Tolong jangan salahkan aku yang merasa ketakutan sekarang.
Pasalnya, aku ingat betul Nenek pernah bilang bahwa aku dilarang membicarakan apapun perihal Kerajaan Bulan dan identitasku. Tidak ada yang tahu soal itu kecuali keluargaku sendiri. Dan, tentu saja, aku tidak seceroboh itu untuk menceritakannya dengan sukarela pada orang asing.
Aku tidak tahu kenapa Seungwoo tiba-tiba membahas perihal Kerajaan Bulan padaku, pun alasannya untuk membawaku ke sini. Aku ingin sekali menolak, pergi dan melupakan semuanya pernah terjadi. Namun aku tidak bisa melakukan hal itu. Dan sebenarnya aku penasaran.
Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti Seungwoo, berjalan menyusuri gang demi gang kecil di kota yang secara ajaib membawa kami ke hutan yang ada di Sungai Gerhana.
Sekarang perasaanku makin tidak enak.
Seungwoo menoleh ke arahku yang masih ada di belakangnya, tersenyum kecil. "Aku rasa kau sudah tahu kalau Sungai Gerhana itu area terlarang."
Aku mengangguk pelan, menelan ludah. Sumpah, aku benar-benar ingin lari sekarang. Apa Seungwoo tahu aku datang ke Kerajaan Bulan lewat Sungai Gerhana, dan sekarang dia akan... membunuhku?
"Mungkin ini agak tiba-tiba, tapi percayalah. Aku tidak akan menyakitimu."
Kalimat itu membuatku terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah bagaimana Seungwoo menyugar rambutnya ke belakang, membuat rambut peraknya seketika berubah menjadi cokelat gelap.
"Kita sama," kata Seungwoo lagi. Dia melangkah mendekat kemudian mengulurkan tangannya padaku. "Kuharap ini bisa membuatmu lebih percaya lagi padaku."
Kurapatkan bibir, memandangi Seungwoo ragu. Semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima kepalaku, sungguh.
"Ada yang menunggumu, itu sebabnya aku datang untuk menjemputmu." Seungwoo kembali bersuara, senyumnya mengembang.
Akhirnya aku menerima uluran tangannya, hanya bisa mengangguk kecil. Dalam genggamannya, Seungwoo menuntunku untuk masuk ke dalam hutan. Padahal langit masih cerah, namun cahayanya seolah menolak untuk masuk ke sini. Tepat ketika menginjakkan kaki, gelaplah yang menyambutku. Seungwoo menghampiri satu pohon, mengetuknya dua kali hingga kunang-kunang keluar, seolah membuat barisan untuk menerangi hutan.
Pemandangan ini memukai, kalau boleh jujur. Aku terpana.
Tak lama, Seungwoo kembali menuntunku untuk terus berjalan menyusuri hutan lebih dalam, beberapa menit terlewat tanpa ada satu pun percakapan di antara kami. Aku tidak tahu sudah sejauh mana aku sekarang, tapi di depan kami sudah ada satu rumah kayu kecil yang dikelilingi lampu. Banyak kunang-kunang yang berhenti di sana.
Dari rumah itu keluar dua orang pria bertudung. Mereka mendekati aku dan Seungwoo, memandangi kami sejenak.
"Oh, kau sudah membawanya, ya?"
Maksudnya itu membawaku?
Seungwoo mengangguk. "Ya. Apa Ketua ada di dalam?"
Salah satu pria bertudung itu mengangguk. "Dia menunggumu, masuklah."
Tanpa diduga Seungwoo kemudian melepas tanganku kemudian berbalik. "Mungkin ini agak sedikit mengejutkan, tapi kau harus tahu bahwa—"
"Alrisha!"
Suara teriakan di depan pintu membuat Seungwoo tak langsung menyelesaikan kalimatnya. Perhatianku juga dengan mudahnya teralih. Aku bergeser, menyembulkan kepala untuk melihat siapa yang baru saja menyebutku.
