Percaya pada Victor kelihatannya bukan hal yang terlalu buruk. Paling tidak di hal-hal tertentu, dia bisa dipercaya. Aku tidak tahu bagaimana persis dan apa yang terjadi antara dia dan Ratu Asya, tapi sore harinya setelah acara kabur bodoh yang kami lakukan, Ratu Asya mengirimiku surat baru mengenai perubahan jadwal. Victor resmi menjadi pelatih khususku untuk pelatihan terampil.
Entah aku bersyukur atau tidak, paling tidak dia mengerti posisiku sebagai penduduk Kerajaan Matahari amatiran. Paling tidak begitulah pendapat dirinya tentangku. Dan setidaknya itu berarti aku masih aman.
Dalam seminggu, aku dapat pelatihan 3 kali di waktu pagi. Dan karena jadwal Victor berikut statusnya sebagai jenderal, untuk minggu pertama ini tidak ada pelatihan apapun. Setidaknya aku punya waktu untuk mempersiapkan kira-kira kegilaan apa lagi yang akan dia lakukan dalam latihan nanti.
Aku belum siap. Dan mungkin tidak akan siap. Tapi jelas, Victor tidak akan peduli soal itu.
Untuk beberapa hari belakangan ini, yang aku lakukan kurang lebih belajar bersama Nenek, dan menjelajahi perpustakaan kerajaan yang cukup luas. Di sini aku bisa merasa tenang dengan tumpukan buku. Meski sudah beberapa kali berkunjung ke perpustakaan kerajaan, kesan surreal masih menyelimutiku.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terkagum pada buku yang seolah menyamar menjadi dinding bangunan. Di Kerajaan Bulan sendiri, perpustakaannya tak kalah besar. Malah lebih besar. Kurasa itu karena Kerajaan Bulan memang besar dengan adat bahwa buku adalah kehidupan. Buku menjadi sesuatu yang penting dalam keseharian.
Di Kerajaan Bulan, buku-buku didominasi dengan ilmu matematik, penuh dengan angka dan statistik. Banyak biografi dan memoar dari para ahli, dari ahli pahat hingga ahli perang pun ada. Jika dibandingkan dengan Kerajaan Matahari, bukunya banyak diisi dengan budaya dan cerita lama. Dongeng. Sejauh yang k****a, tidak ada buku yang menyinggung Kerajaan Bulan, tapi di beberapa dongeng sesuatu seolah menyinggung dua wilayah yang tidak bersentuhan itu.
“Kau ini anak kecil, ya? Masih baca dongeng?”
Aku berbalik dan mendapati Jordanius di belakang, tangannya membawa beberapa buku sementara dia berjalan dan duduk di sisi meja yang lain, tepat berhadapan denganku. Setelah beberapa hari belajar bersama Nenek, mau tak mau aku pun harus menerima akan seberapa seringnya mataku harus menangkap sosok Jordanius.
Orang bilang, kesan pertama itu penting. Dan itu membekas pada Jordanius—pengalamanku yang diseret tiba-tiba di hari pertama menginjakkan kaki ke kerajaan. Kalimat-kalimat meremahkan begitu mudah keluar dari mulutnya, dan kurasa itu ciri khas penduduk di sini, karena Victor pun begitu. Hanya saja, Jordanius termasuk orang yang rajin. Bahkan sekarang dia membawa buku dengan gambar-gambar rumit di depannya.
Untuk sesaat aku mencoba untuk tidak peduli, hanya saja perasaan familiar membuatku bergeming.
Tunggu dulu. Itu buku yang sama dengan aku baca hari itu. Buku dengan gambar kunci matahari.
Ah, kunci itu!
“Kau mau baca?”
Suara Jordanius membuat kepalaku terangkat, perhatianku kini tertuju padanya. Kepalaku baru saja mau menggeleng pelan, tapi Jordanius sudah langsung menyodorkan bukunya padaku sebelum salah satu tangannya menyangga pipi.
“Aku sudah baca berkali-kali. Baca saja duluan,” katanya dengan santai namun bercampur malas, membuat keningku mengerut. Aku butuh waktu untuk terbiasa dengan cara Jordanius bicara. Kurasa dia contoh manusia paling ajaib. Dia bisa kelihatan begitu berbeda bahkan hanya dalam detik yang berganti. Nenek pernah bilang padaku Jordanius termasuk unik, kurasa ini maksudnya unik itu.
