Beberapa hari ini semuanya terasa kosong dan jauh.
Tidak ada kelas dan latihan yang harus kuikuti karena Victor yang masih dalam proses pemulihan, keamanan di kerajaan jadi lebih ketat sehingga tugasku menjaga Jordanius dialihkan pada beberapa pengawal, Nenek semakin sibuk di kerajaan, dan aku hanya bisa diam di rumah, menunggu malam tiba untuk melapor pada Jungwoo, suruhan Ayah, untuk melapor keadaan. Sayangnya tidak banyak yang bisa dilaporkan karena aku tak berinteraksi langsung dengan Jordanius.
Rasanya seperti pengangguran.
Yah, aku merindukan waktu yang banyak untuk bisa beristirahat, namun yang terjadi saat ini tak bisa lantas membuatku tak peduli. Ada sesuatu yang terjadi di Kerajaan Matahari. Dan berdasarkan gosip-gosip dari pada pelayan—untuk saat ini hanya buah bibir saja yang bisa kujadikan pegangan informasi—ada penyusup yang masuk dan mulai memburu jenderal satu per satu.
Awalnya aku menduga yang dimaksud adalah kelompok Ayah. Tapi Jungwoo bilang mereka bahkan bersembunyi saat ini, sama sekali tak melakukan pergerakan kecuali memantau dan berkomunikasi denganku.
Kalau begitu siapa?
Tiap pertemuanku dengan Jungwoo tak pernah lebih dari lima menit, biasanya pun kurang. Dikarenakan pertemuan yang sembunyi-sembunyi ini, alasanku tak lebih dari cari angin atau pergi ke kamar mandi. Semuanya tak boleh terlalu lama, atau Nenek akan memanggilku dan resiko semua ini terbongkar akan lebih besar.
Sebenarnya aku merasa Nenek sebaiknya diberitahu soal ini, sayangnya Ayah juga pernah bilang bahwa semakin banyak orang dilibatkan, semakin banyak nyawa yang terancam. Aku mungkin harusnya merasa tersinggung karena rencana Ayah pun membahayakanku, apalagi soal pengawasan si Putra Mahkota. Tapi, keberadaanku sudah terancam sejak awal berada di sini. Keikutsertaanku dalam rencana semata-mata sebagai jalan keluar.
Setidaknya aku ingin memercayainya begitu.
"Kalau begitu, kurasa ini pertemuan terakhir kita," kata Jungwoo setelah kami bicara. Obrolan kami sekarang relatif singkat karena tidak banyak kabar baru yang bisa kusampaikan.
Aku mengangguk, memerhatikannya menaikkan tudung untuk menutupi diri. "Hati-hati."
"Terima kasih." Jungwoo kemudian mengambil beberapa langkah ke depan, namun tak lama dia berbalik. Aku tak bisa melihatnya jelas karena kegelapan pepohonan sudah menutupinya, hanya saja suaranya terdengar jernih ketika berkata, "Tuan Kane bilang dia merindukanmu. Tak bisa ditulis di surat. Kami tak ingin meninggalkan jejak apa pun."
Tanpa sempat membalas, Jungwoo sudah menghilang, dan aku hanya bisa tersenyum. Begitu juga sudah cukup. Paling tidak bukan hanya aku yang merindukan Ayah.
Sambil merenggangkan tangan, aku berjalan kembali ke dalam kastil, langsung menuju ke kamar. Keadaan sekitar sudah sepi, mengingat sekarang memang sudah cukup larut. Sengaja kunyalakan lampu lebih banyak dan membuka jendela dekat meja belajar. Sejak kemarin, aku berhasil meminjam Eclipse Diary dari kantor Ayah. Nenek sempat heran, tapi begitu aku bilang tahu bukunya dari Jordanius, dia tak bertanya lebih lanjut dan memperbolehkanku membawanya ke kamar.
Kendati tidak begitu tebal—setidaknya bila dibandingkan dengan koleksi buku di Kerajaan Bulan, aku jadi sadar kaumku maniak buku, sungguh—aku tak bisa langsung menghabiskannya karena banyak istilah yang membuatku bolak-balik membuka kamus bahasa Kerajaan Matahari. Namun dari beberapa cerita yang k****a, apa yang Jordanius katakan memang benar. Kurang lebih isinya cerita anak-anak, menceritakan dua kerajaan yang hidup berdampingan. Kerajaan Matahari dipercayakan sebagai tentara, sementara Kerajaan Bulan ditugaskan sebagai tongkat pemerintahan. Bahkan di cerita yang terakhir k****a, dua kerajaan itu bermula dari dua orang yang saling mencintai, lantas mencuri perhatian dewa dan memberi mereka kekuatan.
Memang utopis sekali.
