Ini fakta baru tentang Victor yang kutemukan pagi ini: dia gila.
Semua fakta nampaknya tidak ada yang bagus, bahkan berbanding terbalik dengan statusnya sebagai jenderal. Aku benar-benar tidak bisa menyandingkannya dengan status itu, sungguh. Karena... ayolah, coba katakan padaku jenderal mana yang justru mengajak orang lain untuk kabur dan menipu dua tentara kerajaan.
Hanya Victor saja.
Dan tindakan ini semacam kesalahan yang menguntungkan sebenarnya. Jika memang pagi ini aku harus bertarung—bukan hanya sekadar menonton—jelas aku memilih untuk kabur daripada datang dan menghidangkan diri sendiri seperti daging yang siap disantap kekuatan mengerikan dari para bangsawan Kerajaan Matahari.
Tapi bukannya kalau begini masalahnya justru akan membawa hukuman yang lebih berat?
Victor berpendapat idenya ini cemerlang, dan dia bertingkah seolah dia sudah menjadi penyelamatku. Yah, tiap tindakan memang punya titik baik dan buruknya. Hanya saja saat ini aku tidak bisa memikirkan apapun selain keburukan dan resiko yang menungguku.
Jadi, begini rencana cemerlang jenderal Victor Elorodo yang berubah menjadi Victor bodoh: Berbohong pada tentara untuk mampir ke kediaman Klan Elodoro, kemudian diam-diam menyelinap keluar dari jalan rahasia miliknya untuk sampai ke hutan terdekat yang dia sebut sebagai Markas Kehebatan—sebutan yang agak berlebihan, menurutku.
Sejauh ini, semua berjalan lancar. Apa yang Victor rencanakan terjadi. Tapi akibatnya nanti, siapa yang tahu? Aku bahkan tidak ingin membayangkannya, meskipun itu semua sudah berteriak, seolah menjadi bayangan di bawah kakiku.
“Kita bisa latihan di sini.” Suara Victor akhirnya terdengar, memecah keheningan yang sebelumnya hanya terisi dengan angin yang bersinggungan dengan daun. “Sekarang coba tunjukkan kemampuanmu.”
“Apa?”
“Aku bilang tunjukkan kemampuanmu. Suaraku sudah cukup jelas kan?”
Kurasa yang dilatih bukan kekuatanku sekarang, tapi kesabaran. Rasanya aku bisa menghabiskan tiap detik hanya untuk mengelus d**a atau mengepal tangan dan tidak meletupkan emosi. Oke, Alrisha. Kau bisa lebih sabar dari ini.
Atau mungkin... tidak.
“Permisi, Pak Jenderal, tapi ingat kan bagian kalau ‘aku tidak bisa mengendalikan’ itu maksudnya apa?” balasku sarkastik, yang langsung mendapat rotasi mata jengah dari Victor.
Kalau tidak mau mengajariku, tidak perlu membuatku melakukan ini semua. Siapa sebenarnya yang bodoh, hah?
Oke, Alrisha. Sabar.
Sebelum aku sempat merespon, Victor sudah bergerak untuk melepas jas megah berwarna merah yang dia kenakan, menyisakan kemeja putih nyaris krem dengan kerah yang agak tinggi. Disisihkannya lengan kemeja hingga sikunya terlihat, kemeja sengaja ia gantungkan ke salah satu ranting pohon yang cukup rendah.
“Benar-benar tidak bisa?” tanyanya. Kali ini nada bicaranya lebih wajar, lebih tidak terkesan menghina. Karena itulah aku mengangguk sebagai jawaban, namun tidak membalas dengan kata-kata. “Kalau begitu coba rasakan sesuatu?”
“Sesuatu? Maksudnya?”
Terdengar satu decihan dari mulut Victor lebih dulu, sebelum dia melangkah mendekat untuk berdiri tepat di hadapanku. Aku harus menengadah memandanginya. Tinggiku lima kaki, mungkin lebih. Tapi dengan Victor, aku merasa begitu kecil. Mata biru tuanya itu kelihatan begitu serius, aku bahkan tidak tahu kenapa bisa berpikir begitu.
