Sewaktu kecil, Ibu sering menambahkan ‘putri’ di depan namaku tiap kali memanggil untuk makan. Kadang aku marah, tapi Ayah kemudian bilang, “Suatu saat kau akan jadi putri sungguhan, Alrisha. Kau bisa membangun kerajaan sendiri, menikahi orang-orang hebat, mungkin pangeran atau raja. Jenderal juga bisa. Mereka lebih tangguh dari yang duduk di singgasana sebenarnya.”
Aku selalu percaya ucapan Ayah tak lebih dari lelucon belaka. Namun ingatanku kembali berputar, membayangkan Ayah yang tersenyum ketika aku membawa Victor ke markas dan bilang, “Kau memilih pasangan yang bagus. Ayah bangga.”
Oh, tidak. Victor bahkan bukan suamiku. Aku masih Alrisha Kane yang sendirian di umur 18 tahunnya. Kami bukan siapa-siapa. Aku harus mulai mengingatkan diri bahwa pelukan di gua sama sekali tidak membuat sesuatu yang berbeda di antara kami, pun kalimatnya. Bisa jadi pendengaranku yang salah. Siapa yang tahu kalau gua bisa memanipulasi suara?
Aku menggeleng, menyingkirkan ingatan remeh itu. Bukan hal itu yang harus diperhatikan sekarang. Ada Jungwoo yang harus ditangani secepat mungkin, juga keputusanku untuk membawa Victor yang notabenenya penduduk Kerajaan Matahari—lebih buruk lagi, dia jenderal—ke tempat persembunyian Ayah dan kumpulannya.
Di tempat ini, Victor kelihatan begitu mencolok dengan rambut pirangnya. Beberapa orang kelihatan ragu untuk membiarkan kami masuk, tapi begitu melihat kondisi Jungwoo, mereka memberi ruang untuk lewat. Ayah juga langsung keluar dan mempersilakan, sekalipun keterkejutan tergambar jelas di wajahnya. Begitu Jungwoo diletakkan di salah satu kamar kosong, tiga orang mulai sibuk mengobati, sementara Ayah memberi instruksi agar aku membawa Victor ke ruang bawah tanah.
Entah kenapa itu pilihan yang tepat jika mencari ketenangan, atau, kau tahu… pertarungan diam-diam.
Sebenarnya, ruangan ini tidak semenyeramkan itu. Meski penerangannya lebih redup dibanding ruangan atas, tempat ini cukup terurus. Ada satu meja panjang membentang di tengah-tengah, papan besar dengan berbagai lembar pengumuman dari Kerajaan Matahari tertempel, juga rak-rak buku yang berjajar rapi. Ketimbang ruang bawah tanah di rumahku dulu dijadikan gudang oleh Ayah dan Ibu, tempat ini lebih seperti tempat diskusi rahasia.
“Jadi, Alrisha,” Ayah mulai bicara sambil duduk, tangannya memberi gestur agar aku dan Victor melakukan hal yang sama, “bisa kau ceritakan?”
Aku mengangguk kecil, menarik kursi untuk duduk sementara Victor menempati kursi di samping kananku, sedikit menunduk, mungkin bermaksud menghormati. “Jungwoo jatuh dari tebing. Tentara Kerajaan Matahari kelihatannya mengejarnya, aku tidak tahu pastinya kenapa. Victor membantu menyembunyikan tubuh Jungwoo dan mengantarnya ke sini.”
Ayah memanggut, tapi kusadari caranya menatap Victor sedikit berbeda. “Benarkah begitu, Tuan ….”
“Victor saja,” balasnya santai. “Kau seniorku, Tuan Oriane. Kurasa lebih baik kita santai saja.”
Bersikap santai dalam keadaan seperti ini jelas sekali mustahil. Paling tidak, menurutku. Aku tidak tahu apa gaya pria mengobrol memang selalu begini, atau Ayah dan Victor memang sehebat itu sampai bisa membungkus emosinya dan terlihat tenang seperti biasa.
“Penduduk lain selalu mengira sosok pahlawannya hilang,” Victor melanjutkan. “Tidak kusangka kau malah berkelompok dengan … ini.”
“Mereka tidak seburuk yang kaukira, Victor. Sebagai seorang jenderal, bukankah sudah lazim untuk melihat semua hal dari dua sisi untuk menciptakan dunia yang tenteram?”
“Dan ini caramu, Theo? Melawan kerajaan sendiri?”
