Di Kerajaan Bulan, menjadi rajin merupakan sebuah keharusan. Aku mungkin harus mempertanyakan identitasku sekarang, atau mungkin Victor yang harus melakukannya. Karena, sungguh, tingkat kerajinan kami berada di tempat yang berbeda. Justru lebih cocok dia yang jadi warga Kerajaan Bulan ketimbang aku.
Awalnya, kupikir memang aku saja yang malas. Nyatanya, bukan itu masalahnya. Karena aku yakin, orang rajin sekalipun pasti lebih memilih beristirahat di saat tubuhnya tak mampu untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kurasa jenderal satu itu lebih pantas disebut gila kerja.
Pasalnya, baru sehari setelah dia dinyatakan sembuh—tidak sepenuhnya, percayalah, setidaknya perban sudah dibebastugaskan dari tubuhnya—dia langsung datang ke rumahku dan mengajakku meneruskan latihan yang sempat tertunda.
Ini mungkin kedengaran seperti alasan untuk bolos, hanya saja aku merasa tidak enak jika melatihku berarti memperparah keadaannya yang bahkan belum pulih. Sudah beberapa kukatakan bahwa aku akan tetap menjalani latihan seperti biasanya, tapi dia bersikeras.
“Tidak usah cari alasan, pemalas.” Begitu balasannya, tetap berdiri di belakangku sementara aku menarik tali busur untuk memanah.
Kuturunkan busurku dan menoleh ke arahnya, mendengus. “Pemalas? Kau saja yang terlalu rajin.”
“Kalau tidak rajin, aku akan jadi pengemis, bukan jenderal.” Dia benar sih. Namun bukan begitu maksudku.
“Demi Dewa, Victor, kau masih sakit. Ratu pasti akan mengamuk besar kalau tahu kau langsung melatihku.”
Dia langsung menggeleng. “Ratu tidak akan marah, tenang saja.”
“Oh, ya?” Aku pura-pura terkejut. “Kalau begitu kenapa kita latihan di hutan? Padahal biasanya kita menggunakan lapangan kerajaan. Jadi ini apa kalau bukan menghindar dari—”
“Risha, ayolah.” Victor dengan cepat memotong, menghela napas panjang dan memandangi seakan dia siap berceramah panjang lebar.
Aku mencebik, sekali lagi memosisikan busur dan menembaknya tepat di titik tengah yang Victor gambar pada pohon. Merasa hasilnya memuaskan, kembali aku menoleh ke arah Victor, mengangkat busurku. “Lihat, kan? Latihan yang kujalani sendiri tidak sia-sia. Kau tidak harus ikut. Aku tidak bolos, asal kau tahu. Ada Nenek yang selalu mengingatkan jadwalku.”
Dan Ratu, tentu saja.
Selama Victor sakit, dia mengirimiku pesan untuk berlatih sendiri sampai Victor berada dalam kondisi yang layak. Dia tak perlu memberitahuku, sebenarnya. Aku cukup sadar keadaan Victor karena melihatnya sendiri. Tapi, beda ceritanya kalau ada maksud lain di balik peringatan Ratu barusan.
Kalau sampai dia tahu, kira-kira mana yang akan membunuhku lebih dulu, tatapannya atau ….
“Masalah Ratu tak perlu kau pikirkan,” tukas Victor. “Lagi pula diam saja rasanya membosankan. Aku butuh menggerakkan tubuh sebelum berubah jadi patung setelah sembuh.”
“Jadi patung beberapa saat bagus untukmu,” balasku gemas. “Kau sendiri terlalu banyak bekerja belakangan ini, kan? Aku memang tidak tahu apa-apa soal tugas jenderal atau apa pun itu. Paling tidak aku tahu semua manusia butuh istirahat.”
Anehnya, Victor justru bergumam kecil sembari memanggut, kemudian menyodorkanku senyum jailnya. Alisnya ikut meninggi. “Kau benar-benar mengkhawatirkanku, ya?”
Kontan, aku melongo. “Hah?”
“Padahal kalau khawatir tinggal bilang saja.”
Aku menyesal sudah bertanya. Dia justru tertawa, kelihatan puas sebelum berjalan menjauh dan mengambil anak panah yang tertancap di pohon, mendekat kembali dan menyerahkannya padaku. “Apa?” Sengaja aku merespons tak ramah.
“Belakangan kau sepertinya sensitif, ya? Jadi lebih mudah diganggu.”
“Apa mengangguku jadi hobimu sekarang, Jenderal?”
Alih-alih membalas, dia justru mengacak puncak kepalaku, yang sayangnya tak bisa kuprotes begitu melihatnya tersenyum. Mungkin aku harus mulai berpikir kalau kecelakaan itu memberi efek lain untuk kepala Victor. Tidak biasanya dia jadi murah senyum begini. Dan kenapa juga aku harus berdebar karena itu?
Kuambil anak panah dari tangannya, kembali menggunakannya untuk latihan. Sekali lagi kutarik tali busurku. Namun begitu aku melesatkannya, muncul api-api kecil yang menghadang, membuat anak panahku melengkung dan terjatuh sebelum mengenai target.
“Kau apa-apaan sih? Aku kan mau latihan—”
“Ini juga latihan,” sahutnya cepat, bersedekap dengan ekspresi tak acuh. “Kau tidak akan mengira bisa selalu memanah tanpa ada yang menghalangi, kan?”
Kepalaku berputar keras memikirkan balasan, sialnya lagi-lagi Victor benar. Aku meringis melihat anak panah itu. Ternyata tidak hangus, melainkan menyublim. Aku jadi ingat ucapan Nenek soal pengendalian kekuatan.