“Kekuatan itu bakat alami, diturunkan dari generasi ke generasi. Yang harus kau lakukan untuk bisa mengendalikannya adalah dengan mengenalinya,” jelas Victor. “Elorodo itu penguasa panas, api. Aku pertama kali menggunakan kekuatanku karena marah pada ejekan temanku.”
Itu jelas sesuatu yang begitu kekanak-kanakan, dan membayangkan Victor megalami itu sebenarnya agak menggelitik. Namun dari caranya menuturkan itu, aku merasa sesuatu. Sesuatu yang kelam.
Sesuatu dalam otakku berputar cepat, entah bagaimana mulai merangkai hipotesis aneh tanpa landasan ini. Kurasa ini lebih baik kutahan di dalam mulutku sendiri.
Victor menggerakan tangannya seolah-olah menjadi penengah di antara jarak yang ada di antara kami, dan sesuatu berwarna merah muncul perlahan. Api. Api yang kelihatan jinak, berwarna jingga dengan nuansa bersahabat, terasa hangat di jarak sedekat ini.
“Kekuatan ini muncul karena sesuatu, dan yang harus kau lakukan hanyalah merasakannya, kemudian berusaha untuk mengendalikannya.” Api di tangan Victor berubah semakin besar, berubah menjadi selimut yang menutupi tangannya, membuatku segera mengambil langkah mundur. Api yang ini kelihatan tidak bersahabat.
Mungkin Victor sadar akan reaksiku, jadi dia mematikan apinya. Tangannya kemudian kembali berpindah ke samping tubuhnya, dan tatapannya kembali terarah padaku. “Apa yang kau rasakan ketika si botak itu mengancammu?”
“Nyaris mati.” Respon itu otomatis keluar dari mulutku, terjadi begitu saja. Memang begitulah adanya. Aku memang merasa nyaris mati. Aku bahkan bisa merasakan sebagian jiwaku nyaris lenyap hanya dengan ketakutan.
Namun di titik itu pula aku merasakan sesuatu. Mirip seperti keinginan tidak ingin mati. Keinginan untuk melawan. Keinginan untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang bisa menyelamatkanku.
Dan disitulah angin itu muncul, entah bagaimana berubah menjadi kumpulan tali tipis berwarna putih nyaris transparan yang membalut kepalan tanganku.
“Merasakan ada suatu dorongan?” tanya Victor lagi, dan aku mengangguk pelan, ragu jika yang akan aku keluarkan ini bisa dia mengerti atau tidak. Karena aku sendiri bahkan tidak mengerti.
“Aku hanya merasa perlu... melawan.”
“Begitu, ya.” Victor bergumam sendiri, bibirnya bergerak beriringan dengan mata yang kelihatan berpikir, membuatku ikut melakukan hal yang sama. Tak berselang lama, tangannya tiba-tiba meraih tanganku, menarikku untuk berpindah tempat.
“Mau ke mana, sih?”
“Ikut saja dulu, berisik.” Dia bahkan tidak repor-repot menoleh ketika menjawab, bicara secepat kilat dan diam di detik berikutnya, sibuk melangkah, melewati dedaunan dan ranting-ranting pohon yang bertumpuk menutupi jalan setapak. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang, hingga akhirnya Victor berhenti melangkah, dengan kami yang berdiri di dekat aliran sungai yang mengarah pada air terjun kecil.
Tapi tetap saja, kelihatan tidak bersahabat.
“Kalau kau mau melompat dari sini, tak perlu repot mengajakku,” kataku, buru-buru menarik tangan yang digenggam Victor sedari tadi, “silahkan lakukan sendiri, Jenderal.”
“Apa gelar itu semacam sindiran untukku?” Victor mengangkat alisnya, dan anehnya dia justru terkekeh.
