Ketertarikanku pada kunci itu bertambah. Nenek kelihatan sibuk dengan urusan kerajaan, dan Jemi bilang itu karena ada acara besar sebentar lagi. Jadi sebagai gantinya, aku bertanya pada Jemi. Yang Jemi beritahu juga kurang lebih sama dengan apa yang aku dengar dari Jordanius. Kunci itu hanya ada dalam dongeng.
Lalu kunci yang Ayah berikan padaku... apa?
Ingin sekali aku bertanya dan menceritakan kunci yang Ayah berikan, namun keraguan membuatku memilih untuk tidak menceritakannya—dan itu berarti aku harus bertarung dengan siksaan rasa penasaran. Lambang Klan Oriane juga sebenarnya mirip dengan kunci yang Ayah berikan, dan Jemi bilang bahwa ada yang berpendapat pembuat kunci itu merupakan salah satu pendiri Klan Oriane, tapi tidak satu pun dari Klan Oriane saat ini yang mengetahui keberadaan kunci itu.
Mungkin kunci yang Ayah berikan hanyalah salah satu ornamen klan. Atau mungkin...
Entahlah.
Dibanding memikirkan kunci, aku rasa ada hal lain yang lebih harus diperhatikan. Soal latihanku.
Tidak terasa sudah tiga minggu aku berada di sini, dan minggu ini aku akan mendapatkan pelatihan pertamaku dengan Victor. Dan, oke, mari coba lihat sisi menyenangkannya. Menurutku pakaian latihan ini lebih mudah digunakan daripada gaun tebal berlapis-lapis yang panas dan gerah. Tiap orang memiliki kostumnya masing-masing, dan punyaku berwarna putih dengan aksen merah sebagai pertanda klan—setidaknya begitu kata Nenek. Untuk pertama kalinya aku bisa mengenakan baju serta celana yang menyatu, dengan kerah merah yang menutupi satu perempat bagian dari leherku.
Sekarang, bagian terburuknya. Aku akan latihan. Akhirnya aku akan latihan. Hanya aku sendiri, dan Victor jadi pelatihku. Ketika aku bertemu dengannya pagi sekali, dia justru tersenyum dan berbisik, “Bersiaplah, Risha.”
Akhirnya Victor memanggilku dengan cara yang normal dan dapat diterima, namun semua itu jelas tidak akan ada gunanya dibanding dengan senyum yang mirip seperti serigala yang siap memburu kawanan domba. Dulu Ibu pernah menceritakan dongeng Kerajaan Bulan mengenai seorang laki-laki yang memakan teman bahkan adiknya hanya karena kecanduannya pada gula, tapi kurasa Kerajaan Matahari bisa melakukan hal sadis bukan karena kecanduan, namun karena mereka menyukainya.
Hari ini langit kelihatan cerah, kurasa hari-hariku tidak akan begitu.
Aku menghela napas, mencoba mengumpulkan kesadaran dan keberanian sebelum keluar dari kamar mandi, melangkah ke bagian Barat dari kastil kerajaan dan masuk ke taman yang ada di sana. Begitu masuk, terdengar bunyi desisan dari sekitarku, dan seketika api berwarna biru mengelilingiku, tersambung dari satu pilar ke pilar yang lain di sekitar taman, seolah membangun pembatas yang mengurung siapapun di dalam taman.
“Kupikir kau akan kabur dan melewatkan latihan kali ini.” Kepalaku seketika menoleh ke asal suara, dan mendapati Victor tengah bersandar di patung tentara yang ada di tengah-tengah taman. Tangannya menyilang di depan d**a. “Keberanianmu boleh juga.”
Victor kemudian meluruskan punggungnya sebelum berjalan ke arahku. Pakaiannya masih sama seperti tadi pagi, kecuali jas berwarna merah yang penuh dengan ornamen-ornamen dan medali kecil yang tertempel itu tidak lagi dia kenakan. Kali ini Victor hanya memakai kemeja putih berkerah warna oranye, warna khas Klan Elodoro.
“Kau tidak pakai baju tempurmu,” ucapku, yang segera Victor balas dengan kekehan menyebalkan.
“Tidak perlu repot-repot. Aku bisa mengalahkanmu sekalipun aku memakai piyama.”
Dia benar-benar menyebalkan. Astaga!
Mencoba untuk tenang dan sabar, aku memilih untuk tidak membalas ucapan menyebalkan Victor barusan dan berfokus untuk menggerakan tangan, kaki, hitung-hitung pemanasan kecil. Aku memang payah dalam olahraga, dan hal ini belum tentu membantuku untuk menghadapi Victor, tapi setidaknya aku mencoba. Mencoba untuk tidak kalah tanpa adanya usaha. Itu kedengaran lebih baik sekalipun aku tahu aku pasti kalah.
Belum mencoba saja aku sudah tahu aku benar.
