Berikut ini argumen paling masuk akal dan paling meyakinkan dariku untuk menyanggah statusku sebagai penduduk Kerajaan Bulan: Aku bodoh.
Semua itu seolah terbuka lebar di sini, semenjak aku memasuki wilayah Kerajaan Matahari. Dan aku melakukan itu di depan Victor. Polos dan bodoh itu memang tidak jauh beda, tapi yang aku lakukan jelas benar-benar kebodohan. Dalam sehari sudah banyak kejadian beruntun yang bisa membuatku mati kapan saja. Satu-satunya yang kusyukuri adalah keberuntungan masih berpihak padaku, mungkin karena aku kelihatan patut diberikan keberuntungan. Entahlah.
Untungnya di saat itu aku bisa langsung menambahkan, “Maksudku... aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku.”
Aku sendiri bahkan sadar betapa gugup dan gemetaran jawabanku itu. Dan kurasa Victor menyadarinya, bahkan mencurigainya. Namun responnya ternyata tidak semenakutkan dugaanku.
“Serius?” Itu pertanyaan yang Victor keluarkan sebagai respon. Tatapan Victor masih membuatku tidak nyaman, tapi setidaknya itu lebih baik ketimbang dia membunuhku karena tahu aku bukan penduduk Kerajaan Matahari.
“Tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa anak seorang panglima bahkan tidak bisa mengendalikan kekuatannya?”
Oh, ayolah. Aku bahkan tidak tahu kalau ayahku panglima.
“Kalau begitu aku akan mengajarimu.”
Nyatanya aku tidak seberuntung yang aku harapkan, yang ada justru aku terseret dalam hal lain yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Tiga hari telah berlalu, dan undangan dari kerajaan datang ke kediaman Oriane, dengan namaku tertulis di sana dan diminta untuk mengikuti kelas para bangsawan Kerajaan Matahari dengan alasan sebagai penjaga pribadi Pangeran.
Oh, bukan. Bukan itu yang ditulis di surat. Bukan pangeran, tapi Putra Mahkota.
Si tukang menyelinap itu seorang calon raja. Entah aku harus tersanjung atau merasa bodoh karena putra mahkota dari Kerajaan Matahari jelas seseorang yang... oke, lupakan. Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan Jordanius.
Jika dihitung, ini minggu keduaku di sini, dan sialnya aku masih belum bisa terbiasa dengan baju-baju berpita besar khas Kerajaan Matahari. Ada yang mengganjal tiap kali mengenakannya. Dan karena aku sekarang akan memulai keseharian untuk mondar-mandir di kerajaan, pita-pita yang lebih besar akan menunggu untuk menempel di gaunku.
Apa semakin besar pita berarti semakin terpandang? Kalau begitu aku memilih jadi warga biasa saja.
“Risha, kau sudah siap?” Suara Nenek terdengar berselang ketukan kecil dari pintu kamar. Aku langsung beranjak dan membukanya. “Keretanya sudah datang di depan.”
“Kereta?” tanyaku, dan Nenek justru mengangguk.
“Kereta kerajaan. Mereka akan langsung membawamu.”
“Tapi bukannya aku akan pergi dengan Nenek?”
“Nampaknya pengawal pribadi pangeran punya akses khusus,” celetuk Nenek, dia kelihatan bangga dengan hal itu. Tapi sungguh, ini bukan pencapaian. Ini petaka. Dan seakan belum cukup, Nenek ikut menambahkan, “Mereka bilang Ratu yang ingin agar kau dijemput.”
Ratu? Wanita dengan mata tajam yang menindas dan... astaga, apa maksudnya ini?
Rasanya kakiku ingin mundur ke belakang, kembali menutup pintu dan bersembunyi di balik selimut, meski itu jelas tidak ada apa-apanya untuk melawan api atau kekuatan menakutkan lainnya. Ketika aku merapatkan bibir, Nenek menepuk pundakku.
“Mungkin ini menakutkan, tapi tempat terbaik untuk menghindari kecurigaan memang di dalam rumah, Alrisha.” Nenek kemudian menyodorkan satu surat dengan cap matahari di belakangnya, dengan lambang aneh di dekatnya, entah lambang apa itu. “Ini dari Ratu Asya. Katanya ini untukmu.”
“Apa isinya?”
Kepala Nenek menggeleng. “Hanya kau yang bisa membukanya, suratnya diberi mantera.” Lambang aneh mirip spiral itu ternyata mantera?
Aku hanya menerima suratnya, namun sama sekali tidak berniat membukanya sekarang, atau nanti. Firasatku meneriakkan hal lain.
“Dibanding semua, kau harus berhati-hati dengan Ratu, Risha. Tapi, yang berbahaya selalu memberi keuntungan tersendiri jika dijadikan kawan.” Kali ini Nenek berbisik tepat di telingaku, benar-benar suara yang begitu pelan. Tangan Nenek kemudian berpindah untuk menggenggam tanganku, menuntunku untuk berjalan keluar. Bisa kulihat kereta kuda berlapis emas dengan ornamen merah dan jingga.