“Kekuatan bukan hanya soal siapa yang bisa memunculkannya dalam skala besar, tapi menjadi tuan atasnya. Kau harus bisa mengatur seberapa banyak porsinya, untuk menyerang atau melindungi. Itulah gunanya kekuatan, Risha.”
Lupakan soal pengendalian kekuatanku, memunculkannya saja seperti berusaha mencari lilin di dalam gua dalam. Kalau yang Nenek katakan benar, kira-kira sekuat apa Victor?
“Senjata diciptakan untuk digunakan. Kau juga harus ingat bukan hanya itu yang kau miliki dan bisa kau gunakan,” kata Victor lagi. Kali ini tak ada lagi senyum jail maupun raut tak acuh. Hanya keseriusan yang tergambar pada wajahnya.
Menyadari perubahan situasi ini, aku menelan ludah, mengangguk kecil sebelum mengambil lagi panah di belakang punggungku, berdiri tegak untuk kembali menembak. Victor kembali memosisikan dirinya di sampingku. Meski hanya berdiri, dengan mudahnya api-api kecil itu kembali muncul, menghalangi pemandangan di depanku yang awalnya jernih dan jelas.
“Kekuatan itu milikmu, Risha, panggil di saat kau membutuhkannya,” kata Victor.
Kuhela napas dalam, berusaha fokus. Angin. Batinku dalam hati. Tolong buat jalanku kembali terbuka. Terus-menerus permintaan itu kusebut dalam hati. Aku tidak tahu apakah itu berhasil atau tidak, tetapi begitu melihat api yang Victor buat seperti tertiup, kumantapkan hati untuk melepaskan anak panah selagi memanggil angin.
Api itu kelihatan semakin besar, membuatku menutup mata. Aku mungkin gagal—
“RIsha, awas!”
Tanganku ditarik begitu saja, dan begitu membuka mata, tahu-tahu aku sudah berada dalam rengkuhan Victor. Api yang sebelumnya kecil kini berada di sekitar kami, seakan menyelimuti kami. Aku ingin bertanya, sayangnya sebelum sempat membuka mulut, kulihat beberapa anak panah meluncur ke arah kami, sebelum akhirnya terbakar oleh api yang Victor buat.
Apa ini bagian dari latihan juga? Lantas kenapa Victor kelihatan terkejut bahkan bersikap sespontan ini? Atau ini simulasi?
“Itu Jenderal Victor!”
Dari balik api, bisa kulihat beberapa sosok muncul, dengan cepat menunduk hormat. Api di sekitar kami langsung menghilang bagai tertiup angin, dan Victor mendorongku menjauh, walaupun tanganku masih berada dalam genggamannya. Kuat sekali, sungguh. Aku nyaris meringis, hanya terlalu takut untuk mengeluarkan suara.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya ketus. Oh, tidak. Dia bahkan marah.
“Maafkan kami, Jenderal.” Salah satu dari orang-orang itu bersuara. Ternyata mereka prajurit. “Kami mengejar buronan sampai ke sini, hanya saja kami kehilangan jejaknya.”
Buron, katanya? Tunggu dulu.
Kualihkan perhatianku ke arah Victor, mendapati rahangnya yang mengeras meski tak kelihatan terkejut. “Terakhir ada di mana?”
“Dia masuk ke hutan ini, ke area Barat. tapi kelihatannya dia tidak bersenjata. Dia mengenakan tudung cokelat.”
Bukankah Ayah dan kumpulannya mengenakan tudung berwarna itu juga?
Aku menggigit bibir bagian dalam, hati-hati memandangi Victor, berharap bisa membaca sesuatu. Firasatku benar-benar buruk sekarang. Aku ingin tahu apa yang terjadi, tapi tak ingin membayangkan apa pun jika itu ada hubungannya dengan Ayah. Jika sesuatu terjadi, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku tetap bungkam? Atau aku harus—
“Itu orangnya!”
Teriakan salah satu prajurit seperti tali yang berhasil menarik jantungku keluar. Sesuatu di dalam mulutku terasa asin dan amis, tetapi bibirku tertutup rapat. Seluruh prajurit berdiri, bersiap dengan senjata masing-masing, bahkan mulai menggunakan kekuatan masing-masing sementara pandangan tertuju pada tebing yang tak jauh di belakang kami, dekat sungai. Butuh beberapa detik hingga mataku bisa menangkap sosok bertudung cokelat yang kuyakini menjadi incaran mereka.
“Victor,” panggilku pelan. “Itu… siapa?”
“Entah. Yang jelas dia harus ditangkap.”
Itu sama sekali bukan jawaban yang kuharapkan.
“Kalian akan membunuhnya?”
Kalimat itu meluncur saja dari mulutku, dan begitu Victor menoleh, aku tahu seharusnya aku tak mengatakan hal itu. Tatapannya semakin sulit diartikan, dan untuk beberapa saat aku merasa pikiranku ditelanjangi.
Tolong jangan bilang Victor diberikan kemampuan untuk mebaca pikiran, karena itu hal terakhir yang aku ingin dia lakukan dalam keadaan seperti ini.
“Semua tergantung pada orang itu,” kata Victor, telunjuknya kini mengarah pada ujung tebing, tempat sosok itu berdiri, hingga di detik berikutnya tebing itu runtuh, sosok itu jatuh ke sungai. Spontan aku berlari mendekat, tapi tak bisa menyelamatkan orang itu dan hanya bisa melihat wajahnya yang dilumuri darah terjun ke bawah.
Itu… Jungwoo. []