Humor pendudukan Kerajaan Matahari memang unik, ya? Yah, unik dan seram kadang tidak bisa dibedakan.
Senyum yang Victor berikan memberikan efek merinding bagi bulu kudukku, terutama ketika alisnya bergoyang dan kakinya melangkah mendekat, seolah berusaha memojokkanku. “Tentu saja, aku tidak mengajakmu,” katanya santai, tapi kemudian, “kan kau sendiri yang akan melompat.”
Hah? Apa katanya? Siapa yang mau melompat?
“Victor, kurasa kau—”
“Bersiaplah, Pengawal Pangeran. Jenderal ini akan menyerang.”
Kalimat itu benar-benar menyebalkan. Aku bersumpah. Hanya saja di saat seperti ini, rasa sebal tidak terlalu penting karena rasa takut yang sudah mendominasi. Mataku bisa saja menggelinding hanya karena melihat api yang keluar dari tangan Victor, secara cepat berubah menjadi naga yang siap melahapku kapan saja.
Insting dalam diriku bergerak lagi, berubah lebih liar, membuatku ingin berlari ke dalam hutan. Tapi kemungkinan itu justru membuat keadaanku semakin buruk. Api dan hutan, sesuatu yang sudah jelas siapa pemenangnya. Terlebih, Victor sudah memblokir jalan dengan naga itu. Lebih tepatnya, dua naga api.
Naga itu semakin mendekat, api merubah tingkat keganasannya menjadi lebih daripada cara buku-buku dongeng menggambarkan sosok naga itu sendiri. Kakiku perlahan mundur, selangkah demi selangkah. Aku mencoba untuk berhati-hati, sayangnya sebelum sempat memperingati diri, kakiku sudah lebih dulu tergelincir.
Aku terjatuh.
Semua terasa berlangsung begitu cepat, seolah aku jatuh dengan tempo yang sama ketika air terjun bebas. Aku tidak begitu suka air, jujur saja. Aku payah dalam olahraga, apalagi berenang. Begitu terjatuh, otakku mulai memutar kemungkinan apa saja yang terjadi begitu tubuhku menyentuh air. Aku bisa saja hanyut, atau aku bisa saja langsung tenggelam. Tidak ada kemungkinan yang menyenangkan.
Mataku spontan menutup, tangan bersilang seolah itu akan membantu—dan tentu saja, tidak.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Tubuhku masih tidak merasakan kelembapan maupun basah. Yang aku rasakan justru dorongan itu lagi, keinginan untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri. Mataku masih terpejam hingga aku mendengar teriakan dari atas.
“Kau berhasil! Sudah kuduga cara ini akan berhasil!”
Seketika aku membuka mata lebar-lebar, menyingkirkan lengan yang menutupi wajah. Dari atas, aku bisa lihat sinar matahari, begitu menyilaukan. Dan aku juga bisa lihat Victor, kelihatan begitu kecil dari... bawah sini.
“Kau melakukannya, gadis bo—kau melakukannya!”
“Apa?”
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengernyitkan kening, tangan bergerak ke arah lain, dan barulah aku sadar. Aku mengapung. Sesuatu menjagaku untuk tidak menyentuh air. Angin.
Anginnya berubah menjadi piringan namun terasa begitu lembut di pinggangku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak takjub, mata mengerjap beberapa kali hingga aku menoleh ke belakang, melihat jarakku dan air yang masih lebar.
Aku merasa aman.
Tapi tak lama, aku merasa sesuatu membuatku ketakutan.
Dan di situlah, aku membuat kebodoan lagi. Aku terjatuh. Tercebut. Benar-benar masuk ke dalam air.