Tidak ada siapapun yang ada dalam benakku. Aku sama sekali tidak mengira siapapun.
Tapi aku melihat seseorang yang begitu kukenali di depan sana. Rambut pirang menyala yang menjadi memori baru bagiku di hari kekacauan itu, juga senyum hangat yang selalu aku terima tiap kali aku menyelesaikan pelajaranku.
Tanpa pikir panjang aku berlari ke arah pintu dan memeluknya erat.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Alrisha."
Aku tidak bisa mengatakan apapun.
Aku menangis. Karena, sungguh, aku sama sekali tidak menduga kalau aku benar-benar akan bertemu lagi dengan Ayah.
*
Banyak hal yang tidak kumengerti saat ini. Untuk beberapa saat, kukira ini tak lebih dari sekadar mimpi. Mungkin kebanyakan menyantap kue yang enak membuatku berhalusinasi.
Tapi, tidak. Ini nyata. Sosok Ayah benar-benar nyata. Tangannya yang dibalut perban juga goresan pada wajahnya menyakinkanku bahwa ini benar-benar dia, hasil luka ini dia terima karena melindungiku dan Ibu dari para tentara Kerajaan Bulan.
Begitu masuk ke dalam rumah kayu itu, Ayah langsung menjamuku, mempersilakanku untuk makan. Orang-orang yang ada di sini juga seperti memberi ruang pribadi bagiku dan Ayah. Rasanya menyenangkan membiarkan lidah akhirnya mencicipi makanan-makanan dengan rasa asam manis yang biasanya bisa kunikmati di Kerajaan Bulan. Selagi makan, Ayah menceritakan apa saja yang dilewatinya.
"Kalau Ayah bersama Ibu, mungkin semuanya akan lebih mudah. Tapi tentara itu cukup pintar, kemungkinan mereka memiliki kelebihan dalam memprediksi keadaan, banyak hal yang Ayah lakukan dan semuanya bisa mereka hindari," begitu katanya. "Untungnya Ayah masih sempat kabur."
Ayah juga cerita bahwa dia berpisah dengan Ibu karena Ibu tertangkap, namun meninggalkan tanda bahwa Ayah harus pergi ke Kerajaan Matahari untuk membantuku.
Jelas saja, aku khawatir. Ada keinginan untuk kembali ke Kerajaan Bulan dan menyelamatkan Ibu. Namun apa yang bisa kulakukan? Apa yang kupelajari dengan Victor mungkin bisa membuatku sedikit lebih kuat, tapi seperti yang Ayah bilang, melawan kaum Kerajaan Bulan tidak akan mudah. Mereka bergerak dengan berbagai strategi, dan aku tidak akan tahu kalau-kalau aku berhadapan dengan pemanipulasi pikiran. Berhadap dengan Ibu dan kemampuan analisisnya saja sudah seperti berhadapan dengan penyihir yang bisa meramal masa depan.
Aku hanya bisa berharap bahwa Ibu sudah memperhitungkan semua ini sebagai jalan keluar terbaik.
"Omong-omong, Alrisha, kau tinggal bersama Nenek sekarang?" tanya Ayah.
Aku mengangguk. "Ya, aku juga mengikuti kelas di kerajaan bersama Nenek."
Mata Ayah mengerjap, nampaknya fakta itu membuatnya terkejut. "Serius?"
"Nenek bilang akan lebih aman jika aku tidak menimbulkan kecurigaan," balasku. "Dan sejauh ini semuanya aman kok, Yah. Aku banyak belajar."
"Apa kau masuk kelas keterampilan juga?"
Kini percakapan seperti banting stir, mengarah padaku. Kurasa aku harus cerita banyak pada Ayah. Well, memang banyak yang bisa kuceritakan. Terlalu banyak hal yang terjadi setelah terakhir kali aku bertemu dengan Ayah.
"Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku bisa mengendalikan angin," aku memulai penjelasanku sambil menunduk malu. "Ya-yah, tidak sehebat Ayah, tapi itu membuat Ratu mengirimku untuk berlatih langsung di kerajaan. Aku sudah bilang bahwa aku bakal payah, tapi kemudian ada jenderal yang melatihku khusus untuk itu."
Sebenarnya aku mau bilang Victor sebagai orang biasa sih, atau mungkin guru yang menyebalkan akan lebih tepat. Tapi bagaimanapun, pangkatnya memang tidak bisa dibohongi.
"Jenderal?" Kening Ayah sedikit mengerut. "Dari keluarga mana?"
"Elodoro."
Kepala Ayah memanggut paham. "Ah, ternyata keluarga mereka masih terus menduduki posisi itu, ya?"
"Keluarga Elodoro memang sehebat itu, Yah?" tanyaku penasaran. Yah, aku tidak bisa bohong sih kalau Victor itu memang keren, tapi kadar menyebalkannya itu membuatku enggan. Yang namanya keren itu bukan hanya dari kekuatan fisik, kan?
Lebih dulu Ayah menenggak air putihnya sebelum menjawab, "Sangat. Dari dulu mereka menduduki kelas ksatria turun-temurun."
Aku mencoba mengingat-ingat. Di kelas, Nenek bilang bahwa Kerajaan Matahari memberi penghargaan bagi orang-orang yang berperan besar bagi kerajaan, dan kelas ksatria menjadi penghargaan tertinggi karena perbuatannya dianggap setara dengan penyelamatan kerajaan.
Keluarga Victor ternyata sekeren itu, ya?
"Kau pasti banyak belajar dari Keluarga Elodoro, Alrisha," kata Ayah, kini dia tersenyum. "Tapi kok bisa kau sampai mendapat guru pribadi jenderal? Apa karena Nenek?"
Sesaat aku diam. Agak susah untuk menjelaskannya. Pertemuanku dengan Victor sebenarnya tidak terduga. Kami tidak sengaja bertemu di Sungai Gerhana—tempat yang seharusnya tidak didatangi—dan memilih untuk menjaga rahasia satu sama lain. Tapi cerita itu juga tidak akan menjelaskan kenapa Victor menjadi guruku.
"Ng, soalnya itu... Ratu memintaku menjadi penjaga Pangeran nanti."
Hanya itu jawaban yang terpikir di kepalaku, jawaban yang paling sederhana. Enggan juga rasanya untuk bercerita lebih soal Victor.
Tapi nampaknya, jawaban yang aku berikan tidak sesederhana yang aku pikirkan, karena itu justru membuat Ayah mengerjap beberapa kali, memandangiku heran.
"Pangeran?"
Aku mengangguk kikuk. Aku tahu ini agak gila, aku terkesan melempar diri ke kandang singa. Tapi menghindar juga bukan ide yang bagus.
"Apa Ratu benar-benar memintamu secara langsung?" Ayah kembali bertanya.
"Dia mengirimiku surat," aku menerangkan. "Ratu bilang dia ingin bagian dari Keluarga Oriane ikut menjaga putranya."
"Bagus kalau begitu."
Sekarang giliranku yang heran. Tunggu dulu, apanya yang bagus? Apa ini berarti Ayah memuji pilihan-pilihan yang kubuat selama menjalani kehidupan di Kerajaan Matahari ini?
Aku ingin bertanya, tapi kesempatan itu sudah lebih dulu direbut. Ayah memandangiku begitu serius, membuatku seketika kaku begitu Ayah mengatakan sesuatu yang tak terduga.
"Kami membutuhkan bantuanmu, Alrisha. Ayah butuh informasi tentang calon raja untuk Kerajaan Matahari, Pangeran Jordanius."
Dan aku hanya bisa mengerjap. Tunggu dulu, apa ini berarti aku harus memata-matai... Jordanius? []