman ini.
Tak bisa dipungkiri, taman ini indah dan tenang, di saat yang sama memberi kesan liar dengan berbagai tumbuhan liar tapi bermekaran.
“Ayo,” kata Jordanius.
Aku hanya mengikutinya di belakang, berjalan ke area dalam taman, kemudian menemukan kolam air mancur besar. Airnya begitu jernih, tapi semakin diperhatikan, kusadari ada peti berwarna putih di dalam air, pinggirannya berwarna emas. Selera yang aneh untuk hiasan, tapi terlalu mewah untuk sebuah peti.
“Ini pertama kalinya kau ke sini, kan?” tanya Jordanius, dan aku mengangguk. “Ibu tidak mungkin menunjukkan tempat ini. Wajar.”
Kalau tidak salah hitung, aku sudah dua kali berkeliling ke seluruh area kerajaan—atau, setidaknya begit menurutku. Pertamanya dengan Nenek, dan yang kedua bersama Victor atas perintah Ratu. Namun tempat ini benar-benar asing. Mungkin mereka lupa, atau tempat ini hanya satu dari sekian tempat tidak penting di kerajaan.
“Ini makam Ibu.” Aku mengerjap beberapa kali, masih bingung, hingga dia menambahkan, “Ibu kandungku.”
Yang satu itu menjawab sekaligus memunculkan pertanyaan lain. Sekarang aku tahu sesuatu, hanya saja tak bisa memrosesnya dengan mudah. Kuakui pemahamanku tentang politik dan struktur kerajaan sedikit sekali, tapi aku rasa pangeran sekaligus penerus tahta selalu merupakan keturunan langsung dari raja dan ratu. Di Kerajaan Bulan pun begitu.
“Lalu Ratu?”
“Ayah mewajibkanku memanggilnya ‘ibu’. Jangan salah paham. Kalau tidak diwajibkan, aku sama sekali tidak mau.”
Entah pendengaranku sedang terganggu atau memang suara Jordanius sarat kemarahan. Mendadak aku merasa kikuk. Sopan dan ramah bukanlah sesuatu yang kuharapkan darinya, tetapi caranya bersikap sekarang membuatku berpikir dua kali bahkamn hanya untuk bergerak barang sedikit.
Kendati demikian, Jordanius kelihatan tenang begitu berlutut di pinggiran kolam, satu tangannya masuk ke dalam air sementara kepalanya menunduk. Sekilas, kulihat kedua sudut bibirnya meninggi seakan tengah tersenyum.
“Ibu, aku datang.”
Kalimatnya singkat dan sederhana, tapi membuatku tersentil. Aku ingin bisa mengucapkan hal yang sama. Aku ingin bertemu Ibu lagi. Aku ingin memeluknya. Aku ingin kami sama-sama bisa hidup dan melupakan semua masalah ini.
Mendadak kerongkonganku panas dan sesak. Kukepalkan tangan kuat-kuat, mendongak. Sialan! Kenapa malah aku yang mau menangis? Ini bahkan bukan makam Ibu. Aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.
“Beberapa minggu lalu akan diadakan upacara penobatan,” Jordanius melanjutkan. “Padahal aku masih 20 tahun. Kurasa Ayah terlalu buru-buru.”
Ternyata Victor benar. Kabarnya belum menyebar, dan berarti Ayah serta penduduk Kerajaan Bulan sudah lebih dulu tahu.
“Tapi Ayah bilang ini demi kebaikan semua orang. Dia bilang aku harus siap menggantikannya kapan saja, tak peduli apa pun yang terjadi.” Helaan napas menjeda kalimatnya, sebelum hening kembali, dan hanya suara pancuran yang terdengar.
Sejak pertama kali bertemu, aku selalu mengira Jordanius tak lebih dari pangeran dengan tingkah laku problematik. Karenanya jugalah aku berada di sini. Namun semakin banyak waktu yang kuhabiskan, Jordanius punya lapisan-lapisan yang harus kukupas untuk mengenalinya lebih dalam.
Kenyataannya, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang.
“Risha.” Suara Jordanius tiba-tiba terdengar, membuatku menoleh.
“Ada apa?” balasku.
“Pernah tidak kau merindukan seseorang sebegitu besarnya, padahal tahu orang itu tidak akan kembali padamu?”
Pertanyaan Jordanius kali ini membuatku tertegun. Aku bisa mendengarnya begitu jelas. Matanya menatapku lurus, membuatku merasa tengah diamati, dibedah, dibongkar. Seharusnya aku menjawab, tatapan laki-laki di hadapanku ini menyuruhku begitu, tetapi untuk bernapas saja terasa sulit. Kurapatkan bibirku, mengalihkan pandangan ke arah lain hingga aku sadar ada rasa amis di mulutku. Darah.
Tak ada satu pun kata yang bisa kuucapkan.
Dia kemudian berdiri, berjalan hingga benar-benar berdiri di depanku, membuatku harus kembali mendongak untuk menatap mata biru itu. Dingin, marah, tetapi ada secera kepedulian di sana.
“Aku benci penduduk Kerajaan Bulan,” katanya. Sesaat aku merasa seperti dipojokkan. “Mereka yang membunuh Ibu. Kalau saja Victor tidak menyelamatkanku waktu itu, mungkin aku juga akan dikuburkan di sini.”
Ketakutanku sekarang bercampur pertanyaan-pertanyaan baru. Kupikir sudah ratusan tahun sejak kedua kerajaan bisa saling berinteraksi. Namun menyadari fakta tentang Ayah dan Ibu, kurasa itu cukup masuk akal.
Yang anehnya, untuk apa Kerajaan Bulan repot-repot datang hanya untuk membunuh? Kedengarannya ganjil untuk ukuran pemerintah yang lebih suka melindungi diri ketimbang memperluas wilayah. Aku benci mereka yang mengacaukan kehidupan tenangku, tapi dari sisi mereka, aku bisa sedikit paham kenapa.
“Jadi, kau mau… balas dendam?” tanyaku hati-hati, tak ingin kelihatan penasaran atau ingin membela lawan.
Jordanius tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, ekspresinya berubah serius. Kendati begitu, dia justru menggeleng sebagai jawaban.
“Aku akan melindungi semuanya,” kata Jordanius. “Mereka tidak akan bisa menyentuh penduduk kerajaan ini lagi. Aku benci harus mengorbankannya nyawa. Kerajaan ini perlu bantuan untuk hal-hal lain daripada beradu senjata.”
Yang kutangkap, Jordanius tidak mau berperang. Sesaat aku merasa lega, tapi bertanya-tanya, apa persisnya yang Ayah rencanakan jika Jordanius sendiri tidak berkeinginan bersinggungan dengan kerajaan lain. Ayah yang kukenal adalah orang paling baik di dunia. Aku yakin. Ayah tidak akan memulai perang, bukan? Lantas untuk apa Ayah memintaku memata-matai pangeran dan malah mengajak Victor untuk ….
Aku benar-benar harus memastikannya pada Ayah malam ini. Jika Jordanius tak ingin berperang, terlepas dari kebenciannya, kurasa dia tak sebaiknya dilibatkan dalam apa pun.
Karena dia tak ingin kehilangan. Begitu juga denganku. []