Kuambil buku yang Jordanius sodorkan dan membalik halaman demi halaman untuk mencar gambar kunci itu. Dan ternyata, dugaanku benar. Bukunya benar-benar sama. Gambarnya pun sama. Telunjukku berlari untuk menyentuh gambar itu, terasa kasar namun permukaannya terasa sedikit timbul.
“Kadang aku penasaran kunci ini ada atau tidak,” celetuk Jordanius tiba-tiba. Aku segera mengangkat kepala, memandanginya dengan heran.
“Lho, memangnya ini tidak ada?” tanyaku.
Jordanius langsung memandangiku, matanya nyaris melotot. “Anak umur lima tahun juga tahu kunci itu tidak ada. Kau ini bodoh, ya?”
Tolong jangan salahkan aku yang mendadak kesal. Bibirku langsung berdecih, tapi di sisi lain aku sendiri pun heran. Kalau kuncinya tidak ada, lalu kunci yang Ayah berikan padaku itu apa? Bukan kunci?
Lidahku terasa gatal, ingin rasanya mengutarakan apa yang aku tahu sekaligus menyembur Jordanius karena baru saja mengataiku “bodoh” hanya karena hal kecil. Mana aku tahu. Aku kan orang asing.
Kurasa itu juga jadi alasan aku harus bersabar. Berada di Kerajaan Matahari benar-benar membutuhkan kesabaran tinggi, rupanya. Kurasa aku harus mulai terbiasa, meski rasanya menyebalkan.
Penasaran, aku kembali membalik halaman selanjutnya, dan mendapatkan satu halaman dengan huruf-huruf kecil yang tidak bisa k****a. Mataku menyipit, yang tentu saja sama sekali tidak membantu.
“Itu huruf kuno. Sampai saat ini tidak ada yang bisa membacanya,” tutur Jordanius. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi, sementara tangannya bergerak mengatur rambut cokelatnya. “Banyak yang berpendapat kunci itu akan menjadi petunjuk untuk mengerti bahasa kuno itu, tapi tidak ada yang tahu. Lagi pula, tidak ada ruang tersembunyi di sini.”
Mataku benar-benar tidak berkedip ketika mendengar penjelasan Jordanius. Kurapatkan bibir sementara aku mencoba berpikir.
Mungkin aku juga yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ayah sendiri bilang itu hanya benda yang dia temukan entah dari mana, dan kurasa benda berharga tidak mungkin hanya tergeletak begitu saja di dekat sungai.
Tapi kalau diingat lagi, aku tidak bisa percaya pada Ayah. Aku bahkan tidak tahu harus percaya pada siapa.
Karena tidak ada lagi keterangan soal kunci matahari, aku menutup buku dan mendorongnya kembali ke arah Jordanius. “Apa ada buku lagi yang membahas soal kunci itu?”
Pundak Jordanius terangkat acuh tak acuh. “Legenda banyak menyebut soal kunci itu. Namun tidak ada yang bicara lagi soal kunci itu,” katanya. Punggung yang sebelumnya bersandar santai kini bergerak, berubah condong ke arahku. “Kau tertarik pada kunci itu, ya?”
Sebenarnya, ya. Tapi atas pertimbangan-pertimbangan kecil, aku memilih untuk menggelengkan kepala. “Hanya bertanya.”
Jordanius kelihatan kecewa dengan bibirnya yang mencebik, namun dia tidak mengatakannya. Ketimbang membahas soal kunci itu, yang dia katakan justru sesuatu yang lain. “Victor jadi pelatih pribadimu? Serius?”
Suaranya nyaris mirip bisikan, begitu pelan. Matanya menatapku dengan serius. Kan, sudah kubilang. Sikap Jordanius bisa mendadak berubah begini. Sontak aku mundur karena tubuhnnya yang semakin condong, dan aku mengangguk pelan.
“Ratu yang membuatnya begitu.”
“Penyihir itu benar-benar...” Kalimat itu terdengar menggantung, dan diakhiri dengan desisan kecil. Jordanius kelihatan jengkel, membuatku heran sendiri. “Aku selalu mencoba meminta Victor mengajariku, tapi dia selalu melarangnya.”
