Seisi istana heboh begitu menemukan Victor yang terkapar di rerumputan sekitar perpustakaan kerajaan. Begitu aku dan Jordanius turun ke lantai satu, para pelayan dan tabib sudah membawanya masuk dengan tandu.
Ringisan dan napas tertahan seakan bergema. Aku tidak bisa melihat bagaimana keadaannya, tapi warna merah di rumput sudah cukup menjelaskan bahwa Victor tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Semuanya panik. Termasuk Jordanius. Atau mungkin dia yang paling panik dibanding semua orang yang kulihat. Dia sempat mau mengikuti para tabib, namun pengawal mulai berkumpul dan meminta Jordanius untuk kembali ke dalam istana. Mungkin itu semacam prosedur pengamanan pangeran. Sebelumnya aku sempat ikut bersamanya, tetapi karena Jordanius diarahkan ke kamar pribadi, aku tidak bisa masuk lebih dalam. Dan setelah berpapasan dengan Ratu, aku diminta untuk menemaninya ke ruang penyembuhan, tempat Victor ditangani.
Tentu saja, menolak tidak ada dalam opsi. Aku bahkan tidak memiliki apa pun untuk dipilih.
Aku hanya bisa mengikutinya-anehnya hanya disuruh duduk diam di kursi kosong yang tersedia dekat tempat tidur si jenderal, sementara Ratu terus mengarahkan pelayan dan tabib dengan kalimat berawal 'bawakan Victor'.
Melihat sikap Ratu yang sarat akan kecemasan membuatku jadi bertanya-tanya. Kenapa justru dia lebih peduli pada seorang jenderal ketimbang anaknya sendiri? Perlakuannya jauh berbeda dengan yang dilakukan pada Jordanius.
Aku menggeleng, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang melintas. Kehadiran Ratu di sini mengancam, dan siapa yang tahu kalau dia bisa membaca seseorang semudah membaca buku terbuka?
"Untuk sekarang, tugasmu menjaga Victor. Aku akan kembali nanti malam." Itu kalimat terakhir yang Ratu ucapkan sebelum dia pergi bersama seorang dayang yang datang menjemput, dan aku sempat mencuri dengar sedikit tentang "Padaku mencarimu, Ratu" dalam bisikan perempuan itu.
Bersamaan dengan kepergian Ratu, para tabib dan pelayan pun mulai meninggalkan ruangan satu per satu, menyisakanku dan Victor yang terbaring. Aroma tumbuhan herbal yang ditumbuk dan dibakar di dupa menyelimuti sekitar, dan meskipun tidak tahu banyak, aku yakin ini berguna untuk menenangkan Victor.
Melihat keadaannya saat ini membuatku merapatkan bibir, merasa kengerian menegakkan bulu-bulu halus di tengkuk. Tak pernah sekalipun aku melihatnya begini. Di mataku, dia selalu muncul sebagai sosok angkuh menyebalkan tetapi kuat. Ketangguhannya tak bisa kubantah, terlebih ketika zirah merah menyala yang senada dengan kekuatan apinya.
Namun saat ini, Victor bukan mengenakan baju tempur, melainkan perban yang menutupi luka di d**a telanjangnya, melilit di kepala serta lengan dan kakinya. Rasanya seperti melihat orang lain.
"Risha?"
Aku terperenyak mendengar suaranya, spontan berdiri dan mendekati tempat tidur. Mata Victor membuka pelan dengan ringisan kecil terdengar selagi dia menoleh. Buru-buru aku menggeleng, ingin menyentuhnya, tapi langsung menarik tangan begitu sadar tindakanku mungkin hanya akan memperburuk keadaan.
"Jangan banyak bergerak dulu," kataku panik. "Tabib bilang tulang rusukmu banyak yang patah, jangan membuatnya makin parah."
"Pantas sakit." Victor menelengkan kepala ke kiri dan memandangiku. Sorot matanya Seakan memperlihatkan kesakitan yang dia hadapi, namun suaranya tetap tenang ketika dia melanjutkan, "Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi."
"Kau jatuh dari perpustakaan lantai tiga." Entah memberitahu hal ini akan membuat semua lebih baik atau tidak. Tapi tidak ada juga kan aturan untuk tidak boleh jujur
"Dari perpustakaan?"
"Atau mungkin lebih tinggi lagi," sahutku sambil mengedik. "Aku hanya melihatmu dari jendela. Dengan luka separah ini, tabib bilang mungkin kau terkena perangkap sihir atau semacamnya."