“Siang nanti Nenek akan mengajarmu. Bersenang-senanglah.” Itu yang Nenek ucapkan terakhir sebelum dua tentara yang menunggu membawaku berjalan ke kereta. Kata-kata Nenek memang terdengar tidak cocok untukku. Kerajaan Matahari jelas bukan tempat yang cocok untuk bersenang-senang. Tapi aku tahu bukan “bersenang-senang” seperti itu yang Nenek maksud ketika aku merasakan cengkeraman di bahuku. Bahkan Nenek mencoba mengisyaratkanku untuk lebih hati-hati. Terutama pada Ratu Asya.
Aku bersiap untuk naik dan mengangkat ujung-ujung bajuku, hanya saja ketika pintu kereta terbuka dari dalam, aku seketika melongo.
“Victor?”
“Hei, gadis bodoh.”
Apa katanya tadi?
Aku mengernyitkan kening pertanda tak suka, namun seolah tak mempedulikan itu, Victor justru mengulurkan tangannya padaku. “Cepatlah. Kau lama sekali.”
Dia memang selalu menyebalkan, ya? Aku mendengus jengkel, tapi hanya bisa menerima uluran tangannya karena tidak ingin ikut dimarahi tentara di belakangku. Victor menarikku masuk, dan tiba-tiba melepaskan tangannya, membuat tubuhku jatuh. Untungnya aku langsung terdorong ke kursi. Tangannya mengetuk atap kereta, dan tak lama kereta pun berjalan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” sambarku cepat.
Awalnya wajah Victor kelihatan kesal, namun dalam beberapa detik berikutnya wajahnya berubah serius. “Ada beberapa hal yang perlu kutanyakan.”
“Apa?”
“Jadwalmu pagi ini apa?”
Aku menyilangkan tangan, membenarkan posisi agar lebih nyaman untuk duduk selagi menjawab, “Pelatihan Terampil. Apa itu berarti aku akan diajarkan keterampilan seni atau...”
“Astaga, serius?” Victor justru panik mendadak. “Ini buruk.”
“Apanya?” Jujur, aku heran sendiri. Jika kelasnya hanya soal keterampilan, aku rasa itu tidak akan jadi hal yang sulit. Meskipun bukan keahlianku, tapi Ibu pernah beberapa kali mengajarkannya padaku.
Satu dengusan terdengar dari Victor, namun dia tidak banyak bicara. Kendati bicara padaku, dia justru mengetuk atap kereta lagi, membuat kereta berhenti. “Ada yang perlu kuambil. Bisa kita mampir ke kediamanku dulu?” teriak Victor. Tidak ada jawaban yang terdengar namun bisa kurasakan keretanya berputar ke arah lain.
Victor kini menggertakan giginya, keningnya melipat seolah dia tengah memikirkan sesuatu. “Kurasa kau harus bolos.”
Serius? Itu yang mau dikatakan setelah raut wajah sok berpikir berat itu?
“Hah? Kau gi—”
“Kau pikir bisa bertahan di hari pertama bertarung melawan bangsawan yang sudah menguasai kekuatan mereka?” geram Victor, aku bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak berjengit kaget. “Itu bukan kelas keterampilan seni, bodoh! Itu kelas petarung! Kau sendiri yang bilang tidak bisa mengendalikan kekuatan kan?”
“Kau serius?”
“Astaga, kau ini benar-benar bodoh ya?” decihnya. Dia bahkan menatapku seolah aku ini benar-benar bodoh.
“Memangnya kau sendiri pintar?” balasku jengkel. Sumpah, kata-katanya tidak membantuku sama sekali. Yang ada aku jadi makin panik. Kepalaku seketika berputar, mencoba mencari jalan keluar. Tapi tidak ada. Aku bukan berada dalam labirin. Ini kotak. Kotak tertutup. Dan aku seumpama debu yang bahkan tidak bisa keluar dengan sendirinya.
Mata Victor menyipit, kelihatan tajam dan menusuk. Hanya saja tatapan itu tidak terkesan begitu mengancam, beda dengan saat pertama kali aku bertemu dengannya dan tahu dia ini jenderal. Tapi mau bagaimana pun, aku tetap sadar. Dia ini berbahaya. Dan fakta lain yang harus ingat adalah, dia ini menyebalkan. Sangat. Kenapa aku harus terlibat dengan orang semacam pria menjengkelkan ini sih?
“Pagi ini biar aku yang mengajarimu.” Tiba-tiba suaranya terdengar lagi.
“Eh?”
Entah dari mana datangnya pemikiran itu, aku tidak tahu. Aku menatap Victor heran, namun yang ada dia justru menepisnya dengan mudah.
“Tahan saja terima kasihnya, gadis bodoh. Kau bisa berterima kasih padaku setelah kita selesai latihan,” kata Victor lagi. Kali ini dia meluruskan punggungnya, jemari menyugar rambut ke belakang sebelum kepalanya menoleh ke jendela kereta. “Tapi sebelumnya, kita harus susun rencana dulu agar lancar.”
Keseriusan Victor membuatku lagi-lagi bingung. “Rencana apa?”
“Kita mau bolos kan?” tanya Victor balik. Namun kemudian, dia sendiri yang menjawabnya. “Itu berarti kita harus menyusun rencana kabur.”
Aku mengangguk-angguk paham, hingga aku menemukan ada yang aneh.
“Tunggu. Kau bilang... kabur?” []