Semuanya terdengar seperti cerita anak-anak—nyaris, kecuali satu cerita paling akhir. Sayangnya aku hanya bisa puas dengan ilustrasi yang tersisa, karena sisanya sobek. Yang membuatku lebih penasaran, judulnya ditulis dengan huruf yang tidak bisa k****a. Aku bahkan ragu jika ini tulisan. Bisa jadi ukiran, namun firasatku mengatakan deretan ini punya makna tersendiri. Begitu duduk di meja belajar, kuambil buku itu dan membawanya mendekat ke wajah, memerhatikannya lebih dekat.
"Aku pikir selama kelas kosong ini kau hanya makan dan tidur, Risha."
Suara itu spontan membuatku menjatuhkan buku, beranjak dari kursi. Hampir saja aku menjerit minta tolong, tapi di jendela sudah ada sosok familiar yang memandangiku dengan mulut mencebik, seakan mencoba menilai apa yang sedang kulakukan.
Itu Victor.
"Apa yang kau lakukan di sini, bodoh?!"
"Bosan," balas Victor santai. Aku membelalak horor melihatnya masuk lewat jendela, satu kakinya yang berbalut perban mendarat lebih dulu. Justru aku yang merasa ngilu dengan keadaannya yang begini.
"Victor, serius sedikit!" Aku mendekat dan langsung menyelinap ke salah satu lengannya, menuntun laki-laki yang jauh lebih besar dariku ini untuk duduk di tempat tidur. "Kau gila, ya?"
"Sebetulnya aku bisa jalan sendiri. Aku bukannya lumpuh."
Mendadak aku gemas sendiri. Bisa-bisanya dia begini, ya ampun! "Kau tidak sadar kakimu itu bagaimana?" Aku menyalak berang. "Tabib bilang banyak tulangmu yang patah, Vic. Jangan buat—"
"Oh," sela Victor sembari mengangkat alis, "kau khawatir padaku, ya?"
Jika saja dia tidak benar-benar sakit, aku ingin membuangnya kembali ke jendela kamarku, sungguh. Tapi jika dia sehat, mungkin aku yang akan diperlakukan begitu.
Tak ingin menjawab, aku mendengus dan beranjak dari tempat tidur, memunguti buku yang kujatuhkan tadi.
"Kediaman Oriane bukan penampungan orang bosan, Jenderal Elodoro," kataku tanpa menoleh ke arahnya. "Kau tidak bisa datang ke sini karena alasan sepela begitu."
"Jangan khawatir, aku datang bukan hanya karena bosan kok."
"Lalu?"
Victor sempat bergumam singkat, kemudian menatapku sambil tersenyum. "Aku merindukanmu."
Spontan aku berbalik, mengepalkan tangan. Dorongan untuk menonjok mulutnya itu muncul di benakku, namun di saat yang sama aku merasa terbakar dari dalam. Kurapatkan bibir selagi berusaha mengatur napas.
Dia tidak kemasukan roh dewa atau semacamnya kan? Bukan begini Victor Elodoro—Victor—yang aku kenal. Dia harusnya cuek, melemparkan komentar pedas dan sindiran tanpa pakai hati, bukannya membuatku berdebar dengan pengakuan singkat juga senyuman begini.
Ini tidak benar.
"Bercanda," sambungnya tiba-tiba.
Aku benar-benar ingin membunuhnya. Bisa tidak sih dia hilang saja? b******k!
"Lebih baik kau pergi," balasku tak acuh. "Atau aku akan minta Nenek menghubungi Ratu. Dia pasti mencarimu—"
"Aku tidak ingin bertemu Ratu," tukasnya cepat. Dia justru berdiri dan melangkah mendekat. Ingin menghentikan pun, kenyataannya sorot mata serius itu membuatku terpaku. "Aku ke sini untuk bertemu denganmu. Sudah jelas, kan?"
Lagi-lagi, sensasi seperti di ruang perawatan tempo hari muncul. Dia baru saja membuatku sebal, dan aku tak ingin memberikan kesan bahwa dia bisa mempermainkanku. Tapi itu tak semudah yang kubayangkan.
Sejak kapan Victor kelihatan memukau begini, ya? Kenapa juga aku jadi begini?
"Kau... kau mau apa?" Meski terbata, aku berhasil mengucapkannya secuek mungkin sambil bersidekap.
"Di sini ada ruang atap, kan?" Aku mengernyit tapi mengangguk. Jemi pernah mengajakku dan bercerita di sana. "Kalau begitu kita ke sana saja."
"Ke sana? Untuk apa?"
Seakan pendapatku tak berguna, Victor menggamit tanganku begitu saja, membawaku keluar. "Malam ini kita bisa melihat Bulan lebih jelas. Makanya, ayo."
*
Tak ada yang lebih tiba-tiba dari permintaan Victor ini.
Setelah masuk seperti pencuri ke kamarku—siapa juga yang mau masuk ke kediaman orang lain melalui jendela sementara pintu tersedia?—jenderal satu ini mendadak bersikap seolah tengah berada di rumah sendiri, berjalan mendahuluiku yang jelas-jelas pemilik kastil.