Dan sebenarnya tabib banyak bicara, sayangnya ingatanku tak cukup bagus untuk menyebutkan tiap detailnya, pun tak begitu paham dengan penjelasannya.
"Kau tidak ingat apa pun? Apa yang kau lakukan terakhir atau semacamnya?" Aku spontan berdiri, keingintahuanku agak tak terkendali.
"Tidak." Victor menggeleng lemah. "Yang kuingat terakhir, aku berniat ke bagian penempaan untuk melihat zirah tempurmu."
"Untuk apa kau ke ...." Mataku membulat begitu menyadari sisa kalimat Victor. "Zirah untukku?"
"Kau butuh itu untuk latihan selanjutnya," balasnya sambil mengedik. "Aku tak akan membiarkanmu bolos latihan hanya karena zirahnya belum siap."
Aku bahkan tak tahu bagaimana harus merespons yang satu itu. Bibirku gemas ingin bilang tindakannya bodoh-apalagi dengan cara bicaranya yang kelewat santai barusan-tapi di sisi lain aku merasa terlibat.
Kalau Victor tidak mengurus zirahku hari ini, mungkin saja... mungkin ....
"Jangan kebanyakan berpikir, kau sendiri tahu kemampuan otakmu sampai mana."
Suaranya kembali terdengar, dan kalimatnya juga menyebalkan. Namun dia tak memberiku kesempatan untuk membalas sedikit pun. Tiba-tiba tanganku ditarik mendekat, dan dalam sepersekon kemudian, kusadari jarak kami menipis, begitu dekat, hingga mulut kami bersentuhan.
Entah siapa yang memulai duluan, semuanya kabur, seakan kabut baru saja menutupi kepalaku. Kupejamkan mataku kuat-kuat, merasakan bibir lembutnya, jemarinya menyentuh rahangku sebelum mendorong ke tengkukku.
Manis. Berdebar. Sesaat, semuanya terasa benar.
Kami masih berada dalam posisi yang sama hingga Victor menarik diri lebih dulu.
"Mau aku pergi atau tidak untuk mengurus zirahmu, tidak ada jaminan kalau aku aman," ujar Victor. "Belakangan ini kerajaan memang punya masalah. Statusku mungkin jadi salah satu alasannya."
Aku mundur sedikit. Sekarang aku mekin malu. "Kau bisa membaca pikiranku, ya? Berhentilah, itu mengerikan."
"Kau yang terlalu mudah dibaca," ejek Victor. Tapi tak lama, tatapannya terasa lebih serius, mengalihkan pandangan pun aku tak bisa. "Tetaplah di sini, Risha Oriane. Temani aku."
Dia menyebut namaku-nama lengkapku. Dan kalimatnya itu terasa magis, aku tak bisa menolaknya.
Bukan tak bisa. Tak ingin.
"Itu tugasku sekarang," jawabku tak acuh, tapi anehnya Victor justru tersenyum, mengangguk puas sebelum memejamkan mata. Di beberapa detik berikutnya, embusan napasnya terdengar kasar bersamaan dengan dadanya yang diperban naik turun.
Dia seorang jenderal, dia tangguh dan jauh lebih kuat dariku. Hanya saja melihatnya dengan keadaan yang begini membuatku ikut cemas, seakan-akan dia tak lebih dari laki-laki rapuh yang perlu dilindungi.
Apa ini juga yang dirasakan Ratu sampai berbuat sebegitunya untuk Victor? Dan kenapa aku tidak suka, ya?
Kusingkirkan pikiran konyol itu, menoleh ke arah lain. Terlalu banyak yang terjadi hari ini, padahal keinginanku hanya ingin menjalani hari biasa. Matahari bahkan belum terbenam, dan ini hari pertamaku untuk melapor pada Ayah soal Pangeran Jordanius dan semua yang terjadi.
Namun ketimbang itu, yang bisa kupikirkan saat ini hanyalah Victor.
Kuharap dia tidur nyenyak dan tak punya pendengaran super untuk mendengar jantungku yang berdentum keras karena ciuman kami barusan.
*
Tepat jam 8 malam, Nenek datang ke istana untuk menjemputku. Sebelumnya aku sempat berpikir akan bermalam di sini, tapi ternyata Ratu pun ikut memberi perintah agar aku pulang. Kelihatannya dia ingin punya waktu lebih dengan Victor.
