Dari semua hal yang kubayangkan akan terjadi di Kerajaan Matahari, ini bukan salah satu di antaranya.
Bertahan dan menyembunyikan status sendiri saja sudah sulit bukan main, tetapi kali ini aku juga diminta untuk menyembunyikan status orang lain—Jungwoo.
Sebersit ide terlintas untuk berbohong, menggunakan alasan perlindungan diri daripada membuat keadaanku semakin memusingkan. Percayalah, aku sangat ingin melakukannya, dan sedikit berharap benar-benar berbuat begitu. Hanya saja begitu menuruni bukit untuk pergi ke dasar air terjun, dadaku berpacu begitu cepat, mengharapkan sesuatu yang lain.
Siapa tahu Jungwoo sengaja melompat ke bawah dan menggunakan kemampuannya untuk menghilang.
Tidak. Itu harapan bodoh. Penduduk Kerajaan Bulan bukan orang berkekuatan super, pun bukan penyihir yang bisa melakukan sulap. Semuanya didasari dengan strategi dan otak. Dan yang aku yakini, longsornya ujung tebing dan darah di wajah laki-laki itu sama sekali bukan rekayasa. Aku bahkan tidak yakin jika Jungwoo masih hidup.
Suara air terjunnya begitu berisik, sampai-sampai semua prajurit berteriak untuk bisa saling berkomunikasi. Victor sudah turun dan berkeliling lebih dulu bersama prajurit yang lain sementara aku hanya diam, menautkan jemari. Di saat-saat seperti ini seharusnya aku berdoa, begitu yang kusadari, tetapi sulit untuk memejamkan mata dan melewatkan barang sedetik pun untuk mengawasi apa saja yang mereka lakukan.
Beberapa penjaga menggunakan kekuatan mereka untuk membuka dan menyusuri air terjun. Mereka kelihatan seperti anak kecil yang sibuk bermain air, sayangnya membayangkan permainan mereka ini bertujuan untuk menemukan seseorang—atau mungkin mayat—membuat bulu kudukku merinding.
Demi Dewa, Jungwoo, sebaiknya kau tidak ada di sini. Jangan sampai mereka menemukanmu.
“Risha.”
Aku menoleh, mendapati Victor berjalan mendekat ke arahku. Aneh sekali melihatnya tetap dengan raut datar, melenggang santai. Haruskah aku menganggap ini sebagai kabar bahagia untuknya dan berita buruk untukku?
“Bagaimana?” tanyaku, sebisa mungkin mengimbangi sikap santainya itu.
“Apanya?”
“Um… orang tadi.” Aku nyaris saja menyebut nama Jungwoo. Bodoh.
“Yang lain masih mencari,” kata Victor, memosisikan dirinya di sampingku. “Mereka tidak akan menemukannya. Sayang sekali.”
Kutatap dia sambil mengernyit. Kenapa tiba-tiba berkesimpulan begitu? Yang lebih tidak kumengerti, caranya mengucapkan itu sama sekali tak menunjukkan keberatan atau tidak terima.
Aku baru saja mau bertanya ketika Victor kembali berkata, “Aku yang menyembunyikannya. Hanya aku yang tahu.”
Hah?!
Tunggu dulu. Apa katanya tadi? Apa ada sesuatu yang membuat telingaku salah dengar?
“Apa yang kau lakukan sih? Jangan bercanda—”
“Kau seperti buku yang terbuka, Risha,” sela Victor. Kali ini dia menyerong hingga berhadapan denganku. “Kau mengenalnya, kan? Orang yang jatuh tadi.”
Apa-apaan ini? Selain punya kekuatan api, Victor bisa membongkar isi kepala orang juga? Memangnya dia ini apa? Penyihir? Monster? Apa pun itu, aku tahu itu sama sekali tak baik untuk situasi ini.
Sebisa apa pun aku ingin menjaga ekspresi dan ketenangan, bulu kudukku sudah merinding, menyiratkan bahaya yang sialnya tak dapat lagi kuhindari. Aku hanya bisa mematung, memandangi Victor seakan-akan anggota tubuhku yang lain sama sekali tak bisa kugunakan, sementara tangannya menyentuh kepalaku kemudian menunduk untuk berbisik.
“Aku benar-benar berharap kau bisa memberi alasan logis untuk ini semua, Risha. Akan kutangani sisanya sementara ini.”
Kemudian Victor kembali pada prajurit-prajurit yang lain dan meninggalkanku tercenung di tempat sendirian.
*
Habis. Tamat. Selesai. Mati.
Semua kata itu—yang sialnya tidak ada bedanya—mengitari isi pikiranku seharian ini. Setelah beberapa jam pencarian dan para prajurit memutuskan untuk pulang tanpa ada hasil, diikuti Victor yang menjamin akan melaporkan semuanya sendiri pada Ratu nanti, kami masih menjelajahi hutan, masuk ke sisi lain air terjun. Victor sendiri yang bilang dia menyembunyikan Jungwoo di sana.
“Kau sama sekali tidak basah,” kataku selagi kami masuk dan aku mebelah air terjun dengan angin. “Para prajurit juga sudah memeriksa ke sini, kan?”
Victor tidak mengatakan apa-apa, hanya bergumam kecil. Namun tak lama aku sadar, menjadikan pakaiannya sebagai patokan bukanlah jalan terbaik. Kalau diingat-ingat, dia juga bahkan pernah mengeringkanku dengan apinya.
Kami masuk lebih dalam, menemukan beberapa lubang gua. Begitu Victor menjentikkan jari, uap-uap yang mengelilingi dinding berhenti, membuatku bisa melihat lubang gua lain Kukira itu hanya… kau tahu, apa pun sebutannya. Aku belum pernah masuk gua di bawah air terjun sebelumnya.