Well, bahasaku yang itu terlalu berlebihan sih. Tapi yang jadi cucu Nenek di sini aku kan, bukan dia? Namun rasanya justru aku yang jadi tamu.
Banyak kalimat-kalimat protes yang ingin kulemparkan sebenarnya. Victor juga pantas mendapatkannya. Tetapi sebelum sempat mengucapkan apa pun, dia sudah menggenggam tanganku dan lebih dulu bicara.
"Bulannya terlihat. Kali ini penuh, ya?"
Purnama. Itu istilah tepatnya. Hanya saja aku tak pernah melihat bulan seindah ini, bahkan di tempat asalku sekalipun. Melihat bulan bukanlah hal istimewa di sana, tapi di sini berbeda sekali.
Ini indah. Sungguh. Cahaya putih kebiruan menyelimuti lingkaran itu, memberi sedikit semburat warna di tengah langit gelap.
Tapi kenapa rasanya tidak adil, ya? Penduduk Kerajaan Matahari bisa meihat bulan, tapi satu-satunya yang penduduk Kerajaan Bulan ketahui soal matahari hanyalah penerangan utama. Wujudnya sama sekali tak terlihat, dan langit selalu kosong di siang hari, hanya awan yang mengisi.
"Kau bisa melihatnya lebih jelas Sungai Gerhana," kata Victor sambil menoleh ke arahku. "Dan di sana jauh lebih indah."
Sungai Gerhana. Itu tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Dan berdasarkan Eclipse Diary, itu merupakan tempat di mana sepasang manusia bertemu dewa dan mendapatkan kekuatannya.
"Ada buku yang menceritakan itu, kan?"
"Tempat matahari dan bulan bertemu, ya." Victor mengimbuhi. "Gosipnya, penduduk Kerjaan Matahari bisa bertemu dengan penduduk seberang di sana. Itu tempat damai."
Aku berusaha untuk tidak bicara banyak dan hanya memanggut. Itu bukan gosip, setidaknya dari pengalamanku. Karena aku penduduk seberang yang Victor maksud.
"Konyol, tapi aku pernah berharap bisa menemukan penduduk Kerajaan Bulan di sana," ucap Victor lagi. Nada bicaranya memang santai, namun mendengarnya seperti menjetik kepanikan bagiku.
"Kenapa kau ingin begitu?" Sebisa mungkin aku bersikap seperti biasa, sayangnya aku tak bisa terus menatap Victor.
Dia seorang jenderal, kan? Melihat tugasnya, keamanan kerajaan menjadi salah satu urusannya. Berkeliling dan mengawasi mungkin pekerjaannya hari itu. Tapi kalau diingat-ingat, dia juga memintaku merahasiakan pertemuan kami di Sungai Gerhana.
Tempat terlarang. Itu yang Jemi bilang, dan tidak ada hal apa pun yang bisa didapatkan di sana.
Lantas apa tujuan Victor untuk datang—
"Aku ingin mendengar sisi lain permusuhan ni dari sudut pandang Kerajaan Bulan."
Itu sama sekali tidak kuduga. Kupandangi Victor, mencoba mencari tanda-tanda sarkasmenya. Mungkin saja dia bercanda. Satu-satunya orang yang tidak membenci penduduk Kerajaan Bulan hanya Nenek, itu pun karena dia memiliki alasan—anaknya; Ayah.
"Alasan bodoh, aku tahu." Victor kembali bersuara, kali ini tatapan kami benar-benar bertemu, dan aku terperangkap. Kurasakan tangannya sedikit bergerak, kali ini jari kami pun bertautan. "Mungkin kau benci mereka, hanya saja aku merasa ada alasan lain di sini. Mungkin saja kerajaan masing-masing terlalu egois. Kebanyakan perang muncul karena tak ada yang mau mendengar."
Rasanya seperti bukan melihat seorang Victor, apalagi si Jenderal Victor Elodoro. Sejak melihatnya dengan jubah dan peralatan perang, aku selalu membayangkannya sebagai sosok ambisius yang ingin memenangkan banyak hal. Tapi ini? Sorot matanya seakan menyiratkan keletihan akan perang.
Sebenarnya kau itu orang seperti apa, Victor?
"Menurutmu apa itu mungkin?"
"Apanya?" Aku balik bertanya.
"Kalau kita dan Kerajaan Bulan bisa bersatu."
Entah apa yang kupikirkan ini adalah jawaban tepat atau tidak, namun aku mengangguk sambil merasakan genggaman tangan kami mengerat. Tatapan kami bersirobok sekali lagi, membuatku bisa melihat manik biru tua itu. Kesan mengecam seolah tanggal dari sana, digantikan secerca harapan.
Aku merapatkan bibir kemudian berkata, "Kuharap begitu."
Karena jika yang berbeda pun bisa bersatu, mungkin... mungkin saja... kami juga bisa. []