“Oh, Risha. Akhirnya kau pulang.”
Suara Jemi menyapa begitu aku kembali ke rumah. Dia kelihatan semangat sekali, seakan mau membagi banyak cerita soal harinya. Sebenarnya aku suka cerita-cerita Jemi, itu memberiku gambaran lebih soal penduduk Kerajaan Matahari. Tapi sekarang aku benar-benar butuh kamar. Kepalanya rasanya mau pecah.
“Hai, Jemi.” Aku mencoba membalas senyum Jemi. “Hari ini melelahkan.”
“Tumben juga kau pulang malam begini. Kau ditatar instrukturmu lagi?”
Aku hanya bisa bergumam. Jemi memang jadi tempat sampah curahan hatiku kalau Victor membuatku kerepotan dengan kelasnya, tapi kali ini bukan Victor. Aku ditatar oleh orang lain tak terduga yang memberikanku misi tak terduga juga.
Haruskah aku memberitahu ini pada Jemi atau pada Nenek? Tapi aku tidak tahu reaksi mereka akan bagaimana. Ayah juga memang mengingatkanku untuk memikirkan ini sendiri tanpa mengatakannya pada siapapun.
Tapi bagaimana cara memutuskan hal begini sementara aku saja tidak mengerti apapun? Kenapa harus memata-matai Jordanius?
Kenapa harus… aku?
“Omong-omong, Risha, kau dapat surat.” Suara Jemi mengalihkan fokusku.
“Oh, ya? Surat dari siapa?”
“Ratu.”
Satu nama itu membuatku seketika membatu.
Oh, Tuhan. Sekarang apa lagi? Aku benar-benar masih ingin kepalaku tetap pada tempatnya dan tidak terguling ke dalam jurang. Kepalaku butuh jeda dan ketenangan.
“Nenek menyuruhku menaruhnya di lemarimu, tapi aku taruh di kasur supaya kau lihat,” kata Jemi lagi.
Meski aku masih pusing, akhirnya aku hanya bisa mengangguk. “Akan kuperiksa suratnya nanti. Terima kasih, Jemi.”
Jemi hanya mengangguk, tidak lagi mengatakan apapun. Aku menganggap itu sebagai izin untuk absen dari sesi ceritanya malam ini kemudian segera masuk ke rumah dan berjalan ke kamar. Satu per satu kubuka hiasan-hiasan pada baju, menggantinya dengan gaun tidur sebelum merebahkan diri ke kasur.
Dan sesuai yang Jemi katakan, ada surat dengan gambar matahari di belakangnya juga lambang spiral, persis sama seperti surat pertama yang Ratu kirimkan padaku.
Kuletakkan ibu jariku pada lambang spiral itu, dan dalam hitungan detik lambangnya menghilang, membuatku bisa mengeluarkan kertas yang ada di dalam.
Teruntuk,
Risha Oriane
Kuharap kelasmu punya perkembangan. Victor bahkan sampai mengajarmu.
Besok datanglah ke taman pagi sekail, sebelum matahari terbit. Besok tugas pertamamu untuk menjaga Pangeran Muda.
Tertanda,
Ratu
Butuh waktu bagiku untuk mencerna isi surat yang sebenarnya pendek itu.
Belum saja aku memikirkan soal permintaan Ayah, sekarang Ratu justru seperti mengiyakan permintaan Ayah, memberikan kesempatan padaku untuk melaksanakan tugas.
Apa sekarang aku harus berpikir bahwa dunia seakan memberi jalan? Apa memang itu sebaiknya yang aku lakukan?
Kukesampingkan surat itu sebelum merebahkan tubuh, memandangi langit-langit kamar, menghela dan mengembuskan napas beberapa kali.
Terlalu banyak hal yang terjadi setelah aku memijakkan kaki ke sini. Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku tidak tahu kalau memang akan semembingungkan ini.
Sungguh, apakah sebenarnya bertahan hidup di negeri orang ini merupakan pilihan yang tepat?
