Di kelas pertahanan diri, Instruktur Apollo berkata bahwa senjata merupakan hal yang krusial dan dibutuhkan, sekalipun kekuatan sudah dikuasai penuh. Ada saatnya benda lebih berguna ketimbang kekuatan yang ada. Dan karena itulah dia memberi tugas untuk memilih senjata masing-masing.
Tugas yang merepotkan.
Dan ketika aku bilang merepotkan, ini jauh lebih merepotkan ketimbang biasanya karena setiap kegiatan yang berhubungan dengan pelatihan membuatku harus melibatkan Victor.
Sebenarnya, bukan aku. Victor yang melibatkan dirinya sendiri.
Kelas pertahanan diri selesai tepat dua jam sebelum makan siang, dan tepat saat kelas selesai, Victor langsung menyeretku untuk pergi ke bagian penempaaan. Dia bilang ini tempat terbaik untuk mencari senjata yang cocok untukku—dan, yah, ditambah dengan komentar-komentar soal aku yang masih belum layak untuk memegang senjata sendiri, harus lebih rajin berlatih, dan lain hal.
Jadi, kami langsung pergi ke salah satu gedung besar yang masih berada di dalam kastil, yang didominasi warna logam, kelihatan berkilai dengan sedikit aksen gelap dan kilauan—mungkin ada campuran metal atau apalah yang dibuat untuk membangun tembok gedungnya—dan begitu masuk, hawa-hawa panas dan bau bakaran langsung menyambutku. Victor bahkan membuka jasnya karena kepanasan. Jika dibandingkan dengan gedung yang lain, gedung ini mungkin jadi gedung paling besar ketiga setelah bagian pemerintahan dan tempat latihan. Aku juga ingin melakukan hal yang sama sih, tapi lapisan-lapisan gaun ini memang diciptakan untuk jadi satu baju. Melepasnya berarti telanjang.
Paling tidak aku belajar cukup banyak sekalipun merasa repot begini. Aku tidak tahu banyak soal senjata, tapi dalam beberapa jam di tempat penempaan, aku cukup banyak belajar. Salah satu pengrajin, Abrakzaz Aelius—panggilannya Chan, jauh sekali, memang—berkata bahwa senjata ada baiknya dicocokkan dengan kekuatan yang dimiliki. Keluarga Oriane biasanya menggunakan tombak atau pedang, tapi begitu mencoba, aku rasa senjata itu lebih berat daripada tubuhku sendiri, jadi Victor menyarankanku untuk memulai dengan panah.
“Panah memang kelihatan biasa saja, tapi bisa jadi senjata yang mematikan ketimbang pedang,” kata Victor dan aku memutuskan untuk mengiakan.
Sama saja sih, berat, tapi panah lebih baik.
Busur dan anak-anak panah dibuat menyesuaikan dengan ukuranku, sementara Victor menyuruhku untuk mencoba dengan panah yang ukurannya lebih kecil.
“Aku kan tidak boleh asal tembak.” Aku mengingatkan. “Mana bisa menembak di sini.”
“Mau ada sasaran juga, memangnya kau tidak akan asal tembak?”
Laki-laki ini memang menyebalkan bukan kepalang. Kalau saja dia bukan jenderal dan bukan dia yang menjadi pelatihku, aku pasti akan membunuhnya.
Itu juga kalau aku bisa membunuhnya. Faktanya sekarang dia lebih bisa membunuhku ketimbang sebaliknya.
“Kalau mau, ada papan target di luar sini, kalian bisa mencobanya.”
Itu bukan suara Victor. Itu juga bukan suara Chan karena dia sibuk berurusan untuk menempa busurku. Aku berbalik, menoleh ke arah suara yang berasal dari belakangku, menemukan laki-laki dengan rambut perak. Dan aku hanya bisa melongo.
Tidak. Tidak. Aku terkejut bukan karena penampilannya. Dia jelas kelihatan seperti penempa lainnya di sini. Tapi bukan itu yang mengejutkanku. Aku ingat betul melihat wajah ini dengan tudung cokelat di toko kue tempo hari.
Orang yang menyebutkan toko kue di Kerajaan Bulan.
Aku pikir dia...
“Lho, kau kan—”
“Ternyata kita bertemu di sini lagi, ya?” Laki-laki itu tersenyum kecil kemudian mengangguk, melangkah mendekat dengan apron cokelat menggantung dari leher hingga lutut. Ada noda-noda hitam di wajahnya.
“Kau kenal, Ris?” tanya Victor, dan aku mengangguk kecil. Tidak kenal sih. Tapi aku tahu.
“Kami bertemu di toko kue tiga hari yang lalu,” aku menjawab seadanya. Victor juga tidak perlu mengetahui semuanya secara detail, kan? Termasuk dugaanku dan sedikit keanehan yang terjadi di percakapan kecil kami.
