Waktu makan siang sebenarnya tidaklah banyak. Tapi karena kelasku berikutnya adalah pelatihan terampil, aku tidak perlu terburu-buru karena yang akan mengajarku untuk kelas itu Victor.
Hal itu harus aku syukuri tidak, ya?
Sedari tadi aku sudah terus bersamanya. Untungnya, Victor juga bilang kalau hari ini dia ingin sedikit bersantai, tapi aku diminta mengosongkan jadwalku sampai sore nanti karena kami akan latihan nanti sore.
Victor tidak meminta sih. Itu perintah.
Kemalasannya—yang dia bilang sebagai keinginannya untuk bersantai—setidaknya cukup berguna untukku. Sekonyol kedengarannya, tapi aku bersyukur atas kemalasan Victor. Cobalah untuk lebih sering bermalas-malasan, Jenderal Victor. Itu keuntungan untukku.
Panahku yang berhasil mengenai titik tengah sebenarnya pencapaian yang cukup memuaskan, tapi tak dapat dipungkiri, itu juga berkat bantuan Victor. Bahkan itu lebih kelihatan seperti Victor yang memanah ketimbang aku.
Tapi di sinilah kami sekarang, di toko kue dengan orang yang begitu banyak, tapi dengan cara yang ajaib Victor bisa mendapat kursi kosong di lantai dua, dengan kue-kue yang terhidang dengan begitu cepat. Mungkin itu semacam keuntungan karena menjadi Jenderal atau... entahlah. Aku tidak terlalu suka menebaknya. Tapi menikmati hal ini tidak begitu buruk. Aku kan hanya ikut.
Aku tidak tahu apakah ini semacam informasi penting atau tidak, namun aku mendapatkan fakta baru bahwa Victor menyukai hal yang manis-manis. Apalagi kue-kue yang punya stroberi, entah untuk rasa atau sekadar hiasan saja.
Jelas saja, semua yang dia pesan berbaui stroberi. Kue, tart, puding, sampai teh stroberi. Victor bahkan sampai memesankan makananku persis sama sepertinya. Ada es krim stroberi, kue krim berwarna merah dengan topping stroberi, juga parfait.
Dia benar-benar penggila stroberi, ya? Hm, jenderal maniak stroberi. Mungkin aku bisa menyogoknya dengan stroberi. Barangkali itu bisa membantuku jika ada sesuatu.
"Kau tidak berencana memakanku, kan?"
Aku mengerutkan kening, mengerjap beberapa kali. "Maksudnya?"
"Dari tadi kau memperhatikanku terus."
Apa begitu kelihatan?
Aku mengalihkan kepala ke arah lain, sengaja berdeham. Sial, wajahku memanas. Aku merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Lagi pula, kok Victor memperhatikanku datar begitu? Menyebalkan!
"Aku tidak memperhatikanmu kok!" sanggahku. "Wajahmu saja kebetulan aneh."
Victor spontan melarikan salah satu telapak tangannya ke sekitar mulut. "Oh, ya? Apa ada sesuatu di wajahku?"
Huh, kurasa kebodohannya yang satu ini menyelamatkanku.
"Ng, sudah tidak—"
"Jelas saja tidak ada apa-apa di wajahku, bodoh." Aku sedikit terkejut karena Victor begitu saja menyela ucapanku, matanya bahkan ikut menyipit. Kini kedua alisnya menukik. "Kau tidak pandai berbohong."
Lho, bukannya tadi dia percaya ya?
"Yang ada wajahmu yang berantakan," lanjut Victor lagi, jari telunjuknya mengarah padaku.
"Masa iya?"
Kugerakkan tangan kananku untuk menyusuri area dagu dan mulut. Ternyata Victor benar. Ada sedikit krim di area dagu. Aku membersihkannya dengan tisu yang tersedia, tapi baru saja mau mengelap kembali, Victor tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan—ke arahku.
"Masih ada lagi," katanya.
Posisi Victor semakin dekat, membuatku spontan mundur. Namun semuanya percuma. Victor justru menahan daguku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya bergerak seakan menarik satu garis dari dagu ke ujung bibirku.
Astaga! Astaga! Astaga!
Aku tidak tahu apakah dunia memang melambat atau memang jantungku yang berdetak dengan tempo yang tidak seperti biasanya, yang jelas itu membuatku merasa pergerakan Victor yang begitu lama, membuatku bisa melihat mata biru dengan sorot yang begitu dalam. Mata Victor terasa menenangkan sekaligus mencekam di saat yang sama.
Beberapa detik kemudian Victor mundur, kembali ke tempat duduknya kemudian memasukkan krim di jarinya ke dalam mulut. Gerakan itu dia lakukan begitu santai namun matanya masih tertuju padaku.
Aku merasa seperti direbus hidup-hidup.
Aku... gugup. Sial.
"Itu tadi..."
"Sayang membuang yang manis." Victor membalas tak acuh.
Apa-apaan sih responsnya barusan?!
Seakan tidak ada yang salah dengan tindakannya, Victor kembali menyendok kue di depannya, begitu saja fokus pada makanannya, mengabaikanku.
Oke, Risha. Ayo sadar. Hal seperti itu memang seharusnya tidak dipikirkan. Bisa jadi otak jenderal yang satu ini hanya menganggap itu hal biasa.
Yang begitu juga belum tentu mengartikan hal yang khusus, kan?
Aku mengambil sendok dan kembali memakan kue yang belum kuhabiskan, sesekali menyeruput teh yang tersedia.