Ini mulai terasa menyedihkan.
Selama beberapa saat Victor menggerakkan lengannya, kemudian berhenti dan memanggilku. “Kau siap?”
Sejujurnya, tidak. Aku tidak siap. Aku tidak ingin melakukan ini. Namun ini jadwalku, dan aku tidak punya pilihan. Ini salah satu cara untuk bertahan hidup, dan mungkin mengenal lebih banyak tentang apa yang kubisa dengan kekuatan angin ini.
Aku memang tidak bisa menggunakannya untuk bertempur atau kembali menyelamatkan diri sama seperti saat jatuh ke air terjun tempo lalu, tapi aku bisa belajar pelan-pelan. Karena minggu sebelumnya aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nenek, aku mulai mengenal sejarah dan latar belakang Kerajaan Matahari. Aku mulai mengenal Klan Oriane, dan kemampuanku, meski hanya sebatas teori.
Yah, tapi aku pernah berhasil sedikit dengan prakteknya. Aku berhasil membuat tumpukan daun di halaman kembali berserak dengan anginku, meski pada akhirnya aku harus kembali membereskannya.
Kuncinya, aku harus berpikir, berfokus, dan membayangkan itu keluar.
Kelihatan mudah, tapi nyatanya tidak semudah itu. Setelah urusan daun itu, aku tidak pernah berhasil mencoba mengeluarkan kekuatanku lagi.
Mungkin daun itu hanya diberantakan angin yang berhembus, bukan kekuatanku.
Melihat Victor masih menunggu jawaban, aku akhirnya mengangguk, tanganku mengepal. Victor sudah memamerkan senyuman menyebalkannya, kemudian menjentikkan jarinya dan membuat pedang api berada dalam genggaman tangannya.
“Aku mulai.”
Langkah pelan namun pasti dia ambil, dan itu membuatku melangkah mundur. Namun semakin aku mundur, langkah kaki Victor justru semakin cepat, hingga dia berlari, begitu cepat.
Aku mencoba untuk fokus, berpikir dan membayangkan kekuatanku seharusnya keluar. Aku membayangkan perisai, membayangkan angin mengembang
Aku tidak ingin kalah, tapi rasanya aku ingin menjerit dan berlari keluar.
Aku tahu aku akan kalah.
Tapi, bisa tidak...
Pikiranku buyar begitu aku mendengar siulan. Victor sudah ada di depanku, pedang apinya hampir menyentuhku, dan ada sedikit keterkejutan tergambar di matanya, tapi semuanya sirna hanya dengan satu gerakan sudut bibir.
“Kau cukup pandai meniru, ya, Ris?”
Aku tidak pernah memikirkan sedikit pun untuk meniru. Hanya saja itulah yang terjadi, dan aku tidak mengerti bagaimana. Yang aku sadari, Victor terasa begitu dekat, pedang apinya itu seolah siap membakar kostumku, bahkan kulitku sekalipun. Aku merasa terancam, dan aku ingin melawan.
Tapi aku tidak pernah berpikir untuk menirukan pedangnya.
Dan itulah yang ada di tanganku sekarang.
Pedang api Victor tertahan dengan pedang anginku, dengan ukuran yang sama besarnya, dan dengan api yang menyala dan angin yang berputar liar, kelihatan menghasilkan kabut tipis di sekitarnya. Victor mengayunkan pedangnya lagi, dan aku mencoba menahannya sekuat yang kubisa.
“Hm, tidak terlalu buruk,” kata Victor. Satu alisnya meninggi sementara dia mengambil satu langkah mundur.
Tapi tentu saja, aku pasti bodoh jika mengira dia akan mengakhiri ini, karena dia tidak mungkin melakukannya. Dan aku tahu itu. Kendati berhenti, Victor justru menyerangku dengan ayunan pedang bertubi-tubi yang lebih cepat dari sebelumnya, membuatku hanya bisa memegang pedangku sekuat yang kubisa dan tidak menghilangkannya.
Entah api Victor yang terlalu keras, atau anginku yang terlalu keras, atau mungkin keduanya, tapi dentingan terdengar tiap kali pedang kami bertemu, seolah kami bertempur dengan pedang yang ditempa dengan besi sungguhan.
Butuh tenaga besar untuk bertahan, dan aku merasa perlahan tenagaku terkuras. Aku berusaha keras, percayalah, tapi Victor justru kelihatan begitu santai. Apinya semakin membara dan dia terus menyerangku, pedangnya perlahan membuat sisi-sisi pedang anginku terbelah, sebelum kembali menyatu.
“Sudah lelah, ya?” ejeknya, dan aku mendengus sebal. Dia benar, tapi aku tidak ingin mengiyakannya dan membuahkan ejekan lain dari mulutnya. Aku sama sekali tidak membutuhkan itu.