Kendati kalimat pedas itu, Ayah masih santai, bahkan tersenyum. Aku selalu mengagumi cara Ayah menghadapi Ibu yang lebih sensitif, sayangnya melihat sikap tersebut dalam keadaan begini sama sekali bukan pertanda bagus. Bagaimana jadinya kalau Ayah dan Victor justru beradu kekuatan di sini? Seorang panglima veteran dan jenderal. Aku lebih berharap itu jadi sebuah cerita alih-alih peristiwa yang harus kusaksikan.
Aku merapatkan bibir, mengusap-usap pangkuanku untuk meradakan kegetiran. Apa pun yang terjadi, harus ada sesuatu yang kulakukan. Jika dua pria ini punya rencana masing-masing, maka aku pun harus melakukan hal yang sama.
“Apa yang kau rencanakan sebenarnya, Theodore Oriane?” tanya Victor lagi, kali ini tatapannya tajam dan nyalang. Dua pasang manik biru beradu satu sama lain, dan aku mengepalkan tangan kuat-kuat.
Angin. Aku berusaha memanggil. Apa pun yang bisa kaulakukan, tolong, bantu aku untuk menghentikan perpecahan yang akan terjadi di antara—
“Jika kau ingin perdamaian, maka izinkan aku ikut ambil andil.”
Spontan aku menoleh, membelalak memandangi Victor. “Kau… kau bilang apa, Vic?”
Sayangnya dia justru mengabaikanku dan kembali melanjutkan, “Kau sendiri yang bilang untuk melihat dari dua sisi yang berbeda. Aku yakin kau mengajakku ke tempat ini bukan untuk membuat keributan apalagi menghabisiku. Jadi, apa rencanamu?”
Senyum Ayah semakin mengembang diikuti anggukan puas, lantas berdiri. “Tetaplah di sini. Akan kupanggilkan yang lain untuk bergabung.”
Tampaknya hanya aku satu-satunya yang tidak mengerti apa yang terjadi di sini.
*
Aku dan Victor tidak menetap lama.
Ayah tidak banyak menjelaskan, hanya menceritakan kumpulannya yang bersembunyi dari Kerajaan Matahari selama beberapa bulan terakhir di hutan ini, juga adanya jalan lintas antara dua kerajaan di bawah tanah Hutan Gerhana, tempat yang sebelumnya aku lalui sewaktu dikejar prajurit tanah sendiri. Belum ada detail lengkap soal rencana Ayah kecuali permintaannya untuk mengawasi Jordanius selaku pangeran, dan berdasarkan informasi dari Victor, tahun depan akan ada penobatan sebagai raja selanjutnya. Hal itu memang tidak menjadikan Jordanius sebagai raja, tetapi membuatnya siap untuk mengambil posisi itu jika raja saat ini terlibat dalam hal-hal tak terduga.
Pembahasan tidak berlanjut setelah Victor mengusulkan kami untuk pulang, apalagi karena keadaan dan dia harus melapor pada Ratu. Aku agak bersyukur dia mengingat itu, karena meluputkan hal itu bisa membawaku ke dalam masalah yang lebih besar. Ayah meminta kami untuk datang, atau mengutus orang lain untuk memberi kabar, seperti yang Jungwoo lakukan.
Sekarang, peran pengantar pesan jadi lebih riskan, karena dengan keberadaan Seungwoo yang entah di mana, apa yang terjadi pada Jungwoo juga bukan hal baik. Siapa pun yang sukarela mengambil pekerjaan itu sepertinya harus mulai berunding akan hidup dan nasib ke depannya.
Usai kami diantar keluar dari hutan, Victor memilih rute memutar demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Lebih aman,” begitu katanya. Aku tak mau mendebat, apalagi mencoba menebak apa yang bisa terjadi kalau kami ketahuan yang lain. Takut, waswas, panik, semua itu sudah pernah kurasakan. Rasanya tak ada sehari tanpa semua perasaan itu. Namun kali ini, menyadari aku tak menghadapi semua itu sendirian terasa sedikit lebih baik. Tidak ada obrolan soal Ayah dan kelompoknya begitu kami masuk ke kerumunan, mengobrol pun sedikit sekali, hingga kami berpisah di persimpangan jalan—Victor berjalan ke istana, dan aku kembali ke kediaman Oriane.
Dengan rute yang lebih jauh dari biasanya, aku baru tiba di rumah tepat malam hari. Matahari sudah sama sekali tidak terlihat, dan Jemi, entah untuk alasan apa, sudah berdiri di depan rumah.