Sesuai dengan arahan dari Ratu dan dengan bantuan dari Nenek, aku diantar ke kastil tepat sebelum matahari terbit. Keadaan kastil masih sepi, hanya beberapa orang yang mondar-mandir membawa berbagai barang, kemungkinan besar mereka pekerja di sini, beberapa wajah ada tak begitu asing bagiku.
Mengikuti surat, aku langsung berjalan ke taman. Berbeda dengan keadaan luar yang sedikit lebih terang, taman ini justru minim pencerahan. Padahal ada dua tiang lampu tinggi di bagian depan dan beberapa tiang lampu lainnya yang menyebar di sisi-sisi lapangan, tetapi tak satupun dibiarkan menyala. Di sini benar-benar gelap.
Apa Ratu mengajakku bertemu di tempat seperti ini—tempat yang malah lebih mirip ladang terkutuk daripada taman pusat istana?
Kenapa kesannya tempat ini suram sekali di pagi hari, ya?
Sempat terpikir olehku untuk menunggu di tempat lain yang lebih cerah atau aku mencari Ratu—ini ide yang bodoh sih, aku tahu, memangnya aku siapa sampai mencari Ratu seolah dia teman sebayaku?—mengingat di taman tidak ada muncul tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Yang ada dalam kepalaku hanyalah untuk tidak menunggu di sekitar sini. Bisa-bisa aku kelihatan seperti penyihir yang tengah mencoba bersemayam di kegelapan kalau aku diam dan menunggu di sana.
Aku baru saja mau berbalik dan mencari tujuan lain, namun tiba-tiba di ada cahaya dari tengah taman, tepatnya dari gazebo. Cahaya begitu cepat, lebih mirip kilat daripada cahaya lampu. Kini perhatianku terpusat ke tengah-tengah taman, dan kilat itu terlihat lagi.
Kuakui bahwa aku meminta taman ini mendapat penerangan, tapi jelas yang kumaksud bukan penerangan yang seperti tadi. Lama-lama ini jadi menyeramkan.
Sekejap aku berpikir bahwa datang ke sini mungkin bukanlah ide yang baik. Ini perintah Ratu, tapi aku takut kalau-kalau Ratu tahu soal pembicaraanku dengan Ayah, atau mungkin dia tahu identitasku yang sebenarnya, kemudian berniat untuk menghilangkanku di pagi-pagi begini.
Keadaan yang sekarang jelas mendukung skenario semacam itu. Lagi pula, kerajaan ini rumah Ratu, kan? Aku seharusnya merasa terancam sejak menginjakkan kaki ke sini.
Ingin rasanya kaki untuk mundur, namun sebelm sempat bergerak, dalam hitungan sepersekon sesuatu yang terang dan terlihat tajam melesat ke arahku, seolah siap menusukku.
Spontan aku menghentak kakiku.Yang kulakukan lebih seperti respons naluriah, namun kendati mengira bahwa cahaya itu akan menyerangku, aku justru mendapat penerangan lebih, seakan ada lampu yang menyala di depanku. Cahaya itu membentuk ujung-ujung tajam dengan bagian runcingnya yang mengarah padaku, nyaris menusuk wajahku jika saja tidak ada putaran angin yang menjadi pelindung wajahku.
Aku tidak tahu bagaimana caranya melakukan ini, entah karena aku yang menghentak kaki mendadak atau ini semacam perlindungan diri otomatis, tetapi ini hal yang jelas harus kusyukuri.
“Pertahanan yang bagus.”
Terdengar teriakan dari gazebo di tengah taman. Cahaya yang ada di depanku sekejap menghilang begitu saja, diikuti dengan perisai angin yang sebelumnya melindungiku.
Rasanya bulu kudukku berdiri, persis seperti hewan yang menyadari keadaan dirinya yang terancam. Opsinya sekarang ada dua: aku berbalik untuk segera berlari dengan kemungkinan besar dikejar, atau menghadapi siapapun yang ada di sana dengan kemampuan seadanya, yang kalau boleh jujur bahkan tidak kukuasai.