Aku berusaha untuk mundur ke serong dan berlari mundur, mengatur jarak lebih di antara aku dan Victor. Aku turunkan pedang anginku, mencoba mengistirahatkan tangan. Rasanya pedangku mengecil.
“Gerakanmu cukup bagus, tapi seharusnya kau tidak terus mempertahankan pedang begitu tanpa menyerang,” ujar Victor, kali ini dia sedikit berteriak. “Kalau kau begitu saat bertempur melawan musuh, itu hanya membawamu mati pelan-pelan.”
Dia mungkin mencoba merendahkanku. Itu yang awalnya aku pikirkan sebelum menangkap ada yang berbeda dari Victor. Kali ini, dia kelihatan cukup serius. Pedang apinya perlahan mengecil, sirna dari pandanganku. Namun beberapa saat kemudian tangan Victor kelihatan sedikit bersinar, seolah dia tengah menggenggam api yang perlahan memanjang, kemudian berubah menjadi busur. Satu tangannya lagi mengubah api menjadi panah.
Aku dalam bahaya sekarang.
Satu hal yang aku tahu, Klan Elorodo dikenal sebagai pemanah hebat secara turun-temurun. Dan kurasa hal itu pun berlaku bagi Victor.
Taku berusaha menggenggam pedangku kuat-kuat, kembali pada posisi bersiap. Di Kerajaan Bulan, aku sering melihat panah yang dipotong begitu saja dengan pedang, bahkan pisau. Kerajaan Bulan memang memiliki tentara yang menyeramkan. Tapi memotong api... aku tidak pernah tahu itu.
Anak panah sudah ditempatkan di busur, dan Victor kelihatan siap membidik. Hanya dengan melihat ujungnya dari tempatku berdiri membuat jantungku berdetak begitu cepat. Adrenalinku berpacu bersamaan dengan rasa takut. Tanganku bergetar, dan ujung anak panah itu dengan cepat mendekat.
Hanya saja, suara nyaring terdengar, membuatku terkejut. Dan kurasa Victor juga begitu. Spontan aku mengayunkan pedang, dan anak panah itu terbelah.
Benar-benar terbelah.
Hanya saja, fokusku bukan lagi ke situ. Begitu pula dengan Victor. Kepalanya sedikit menengadah sementara terdengar suara besar, semacam pengumuman yang diedarkan di seluruh kerajaan.
“Untuk para Panglima dan Jenderal dimohon untuk segera berkumpul di Barak Timur Kerajaan. Ulangi, untuk para Panglima dan Jenderal dimohon untuk segera berkumpul di Barak Timur Kerajaan.”
Dalam sekejap busur Victor lenyap, begitu juga dengan api biru yang sebelumnya bersambung di antara pilar-pilar. Dia menolehkan kepalanya ke arahku, kemudian berteriak, “Kurasa ada urusan darurat. Latihannya sampai di sini dulu. Anggap saja kau tengah beruntung, Risha Oriane.”
Sebelum aku sempat membalas, Victor sudah menarik diri lebih dulu, berlari dengan cepat dan meninggalkanku sendirian di taman. Kalimatnya itu jelas membuatku kesal, hanya saja suasaa saat ini terasa begitu tegang, dan semua itu seolah disetujui oleh bagaimana cara Victor bertindak sebelumnya.
Apa yang terjadi?
Aku memandangi tangan, memandangi pedang yang perlahan menciut hingga hilang seketika. Kupandangi tanganku, mendekatkan telapaknya ke depan wajahku. Aku melakukannya. Aku berhasil. Kekuatanku keluar, meski aku tidak begitu mengerti bagaimana, karena jelas semuanya berbeda dengan apa yang aku pikirkan.
Baru saja aku menurunkan tangan, sesuatu tiba-tiba mendarat di kakiku. Entah dari mana, aku pun tidak tahu, karena nyatanya tidak ada siapapun di sini. Kutengadahkan kepala untuk melihat ke atas, meletakkan tangan di dahi sebagai penghalang sinar matahari langsung ke mata. Tidak ada yang kulihat kecuali burung gagak dengan warna yang aneh.
Gagak itu berwarna putih. Aku yakin itu gagak. Tapi tidak seharusnya gagak berwarna putih, kan?
Gagak itu bertengger di pinggir atap untuk sesaat, kemudian kembali terbang. Ini mungkin kedengaran konyol, tapi aku merasa seakan gagak itu menatapku, dan itu sama sekali tidak bisa kujelaskan.
Kembali kutundukkan kepalaku, mengambil sesuatu yang terjatuh di bawah kakiku. Warnanya krem, dan begitu aku memegangnya, ternyata itu kertas yang diremas kecil. Aku mencoba membukanya, membaca goresan-goresan berwarna cokelat pudar di sana.
Mungkin seharusnya aku tidak membacanya. []