Dalam detik berikutnya, tatapan Jordanius berubah tajam, membuatku mendadak merasa bersalah tapi heran di saat yang bersamaan. Dia kenapa, sih? Lagi pula ini kan perintah Ratu Asya.
“Bukan salahku, oke?”
“Kau terlalu beruntung.”
Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana harus merespon Jordanius. Tapi di sisi lain, aku bisa menangkap satu hal kecil. Hubungan Jordanius dan Ratu nampaknya kurang baik, dan rasanya itu menyedihkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa Jordanius benci ibunya sendiri.
Yah, kecuali kalau...
Oke, cukup.
Aku mengatupkan mulutku, mengalihkan perhatianku pada buku yang sejak awal k****a. Hanya saja niat membacaku mendadak hilang, membuatku memilih untuk menutup buku itu. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara kami berdua, hingga seseorang dengan baju putih panjang berlapis rompi cokelat—seragam para pelayan—menghampiri meja kami, atau lebih tepatnya menghampiri Jordanius.
Aku bisa mendengar pelayan itu berkata, “Sudah waktunya untuk makan siang, Pangeran.”
Sikap santainya seketika hilang. Yang aku lihat sekarang Jordanius yang duduk dengan tegap. Suaranya terdengar begitu berat. “Raja memang sudah pulang?”
“Sudah. Ratu juga ikut makan.”
“Aku akan makan di Taman Timur hari ini.”
“Tapi, Pangeran, Raja bilang—”
“Bilang saja aku ada janji makan dengan teman,” potong Jordanius, dan tiba-tiba perhatiannya terarah padaku. Mata hazel itu kelihatan kelam, memberi efek tidak nyaman, namun membangkitkan sedikit empatiku. Pada akhirnya aku mengangguk, sebelum Jordanius kembali bicara pada si pelayan, “Bawakan saja makan siang untuk dua orang ke sana. Aku akan bicara pada Raja nanti.”
Pelayan itu kelihatan cemas, tetapi akhirnya kepalanya mengangguk. Dia menunduk sesaat sebelum melangkah pergi. Tak lama Jordanius sudah beranjak dari kursinya, pundaknya bergerak beberapa kali. “Kita harus pergi ke Taman Timur sekarang”
“Kau benar-benar akan...”
“Tentu saja. Kau pikir aku serakus itu untuk menghabiskan dua porsi makan siang sendirian?” Salah satu alis Jordanius meninggi. Aku mungkin salah, tapi caranya meresponku cukup membuatku sebal. Aku nyaris ingin menolak, hanya saja aku tidak menduga dia akan melangkah mendekat, melepas sarung tangan di tangan kanannya yang kemudian dia ulurkan padaku. “Ayo.”
Aku menerima uluran tangannya, dan Jordanius menarikku perlahan untuk berdiri, namun tangannya tak kunjung melepas tanganku. Dengan acuh dia melenggang, membuatku mau tak mau mengikutinya.
“Jordanius.”
“Hm?”
Aku memandangi punggungnya dari belakang. Katakan aku sok tahu, tak apa. Hanya saja rasanya punggung itu kelihatan begitu tergesa, ada gerakan yang jika diperhatikan secara teliti mirip seperti amarah yang tertahan.
Meski ragu, aku memilih untuk tetap bertanya. “Kenapa kau tidak ikut makan siang dengan mereka? Bukankah Keluarga Kerajaan wajib makan bersama?”
Langkah kaki Jordanius tiba-tiba terhenti begitu kami sampai di ujung lorong setelah keluar dari perpustakaan. Aku sudah mencoba untuk bertanya dengan bahasa sesopan mungkin. Mungkin seharusnya aku bertanya.
“Maaf. Aku tidak—”
“Makan di meja yang sama dengan orang yang jelas-jelas tidak menginginkanmu hanya akan membuatku muntah. Aku benar-benar ingin makan sekarang.”
Itu kalimat terakhir yang menjadi percakapan kami siang itu. Jordanius tidak lagi bicara, dan aku hanya bisa diam sementara pikiranku tenggelam dalam bayangan-bayangan perih dari jawaban Jordanius itu. []