Aku hampir mengira dia penduduk Kerajaan Bulan. Tapi dia di sini sekarang, sebagai seorang penempa, dengan rambut yang begitu terang yyang jelas tidak dimiliki penduduk Kerajaan Bulan—tempat asalku.
Apa aku hanya salah degar waktu itu, ya?
Tapi, masa iya?
“Seungwoo! Tolong isi bara apa di tungku ini!” Terdengar teriakan samar lain, jauh dari posisi kami sekarang, dan laki-laki berambut perak ini langsung membalas sembari berbalik.
“Oke, aku segera ke sana!” Tubuhnya kemudian berbalik ke arah kami, dengan cepat menunduk. “Kita bicara lain kali. Aku permisi dulu.”
Tanpa bisa mengatakan apa-apa, aku hanya mengangguk, membiarkannya pergi. Namanya Seungwoo, ya? Kira-kira dia dari klan apa, ya?
Aku masih memandangi punggungnya yang berlari hingga menghilang dari pandanganku, sampai suara dehaman Victor terdengar tiba-tiba. Tatapan matanya berubah curiga. “Untuk apa kau pergi ke toko kue?”
“Tentu saja untuk beli kue, memangnya aku ke sana untuk beli daging?” balasku sengit, tatapannya seolah mengajakku untuk bertarung. “Sepupuku yang mengajakku ke sana.”
“Oh.”
Sekarang responsnya lebih membuatku kesal.
Aku mencoba mengacuhkannya, mengambil busur dan beberapa anak panah sebelum melangkah keluar lebih dulu daripada Victor, mencoba mencari papan target yang dimaksud Seungwoo. Papannya cukup kecil, tapi ada banyak papan yang berjajar, aku hanya perlu berjalan ke sisi kanan gedung.
“Kalau kau bisa mengenai titik tengah, aku akan traktir kue,” kata Victor, entah sejak kapan dia sudah ada di belakangku. Kendati aku yang mencoba menahan keterkejutan, dia justru menyilangkan lengan, dagu terangkat, dengan tatapan yang menyipit seolah berteriak bahwa dia tengah meremehkanku.
Well, bukan seolah. Victor memang meremehkanku.
Menghela napas, aku mencoba mengenyahkan betapa menyebalkannya tingkah Victor, mengikuti naluri dan memposisikan anak panah, siku tangan kananku perlahan turun ke belakang. Untuk sesaat, secara ajaib aku merasa begitu yakin aku bisa mengenai target, tapi titiknya seolah bergoyang, membuat tanganku ikut bergetar. Berkali-kali kucoba untuk mengatur tempo napas dan detak jantung, tapi itu sama sekali tidak membantu.
Aku ragu. Aku takut. Aku...
“Kau tidak bisa mengenai target kalau gemetaran begitu.”
Suara Victor seketika menusuk telingaku, berbisik dengan pelan, pipiku terasa panas. Tapi ini bukan karena napasnya. Sumpah, aku sama sekali tidak menduga dia akan memegangku dari belakang, tulang belakangku seakan bisa merasakan bagaimana dadanya menjadi sandaranku. Kepalanya menunduk, bersinggungan dengan kepalaku.
Ini sama sekali tidak membantu. Aku malah makin berdebar.
“Tarik lagi sedikit baru lepaskan.”
Kurapatkan bibirku dan kutekan pelan, berharap dapat menekan laju jantung yang tidak terkendali. Tapi sekali lagi, itu tidak membantu. Yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti instruksinya dengan debaran gila dan aneh yang mendadak menyerang, merasakan salah satu tangan Victor kini ikut memegang tanganku, membantu untuk menarik tali busur. Aku melepas talinya, dan anak panah seketika meluncur.
Tepat di tengah.
“Kau berhasil.”
Aku menoleh ke arah Victor, mencoba menatapnya. Victor ternyata ikut melakukan hal yang sama, membuatku bisa langsung menatap manik biru tua itu di jarak sedekat ini. Sial. Sial. Sial.
“Um, Vic, ini terlalu...”
“Setelah busurmu jadi, ayo ke toko kue sekalian makan siang,” katanya cepat, seketika memotong ucapanku yang belum sempat kuselesaikan. Mataku berkedip cepat, tubuh merasa sedikit dingin karena Victor yang langsung mundur, dan dalam hitungan detik langsung berjalan kembali ke dalam gedung.
Detak jantungku perlahan memelan, mulai bisa kukendalikan. Hanya saja satu pemikiran konyol yang menyerangku mendadak meembuat jantungku kembali berlari.
Apa ini hanya ilusi mata, atau memang tadi pipi Victor agak merah? []