Bulan atau Matahari?
Pilih.
Itu tulisan yang ada di kertas yang kuterima saat latihan dua hari yang lalu. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya itu. Hal sederhana yang benar-benar membingungkan. Karena, sunguh, aku tidak mengerti.
Aku seharusnya tidak terlalu memikirkannya karena bisa jadi kertas ini bukan ditujukan padaku, hanya jatuh dan tidak seharusnya k****a. Ini mungkin saja hanya sampah. Tapi ini jelas sampah yang membingungkan.
Dan entah kenapa, aku merasa pertanyaan membingungkan ini ditujukan padaku.
Tapi, kertas itu dari siapa? Dan kenapa dia menanyakan itu?
“Kalau tidak mau, buatku saja.”
Aku mengangkat kepala dan memandangi Jemi yang duduk di depanku, menggigit potongan kue terakhir. Mulutnya masih mengunyah sementara dia bicara. Aku nampaknya terlalu fokus dengan pikiran sendiri sampai lupa masih ada kue yang kupegang.
Alis Jemi bergerak seakan siap menyatu kapan saja, tangannya bergerak untuk mengambil kue milikku, membuatku langsung mengangkat tanganku tinggi-tinggi.
“Jangan rakus,” desisku. “Kau kan beli banyak tadi. Memangnya sudah habis?”
“Kue itu bukan untuk dipelototi tahu,” balas Jemi, kelihatan membela diri. Dia kembali duduk di kursinya kemudian melipat tangan. “Kau sadar tidak sih dari tadi melamun?”
“Melamun?”
“Kau pikir kuenya akan masuk sendiri ke dalam mulut?”cebiknya. Jemi meluruskan punggung, tatapannya seketika berubah, dari yang mencoba mengambil kueku menjadi serius. “Ada yang kau pikirkan, ya?”
Sebenarnya, ya. Banyak. Terlalu banyak sampai ingin rasanya aku menceritakannya pada orang lain. Aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berputar kepalaku. Aku butuh bantuan. Hanya saja, seberapa kerasnya aku menginginkan semua itu, semuanya tertepis dengan satu kalimat yang Victor ucapkan padaku kemarin saat aku selesai latihan dan siap pindah ke kelas lain.
“Akan lebih baik untuk tidak percaya pada siapapun di sini, Risha.”
Padahal dia orang yang kelihatan paling meragukan yang aku tahu semenjak menginjakkan kaki ke sini.
Tapi jika ditimang matang-matang, yang Victor katakan memang ada benarnya juga. Jika yang mengatakan itu merupakan penduduk asli dari Kerajaan Matahari, jelas aku yang jadi orang luar harus lebih seksama soal itu. Bagaimanapun, manusia tetaplah manusia, dan kebohongan menjadi bayangan yang selalu berjalan di bawah kaki mereka.
“Ris?”
“Aku hanya kelelahan dengan jadwalku,” kataku, memberi jawaban atas pertanyaan Jemi barusan. Kupandangi kue di tanganku untuk beberapa saat sebelum kuberikan pada Jemi. “Aku jadi tidak selera makan. Nih.”
Jemi tidak langsung menjawab, dia malah memberi tatapan dengan alis yang meninggi, namun tangannya dengan cepat bergerak mengambil kue yang aku sodorkan. “Kau akan baik-baik saja. Ala bisa karena biasa.”
“Kuharap begitu, sih.” Aku menghela napas selagi memutar kepala untuk memandangi sekelilingku. “Toilet di mana?”
Karena mulut masih asik mengunyak, Jemi menggerakkan kepala untuk menunjuk toko kue yang ada di belakangnya.
“Tunggu aku, ya? Setelahnya kita akan langsung pulang.” Jemi hanya mengangguk, jadi aku langsung beranjak dari kursi dan masuk ke dalam toko kue, mencari toilet.
Sudah setengah jam terhitung sejak aku dan Jemi memesan kue untuk dimakan di tenda luar toko, tapi nampaknya toko kue ini masih ramai, bahkan antriannya semakin bertambah. Jemi bilang ini toko kue paling enak yang ada di pusat kota kerajaan, jadi keramaian dan antrian panjang bukanlah hal yang baru. Hanya saja, ini agak menyusahkan. Untuk masuk saja aku harus menyelip dari kerumunan. Toko kecil dengan orang sebanyak ini—puluhan, bahkan ratusan—jelas bukan hal yang bersahabat. Aku hampir saja terjepit ketika seseorang tiba-tiba berdiri di sampingku dan merentangkan tangannya, menyisakan ruang yang bisa dilewati.
“Silakan,” ucapnya.
Aku menoleh, melihat seorang laki-laki dengan senyum kecil yang dia pamerkan. Tudung cokelat menutupi kepala sampai lututnya. Aku menundukkan kepala kemudian lewat dari ruang kosong yang dia buat, sebelum dia menarik diri juga dan ikut berjalan di belakangku.
Begitu bisa mendapat ruang yang sedikit lebih luas di dekat tembok, aku menunduk sekali lagi. “Terima kasih.”
“Tidak apa-apa.” Laki-laki itu terkekeh. “Mereka kira orang yang datang mau menyelip ke dalam antrian, jadi agak susah untuk lewat.”
“Kerumunannya agak gila,’ timpalku lagi, yang langsung dibalas dengan anggukan kepalanya.
“Agak menyusahkan, memang,” katanya, suaranya terdengar menggantung sementara kepalanya menoleh ke kerumunan yang ada, kemudian berbalik dan tersenyum lagi padaku, “biasanya di Toko Kue Purnama tidak seramai ini.”
Awalnya, aku mengangguk, mengiyakan. Hanya dalam tiga detik kemudian, aku menyadari sesuatu.
Ada yang salah dengan ucapannya barusan.
Apa dia bilang tadi?
Aku menatapnya heran, ingin berkedip tapi nyatanya aku hanya bisa mematung. “Kau bilang...”
“Ah, aku harus kembali lagi,” ucapanku terpotong begitu saja. Yang ada laki-laki itu justru tersenyum padaku, seakan tidak ada yang salah. “Kuharap lain kali kita bisa bertemu.”
Dan tanpa sempat membalas, laki-laki dengan tudung cokelat itu sudah lebih dulu menarik diri, lenyap tertelan kerumunan hanya dalam hitungan detik, sementara aku masih mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi.
Memang, rasanya tidak ada yang salah.
Tapi aku tahu ada sesuatu yang salah.
Toko Kue Purnama, katanya.
Tidak seharusnya itu disebutkan di sini, kan?
Karena aku tahu betul toko itu. Toko kue favoritku. Tempat Ayah biasanya membeli kue ulang tahun dan roti kesukaanku.
Toko itu tidak ada di sini.
Toko Kue Purnama hanya ada di satu tempat. Kerajaan Bulan.
Apa jangan-jangan dia...
Astaga. []