Hanya asumsiku sih. Lagi pula, memangnya kenapa kalau mereka berdua? Seorang ratu dan jenderal, rasanya perselingkuhan begitu bukan hal baru.
Tapi sore tadi dia sempat ....
Aku menggeleng, berusaha menyingkirkan pemikiran konyol itu. Tidak ada apa-apa yang terjadi, dan bukan berarti semua itu istimewa bagi Victor.
Tapi itu pertama kalinya seseorang menciumku.
Oh, cukup sudah semua per-tapi-an ini.
Selama di kereta, Nenek tidak bertanya apa pun tentang kejadian hari ini, mungkin sudah mendengar dari penjaga atau bahkan Ratu sendiri. Tidak banyak obrolan yang terjadi di antara kami, tetapi dia memegang tanganku, seolah mencoba mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dan sejujurnya, aku suka sikapnya yang seperti ini.
Sekitar 20 menit perjalanan, kami pun sampai di kediaman Oriane. Sang kusir turun, membukakan pintu dan menjulurkan tangan untuk membantuku turun, kemudian disusul Nenek di belakang.
"Perlukah aku meminta yang lain menyiapkan air hangat untukmu, Risha?" tanya Nenek.
Ide untuk mandi malam sebetulnya bukan hal familiar bagiku, tapi mungkin aku butuh. Hari ini melelahkan, dan ada beberapa hal dalam kepala yang ingin aku ubah jadi uap supaya menghilang-termasuk Ratu, Victor, dan juga ciuman ....
Demi dewa, aku bisa gila jika mengingat itu semua!
"Kurasa mandi ide yang bagus." Aku mengangguk. "Kalau boleh, aku ingin-"
Alrisha Kane. Kau bisa mendengarku?
Sesuatu bergema dalam kepalaku. Aku segera menoleh ke sekitar, namun tak menemukan siapa pun.
"Ada apa, RIsha?"
Tenang. Aku suruhan Tuan Kane. Jangan panik. Ada yang harus kusampaikan. Suara itu kembali bicara dalam kepalaku, mengantarkan sensasi aneh. Aku merinding.
"Risha?"
Mendengar suara Nenek, aku memusatkan perhatianku kembali padanya dan menggeleng. "Ah, tidak apa-apa, Nek. Hanya merasa di sini jadi agak dingin."
Bohong, tentu saja. Bahkan sekalipun Kerajaan Matahari dingin, suhu di Kerajaan Bulan bisa lebih dingin. Ini tidak seberapa.
"Jadi kau mau mandi?" Aku mengangguk, dan Nenek tersenyum. Kurasa kebohonganku tak terendus. "Kalau begitu Nenek akan meminta kepada para pelayan. Kau tunggu saja di kamarmu."
"Baik, Nek. Terima kasih."
Dengan itu, Nenek langsung melangkah masuk ke dalam koridor. Awalnya aku mengambil beberapa langkah untuk terus masuk, tapi begitu sosok Nenek menghilang, aku segera berlari, berusaha tidak terlalu berisik dan mencari di sekitar pohon yang mengelilingi rumah.
"Di sini."
Aku mengikuti suara itu, dan ternyata benar. Ada seorang laki-laki menunggu di balik pohon. Asing, sebenarnya, tapi aku mengenali pakaiannya-persis seperti Ayah. Mungkin ini seragam mereka atau semacamnya.
"Maaf aku terlalu lama," kataku. "Ada sedikit masalah di kerajaan. Apa kita akan pergi sekarang?"
Laki-laki itu menggeleng. "Tidak perlu. Tuan Kane bilang sebaiknya laporan tidak dilakukan secara langsung. Untuk saat ini aku yang akan datang untuk menerima laporan darimu."
Eh? Tidak perlu?
"Apa yang terjadi? Bukannya Ayah bilang sebaiknya dua malam sekali aku pergi ke markas?"
"Seungwoo menghilang," kata orang itu. "Posisi kami nampaknya terancam. Bisa jadi juga ...."
Tanpa mendengar lanjutan kalimatnya, aku sudah tahu maksudnya. Itu sebabnya laporan kali ini hanya disampaikan lewat surat, membuatku tak perlu melapor langsung.
itu berarti aku juga terancam. Dan Ayah yang mengirim orang ini untuk memberitahu, bukan begitu? []