“Uap, ilusi paling sederhana dan tidak mencolok,” kata Victor datar.
Aku hanya bisa melongo, bingung harus terpana atau makin awas karena apa yang dia pikirkan. Jika semua penduduk Kerajaan Matahari punya pola pikir seperti Victor, aku jelas harus mengoreksi penilaianku. Aku yang berasal dari Kerajaan Bulan saja kalah telak. Dia terlalu…. Manipulatif. Kurasa itu lebih tepat ketimbang menyebutnya pintar.
Dengan api kecil dari tangan Victor, mataku berhasil menemukan satu sosok yang terbaring dengan dedaunan bertumpuk sebagai bantalnya. Aku menunduk, memerhatikan wajah Jungwoo yang pucat. Masih ada bercak merah, tapi sudah lebih baik ketimbang yang kulihat sekilas sewaktu dia jatuh.
“Jadi?” Victor kembali bersuara, berjongkok di sampingku, tangannya bergerak menciptakan api yang melayang di atas kami layaknya lampu gantung kecil. “Aku terima penjelasan dari mana saja. Aku hanya harap itu cukup masuk akal. Tindakanku ini bisa diangkap jadi kudeta.”
Tanpa diberitahu pun, aku sudah sadar. Status Victor sebagai jenderal kontras sekali dengan tindakan yang dia lakukan. Meski begitu, aku tidak bisa berasumsi begitu saja bahwa ini bantuan darinya. Bisa saja setelah ini, begitu aku mengatakan semuanya, tempat tujuanku dan Jungwoo hanyalah penjara. Dan mungkin itu pilihan paling baik di antara semua bayangan yang ada dalam kepalaku.
Pilihan terburuk? Kurasa kami sama-sama tahu.
Aku membungkuk lesu, memeluk kedua lututku selagi memandangi Jungwoo. d**a yang mengembang dan mengempis menjadi salah satu hal yang kusyukuri saat ini—dan mungkin satu-satunya hal baik yang terjadi saat ini.
Pikiranku berputar keras, berusaha memikirkan alasan lain yang cukup ‘logis’ untuk disampaikan kepada seorang jenderal Kerajaan Matahari. Tapi apa persisnya yang harus kukatakan? Kalau sampai dia tahu aku berbohong, jangankan kesempatan untuk meralat ucapan, bernapas pun kemungkinannya kecil sekali.
“Menurutmu dia siapa?” tanyaku.
“Rambutnya sudah menggambarkan jelas asalnya,” balas Victor. “Aku tidak ingin bertanya soal identitasnya, sebenarnya. Mudah untuk mencari tahu itu. Aku lebih ingin tahu kenapa kau ….”
“Kalau kau sadar siapa dia, kurasa jawabannya sudah jelas.”
“Kau membantu penyusup?” Victor balik bertanya. Aku sama sekali tak berani menatapnya, memilih untuk menyandarkan kepala pada lututku, berharap gestur kecil ini bisa membuatku hilang. Mustahil, aku tahu, tapi dalam keadaan begini, memangnya apa lagi yang harus diharapkan? Tidak ada yang bisa menyelamatkanku dari situasi seperti ini kecuali mukjizat.
Sayangnya, kapan mukjizat terjadi padaku? Jika saja aku cukup beruntung, kurasa aku tak akan berada di sini. Semua ini tidak akan terjadi padaku. Alrisha yang beruntung pasti masih ada di meja belajarnya saat ini, ditemani Ayah, kue-kue dari Ibu, juga tingkah Benard yang sibuk mencari perhatian.
Alrisha yang sial ada di sini.
“Bagaimana kalu aku bagian dari itu?”
Tidak ada jawaban yang kuterima. Victor hanya diam, dan aku semakin menenggelamkan kepalaku. Sebagian diriku memerintahkanku untuk mengeluarkan kekuatan, nekat melawan Victor dan kabur dari sini. Lantas begitu, setelahnya apa? Harus ke mana aku dan Jungwoo pergi? Apa jadinya kalau pilihanku salah? Keadaan Jungwoo saja sudah begini, dan sejujurnya, melawan Victor lebih mirip bunuh diri.
“Jenderal Elodoro,” sengaja kusebut nama dan gelarnya. “Dulu, kau bilang ingin mendengar cerita dari sisi lain, bukan? Setelah kau mendengarnya, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menghabisi si pendongeng?”
“Apa maksudmu?”
Kuangkat kepalaku, pasrah melihatnya. Bahkan di tengah penerangan seadanya, dua manik birunya itu begitu indah. Haruskah orang seperti ini yang akan mengakhiriku dan semua kesialan ini?
Selama berada di tanah asing ini, dialah orang pertama yang kutemui, yang membuat semuanya jadi lebih rumit, tetapi jadi orang yang paling sering berada di sisiku.
“Aku Penduduk Kerajaan Bulan, Victor. Bukankah kau seharusnya menyingkirkanku? Bukankah kaumku yang paling kalian benci?” Aku tersenyum kecil. “Setelah tahu semuanya, lalu apa? Apa yang akan seorang jenderal lakukan pada penyusup yang berhasil memasuki wilayahnya? Apa yang akan… kau lakukan padaku? Melenyapkanku di sini?”
Sesaat, hanya keheningan yang menyelimuti kami, tapi sedetik kemudian, aku merasakan kehangatan janggal juga jantung yang mendadak berpacu cepat.
Victor memelukku, tanpa kuduga berkata, “Satu-satunya yang kuinginkan hanya melindungi, Risha. Mana bisa aku melenyapkanmu.” []