Kami berdua sibuk dengan makanan masing-masing. Atau mungkin... hanya Victor. Karena sekalipun aku ingin fokus, pada nyatanya aku beberapa kali curi-curi pandang ke arah Victor. Oh, oh, jangan salah paham. Ini hanya semacam penjagaan diri. Aku belajar dari kecerobohanku sebelumnya. Aku juga sudah siap untuk terus membersihkan mulutku setiap tiga suapan kue ke dalam mulut.
Setidaknya begini akan lebih baik, kan? Aku tahu, aku memang bijak.
Aku baru saja mau menyendok kue lagi, namun belum sempat menggerakkan sendok, sudah ada sesuatu yang mendarat begitu saja di meja. Burung gagak putih.
Kok burungnya mirip seperti yang waktu itu, ya?
Aku terkejut, tentu saja. Tapi Victor menanggapinya dengan datar, mengelus burung gagak itu dua kali sebelum mengambil sesuatu yang terikat di kaki gagak tersebut. Ada kertas kecil di sana.
Victor membuka kertas tersebut kemudian membacanya, sialnya membuatku jadi ikut penasaran. Terlebih, Victor kelihatan begitu serius.
"Kurasa hari ini kau harus belajar sendiri." Suara Victor menyeletuk.
Aku mengerjap, mencoba mencerna kalimat yang baru saja Victor ucapkan. Eh, tunggu dulu. Maksudnya belajar sendiri itu... tidak ada kelas? Aku libur? Serius?
Ini yang aku harapkan. Harusnya. Tapi ketimbang menerima begitu saja, aku justru dibuat heran. Apalagi dengan gelagat Victor yang terkesan terburu-buru, berdiri dari tempat duduknya dengan gulungan kertas yang diremas tangannya.
"Atau belajar saja di perpustakaan. Besok laporkan padaku apa saja yang sudah kau pelajari."
Seakan tak peduli dengan responsku, Victor melangkah pergi begitu saja, meninggalkanku di meja sendirian. Entah dia menggunakan sihir atau tidak, namun sosoknya hilang begitu saja.
Anehnya, kepergian Victor membuatku merasa sepi. Masih ada beberapa kue di atas meja, ada yang setengah sudah dimakan dan ada juga yang belum tersentuh sama sekali.
Harus aku apakan semua makanan ini?
Victor benar-benar tidak bertanggung jawab. Tidak tahukah dia bahwa buang-buang makanan ini merupakan tindak kejahatan? Atau memang kebiasaan penduduk Kerajaan Matahari begini? Kalau diperhatikan, beberapa piring bekas di tiap meja memang menyisakan sedikit makanan.
Kalau ini Kerajaan Bulan, pasti pelakunya sudah kena omel bahkan dihukum.
Tapi ini kan bukan Kerajaan Bulan. Oh, astaga, Alrisha. Sungguh, aku harus terbiasa dan mengingat baik-baik bahwa kebiasaanku bisa membahayakan identitasku.
Aku menyendok kueku, menghabiskan potongan terakhir di piring kemudian menyeruput teh sebelum menyandarkan punggung, menghela napas. Jujur saja aku sedikit penasaran kenapa Victor mendadak pergi, tapi waktu santai begini harus dinikmati, bukan? Mendapatkan hal ini mungkin tidak akan terjadi dua kali.
Lagi pula kalau Victor di sini dan tiba-tiba membersihkan pipiku dengan cara seperti tadi, aku akan benar-benar...
"Risha?"
Seketika aku berbalik bahkan berdiri. Suaranya asing, tapi jelas yang aku dengar itu namaku. Rasanya berdebar juga takut.
Sosok yang berdiri di belakangku itu membuka tudungnya, menunjukkan rambut perak mengilap yang tak asing. Aku baru saja melihatnya siang ini di bagian penempaan.
Namanya Seungwoo, ya?
"Hei, hei. Tenanglah." Seungwoo tersenyum pelan, kepalanya menunduk sopan. "Aku Seungwoo. Masih ingat tidak?"
Aku mengangguk pelan sambil kembali duduk. Oh, kepanikanku terlalu berlebihan. Tapi reaksiku ini normal, kan? Aku hanya lebih berhati-hati dan waspada.
"Ma-mau duduk?" tawarku.
"Tidak perlu. Aku hanya sebentar kok," Seungwoo menolak sopan.
"Ah, begitu ya." Aku pura-pura mengangguk, padahal sebenarnya tidak begitu paham maksud Seungwoo. Mungkin dia juga hanya lewat. Tempat yang ramai begini juga kan tempat umum, wajar jika Seungwoo ada di sini. Sekalipun kemunculannya tadi mengagetkanku, jujur saja.
Aku kembali mengambil sendok, berniat untuk kembali menghabiskan makanan yang tersisa—meski dari banyaknya sulit untuk mengategorikan makanan-makanan ini sebagai sisa.
Kupikir Seungwoo akan pamit. Sayangnya kendati pergi, Seungwoo justru berjalan mendekat ke mejaku, kepalanya sedikit menunduk sementara satu bisikan terdengar. "Bisa ikut aku?"
"Ikut?" Aku balik bertanya, dan Seungwoo langsung mengangguk.
Jawabannya itu membuatku heran sendiri. Aku sempat ingin bertanya, namun Seungwoo sudah lebih dulu melanjutkan, memberiku keterangan tambahan yang seketika membuatku tidak berkutik.
"Ada sesuatu tentang Kerajaan Bulan yang harus kau ketahui. Kuharap kau tidak keberatan."
Apa ini semacam... ancaman tersirat? []