“Demi Dewa, Risha! Aku menunggumu!” Sesaat aku yakin dia akan terus mengomel dan mendekat, tapi dia tetap di tempat, perhatiannya teralih ke sesuatu di belakangku, membuatku menoleh dan menemukan Victor.
“Tu-tunggu sebentar,” kataku pada Jemi sebelum lari mendekati Victor dan menariknya keluar dari teras, menyingkir ke dekat gerbang yang lebih sunyi. “Kok kau… bukannya kau bilang mau langsung ke istana?”
“Aku sudah kirim surat,” jawabnya enteng. Kadang aku bertanya apa memang dia sedekat itu dengan Ratu, atau hal seperti ini sama sekali tidak menakutinya. “Sekarang juga sudah terlalu malam.”
“Kalau begitu kau harusnya pulang.”
“Setelah ini.”
Bibirku merapat, bingung kenapa Victor ada di sini. Bohong kalau aku bilang bisa tenang dan tidak berspekulasi—karena, tentu saja, aku punya dugaan-dugaan tidak menyenangkan. Ayah sempat bilang untuk berhati-hati. Meski tidak menyebut nama secara spesifik, aku merasa jenderal Kerajaan Matahari sudah pasti masuk ke dalam hitungan. Aku juga masih tidak paham kenapa dia tiba-tiba mengajukan diri untuk membantu kelompok Ayah.
“Aku tidak akan mengatakan ini pada siapa pun,” tutur Victor lagi. Lama dia mengamatiku sampai aku merasa hawa dingin di sekitar berubah. “Kau harus santai sedikit, Risha.”
“Kau memangnya tidak takut?” tanyaku.
Dia menggeleng. “Untuk apa?”
Bukankah jawabannya sudah jelas? Tindakannya itu kan bukan sesuatu yang—
“Karena aku berkhianat?” tambah Victor lagi, dan seketika aku bungkam. Sebenarnya aku menggunakan kata lain, sesuatu yang lebih sopan, tapi aku mengangguk.
“Aku masih tidak mengerti,” kataku jujur. “Maksudku, kau kan jenderal. Jordanius kelihatan membenci Kerajaan Bulan. Beberapa hari lalu kau juga celaka. Bagaimana bisa kau semudah itu menawarkan diri untuk bergabung dengan kaum yang sudah begitu lama jadi musuhmu?”
Kendati mendapat jawaban, yang kudapatkan dari Victor malah pertanyaan lainnya. “Apa kau berpikir ayahmu yang membuatku celaka?”
Aku menunduk dan menggeleng. Ayah tidak pernah cerita, dan sulit untuk membayangkan dia mengambil tindakan itu. Namun, aku juga tidak benar-benar yakin mengenal Ayah yang sebenarnya. Tidak ada satu pun yang kukenali, bahkan diriku sendiri.
“Kau orang baik, Risha,” kata Victor lagi, dia melangkah mendekat, berdiri di hadapanku. Aku refleks menengadah, anehnya justru menemukannya tersenyum bahkan menepuk pundakku. “Kau mungkin bodoh, tidak berpengalaman, dan tidak pandai berbohong.”
“Terima kasih untuk pujiannya, Jenderal. Benar-benar saat yang tepat.” Aku memutar mata malas, tapi senyuman laki-laki ini tak kunjung luntur.
“Tapi kau bisa dipercaya,” Victor melanjutkan. “Aku yakin ayahmu punya rencana lain yang lebih baik dari sekadar adu domba. Kau mempercayainya, kan? Kau juga berharap dua kerajaan ini bisa berdamai, bukan begitu? Kau bukti nyatanya. Kau hadir karena ayah dan ibumu mengikuti hatinya sekalipun ada kebencian yang diturunkan.”
Pipiku semakin menghangat ketika jemari Victor menyentuhnya, membuat kontak kulit tak terduga tetapi terasa menenangkan. Kupejamkan mata sejenak. “Kenapa kau melakukan semua ini?” tanyaku. “Karena kau ingin mengakhiri perang lama?”
Victor mengangguk. “Dan karena kau.”
Aku terbelalak, tapi Victor sama sekali tak memberiku kesempatan untuk bicara, karena tahu-tahu dia menciumku, membuat semua yang ada dalam pikiranku hancur.
“Buat aku percaya kalau yang berbeda sekalipun bisa bersatu, Risha. Harapan kita sama, kan?” []