Akan kunobatkan hari ini sebagai hari paling memusingkan dalam hidupku.
Bukannya aku tak paham akan tugas yang diberikan, Ratu sudah cukup menjelaskannya. Tapi Jordanius... aku betul-betul tak paham isi kepalanya.
Lima jam lebih aku berperan seperti pencuri, memilih jarak aman untuk bersembunyi danmemastikan Jordanius masih berada dalam jangkauan penglihatanku. Untungnya surat dari Ratu cukup membantu, membuat para pelayan kerajaan tidak banyak berkomentar karena penjelasan yang aku perlu katakan hanyalah, "Perintah Ratu."
Aku mungkin sudah dihabisi jika tidak membawa bukti, dianggap melakukan makar atau semacamnya. Lagi pula siapa juga yang berniat membunuh pangeran di kandangnya sendiri? Aku masih sayang kepalaku.
Sebenarnya kalau dilihat-lihat, Jordanius tak membutuhkan perlindungan. Setidaknya bukan dari pemula sepertiku. Selama mengamati beberapa latihan yang dia ikuti, aku sadar bahwa kekuatanku jauh di bawahnya. Hanya dalam satu gerakan tangan saja Jordanius berhasil menciptakan petir-petir tajam yang menyilaukan mata, bahkan dari tempatku berdiri.
Tidak banyak hal yang Jordanius lakukan. Setelah latihan, dia diam di taman dengan berbagai makanan, menghabiskan kurang lebih satu jam di sana, kemudian pindah ke perpustakaan—tempatku berada sekarang.
Sejauh ini tak ada bahaya sama sekali. Jika ada pun, itu dia.
Aku jadi mempertanyakan tugasku, untuk yang ke sekian kalinya. Jordanius itu pangeran, dan dia lebih kuat dariku. Lantas kenapa tugas krusial begini justru diberikan padaku? Apa statusku sebagai anak seorang jenderal berpengaruh?
Namun tak peduli seberapa sering pertanyaan itu berputar dalam benakku, tak satu pun jawaban kudapat. Tugas tetaplah tugas, dan aku harus melapor pekerjaanku pada Ratu nanti.
Jangan kira aku berharap ada hal spektakuler terjadi sampai membahayakan nyawa pangeran. Aku tak ingin memberatkan tanggung jawab. Hanya saja, aku bingung apa yang harus kulaporkan nanti. Aku yang sembunyi-sembunyi? Jordanius yang latihan seperti biasa, makan apel, nanas, juga manisan, sebelum menghabiskan sisa waktunya di perpustakaan? Aku tak yakin itu laporan yang Ratu inginkan.
Kertas di hadapanku masih bersih. Menggesernya ke samping, aku beranjak dari meja untuk memeriksa Jordanius di lantai bawah. Terakhir yang kulihat, ada dua tumpuk buku yang tersedia di mejanya. Tapi sekarang tidak ada. Lantai satu kosong. Tidak ada siapa pun—
"Mau sampai kapan kau membuntutiku?"
Spontan aku berbalik, nyaris menjerit. Seharusnya dia ada di bawah, bukannya di hadapanku sembari bersedekap. Matanya memicing penuh ancaman.
Ini tidak baik.
"Apa ini perintah Ibu juga?" Jordanius kembali bertanya dengan nada mendesak.
"A-aku ditugaskan untuk menjagamu," jawabku terbata. Perutku terasa melilit hanya dengan tatapannya. Dia tidak akan menusukku dengan petir-petir buatannya seperti tadi pagi, kan?
Alis Jordanius membusur, namun tak lama dia mendengus. "Aku tidak butuh penjagaanmu."
Meski ingin membantah, aku tahu dia benar. Dia tak butuh perlindungan apa pun, setidaknya bukan dariku.
"Tapi itu tugasku." Aku menjawab lebih hati-hati. "Aku tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti—"
"Aku tidak butuh apa pun darinya!" sambarnya cepat, aku sampai terperanjat. "Aku tak butuh pion-pion Ibu berada di sekelilingku!"
Suara tingginya menggertak, membuatku mengambil langkah mundur. Kenapa dia jadi lebih marah sekarang?
Aku bicara apa adanya. Semua ini memang perintah Ratu. Bukan keinginanku untuk datang ke sini. Semua ini karena ibunya itu, dengan pemikiran yang tidak kumengerti sampai memberikanku pekerjaan begini. Jika diberikan kesempatan menolak, aku sudah melakukannya dari lama. Aku sama sekali tak ingin terlibat dengan orang aneh yang sewenang-wenang hanya karena statusnya.
Lagi pula apa juga yang dia maksud sampai mengasosiasikanku dengan Ratu?
Oh, sungguh. Persetan dengan Pangeran Jordanius ini!