Dadaku terasa begitu sesak, ingin rasanya mengeluarkan kepala dan berteriak, tapi tidak bisa. Baju dan pita-pita besar ini seolah mendukungnya, membuatku seolah semakin lama semakin tertarik ke dasar. Napasku tertahan, rasanya nyaris di gerbang, ingin menyerah. Kurasa tinggal sedikit kesempatan yang tersisa bagiku untuk bernapas, namun di saat itulah aku merasa ada sesuatu yang ikut tercebut, hingga aku merasa tertarik. Kepalaku yang sebelumnya terasa berat akhirnya bisa menghirup udara lagi, namun dadaku tetap terasa sesak.
Wajahku basah kuyup, seolah diselimuti air, tapi aku bisa lihat wajah Victor yang begitu dekat, lengannya terasa begitu kokoh melingkar di pinggangku, berenang dan membawaku ke tepian. Tubuhku berbaring, sementara Victor bergerak cepat, tangannya seakan menyobek sesuatu di baju bagian depanku, memberiku ruang untuk bernapas.
Tangannya kemudian mengguncang tubuhku kecil namun cepat, sementara suaranya terdengar keras namun tersumbat—atau mungkin telingaku yang tersumbat. “Hei, kau! Bisa dengar aku?”
Tenggorokanku terasa gatal, membuatku terbatuk beberapa kali, hingga akhirnya dadaku bisa benar-benar terasa lega. Bisa kudengar embusan napas lega lolos dari bibir Victor, dan cengkeramannya di pundakku melemah.
“Padahal kau sudah melakukannya.”
“Kau nyaris membunuhku,” kataku jengkel, namun butuh lebih dari sekadar usaha untuk menunjukkan kekesalan dalam nada bicaraku, “bodoh.”
Aku pikir Victor akan marah, kemungkinan besar dia akan melakukannya. Namun kali ini, aku rasa aku bukan melihat Victor. Yang aku lihat bukanlah si jenderal arogan yang suka memanggil seseorang dengan kata “bodoh”. Kali ini dia kelihatan begitu biasa, dengan kepalanya yang tertunduk dan gumaman kecil.
“Maaf, kupikir itu berhasil.”
Terlalu takjub, aku hanya bisa diam. Victor membantuku untuk meluruskan punggung, kembali kurasakan lengannya mencoba membantuku tetap pada posisi, tangan memegang pinggangku, dan dahi yang tiba-tiba dia tempelkan pada dahiku.
Terlalu cepat, terlalu tidak disangka. Aku bahkan bisa merasakan napasnya dengan jarak begini. Hidung kami bahkan nyaris bergesekan, namun sudah bersentuhan.
“Aku akan menghangatkanmu.”
Aku masih mencoba terbiasa dengan semua posisi tiba-tiba yang canggung ini. Bahkan dengan Ayah pun, aku tidak pernah sedekat ini. Aku nyaris saja menjerit ketika sadar bahwa ada api yang mengelilingiku dan juga Victor. Ini kekuatannya, tapi bukan aku. Aku bisa saja terbakar.
Apinya seolah ikut membakar perasaan panik dalam diriku. Hanya saja ketika sadar Victor memejamkan mata, dan cengkeramannya di pinggangku seolah berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Dan di tengah rasa panik, butuh sedikit waktu hingga aku sadar. Apinya terasa hangat. Bajuku bahkan sama sekali tidak terbakar. Yang ada, api-api ini justru membuatku merasa kering. Dan setelah beberapa lama, api itu lenyap.
Dahiku dan Victor masih menempel, dan kali ini mata Victor terbuka, membuatku bisa melihat seberapa kelamnya manik birunya dari jarak sedekat ini. Tapi aku sadar, matanya begitu unik. Ada sesuatu yang menarik dari matanya. Atau mungkin hanya perasaanku saja, ya?
“Kurasa perjalanannya akan sedikit lebih jauh,” kata Victor pelan, “kau butuh bantuan. Mendorongmu begitu saja untuk mengancam diri nampaknya tidak terlalu efektif. Kau masih menahan diri...”
Nada bicaranya terdengar menggantung, dan dia menatapku seakan menunggu sesuatu.