Pelajaran-pelajaran yang Victor ajarkan kembali terputar di otakku. Semua tips, semua ejekannya yang mungkin bisa jadi saran, atau gerakan-gerakan yang dia buat ketika berhadapan denganku.
Kuat-kuat kukepalkan tangan, berusaha memproyeksi pedang juga perisai yang bisa digenggam tanganku. Ketegangan dan kadar adrenalinku meningkat tatkala melihat satu sosok yang keluar dan berjalan mendekat.
Dorongan dalam diri untuk mengumpat seakan menumpuk, hanya sebelum melakukannya, aku merasa sudah menggenggam sesuatu. Mengingat pelajaran Victor ternyata berguna—sekarang aku sudah memegang pedang panjang dari dengan angin yang merangkai bentuknya, juga perisai bulat di tanganku. Oke, sekarang senjatanya sudah ada. Tapi bagaimana caranya untuk menyerang?
“Kau mau kita bertengkar betulan, ya? Hm, boleh juga.”
Suara itu terdengar semakin jelas karena suara itu semakin jelas. Bisa kulihat bagaimana jubah yang menutupi tubuh kecuali sepatu boots bergoyang. Begitu jarak di antara kami semakin menipis barulah wajahnya bisa sedikit demi sedikit kucermati, membentuk satu gambaran tak asing di kepalaku.
Pangeran Jordanius—Jordanius.
Dengan raut wajah datarnya, dia kembali bersuara, “Kemampuanmu semakin bagus. Apa ini karena kau diajari langsung oleh jenderal terbaik kami?”
Oh, Tuhan. Apa-apaan ini? Apa sekarang aku bermasalah dengan pangeran Kerajaan Matahari?
“Kau mau membunuhku, ya?” Aku menyalak sebal, memicingkan mata. Kendati begitu, yang ada di hadapanku hanya mengangkat bahu tak acuh.
“Itu kan hanya petir kecil, tidak akan melukaimu,” balasnya santai.
Aku ingin protes, sangat ingin. Namun bisa jadi yang dia katakan benar, meski jelas itu tidak berlaku bagiku dengan kekuatanku yang tak bisa diandalkan ini. Aku seperti menelan omelanku sendiri.
“Ratu menyuruhku untuk menunggu pengawalku di sini.” Jordanius kembali bersuara. Jawabannya itu cukup menjelaskan kehadirannya di sini, tetapi tidak dengan tindakannya barusan.
“Kukira aku akan bertemu Ratu,” timpalku, namun Jordanius justu tiba-tiba mendengus, seakan tak suka.
“Sepertinya kau suka sekali dengannya, ya?” Matanya memicing dengan alis yang membusur tinggi.
Jujur saja, aku memang tidak suka bagaimana raut wajah cuek Jordanius yang tak bisa kumengerti. Tapi aku lebih suka raut wajah cuek datarnya itu ketimbang ditatap seakan aku baru saja melakukan kesalahan besar.
Memangnya apa yang kulakukan coba? Dan kenapa dia kelihatan seperti berpikir bahwa aku ini penggemar Ratu?
Oh, ayolah. Kesimpulan dari mana itu?
“Maksudmu apa—”
“Kau sekongkolan Ratu atau bukan?”
Kalimatnya itu memotong ucapanku begitu saja, membuatku menutup mulut mendadak. Kupandangi Jordanius dengan kening yang mengernyit. Pertanyaannya itu benar-benar mengherankan, sampai aku juga bingung bagaimana cara untuk menjawabnya.
Hanya saja sebelum sempat memproses maksud dari pertanyaan itu atau bahkan memberikan balasan, Jordanius sudah melangkah pergi dengan kalimat terakhirnya yang terdengar seperti musim dingin yang siap membekukan siapapun.
“Kalau kau ada di pihak Ratu, jangan pernah bicara lagi padaku. Aku tidak butuh lebih dikekang dari ini.”
Apa maksud laki-laki itu sih? Kenapa tatapannya itu mencerminkan amarah juga kekecewaan?
Dan… apa aku betul-betul disuruh menjaga pangeran yang begini? Dan apa Ayah serius waktu memintaku untuk mematai-matai Jordanius? []