"Aku juga tidak sukarela mengajukan diri untuk menjagamu!" Aku menyalak berang. "Aku sama sekali tidak paham maksudmu soal pion Ratu atau apa pun itu, tapi aku jelas bukan salah satunya. Asal tahu saja, aku juga terjebak dan tidak bisa menolak untuk berada di sini. Jika kau mau aku berhenti menjagamu, berikan aku sesuatu yang lain untuk dikerjakan! Aku juga lelah harus memata-mataimu seharian, tahu!"
Omelan itu meluncur begitu saja bahkan sebelum sempat kupikir ulang. Mungkin mengatakan hal itu merupakan ide buruk. Terlepas dari sopan atau tidaknya, dia bisa menyuruhku pergi dan melupakan tugasku, atau memberi perintah yang akan menggagalkan pekerjaanku. Siapa yang tahu sore nanti Ratu justru meminta kepalaku sebagai gantinya.
Aku belum memikirkan kesiapanku untuk mati sore ini.
"Kalau begitu temani aku."
Eh? Aku hanya bisa menelengkan kepala dan mengerjap. "Tu-tunggu. Maksudnya?"
"Kau dengar aku." Jordanius membalas santai. Kedua lengannya kembali ke sisi tubuh selagi dia mengikis jarak di antara kami. Bagaikan sihir, tatapannya berubah. Tidak ada lagi ancaman di sana, tetapi sesuatu yang lain—sesuatu yang membuatku merasa kosong ketimbang takut. "Aku butuh teman makan siang," katanya lagi. "Kau pernah menemaniku juga sebelumnya."
Dari semua tebakan dalam kepalaku, tak sedikit pun terbersit permintaan ini. Kurapatkan bibir, mencoba menimang. Tapi sebelum sempat mengatakan apa pun, Jordanius meraih tanganku begitu saja.
"Tidak ada penolakan."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Jordanius membawaku turun ke lantai bawah perpustakaan tanpa melepaskan tanganku.
Tindakannya memang mengejutkan, perubahan yang sama sekali tidak kuduga. Namun entah kenapa, hangatnya genggaman tangan laki-laki ini meredakan kejengkelanku. Berbanding terbalik dengan ucapannya, sulit untuk mengatakan sentuhannya merupakan sebuah paksaan.
Karenanya aku tak menolak. Sebetulnya aku juga lapar. Dan sesuatu yang lain terbersit dalam benakku. Pemikiran yang acak, tapi terasa benar.
Mungkin Jordanius bukan menyebalkan.
Dia kesepian.
*
Makan siang mungkin menjinakkan Pangeran Kerajaan Matahari.
Yang satu ini harus kusyukuri sih, karena aku tak perlu meneruskan pekerjaan paruh waktuku meniru pencuri dan mengikuti Jordanius. Dia sama sekali tak protes atas keberadaanku, malah menyuruhku untuk menemaninya mencari beberapa buku. Bedanya kali ini kami tidak berada di lantai satu, tapi lantai tiga, di ruang kaca kecil.
Ketimbang bagian perpustakaan, aku merasa tempat ini seperti ruang kerja seseorang. Mungkin pustakawan. Tapi siapa pun pemilik ruangan ini, Jordanius kelihatannya tak ambil pusing. Dengan mudahnya dia mengambil beberapa koleksi dengan sampul tebal yang nampak lebih usang dibanding buku lainnya, meletakkan di meja. Untuk ukuran seseorang yang garang dan agresif, aku cukup kagum karena dia mau membaca buku sebanyak ini.
Nyaris semua bukunya asing, tapi ada satu yang kesannya agak familiar. Aku menarik buku bersampul hitam dari tumpukan. Debu terlihat jelas, membuat tampilannya terlihat tua sekali. Setelah melihat tampak depannya, aku jadi ingat. Buku yang sama kutemukan di kantor Ayah yang ada di kediaman Oriane. Warnanya hitam, polos bergambar lingkaran dengan warna emas kemerahan menjadi garis luarnya.
"Itu Eclipse Diary," kata Jordanius. "Tidak semua orang bisa mengakses bukunya. Isinya terlarang karena membahas Kerajaan Bulan."
Kurapatkan bibirku, berusaha untuk tidak bereaksi berlebih. "Bukannya semua tentang Kerajaan Bulan sudah dimusnahkan?" Seingatku Victor bilang begitu.
"Bagi penduduk umum, ya." Jordanius menanggapi sambil mengangguk. "Tapi beberapa buku tentang mereka masih disimpan. Eclipse Diary juga bukan hanya tentang Kerajaan Bulan, tapi tentang kita juga. Itu buku cerita."
Aku menahan diri untuk tidak mengoreksi ucapan Jordanius. 'Kita' agaknya kurang cocok mengingat aku yang ....
Yah, dia juga tidak perlu tahu itu sih.