“Risha. Aku yakin aku sudah memperkenalkan diri,” tambahku.
“Agak sulit mengingat gadis yang konyol.” Kata baru lagi. Dan masih menyebalkan. Tapi kurasa itu lebih baik ketimbang kata yang sebelumnya dia gunakan. “Aku akan coba mengajukan permintaan pada Ratu Asya dan mengajarkan ini secara pribadi. Kau terlalu cepat untuk masuk kelas pelatihan terampil.”
“Aku menghargai bantuanmu itu.”
Untuk kali ini, bisa kulihat senyuman terukir di wajah Victor, dan itu manis. Yah, lebih manis ketimbang tawa sinis bak tokoh antagonis yang dia keluarkan untuk menakutiku, pun dengan tatapan tajam mematikan yang sempat dia berikan padaku di waktu lalu.
“Kurasa kau butuh satu bantuan lagi,” katanya seraya menjauhkan dahi. Angin seketika menerpa dahiku begitu saja. Aku ingin bertanya, namun dia sudah menjawab lewat tatapannya yang terarah pada bajuku, dan aku sadar bajuku begitu berantakan dan agak terbuka.
Buru-buru aku mundur, tangan bergerak untuk menikat tali-tali yang terlepas, sementara Victor sudah tertawa.
“Santai saja, aku tidak tertarik dengan d**a datar,” ucapnya santai. Dia kemudian berdiri, tangan bergerak merapikan rambut pirangnya sementara terkekeh menang. Oh, bagaimanapun dia tetap si jenderal sok yang menyebalkan.
Aku pun ikut berdiri, mendengus sekeras yang kubisa, persetan bahkan jika itu berlebihan, dan membalas, “Terima kasih. Aku rasa aku aman dari jenderal gila sepertimu.”
Pipiku nyaris terbakar karena kalimat memalukan dari Victor. Tapi aku seharusnya tidak peduli. Apapun penilaiannya padaku, aku tidak peduli. Dia belum tentu lebih baik dariku. Seharusnya aku bahkan tidak menganggapnya manis hanya dengan satu senyum penuh tipuan, sial.
Aku menepuk gaunku sebelum kembali menguatkan ikatan tali-tali yang ada di baju bagian depanku. “Lalu sekarang, bagaimana kau mau menjelaskan acara kabur gila ini pada Ratu?”
“Santai saja. Itu akan jadi bagianku.”
Entah Victor yang terlalu sepele menganggap sesuatu atau bagaimana, tapi aku merasa dia dan Ratu Asya kelihatan cukup dekat. Kalau dipikir-pikir, kelihatannya begitu. Karena dari apa yang kuketahui, rasanya lebih baik tidak bicara sama sekali daripada berusaha berkompromi dengan ratu menyeramkan itu.
Tapi jika memang begitu adanya, aku rasa keuntungan ada di pihakku. Karena Nenek benar, sesuatu yang membahayakan bisa jadi teman yang paling menguntungkan. Mungkin aku harus mulai memikirkan kemungkinan yang satu itu.
Aku hanya bisa diam dan memilih tidak berkomentar, mencoba mengalihkan pandangan ke sekitar. Hutannya kelihatan cukup menyenangkan sebenarnya, kecuali dengan fakta bahwa Victor membawaku ke sini dan membuatku tenggelam.
Dan lagi, aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang kelihatan memantau. Memantau kami. Aku ingin menanyakan hal itu pada Victor sebenarnya, namun sesuatu menahanku untuk melakukannya.
Karena tanpa bertanya pun, aku tahu sesuatu.
Tidak ada penduduk Kerajaan Matahari yang punya rambut hitam legam. Tapi aku tahu siapa yang memilikinya.
Tapi ini teritorial Kerajaan Matahari. Apa yang dilakukan penduduk Kerajaan Bulan di sini? Dan bagaimana caranya mereka bisa... di sini? []