"Ada yang bilang buku ini penuntun kedamaian," lanjutnya lagi. "Tapi, tentu saja, itu bohong. Terlalu banyak orang yang masih percaya konsep utopia dan mengabaikan kenyataan. Mana bisa Kerajaan Bulan dan Matahari bersatu. Omong kosong."
Ucapan itu memang tidak terarah padaku, namun wajahku memanas, sesuatu dalam diriku berteriak untuk melarikan diri. Hanya dari kata-katanya saja, sudah tergambar jelas—Jordanius tak menyukai Kerajaan Bulan. Tempat asalku.
Tak ingin berkomentar banyak, aku hanya memanggut, mengalihkan perhatian dan mulai membuka buku. Tekstur kertasnya kasar, sedikit lebih halus dari permukaan perkamen, tapi lebih kasar dari kertas biasanya. Ekspektasiku tentang buku penuh teks langsung terbantahkan begitu lembar ketiga buku bukan berisikan kertas, tetapi ilustrasi bergaya kuno dengan warna biru tua dan oranye.
Kubalik halaman demi halaman, menemukan ilustrasi lainnya. Untuk hitungan buku kuno, isinya cukup menarik. Dan tepat seperti kata Jordanius, ini memang buku cerita, paragraf singkat menggambarkan maksud dari ilustrasi yang ada—Kerajaan Bulan dan Kerajaan Matahari.
Satu sosok digambarkan sebagai dewa, memberkati dua orang dan memberikan masing-masing tanah untuk dikembangkan. Yang satunya diberikan ketangguhan, sementara yang lain dipercayakan kecerdasan luar biasa. Jika hanya membaca ini tanpa mengetahui kenyataan, aku akan mengira dua kerajaan ini dibentuk dalam sebuah kedamaian.
Ini maksud Jordanius konsep utopia itu, ya?
Aku terus membaca, dan tahu-tahu saja satu cerita sudah selesai. Pandanganku masih tertuju pada ilustrasi terakhir, dua orang yang berjabat dengan dan memandangi sebuah lingkaran di langit, lingkaran yang sama persis dengan sampul buku, berwarna gelap dengan warna emas kemerahan sebagai garis luarnya.
"Jangan termakan fiksi," tukas Jordanius, membuyarkan fokusku. Tatapanku beralih padanya, dan dia melakukan hal yang sama. Padahal ruang kaca ini terang dengan jendela besar di belakang Jordanius, tapi maniknya menggelap. "Kerajaan Bulan itu pembunuh licik. Hanya orang t***l yang menginginkan kedamaian dengan mereka."
"Tapi di buku ini disebutkan—"
"Sudah kubilang, itu tipuan," potong Jordanius, nada bicaranya terkesan tak sabar.
Melihat keadaan yang ada, tak sebaiknya aku berkomentar. Nenek memang bilang penduduk Kerajaan Matahari tidak menyukai Kerajaan Bulan, namun berhadapan langsung dan melihatnya dari mata calon raja memberikan efek yang jauh lebih menakutkan dari yang kukira. Aku ingin membela, mengatakan Kerajaan Bulan tak seburuk yang dia kira. Hanya saja, di satu sisi aku cukup takut dengan kaumku sendiri. Mereka menahan Ibu, menyerang Ayah, dan mereka mungkin akan melakukan sesuatu yang berbahaya padaku jika aku masih ada di sana.
"Kau," aku berusaha bertanya hati-hati, "benci mereka?"
Reaksi Jordanius kemudian membuatku menelan ludah. Tanpa menahan diri, dia mengangguk, berdecih, bahkan berkata, "Jika bukan karena mereka, hidupku tidak akan semenyedihkan ini."
Aku tak begitu paham apa maksudnya. Namun satu yang kuyakini, ada dendam yang kentara di sana, amarah yang mungkin tak akan dimakan waktu.
Apa semua penduduk Kerajaan Matahari menyimpan perasaan yang sama? Atau mungkin ada sesuatu pada Jordanius hingga dia jadi begini?
Mendadak aku teringat Ibu dan...
Ayah.
Apa Ayah serius menyuruhku memata-matai seseorang dengan kebencian begini terhadap identitas asliku?
Aku berdiri. "Kurasa aku butuh angin lebih," ucapku buru-buru begitu merasa tatapan Jordanius kembali terarah padaku. "Boleh kubuka jendelanya?"
Jordanius mengangguk, dan aku langsung berjalan ke belakangnya, bermaksud untuk membuka jendela. Hanya saja baru satu langkah kuambil, sesuatu terlihat melintas jendela secara vertikal.
Dalam sepersekon detik, aku melihat Victor—rambut pirang, mata biru, juga kemeja putih berkerah oranye. Semuanya persis seperti instrukturku.
Itu benar-benar Victor.
Tapi ini lantai tiga. Dan dalam satu kedipan mata, sosok Victor menghilang begitu saja ke bawah.
Tunggu dulu. Apa dia... jatuh? []